Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertua
Hujan gerimis tipis membasahi jalanan Jakarta, menciptakan kilau seperti minyak di atas aspal. Amara keluar dari sebuah toko material di Kemayoran, tas selempang berisi sampel kain baru untuk koleksi Clara yang berat di bahunya.
Hatinya masih terasa seperti batu yang dibalut es—dingin dan padat. Rencana berjalan: rekening rahasianya bertambah, komunikasi dengan pengacara berjalan lancar, dan dia mulai menyisir lowongan untuk pengasuh pengganti Yuni dengan sangat diam-diam.
Dia memutuskan untuk berjalan kaki ke parkiran, menikmati rintik hujan yang sejuk di wajahnya. Saat melintas di depan sebuah kafe bergaya industrial dengan jendela kaca besar, sesuatu—atau seseorang—menyebabkan langkahnya terhenti.
Di dalam, duduk sendirian di sebuah sudut dekat jendela, adalah Dian. Wanita itu. Psikolog. Atau apa pun dia sebenarnya. Dia mengenakan kardigan berwarna mustard, rambut bob-nya rapi, sedang mengetik di laptop sambil sesekali menyeruput cappuccino. Tanpa Rafa. Tanpa Yuni. Hanya seorang diri.
Naluri Amara berteriak untuk terus berjalan. Tapi kaki lainnya, yang digerakkan oleh keinginan untuk mengakhiri semua teka-teki, membawanya berbalik dan mendorong pintu kafe.
Lonceng di atas pintu berbunyi nyaring. Dian mengangkat kepalanya. Saat matanya mengenali Amara yang berdiri basah kuyup di pintu, dengan tatapan yang langsung dan tak terbaca, ekspresinya berubah dari netral menjadi waspada, lalu menjadi… penyesalan?
Amara berjalan mendekat, tanpa diundang.
Dia meletakkan tasnya di kursi, lalu duduk di seberang Dian. “Ini kebetulan yang menarik, ya?” ucapnya, suaranya datar.
Dian menutup laptopnya perlahan. “Bu Amara. Saya… tidak menyangka bertemu Anda di sini.”
“Saya juga. Tapi karena sudah di sini, mungkin kita bisa bicara. Tanpa sandiwara.”
Dian menghela napas, menggeser cangkirnya. “Rafa tidak bersama saya.”
“Saya tahu. Saya melihat. Saya ingin bertanya langsung pada Anda. Apa hubungan Anda dengan suami saya?”
Diam sejenak. Suara musik jazz lembut dan gemercik mesin kopi mengisi keheningan di antara mereka.
“Saya adalah psikolognya. Seperti yang dia katakan,” jawab Dian akhirnya, menatap mata Amara. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda dari pertemuan di galeri. Dia terlihat lebih manusiawi, lebih lelah.
“Tetapi ada sesuatu yang tidak Anda ceritakan,” desak Amara. “Saya bisa melihatnya. Di galeri, Anda melihat saya dengan… kasihan. Kenapa?”
Dian menunduk, memutar gelang kayu sederhana di pergelangan tangannya.
“Karena… karena saya tahu. Saya tahu dia berbohong kepada Anda. Bukan tentang terapi. Tapi tentang… yang lain.”
Jantung Amara berdetak lebih kencang.
“Yang lain?”
“Saya tidak bisa membocorkan rahasia klien, Bu Amara. Itu etik saya. Tapi… sebagai sesama wanita, ada batasan.” Dian mengangkat wajahnya, matanya jernih dan penuh konflik.
“Pertemuan kami, konselingnya… itu nyata. Dia memang menderita kecemasan berat, perfectionist anxiety. Tapi… alasan dia datang ke saya, masalah utama yang ingin dia atasi, adalah perasaan bersalah yang melumpuhkan. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena tekanan finansial.”
Amara menahan napas. “Karena apa?”
Dian memandangnya lama, seolah menimbang kata-katanya dengan sangat hati-hati.
