NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SESAL

DUA MINGGU KEMUDIAN

"Assalamu'alaikum, Bu.. De Puspa.., " panggil Bara sambil merapat Aira masuk ke dalam rumah.

"Wa'alaikumsalam. Loh, Mas. Memangnya sudah boleh pulang Kak Aira? " tanya Puspa sambil menggandeng tangan Aira dengan tatapan iba.

"Alhamdulillah, tinggal perawatan di rumah dan sesekali terapi de. Ibu mana? "

"Ibu arisan di rumah Bu RT, mungkin sebentar lagi pulang. Kak Aira mau di kamar atau di depan TV?"

"Di kamar saja de, Kak Aira mau istirahat dulu ya."

Puspa mengangguk, lalu merapat Aira ke kamar Bara.

Bara sendiri membawa masuk barang-barang dan mengurus pakaian kotor ke dalam mesin cuci.

"Kamu masak ya de? "

"Iya mas, sebentar Puspa goreng kan lagi lauknya. Mas nggak bilang mau pulang jadi Puspa goreng seadanya."

CTEK

Puspa menyalakan kompor gas, api biru menyala.

Bara masuk ke kamarnya mengatur bantal supaya Aira bisa lebih nyaman untuk berbaring.

"Kamu sudah lapar? " tanya BaraBara.

"Belum kok, mas. Malah terasa mual dari tadi."

"Meski mual tetap harus makan ya, pesan dokter begitu tadi."

Aira mengangguk pelan.

"Mas, biaya pengobatan dari mana? Seingatku mas sudah habis banyak untuk acara pernikahan kita kemarin."

"Sudah nggak usah pikirkan soal itu. Yang penting kamu sembuh, sehat bisa aktifitas lagi. Sehat itu memang mahal, tapi hasilnya sepadan."

Aira menunduk, matanya berkaca-kaca tak menyangka begitu di ratukan oleh suaminya.

"Maaf ya, Mas. Aku malah jadi beban buatmu dan keluarga mu."

Airmata Aira akhirnya membuncah, tak sanggup lagi di tahan. Bara memeluknya tanpa komentar.

Sepanjang perjalanan pulang tadi, ia menatap wajah suaminya yang begitu lelah menjaga dan merawat nya di rumah sakit. Beruntung di kantornya bisa mengajukan cuti khusus seperti merawat keluarga di rumah sakit, jadi jatah cuti tahunan tidak terpotong.

Aira benar-benar tak tega membebani suaminya. Bahkan mereka belum sempat merasakan kebahagiaan pengantin baru.

TOKTOKTOK

"Mas, sudah selesai, " teriak Puspa dari balik pintu.

"Iya, de."

"Sebentar aku ambilkan makan ya. "

Bara beranjak meninggalkan Aira yang masih menyeka airmatanya.

CEKLEK

"Assalamu'alaikum."

Norma masuk ke dalam, terkejut melihat sandal Bara dan Aira yang ada di rak.

"Wa'alaikumsalam, Bu."

Bara menghampiri Norma dan mencium tangannya.

"Aira juga sudah pulang? " tanya Norma.

"Alhamdulillah Bu, setelah pengobatan kemarin dokter sudah ijinkan pulang tinggal nanti beberapa kali harus terapi."

"Terapi? Biaya lain lagi?" tanya Norma dengan wajah kesal.

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

BRAAK

Pintu kamar di banting. Suara hening di luar. Norma memilih berdiam diri di kamar menahan emosinya.

CEKLEK

Bara masuk membawa dua piring makanan. Wajahnya tertunduk lesu. Meletakkan satu piring miliknya di atas nakas, mengaduk satu piring lagi bersiap menyuapi Aira.

Matanya menahan kesedihan mendalam, kecewa pada sang Ibu. Meski yang dikatakan ibunya benar, tapi ia juga sudah benar-benar siap dengan segala konsekuensi karena dia sudah berjanji pada Allah untuk menjadi suami yang baik bagi Aira.

Pikirannya berkecamuk, begitu juga dengan hatinya.

"Mas, maaf jadi membuatmu bertengkar dengan Ibu."

Bara terdiam, tangan uang memegang sendok menggantung diudara. Ia menatap Aira, berusaha mencari binar harapan di matanya. Namun--tak ada.

Padahal saat hendak pulang ke rumah tadi dia begitu senang. Tawa penuh kesyukuran karena bisa melalui hari-hari dengan penuh alat rumah sakit yang terpasang di tubuhnya.

Sampai di rumah, Aira akhirnya tersadarkan dengan kenyataan baru.

Ya, dia tak diterima di rumah ini. Karena penyakit yang di deritanya.

