NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Penjemputan dan Rival yang Salah Alamat

Dunia sepertinya sedang berkonspirasi untuk menukar nasib. Sore itu, giliran mobil mewah Arga yang mogok total di parkiran kantor karena masalah kelistrikan yaitu sebuah variabel yang menurut Arga sangat tidak sopan karena terjadi di luar jadwal servis rutinnya.

Maka di sinilah Nara Amelinda, mengendarai mobil city car mungilnya yang penuh dengan gantungan kunci bulu-bulu dan aroma pengharum ruangan stroberi, meluncur membelah kemacetan Jakarta menuju gedung perkantoran elit di kawasan Sudirman.

"Misi penyelamatan Sang Kulkas dimulai!" gumam Nara sambil memutar lagu K-Pop dengan volume maksimal.

Nara memarkir mobilnya tepat di depan lobi utama. Dengan gaya yang ia buat sekeren mungkin, meskipun ia hanya memakai kaos oversized dan celana jeans. Ia melangkah masuk ke dalam gedung yang lantainya saking mengilapnya bisa dipakai untuk mengoreksi eyeliner.

"Permisi, saya mau jemput Arga Wiratama. Suami saya yang ganteng tapi agak kaku itu," ujar Nara pada resepsionis dengan nada riang.

Resepsionis itu mengerjap. Sebelum ia sempat menjawab, seorang wanita dengan pakaian kerja yang sangat pas di badan, rambut yang ditata sempurna tanpa ada satu helai pun yang berani keluar jalur, dan aroma parfum mahal yang menusuk hidung, menghampiri mereka.

"Kamu siapa?" tanya wanita itu, matanya memindai Nara dari ujung rambut sampai ujung sepatu ketsnya dengan tatapan meremehkan.

"Kurir makanan? Atau saudara jauh Arga dari kampung? Soalnya saya itu tidak pernah melihat kamu di keluarga Arga."

Nara menaikkan sebelah alisnya. Wah, ada singa betina kantor nih.

"Aku Nara. Dan aku bukan kurir makanan, Mbak. Tapi kalau Mbak butuh asupan gizi, kayaknya Mbak butuh banyak makan deh, biar mukanya nggak kelihatan galak terus," balas Nara santai sambil mengunyah permen karet.

Wanita itu, yang bernama Clarissa manajer keuangan yang sudah lama mengincar posisi di hati Arga, ia tertawa sinis.

"Saya Clarissa. Partner kerja terdekat Arga. Saya tidak pernah melihat kamu di daftar relasi bisnisnya. Jadi, mending kamu pergi sebelum satpam mengusirmu."

Tepat saat suasana mulai memanas, pintu lift terbuka. Arga melangkah keluar dengan raut wajah lelah, namun seketika cerah (setidaknya versi Arga yang hanya berupa kedutan kecil di bibir) saat melihat sosok mungil yang sangat ia kenali di tengah lobi.

"Nara," panggil Arga.

Clarissa langsung berputar, memasang senyum paling manis.

"Arga! Kamu mau pulang? Mobil kamu mogok, kan? Aku bisa antar kamu pakai mobilku. Kebetulan aku mau lewat area apartemenmu."

Arga mengabaikan Clarissa. Ia berjalan lurus ke arah Nara, lalu tanpa aba-aba, ia mengambil kunci mobil dari tangan Nara dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.

"Kamu telat tujuh menit dari perkiraan saya, Nara," ujar Arga pelan, namun tangannya justru menarik Nara semakin merapat ke tubuhnya.

"Ya ampun, Jakarta macet, Pak Audit! Lagian harusnya kamu bersyukur dijemput istri cantik begini," protes Nara sambil mencubit pelan perut Arga.

Clarissa mematung.

"I-Istri? Arga, jangan bercanda. Wanita ini?"

Arga menoleh ke arah Clarissa dengan tatapan sedingin es kutub utara.

"Clarissa, perkenalkan. Ini Nara Amelinda, istri saya. Secara hukum dan perasaan, dia adalah satu-satunya orang yang memiliki hak akses penuh atas waktu dan kendaraan saya."

Nara merasa ingin melakukan tarian kemenangan di depan muka Clarissa. Ia langsung memeluk lengan Arga dengan sangat posesif.

