"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Sesi kuliah jam kedua akhirnya selesai. Seperti biasa, Jeny berjalan meninggalkan kelas melalui belakang kampus.
BRUG!!
HUP!!
Kakinya mendarat mulus di aspal. Kuda-kudanya tepat dan kuat hingga tak perlu ada drama terjatuh atau terkilir.
Tas dilantai ia ambil, santai. Tangannya kuat dan gesit, jadi tas sebesar itu tak sulit baginya untuk diangkat.
Gang itu kini sepi, biasanya ada segerombolan mahasiswa nongkrong ngeteh atau sekedar ngobrol. Kali ini tak dengar kegaduhan seperti biasa.
Jeny sempat melirik ke arah warung kecil sederhana yang sesekali jadi markas untuk mahasiswa yang bolos jam kelas.
Jeny teringat soal foto yang di ceritakan Bobi saat latihan terakhir mereka. Ia masih penasaran siapa pelaku pertama yang menyebarkan foto kebersamaannya dengan Gilang saat itu?
Samar-samar Jeny mengingat perkataan Gilang saat ia meminta maaf soal kehebohan foto menjadi sumber rumor kedekatan mereka.
"Rasanya Gilang sempat bilang temannya yang menyebar foto itu, tapi kalau dari sudut pengambilan fotonya pelakunya pasti sedang berada di sekitar sini waktu itu, " gumam jeny sambil termenung.
"Apa mungkin anak sains anggota karateka juga? karena anak sains jarang nongkrong di sini. Eh tapi, kenapa si Gilang waktu itu keluar lewat jalan ini y? "
Semakin banyak hal yang membuat Jeny penasaran dengan Gilang, tapi ia berusaha menepis rasa penasarannya itu. Ia bertekad menjaga jarak dengan cowok itu karena tak mau berurusan dengan dekannya bahkan dengan anak rektor.
Tak sadar, Jeny bergidik.
Tak lama, Jeny melihat Erwin yang masuk ke tempat mereka latihan.
"Baru nongol anak itu? " gumamnya kesal.
Jeny mempercepat langkahnya.
"Erwin, kemana aja? " tanya Jeny setengah teriak pada Erwin yang sedang melepas sepatunya.
" Ya kuliah lah, masa jalan-jalan, " selorohnya.
"Jangan becanda, Sinpai nanyain kamu terus. Kan kamu di tugasin KATA Perorangan. Kalau sudah nyanggupin harusnya rajin-rajin latihan dong. "
Erwin menatap Jeny lama, "Tumben bawel, biasanya irit bicara. Ada yang bikin kamu kesel ya? apa itu Gilang?" godanya.
"Aku serius, apa hubungannya sama dia?"
Jeny mendengus kesal.
Tiba-tiba ia ingat saat ikut lomba unjuk bakat waktu itu. Dari atas panggung, Jeny melihat Erwin yang berdiri di samping Gilang di antara penonton yang hadir. Saat itu Erwin tersenyum puas melihat Gilang yang menyorakinya.
"Erwin, kamu sekelas dengan Gilang? "
Erwin mencium aroma kecurigaan dari pertanyaan Jeny.
"Udah ah, aku mau latihan, bye! "
Erwin berlari menaiki tangga ke lantai dua lokasi latihan Dojo mereka.
Jeny menggeram kesal, ia tahu Erwin menghindar. Kecurigaannya tadi pelan-pelan terjawab, tapi ia harus pastikan lagi pada Rika.
***
TOKTOKTOK
CEKLEK
BRUG
Sebuah tas terlempar begitu saja di atas kursi jati tanpa ukiran yang terlihat klasik di ruang kerja kantor rektorat.
Seorang pria paruh baya, usia sekitar enam puluhan tahun tengah duduk di kursi kerjanya melirik heran pada gadis muda yang baru saja masuk ke ruangan sambil melempar tas ransel kulitnya.
"Pa, " panggil gadis muda itu berdiri di sampingnya sambil menyilang kedua tangannya ke dada. Wajahnya bertekuk.
"Kenapa Mon? Datang-datang sudah cemberut begitu?"
"Kenapa Mona nggak jadi model video promosi lagi sama Gilang? Kenapa harus Jeny si miskin itu sih? "
Hatta, Sang Ayah yang juga rektor Universitas Gama itu melepas kacamata lalu membelalak.
"Mona, Papa nggak pernah ajarin kamu mencela begitu, " hardiknya kesal.
Wajah Mona seketika mengendur, tatapannya menyesal bahkan sedikit memelas. Tangannya tak lagi menyilang, ia duduk di kursi depan meja Papanya.
"Maaf, Pa. Mona kesal. Rumor Gilang dekat sama Jeny akhirnya makin membesar karena video promosi itu. Kenapa sih Pa nggak Mona lagi? "
Hatta memasang lagi kacamatanya.
"Itu bukan wewenang Papa yang menentukan, Mona. Itu urusan pengurus Yayasan. "
" Iya tahu, tapi kan Papa bisa usulkan Mona lagi atau seenggaknya jangan Gilang."
"Mona, mereka punya pertimbangan sendiri. Mereka mau mengedepankan anak berprestasi dan juga dari kalangan ekonomi ke bawah untuk mengangkat isu sosial. Jeny kan penerima Beasiswa dan juga berprestasi, makanya dia yang di pilih. Sedangkan Gilang prestasinya lebih dominan dari mahasiswa manapun, bahkan lebih banyak dari mu."
