Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Percikan di Balik Gaun Merah
Pagi di Sanatorium biasanya tenang, namun hari ini ada ketegangan yang merayap di sela-sela pilar marmernya. Sebuah undangan fisik berbahan beludru hitam dengan ukiran emas murni tergeletak di atas meja makan. Itu adalah undangan perayaan ulang tahun ke-50 Valerius Group, sebuah acara formal yang akan dihadiri oleh seluruh relasi bisnis, petinggi politik, dan tentu saja, keluarga besar Valerius yang selama ini menganggap Aruna sebagai "orang asing" yang tak kasat mata.
Aruna menatap kartu itu dengan perasaan waswas. Selama tujuh tahun, ia selalu disembunyikan. Dante menjaganya di dalam sangkar emas, jauh dari sorotan kamera dan lidah berbisa kaum elite. Namun kali ini, Dante ingin Aruna hadir.
"Kau tidak perlu merasa tertekan," suara Dante memecah lamunan Aruna. Pria itu baru saja selesai berlatih tanding dengan Marco di sasana bawah tanah. Keringat membasahi kaus singlet hitamnya, dan napasnya masih menderu pelan.
"Dante, mereka semua akan ada di sana. Orang-orang yang menganggapku hanya sebagai 'ibu asuh' bayaran untuk Leonardo," bisik Aruna, jemarinya mengusap pinggiran kartu undangan yang tajam.
Dante melangkah mendekat, ia mengambil kartu itu dari tangan Aruna dan melemparkannya ke meja seolah itu adalah sampah yang tak berarti. Ia mencengkeram lembut dagu Aruna, memaksa wanita itu menatap matanya yang sedingin es namun penuh gairah.
"Kau akan datang sebagai wanitaku. Siapa pun yang berani berbisik di belakangmu, mereka akan berurusan dengan senjataku. Aku ingin dunia tahu bahwa takhta di sampingku bukan lagi milik bayangan masa lalu, tapi milikmu."
Kemunculan Sang Masa Lalu
Malam perayaan itu tiba. Hotel Grand Valerius dihias sedemikian rupa hingga menyerupai istana Eropa. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun mahal dan setelan jas mewah.
Aruna turun dari limosin hitam dengan gaun sutra berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Gaun itu memiliki belahan tinggi di paha, namun tetap terlihat sangat elegan—pilihan Dante yang ingin menunjukkan sisi provokatif sekaligus berkelas dari Aruna. Dante berdiri di sampingnya, mengenakan setelan tuksedo yang membuatnya tampak seperti kaisar modern.
Saat mereka memasuki ballroom, keheningan sesaat terjadi. Ratusan pasang mata menatap Aruna—wanita misterius yang selama ini menjadi desas-desus di balik kesuksesan Dante dalam membesarkan Leonardo.
Namun, di tengah kerumunan itu, seorang wanita berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Namanya Bianca Valery, putri dari salah satu mitra bisnis utama mendiang ayah Dante. Bianca adalah wanita yang dulu hampir dijodohkan dengan Dante sebelum Dante memutuskan untuk menikahi ibu kandung Leonardo.
Bianca melangkah maju dengan anggun, gaun peraknya berkilauan. "Dante... sudah lama sekali. Kau tampak sangat luar biasa malam ini."
Dante hanya mengangguk kaku, lengannya semakin erat merangkul pinggang Aruna. "Bianca."
Mata Bianca beralih pada Aruna, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang disamarkan oleh senyuman manis. "Dan ini... oh, aku ingat. Pengasuh Leonardo, bukan? Luar biasa sekali pengabdianmu, Sayang. Dari ruang bayi hingga ke lantai dansa... sebuah pencapaian karier yang sangat cepat."
Aruna merasakan darahnya berdesir. Ia merasakan dorongan untuk membalas, namun tangannya yang gemetar justru digenggam kuat oleh Dante.
"Dia bukan pengasuh, Bianca," suara Dante menggelegar pelan namun cukup untuk membungkam orang-orang di sekitar mereka. "Dia adalah Aruna Salsabila. Pemilik hatiku. Dan jika kau masih kesulitan mengingat namanya, mungkin aku harus meminta Marco untuk menghapus namamu dari daftar tamu kehormatanku."