"Iya, Mbak Clarissa. Makasih ya tawaran tebengannya, tapi Mas Arga lebih suka naik mobil aku yang bau stroberi daripada mobil Mbak yang... baunya kayak ruang rapat."

Clarissa tak bisa membalas kalimat yang Nara ucapkan, ia terlihat kesal menatap Arga pergi berlalu dengan menggandeng erat tangan Nara.

Istri... Coba kita lihat Arga, apa Dinda tahu tentang status kamu sekarang??

Sepertinya Clarissa mempunyai sesuatu yang bisa membuat semua nya jadi berantakan.

Begitu masuk ke dalam mobil Nara, Arga harus berjuang melipat kakinya yang panjang karena ruang yang sempit.

"Nara, kenapa ada banyak sekali sampah plastik di pintu mobil?" tanya Arga sambil memungut bungkus camilan.

"Itu namanya cadangan logistik! Udah diam, duduk yang manis, biar aku yang nyetir," perintah Nara.

Namun, baru jalan beberapa meter, Arga menyadari Nara terus meliriknya lewat spion tengah dengan wajah cemberut.

"Kenapa? Secara statistik, Clarissa hanya rekan kerja. Kamu tidak perlu cemburu pada variabel yang nilainya nol," ujar Arga tenang.

"Siapa yang cemburu?! Aku cuma kesel aja, ternyata di kantor banyak ya 'hama-hama' cantik yang nungguin kamu, Ternyata suami ku ini populer sekali mengalahkan Min yoongi." gerutu Nara.

"Siapa itu?", tanya Arga bingung mendengar nama yang tak pernah ia dengar.

"Suami aku lah...."

"Naraaaa... Suami kamu bernama Arga Wiratama bukan siapa itu yang kamu sebutkan nama nya."

Nara tak lagi menjawab.

Arga terdiam sejenak. Ia melihat Nara yang sedang fokus menyetir bibirnya dikerucutkan dan tangannya memegang setir dengan erat. Arga meletakkan tangannya di atas tangan Nara yang sedang memegang persneling.

"Nara, dengar," suara Arga melembut, jenis suara yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Nara.

"Gedung itu penuh dengan orang pintar dan ambisius. Tapi di sana tidak ada satu pun yang membawa dispenser bebek kuning ke apartemen saya. Tidak ada yang membakar wagyu saya. Dan tidak ada yang membuat saya ingin pulang secepat mungkin hanya untuk memastikan bantal guling pembatas sudah jatuh ke lantai."

Nara tertegun. Ia menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi.

"Kamu... kamu baru aja gombal?"

Arga tidak menjawab. Ia justru melepas sabuk pengamannya, mendekat ke arah Nara di ruang mobil yang sempit itu. Ia memegang dagu Nara, memaksa gadis itu menatap matanya.

"Ini bukan gombal Nara, Ini adalah pernyataan fakta hasil observasi hati saya selama sebulan terakhir," bisik Arga.

Wajah mereka sangat dekat. Aroma stroberi dari mobil Nara kini bercampur dengan aroma maskulin Arga yang menenangkan. Arga mengecup bibir Nara singkat namun penuh penekanan, sebuah "audit" perasaan yang membuat Nara lupa cara bernapas.

"Sekarang jalan lagi. Saya lapar, dan saya ingin makan masakan gagal kamu lagi malam ini," ujar Arga sambil kembali memasang sabuk pengaman dengan wajah lempeng, seolah baru saja melakukan transaksi perbankan biasa.

Nara menyentuh bibirnya, wajahnya merah padam. Dia tidak menyangka ciuman pertamanya berada di tempat yang tak pernah ia sangka yaitu di dalam mobil.

"Argaaaa! Kamu bener-bener ya! Robot tapi kok pro banget bikin baper!"

"Saya hanya melakukan optimasi pada hubungan kita, Sayang. Cepat jalan, atau saya akan menghitung denda keterlambatan makan malam ini."

Nara tersenyum malu sambil menginjak gas. Mungkin mobil Arga boleh mogok, tapi perjalanan cinta mereka sepertinya baru saja mendapatkan bahan bakar super yang takkan habis dalam waktu dekat.

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!