NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19.Beberapa minggu berlalu.

Minggu-minggu berlalu di Kamp Perbatasan Timur seperti air yang mengalir tanpa suara.

Hari-hari terasa panjang, tapi ritmenya tetap: fajar, latihan, patroli, makan, jaga malam, tidur di barak kayu yang dingin dan berderit jika angin bertiup kencang dari arah hutan.

Yun Lan dan Yun menjalani semuanya seperti prajurit lain.

Bangun paling pagi.

Tidur paling akhir.

Bekerja tanpa mengeluh.

Dan yang paling penting… menyembunyikan diri mereka dengan sangat rapi.

Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Tidak ada yang tahu dari mana mereka berasal.

Mereka berbicara seperlunya. Bergerak seperlunya. Tertawa hampir tidak pernah.

Namun semakin mereka berusaha tidak menonjol, semakin mereka sulit untuk diabaikan.

Komandan Zhou selalu memperhatikan mereka.

Jika ada latihan berat, tatapannya pasti berakhir pada dua orang itu.

Jika ada tugas sulit, nama mereka selalu disebut.

Dan itu… membuat empat orang teman sekamar mereka semakin tidak menyukai mereka.

Shi.

Xin.

Han.

Qiao.

Empat prajurit lama yang sebelumnya selalu menjadi pusat perhatian Zhou.

Empat orang yang terbiasa dianggap paling kuat di barak itu.

Sekarang… bayangan mereka seolah memudar.

Setiap kali Zhou memuji Yun Lan atau Yun, wajah Shi mengeras.

Setiap kali Yun menyelesaikan tugas lebih cepat dari yang lain, Han menghela napas kesal.

Setiap kali Yun Lan mengangkat beban yang biasanya butuh dua orang, Qiao memalingkan muka.

Dan Xin…

Xin hanya diam.

Ia tidak banyak bicara, tapi matanya selalu memperhatikan.

Menilai.

Menghitung.

Hari itu, matahari berdiri tinggi ketika Zhou mengumpulkan mereka di kaki bukit berbatu di sisi barat kamp.

Bukit itu terkenal sebagai tempat latihan paling dibenci prajurit.

Jalurnya sempit.

Berbatu tajam.

Licin oleh lumut kering dan debu.

Kemiringannya tidak masuk akal.

Zhou berdiri di depan mereka dengan dua ember kayu besar di tangannya.

Ember-ember itu diisi penuh air sampai nyaris meluap.

“Kalian akan naik sampai puncak bukit ini,” katanya tenang.

“Dua ember di pundak. Tidak boleh tumpah lebih dari setengah isi. Siapa yang airnya habis di tengah jalan, akan mendapatkan hukuman.”

Keluhan kecil terdengar.

Ini latihan keseimbangan, kekuatan, dan daya tahan sekaligus.

Zhou membagikan ember-ember itu.

Yun Lan memanggul miliknya.

Berat.

Tapi tidak berarti.

Yun melakukan hal yang sama di sampingnya, wajahnya seperti biasa… tanpa ekspresi.

Shi mengangkat embernya dengan mendengus.

Han langsung menghela napas panjang.

Qiao menggerutu pelan.

Xin hanya diam, mengatur posisi pundaknya dengan hati-hati.

“Mulai!” teriak Zhou.

Mereka mulai mendaki.

Langkah pertama saja sudah terasa berat.

Batu-batu tajam menusuk sol sepatu.

Debu tipis membuat pijakan licin.

Air di ember bergoyang setiap kali kaki mendarat tidak sempurna.

Yun Lan melangkah stabil.

Pundaknya kuat.

Gerakannya terukur.

Yun di sampingnya bahkan tampak seperti sedang berjalan santai di jalan datar.

Di belakang mereka, suara napas mulai terdengar berat.

Shi mulai mengumpat pelan.

Han hampir terpeleset dua kali.

Qiao berusaha keras menjaga keseimbangan.

Xin memimpin di antara mereka berempat, berusaha terlihat paling stabil.

Separuh jalan.

Kemiringan makin curam.

Jalur makin sempit.

Di sisi kiri… jurang batu yang tajam.

Tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk membuat kaki patah jika jatuh.

Zhou mengawasi dari bawah.

Matanya tajam.

Tiba-tiba—

Batu kecil di bawah kaki Xin bergeser.

Suaranya nyaring.

Krek!

Kaki Xin kehilangan pijakan.

Tubuhnya miring ke samping.

Ember di pundaknya terlempar.

Air menyiram batu.

“Xin!” teriak Shi.

Shi dan Han langsung menangkap lengannya.

Tapi berat tubuh Xin yang jatuh ke arah jurang membuat mereka ikut terseret.

Kaki mereka tergelincir.

