Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Yang Berkembang
Di Tokyo
Aruna tak mau membuang kesempatan bertemu dengan Rio selama lelaki itu masih berada di Jepang. Apalagi dirinya sendiri juga masih mengurus transfer saham ke uang kontan peninggalan mama dan kakeknya.
Seperti saat ini dia berhasil mengajak kulineran Rio ke Tsukiji Market yang melayani pembeli dua puluh empat jam, baik warga setempat mau pun wisatawan.
Mereka menikmati kulineran ikan segar yang langsung diolah di tempat.
"Bagaimana urusanmu, Runa?" Rio mengakhiri makan malam dalam suasana sejuk udara di musim dingin serta hangatnya makanan yang langsung disajikan dalam keadaan panas.
"Sudah tinggal finishingnya saja, mungkin aku lebih dulu darimu kembali ke Jakarta,"
"Lalu kamu akan meninggalkan saudaramu yang di sini,"
Aruna mengangguk, "Lalu bagaimana lagi aku kan lahir dan dibesarkan di Jakarta, mungkin jika mama aku masih ada aku masih bisa bertahan di sini," ujarnya, "Tapi kami masih bisa saling melepas rindu lewat telepon atau saling mengunjungi, kok,"
"Ya namanya kehidupan tapi aku yakin kamu akan bisa menjalaninya." Rio memberi semangat pada Aruna.
"Ya harus bisa," angguk Aruna.
"Oh ya masalah rumah sudah dapat?"
"Sudah asisten di butik aku yang membantu dan aku yang memilih dan memastikan sesuai keinginanku, kebetulan pula sudah selesai pembayarannya dan sekarang Lina asistenku yang mengatur isinya ..."
"Wah sudah penuh persiapan tinggal kembali ke Jakarta rupanya," tersenyum Rio dan berharap mantan teman sekelasnya di es em u itu ke depannya akan sukses.
"Ya siap berjuang jangan sampai menghabiskan bekal dari leluhur," tertawa kecil Aruna.
"Aku doakan, ya ..." Rio tersenyum menatap Aruna.
"Terima kasih akan doa dan harapanmu untukku, Rio, dan kamu sendiri gimana lancar kan?"
"Semua berjalan sesuai harapan, setelah kutelusuri bahan dan lainnya sesuai dengan apa yang tertulis pada draf yang mereka berikan. Cukup memuaskan melihat pabrik dan pembuatan alat kesehatan yang memenuhi standar untuk dipergunakan di rumah sakit mau pun klinik,"
"Artinya nggak sia-sia ya datang langsung ke sini,"
"Oh ya,"
Percakapan pun terus mengalir. Dari pekerjaan yang tengah mereka hadapi sampai pada kerinduan mereka pada teman-teman lama.
"Kita berpisah belum lama, kan, masih sekitar hampir empat tahunan, tentunya mereka belum terlalu lupa kita walau sibuk dengsn karir masing-masing."
"Kamu benar Rio, ah jadi ingin segera mengundang mereka kalau aku sudah di Jakarta," sepasang mata Aruna berkerlap-kerlip membayangkan bertemu dengan teman-teman satu geng dulu.
"Ya aku mendukung rencanamu,"
"Oh ya?" Senyum Aruna melebar, betapa tidak nanti akan dia tunjukkan jika.cowok dingin kutu buku yang dulu sulit didekatinya, kini begitu terlihat menjadi pendukungnya, dan tentu nanti ...
Tiba-tiba Aruna terdiam ada ketakutan di dasar hatinya bagaimana kalau Rio hanya akan menjadi pendukungnya karena pertemuannya di Tokyo ini, tapi tak bisa menjadi kekasihnya?
"Aruna ..." melihat wajah ceria Aruna yang tiba-tiba meredup membuat spontan Rio meraih tangan Aruna dan menggenggamnya.
Merasakan genggaman tangan Rio di tangannya seketika cemas di hati Aruna mendadak seratus delapan puluh derajat menjadi sebuah tekat dan kebahagiaan.
"Oh maaf Rio barusan aku sempat ragu sejenak dengan optimisnya aku di Jakarta," tak lepas tatapannya dari mata Rio karena ingin tahu apa tanggapan lelaki itu atas ragu yang sempat melandanya.
Rio kini menggenggam kedua tangan Aruna dengan kedua tangannya. Menatap gadis itu.
"Jangan pernah ragu ada teman-teman lama yang pasti yang akan mendukungmu." ujar Rio.
"Rio tatapanmu apa ini bukan hanya berarti kamu adalah pendukung utamaku?" Batin Aruna. Ada harap yang berlebih di dalam relung hatinya.
Rio tersenyum, "Dan ada aku ..."
Oh mendengar ucapan Rio serasa melayang Aruna. Rio telah berjanji untuk menjadi pendukungnya, ah dari sikapnya itu menunjukkan pendukung utama. Apakah ini sebuah sinyal yang ditawarkan untuk lebih dari sekedar pendukung, tapi serupa dengan ungkapan keinginan hatinya?
Sabar Aruna jangan terlalu buru-buru dia lelaki yang sangat hati-hati. Sebuah suara mengingatkan.
Ya masih banyak kesempatan di Jakarta, batin Aruna. Yang penting dukungan dan perhatiannya dulu padaku.