“Karena dia terlibat dalam sebuah hubungan di luar pernikahan. Dan itu telah berlangsung lama. Dia ingin berhenti, tapi merasa terjebak. Dia ingin jujur pada Anda, tapi takut kehilangan segalanya. Dan yang paling menyiksanya… hubungan itu terjadi di dalam rumahnya sendiri.”
Setiap kata seperti pukulan palu ke es yang menutupi hati Amara. Tapi anehnya, tidak ada rasa sakit baru. Hanya sebuah konfirmasi. Sebuah validasi bahwa instingnya benar.
“Yuni,” gumam Amara.
Dian tidak mengiyakan, tapi dia juga tidak menyangkal. Dia hanya memandang dengan sedih.
“Saya mendorongnya untuk jujur. Saya bilang, rahasia dan rasa bersalah ini akan menghancurkannya dari dalam, dan pada akhirnya menghancurkan keluarga yang ingin dia pertahankan."
"Tapi dia… sangat takut. Dia sangat terikat pada image-nya sebagai suami dan ayah yang sukses. Mengakui pengkhianatan ini berarti merobohkan image itu.”
“Jadi, semua air mata dan penyesalannya di depan saya… itu nyata?” tanya Amara, suaranya hampir seperti bisikan.
“Mungkin sebagian nyata. Rasa bersalahnya nyata. Tapi ketakutannya untuk menghadapi konsekuensi juga nyata. Itu yang membuatnya terus berbohong.” Dian menarik napas.
“Saya memutuskan untuk menghentikan terapinya dua minggu lalu. Saya katakan padanya, selama dia tidak jujur pada istrinya, terapi apa pun hanya akan jadi tempelan. Saya tidak mau menjadi alat untuk membuat kebohongannya terasa lebih bisa ditelan.”
Amara terdiam, mencerna. Jadi, Dian bukan musuh. Dia hanya seorang profesional yang terjebak dalam drama kliennya, yang akhirnya memilih untuk berhenti.
“Kenapa Anda memberitahu saya ini? Bukankah itu melanggar etik?”
“Karena saya melihat Anda di galeri. Dan saya melihat… kekuatan di mata Anda. Bukan kekuatan marah, tapi kekuatan untuk mengetahui kebenaran. Dan saya pikir, Anda pantas mengetahui bahwa setidaknya, ada satu orang di sisi Rafa yang mendorongnya untuk melakukan hal yang benar. Bahkan jika dia gagal.”
Dian berdiri, mengumpulkan barang-barangnya. “Saya tidak akan membocorkan detail lebih jauh. Tapi saya harap Anda menemukan jalan Anda. Dan jaga putri Anda. Dia yang paling tidak bersalah dalam semua ini.”
Dia meletakkan uang untuk kopinya di atas meja, lalu memberi Amara satu tatapan terakhir, penuh dengan empati yang tulus, sebelum berjalan keluar dari kafe, menghilang dalam gerimis.
Amara duduk sendiri, menatap cangkir kosong Dian. Percakapan itu tidak memberikan bukti baru, tapi memberikan sesuatu yang lain: penegasan bahwa perjuangannya benar. Dan bahwa dia tidak gila. Intuisinya tajam.
Sabtu pagi berikutnya, Amara mengambil langkah lain dalam rencananya.
“Aku akan mengajak Luna jalan-jalan ke taman dekat sini. Cuma kami berdua,” katanya pada Rafa yang sedang membaca koran.
“Yuni tidak ikut? Biasanya dia yang antar,” sahut Rafa, tanpa sadar mengungkit pola lama.
“Luna sudah besar. Aku ingin waktu berdua saja dengannya,” jawab Amara ringkas, tapi tegas.
Luna riang, mengenakan overall kuning dan sepatu boots hujan kecil. Amara memilih taman yang cukup jauh dari rumah, yang tidak pernah mereka kunjungi, sebuah taman kecil dengan kolam ikan dan ayunan.
Matahari pagi hangat. Mereka memberi makan ikan, berayun, lalu duduk di sebuah bangku kayu yang dicat warna-warni. Luna memegang es krim cone, wajahnya sumringah.