Wajah Bianca memucat seketika. Ia hanya bisa tersenyum kaku sebelum berbalik pergi dengan penuh kemarahan yang tertahan.
Meskipun Dante membela Aruna, sepanjang malam itu Bianca tidak berhenti mencoba menarik perhatian Dante. Ia sengaja mendekati Dante saat Aruna sedang pergi ke toilet, membicarakan kenangan masa kecil mereka di depan relasi bisnis.
Saat Aruna kembali, ia melihat Bianca sedang tertawa kecil sambil menyentuh lengan Dante. Sesuatu di dalam dada Aruna terbakar—rasa cemburu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini Dante-lah yang selalu cemburu pada Reno atau siapa pun di sekitar Aruna. Sekarang, Aruna baru menyadari betapa sakitnya melihat pria yang ia cintai dikelilingi oleh "hantu" dari masa lalunya.
Aruna tidak mendekat. Ia justru berbalik menuju balkon luar yang sepi. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya.
"Aku pikir kau tidak akan pernah tahu rasanya cemburu."
Suara Dante terdengar di belakangnya. Aruna tidak menoleh. "Dia sangat cantik, Dante. Dia memiliki sejarah denganmu. Sementara aku... aku hanya datang dari sebuah kontrak satu miliar rupiah."
Dante memutar tubuh Aruna, menyudutkannya ke pagar balkon yang dingin. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sanggup meluluhkan es di kutub utara. "Kontrak itu menyelamatkan nyawa ibumu, tapi hatiku bukan bagian dari transaksi itu, Aruna. Hatiku jatuh padamu karena kau adalah satu-satunya wanita yang berani menantangku saat aku sedang berada di puncak kekejamanku."
"Tapi dia menyentuhmu..." bisik Aruna, matanya berkaca-kaca.
Dante tertawa kecil, suara rendah yang begitu dalam. Ia mengambil tangan Aruna dan meletakkannya di dadanya, tepat di mana jantungnya berdegup kencang. "Rasakan ini. Jantung ini hanya berdetak secepat ini untukmu. Bianca hanyalah masa lalu yang tak berarti. Kau adalah masa depanku."
Dante menunduk, mencium Aruna dengan penuh penguasaan. Itu adalah ciuman yang menandakan kepemilikan mutlak. Aruna membalasnya, menyadari bahwa ketidakamanan di hatinya hanyalah bayangan semu. Pria kejam ini telah benar-benar takluk padanya.
Saat mereka kembali ke dalam, acara mencapai puncaknya. Dante naik ke panggung untuk memberikan pidato. Namun, saat ia baru saja akan bicara, pintu besar ballroom terbuka.
Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah yang lambat namun penuh wibawa. Seluruh petinggi Valerius Group tersentak. Bahkan Marco langsung memasang posisi siaga.
Pria itu adalah Adrian Salsabila. Ayah Aruna.
Seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Aruna nyaris jatuh pingsan jika Dante tidak segera turun dari panggung dan menangkapnya.
"Ayah...?" bisik Aruna tak percaya. Ayahnya yang dikira sudah meninggal bertahun-tahun lalu, kini berdiri di depan matanya dalam keadaan hidup dan tampak sangat bugar.
Adrian tersenyum tipis ke arah Aruna, lalu beralih pada Dante. "Kau sudah menjaga 'proyekku' dengan sangat baik, Dante Valerius. Tapi sekarang, saatnya bagi putriku untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya."
Situasi romantis malam itu berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Dante berdiri di depan Aruna, melindunginya dengan tubuhnya yang besar. "Kau seharusnya sudah mati, Adrian."
"Kematian hanyalah konsep bagi mereka yang tidak menguasai sains, Dante," sahut Adrian dingin.
Aruna menatap ayahnya, lalu menatap Dante. Sebuah rahasia besar tentang darahnya, enzim biometrik, dan alasan sebenarnya kenapa Dante memilihnya tujuh tahun lalu akan segera terungkap. Dan kali ini, cinta mereka akan diuji oleh kebenaran yang jauh lebih gelap daripada dunia mafia mana pun.