"Rio udah malam pulang, yuk," ajak Aruna, bagaimana pun dia tak boleh terlalu terkesan agresif, harus menjaga jangan terkesan dirinya penuh harap, padahal memang sangat berharap untuk bisa masuk ke dalam hati lelaki yang tumbuh makin dewasa dan penuh percaya diri.
Aruna menarik kedua tangannya dari genggaman kedua tangan Rio.
Rio langsung berdiri, "Ayok,"
Mereka berjalan bersisian meninggalkan tempat kulineran yang cukup terkenal di Tokyo itu.
"Biar kuantar sampai depan rumahmu," ujar Rio yang menyewa sebuah mobil plus sopirnya.
"Apa kamu nggak kemalaman nanti sampai di hotel?" Aruna menatap Rio.
"Tak masalah ini sudah malam untukmu pulang sendirian," dan tanpa menunggu tahu-tahu tangan Aruna ditarik oleh Rio.
"Oh ..." Aruna merasa sebuah kehangatan mengalir dalam dadanya di tengah suasana musim dingin di Tokyo.
Sedangkan Rio yang masih menggenggam tangan Aruna berjalan menuju mobil sewa yang siap mengantarkan kemana tujuan mereka.
Sampai di depan tempat tinggal Aruna mobil berhenti. Rio keluar dari mobil diikuti Aruna.
"Selamat malam Aruna salam untuk keluargamu," ujar Rio.
"Malam Rio nanti kusampaikan kalau mereka belum tidur," ujar Aruna tersenyum, "Terima kasih untuk makan malamnya,"
"Terima kasih juga sudah menemani aku makan malam dan jalan-jalan," balas Rio.
"Oke makasih udah diantar pulang," lambai Aruna.
Rio masuk ke mobil dan mobil pun segera meninggalkan depan rumah keluarga Aruna.
Bagi Aruna perkembangan hubungannya dengan Rio sangatlah membuatnya menjadi penyemangat baru. Apalagi makan malam yang berakhir dengan dukungan semangat dari lelaki itu yang disertai dengan genggaman kedua tangannya. Bukankah itu luar biasa?
Kebersamaan di Sapporo diantara patung salju serta lampu jalanan yang menjadi saksi lintasan waktu menikmati suasana malam yang sejuk.
Walau hanya saling pandang dan bercerita tanpa menyenggol perasaan apalagi suasana hati, itu sudah cukup memberi warna bagi Aruna.
Lalu barusan makan malam dan genggaman tangan serta diantar pulang ke rumah apa berlebihan jika Aruna merasa memiliki harapan terhadap Rio?
Sampai di kamar hotelnya Rio segera ganti pakaiannya dengan piyama. Ada rasa bahagia karena bisa bertemu teman lama dan memberikan perhatian serta dukungan semangat pada Aruna yang nantinya harus berjuang sendiri di Jakarta. Dan Rio akan memberikan bantuan sebisanya jika kelak gadis itu membutuhkan bantuannya selama berjuang di Jakarta.
Untuk finansial Aruna tak akan kekurangan karena memiliki warisan saham yang akan segera diuangkan. Tapi finansial saja tak cukup jika tak ada yang memberikan semangat. Walau Rio tahu bahwa Aruna yang sudah memiliki tekat kembali ke Jakarta, tentu memiliki jiwa juang yang tak boleh diragukan. Tapi sebagai sahabat lama tak ada salahnya untuk terus memberikan dukungan.
Ah sayangnya Rio tak sadar jika sikapnya malam ini pada Aruna semakin memupuk harapan yang sebelumnya telah tumbuh.
Ting.
Pesan masuk di handphonenya dari kakek Brata.
(Rio istrimu tiga hari lagi mau ikut event menunggang kuda se Jabodetabek apa kamu
sudah tahu)
Rio justru baru tahu sekarang jika istri bocilnya punya hobby menunggang kuda. Ah kalau berterus terang pada kakek Brata kalau istri bocilnya tak pernah memberitahu tentang hobbynya itu, bukan dirinya yang dianggap lalai, tapi gadis itu yang tak berterus terang pada suaminya.
Maka dengan senyum-senyum Rio mengetik balasan.
(Maaf, Kakek dia nggak pernah cerita tentang kegiatannya berkuda, jadi Rio mana tahu soal dia mau ikut event berkuda. Wah dia curang berarti)
Pesan terkirim.
Rio sengaja ingin membuat kakeknya kecewa pada Rayi karena sebagai istri tak memberitahu tentang kegiatannya pada suami. Padahal Rio sendiri memang tak pernah mau tahu apa yang dilakukan Rayi. Bahkan tak pernah bertegur sapa di telepon lagi setelah menegurnya dulu. Dan tak pernah membalas pesan Rayi yang bernada kesal itu.
Mereka memang tak pernah berkirim pesan dan hampir tiga minggu berpisah setelah pernikahan seperti tak ada apa-apa.
Sepi
Dan tak saling merasa perlu pendekatan.
(Oh mungkin istrimu tak mau mengganggu kesibukanmu di sini)
Rio hanya nyengir membaca pesan kakeknya yang baru masuk.
Huh kakek sebegitu melindungi gadis itu rupanya.
suka banget alurnya