“Ma, kenapa akhir-akhir ini Yuni jarang main sama Luna?” tanya Luna tiba-tiba, polos.
Amara menahan gejolak di dadanya.
“Kenapa, Luna kangen?”
“Enggak sih… lebih seneng sama Mama. Tapi Yuni suka ngajakin Luna ke mall beli mainan kalau Papa pulang malem. Tapi sekarang enggak lagi.”
Mall. Mainan. Cara Yuni membeli kesetiaan Luna, atau sekadar menutupi kehadirannya bersama Rafa? Amara merasa mual.
“Luna sayang Yuni?” tanyanya hati-hati.
“Yuni baik sih, Ma. Tapi… kadang dia peluk Luna terlalu kuat. Dan suka bilang, ‘Luna anak yang paling Yuni sayang, ya’. Aku agak geli.”
Luna mengernyitkan hidungnya yang mungil.
Amara memeluk putrinya erat. “Ingat ya, Sayang. Yang paling sayang Luna ya Mama dan Papa. Kalau ada orang lain yang bikin Luna tidak nyaman, atau bilang hal aneh, cerita ke Mama, ya?”
“Oke, Ma,” jawab Luna, lalu berlari mengejar kupu-kupu.
Di bangku itu, Amara merasa sebuah kepastian yang menderu. Dia harus mengeluarkan Yuni dari kehidupan Luna. Segera.
Sore harinya, badai yang sebenarnya datang. Bukan dari langit, tapi dari pintu depan.
Bel pintu berbunyi nyaring, berulang kali, dengan nada yang terburu-buru dan berwibawa. Yuni yang membukakan pintu, terlihat kaget.
“Ibu… Ibu Marni?”
Ibu Marni, ibu Rafa, berdiri di ambang pintu. Wanita berusia 60-an dengan postur tegap, rambut disanggul rapi, sari sutra yang mahal, dan ekspresi yang seperti petir mendung. Dia tidak datang sendiri; seorang supir membawa beberapa koper kecil di belakangnya.
“Di mana Amara?” tanyanya, suaranya seperti pisau yang diasah.
Amara yang turun dari lantai atas, sudah mendengar suaranya. Dadanya berdebar. Ibu mertuanya jarang berkunjung tanpa pemberitahuan, dan hampir tidak pernah dengan ekspresi seperti ini.
“Ibu Marni, ada apa?” sapa Amara, berusaha tenang.
Ibu Marni melangkah masuk, matanya menyapu ruangan seperti seorang jenderal memeriksa medan perang. “Rafa di mana?”
“Masih di kantor, katanya.”
“Baik. Kita perlu bicara. Berdua.” Ibu Marni menatap Yuni. “Kamu, siapkan kamar untuk saya. Saya menginap.”
Yuni langsung bergegas, menghilang dengan cepat.
Amara mempersilakan Ibu Marni ke ruang tamu. Wanita itu duduk di sofa utama, punggungnya lurus. Amara duduk di hadapannya, merasa seperti terdakwa di pengadilan.
“Apa yang terjadi, Ibu?”
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Amara,” Ibu Marni menyeringai. “Saya dapat telepon dari Dani—Dian, psikolog itu. Dia menelepon saya sebagai ‘kontak darurat’ yang Rafa berikan."
"Dia bilang Rafa menghentikan terapi, keadaan mentalnya tidak stabil, dan dia menyebut-nyebut tentang ‘kesalahan besar’ yang bisa menghancurkan keluarganya. Ditambah, beberapa teman saya melihat kamu beberapa kali bertemu dengan seorang pengacara di kafe. Apa yang sedang kamu rencanakan?”
Amara kaget. Dian menghubungi Ibu Marni? Itu tidak terduga. Tapi itu berarti Dian benar-benar peduli, atau mungkin merasa bersalah.
“Saya bertemu pengacara untuk urusan pekerjaan, Ibu. Saya mulai proyek desain lagi,” jawab Amara, setengah benar.
“Jangan membohongi saya!” bentak Ibu Marni, tangan mengepal di atas pangkuannya.