Tubuh mereka bertiga kini miring, setengah menggantung di tepi jalur sempit itu.

Batu-batu kecil terus berguguran ke bawah.

Qiao yang berada beberapa langkah di atas mereka membeku.

Wajahnya pucat.

“Tolong!!” teriaknya keras.

Suara itu menggema di bukit.

Yun Lan dan Yun yang sudah hampir mencapai bagian atas langsung berhenti.

Mereka menoleh.

Melihat situasi itu.

Yun menyipitkan mata.

Wajahnya langsung dingin.

“Kita lanjut,” katanya datar.

“Mereka selalu mencari masalah dengan kita. Biarkan saja mereka,kita lakukan tugas kita sendiri saja.”

“Tapi Yun, jika tidak segera menolong mereka. Mereka akan jatuh, bukannya kamu itu bekas dewa. Kenapa tidak memiliki sedikit rasa iba pada manusia yang kesusahan?. ”

“Itu kesalahan mereka sendiri, suruh siapa tidak hati-hati. ”

“Sekarang kamu adalah manusia, jika tidak saling bantu siapa yang akan menolongmu kelak jika kamu kesulitan. Dan sekarang mereka sedang kesulitan, jika hanya aku sendiri tidak akan cepat mengatasinya. ”

“Jika kamu ingin menolong mereka,tolong saja. Aku akan menunggumu. ”

“Tidak perlu menungguku, dasar dewa egois!. ”bentak Yun lan kesal.

Yun lan pun meletakkan begitu saja ember yang ada di pundaknya, dan berjalan kearah mereka berempat.

“Ada apa?. ”

“Li, tolong bantu aku selamat kan mereka bertiga. ”jawab Qiao sambil memohon.

Yun Lan lalu menatap ke arah Xin yang kini hampir kehilangan pegangan.

Shi dan Han sudah gemetar menahan berat.

Batu di bawah kaki mereka terus runtuh pelan.

Jika satu saja lepas…

Mereka semua jatuh.

Debu tipis melayang di udara.

Suara batu kecil yang jatuh ke jurang terdengar satu per satu.

Krek… krek…

Setiap bunyi kecil itu terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang lebih buruk.

Xin tergantung dengan satu tangan Shi mencengkeram lengannya, sementara Han memegangi pinggang Shi dengan wajah pucat pasi. Berat tubuh mereka bertiga bertumpu pada pijakan yang semakin rapuh.

Qiao berlutut di atas jalur sempit itu, tangannya gemetar.

“Li! Cepat!” suaranya hampir pecah.

Yun Lan langsung berlutut di tepi jalur, dadanya menempel ke tanah berbatu agar pusat gravitasinya rendah. Tangannya meraih ke bawah, mencoba mengukur jarak.

Terlalu jauh.

“Qiao, pegang pinggangku,” perintah Yun Lan cepat.

Qiao menurut tanpa berpikir, mencengkeram sabuk Yun Lan sekuat tenaga.

Di atas sana, Yun berdiri dengan wajah keras. Ember masih di pundaknya. Tatapannya turun ke bawah, menghitung situasi dengan dingin.

“Jangan gegabah, Yun Lan,” katanya.

Yun Lan tidak menjawab.

Ia merangkak satu jengkal lebih maju.

Batu di bawah dadanya bergeser pelan.

Krek.

Xin mengangkat wajahnya. Matanya penuh panik dan rasa bersalah.

“Aku… aku tak kuat…” suaranya serak.

“Jangan bicara!” bentak Yun Lan. “Fokus pegang!”

Shi sudah mulai gemetar hebat. Han menutup mata, napasnya kacau.

Yun Lan menjulurkan tangannya sejauh mungkin.

“Xin! Lepas tangan Shi. Pegang tanganku!”

Wajah Shi memucat. “Kalau dia lepas, kami jatuh!”

“Percaya padaku!” suara Yun Lan keras, tegas, tidak memberi ruang untuk ragu.

Xin menatapnya.

Ada sepersekian detik keraguan.

Lalu ia mengangguk.

Perlahan… sangat perlahan… Xin melepas cengkeraman Shi.

Tubuhnya langsung turun beberapa senti.

Han berteriak.

Shi menggeram menahan.

Dan dalam momen itu, tangan Xin berhasil meraih pergelangan Yun Lan.

Cengkeraman mereka bertemu.

Kuat.

Yun Lan menarik napas dalam.

“Qiao! Tarik aku kalau aku bilang!”

Qiao mengangguk cepat, hampir menangis.

Yun Lan mulai menarik.

Otot lengannya menegang keras.

Xin naik sedikit.

Tapi berat tiga orang itu membuat tubuh Yun Lan ikut tertarik ke depan.

Batu di bawah lututnya retak.

Krek!

Yun yang melihat itu akhirnya bergerak.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!