Bukan...penolakan itu jauh sebelumnya, penyakit ini hanya menambah daftar alasan untuk menolaknya menjadi bagian dari keluarga ini.

Bara mengusap puncak kepala Aira lembut. Memberi kekuatan dan mengirim pesan, 'Tak apa Aira.'

"Mas, aku setuju yang ibu katakan. Mas ceraikan saja Aku, Ya, " mohon Aira.

Gerakan tangan Bara terhenti, wajahnya bertekuk. Sedih, kecewa bertambah.

"Aira, jangan bicara begitu. Aku tak pernah sedikit pun berpikiran menceraikan mu, bahkan sejak aku tahu latar belakang keluargamu. Sakit ini akan sembuh Aira.. percayalah. Yakinlah, Allah bersama kita."

Bara memeluknya.

Air mata Aira makin berderai, ia sesenggukan sampai terasa sesak. Rasa menyesal, rasa bersalah bergemuruh dalam hatinya. Ia tak tega melihat Bara hancur lebur seperti ini.

***

Norma duduk di sisi ranjangnya. Tak pernah ia semarah ini. Ia kesal dengan sikap keras kepala Bara yang Terus-terusan memihak Aira tanpa memikirkan imbasnya untuk dirinya dan adiknya.

Berkali-kali ia mendengus kesal dan sesekali bergumam sendiri.

"Aku harus cari cara supaya bara akhirnya menyerah dan menceraikan Aira," gumam Norma.

Ia mengambil ponselnya di dalam tas jinjingnya tadi. Mencari kontak mba yu kakak iparnya.

"Assalamu'alaikum Mba Yu, mba aku minta masukan. Ini loh Bara sudah pulang sama Aira. Aku pikir pengobatannya sudah selesai, nggak tahunya masih lanjut terapi-terapi lagi. Aku pikir bagus anak ini dipisahkan saja dari istrinya Mba. Mba punya saran nggak aku baiknya bagaimana?"

"Wa'alaikumsalam, Norma. Tarik nafas dulu jangan ngomel terus. Aku sudah bilangkan dari awal, menantumu ini bakal bikin repot. Sudah anak panti, cuma lulusan SMA, nggak ada yang bisa dibanggakan, tambah lagi sakit. Norma, kalau aku carikan perempuan lain buat Bara bagaimana? yang lebih baik dari Aira ini pokoknya."

"Oh, aku coba hubungi mantan pacarnya Bara aja dulu Mba. Aku yakin dia sebenarnya masih mau sama Bara, cuma karena ketahuan jalan sama cowok lain makanya Bara akhirnya putusin dia."

"Ya sudah, coba aja dulu hubungi dia. Siapa tahu Bara bakal berubah pikiran dan mau terima dia lagi. Nanti kamu sambil pengaruhi Aira juga biar minta cerai dari Bara. Aku yakin dia juga pasti nggak tega bikin Bara kerepotan."

"Ide bagus Mba Yu. Ya sudah nanti aku kabari lagi, Assalamu'alaikum."

CEKLEK

"Puspa, " panggil Norma sambil menghampiri putrinya di depan TV.

"Kenapa Bu? "

"Kamu masih punya nomer whatsapp Intan nggak? "

"Buat apa, Bu? " tanya Puspa bingung.

Seingatnya, Ibunya benci sekali dengan wanita bernama intan itu karena sudah berselingkuh saat masih pacaran dengan kakaknya.

"Kasih aja ke Ibu cepat."

Puspa membuka pesan whatsapp dan mengirim kontak 'Kak Intan' ke nomer ibunya.

Norma kembali ke kamarnya.

TUUUT..

TUUUT..

"Halo? " sapa wanita di seberang.

"Halo, Assalamu'alaikum. Ini dengan intan? "

" Wa'alaikumsalam. Iya betul, ini dengan siapa? "

"Ini... ibunya Bara. Kamu masih ingat sama tante Norma? "

"Oh, iya Tante. Intan masih ingat. Apa kabar tante? "

"Kabar Tante baik, kamu bagaimana intan? lama ya nggak ketemu."

"Intan baik, Tante. Ada apa ini tante kok tumben telpon intan? "

"Intan, kamu sudah punya pacar lagi setelah putus sama Bara?"

"Emmmm... belum Tante, Intan masih sendiri. Kenapa Tante? "

"Kamu mau nggak kembali sama Bara? "

"Hah?? Jadi pacar mas Bara lagi Tante? "

"Iya, kalau perlu jadi istrinya. Nanti Tante atur supaya Bara setuju. Bagaimana? "

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!