“Saya tahu ada yang tidak beres antara kamu dan Rafa. Rumah ini terasa seperti kuburan! Dan sekarang Rafa terpuruk. Apa kamu tidak puas? Suamimu memberikan segalanya padamu! Rumah ini, kehidupan ini! Apa lagi yang kamu mau?”
Amarah lama bangkit di dada Amara. Selama ini, Ibu Marni selalu memandangnya sebagai penerima kemurahan hati putranya, bukan sebagai mitra yang setara.
“Yang saya inginkan, Ibu, adalah kejujuran dan rasa hormat,” jawab Amara, suaranya mulai meninggi. “Dan saya tidak mendapatkannya.”
“Kejujuran? Kamu pikir kehidupan pernikahan itu dongeng? Semua suami punya kesalahan! Tugas istri adalah menerima dan memperbaiki dari dalam, bukan membuat rencana licik dengan pengacara!”
Amara menarik napas dalam-dalam. Pertahanannya runtuh. “Dan jika ‘kesalahan’ suami itu adalah berselingkuh dengan asisten rumah tangga di bawah atap kita sendiri, selama bertahun-tahun? Apa tugas istri adalah menerima itu juga, Ibu?”
Udaranya seolah tersedot keluar dari ruangan.
Ibu Marni membeku. Wajahnya yang keras berkerut, berubah pucat. “Apa… apa yang kamu katakan?”
“Yuni. Rafa dan Yuni. Saya punya buktinya.” Suara Amara sekarang tegas, tanpa getar.
“Jadi sebelum Ibu menghakimi saya tentang ‘ketidakpuasan’, mungkin Ibu harus bertanya pada putra Ibu tentang kepuasannya selama ini.”
Ibu Marni terduduk, seperti semua angin telah keluar dari layarnya. Dia menatap kosong ke arah dinding. “Tidak mungkin… Yuni? Itu… wanita biasa…”
“Ya. Mungkin itu yang membuatnya lebih mudah bagi Rafa. Atau lebih memalukan bagi kita semua.”
Keheningan yang panjang dan menyiksa. Ibu Marni tampak menua dalam hitungan detik.
“Apa… apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya, suaranya sekarang lebih kecil, seperti orang yang kehilangan arah.
“Saya akan melindungi Luna. Dan diri saya sendiri. Itu yang saya rencanakan dengan pengacara saya. Jika Ibu peduli pada cucu Ibu, mungkin Ibu bisa membantu memastikan Rafa bertanggung jawab, alih-alih menyalahkan saya.”
Ibu Marni menutup matanya, menghela napas panjang. Peranannya tiba-tiba berubah dari jaksa menjadi seorang nenek yang ketakutan.
“Rafa… bodoh sekali. Gila.”
“Ya,” kata Amara, perasaannya campur aduk antara kemenangan yang pahit dan kesedihan yang mendalam. “Tapi kekacauan ini harus diatur. Dan saya tidak akan lagi diam.”
Dia berdiri, meninggalkan Ibu Marni yang masih terduduk lesu di sofa. Dia naik ke kamarnya, mengunci pintu. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena pelepasan. Rahasia terakhir telah keluar. Sandiwara itu benar-benar berakhir.
Dari jendela kamarnya, dia melihat Ibu Marni keluar ke taman belakang, berdiri sendirian, menatap kolam ikan kecil. Punggung wanita yang selalu tampak perkasa itu sekarang terlihat bungkuk.
Amara mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Sari: “Badai datang. Tapi bentengku masih berdiri. Bahkan lebih kokoh.”
Lalu, dia melihat ke arah kamar Luna. Putrinya sedang tertidur lelap, tidak tahu bahwa dunia di sekelilingnya telah berubah selamanya.
Tapi Amara tahu. Dan untuk pertama kalinya, dia merasa siap—dengan kebenaran yang pahit di tangannya, dengan kekuatan yang dia bangun sendiri, dan dengan cinta untuk putrinya sebagai kompas satu-satunya—untuk menghadapi apapun yang akan datang, termasuk konfrontasi terakhir dengan Rafa yang sudah pasti tidak terelakkan lagi.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.