Wajah Mona makin bertekuk. Ia pasrah, tak bisa meminta Papanya mengubah keputusan pengurus yayasan.
Tiba-tiba ide cerdas muncul di kepalanya.
"Pa. Kalau kuliah jalur beasiswa itu ada syaratnya kan ya selama kuliah?"
"Iya, mereka harus mempertahankan prestasi akademik/non akademik tergantung prestasinya. IPK tidak boleh di bawah 3,00. Tidak punya reputasi negatif dan menjaga nama baik universitas di setiap event lomba. "
Mona menganggukkan, rancangan idenya makin menemukan jalan.
"Kenapa? "
"Tak apa, Pa. Mona pulang duluan yaya, dah Papa. "
CUP
Mona berlalu setelah mengecup pipi Papanya.
Hatta, menatap langkah gadis kecilnya itu.
"Semoga ia tak membuat onar lagi, " gumam Hatta.
Mona melenggang keluar gedung rektorat menuju parkir mobil. Kedua tangannya menggenggam mantap ponsel kesayangan. Dua jempolnya bergerak cepat menekan layar.
Lalu menyeringai puas.
"Ah, cerdasnya otakku. Biar aja videonya nyebar baru serang sekalian. Siapa suruh nggak pilih aku lagi jadi modelnya."
***
Gilang menatap layar dengan serius. Jari jemarinya bergerak lincah menekan keyboard. Sesekali ia melonggarkan kacamatanya, mengistirahatkan mata yang sudah 3 jam penuh bertatapan dengan layar laptop.
"Lang, mau sampai jam berapa nih? aku udah laper dari tadi, " rengek Indra yang menyandarkan kepalanya di atas meja lemas.
"Sebentar, tanggung."
"Sudah 5 kali kamu jawab begitu, Lang. Lama-lama aku pingsan nih. Jeda dulu lah sebentar."
Gilang menghela nafas, menatap kesal teman sesama club yang menemaninya sejak tadi. Melihat rambut Indra acak-acakan, bibir kering dan wajah yang memelas akhirnya ia mengalah.
"Ya sudah, makan di kafe depan aja yuk. Cari suasana baru."
Tangannya menekan mouse menyimpan file lalu melipat layar laptop dan memasukkannya ke dalam ransel.
Indra berdiri dengan semangat. Mengambil tas dan memanggulnya.
"Traktir ya, Suhu. Temanmu ini lagi sekarat akhir nilan. Maklum, perantau."
Bibir Indra menyungging sumringah, nampak gigi putihnya berderet rapi dibalik bibir. Tak ada lagi wajah lemah terlihat.
"Amaaan.Yuk, cabut!"
Mereka berjalan keluar dari sekretariat setelah memastikan pintu terkunci.
Kampus sudah mulai sepi, tersisa beberapa mahasiswa yang sedang bermain three on three di lapangan basket kampus.
"Gilang, aku lihat kamu makin akrab sama karateka itu. Bukannya kamu ngeles di grup WA nggak deketin dia?"
"Awalnya memang nggak ada niat lah. Itu juga pertemuan kebetulan, bukannya di sengaja. Tapi, setelah beberapa kali interaksi karena kebetulan juga, akhirnya aku penasaran sama orangnya."
"Kamu yakin mau cari tahu soal dia?"
Indra menoleh menatapnya. Kedua alis Indra terangkat, tak menyangka dengan jawaban Gilang.
"Memangnya kenapa? "
"Kamu belum dengar dia menghajar mahasiswa senior di gang belakang kampus karena malak dia?"
"Menghajar? "
"Iya, sampai lebam-lebam. Untung aja karateka lain lihat kejadiannya buru-buru membujuknya berhenti."
"Wah, begitu ceritanya. Pantas saja mereka kemarin langsung ciut lihat Jeny di belakangku. Aku kira kenapa mereka tiba-tiba menyuruh ku pergi."
Gilang tersenyum terkesan mendengar cerita itu.
"Kamu juga di palak mereka? "
"Iya, makanya aku ketemu Jeny ya karena kejadian itu."
Gilang menceritakan detail kejadiannya.
"Aku bukannya nggak pegang uang cash, hanya menolak dengan cara lebih halus. Makanya aku bilang cuma ada Qris. Aku tahu warung kecil begitu pasti nggak punya. Nggak nyangka cara Jeny menolak lebih bar-bar, Hahaha. "
"Makanya.. pikir-pikir lagi deh mau kenal lebih banyak sama dia. Dia bawaanya jutek, apalagi sama cowok."
"Aku malah gemas lihat ekspresi juteknya."
"Hah??! Gemas??!! Yang bener aja Lang??Waah, bener kalau gitu kata Erwin, pecah telor juga akhirnya kamu."
Gilang terkekeh, "Jadi menurut mu, teman sekelas kita, ada nggak yang bisa aku tanyain soal dia? "
"Serius??? "
Gilang mengangguk yakin.
"Rika, dia karateka juga. Kamu lihat kan waktu penampilannya di lomba kemarin?"
"Ooh Rika, tapi aku nggak lihat dia. Aku lihat Jeny di belakang."
"Astaga!!?"
Indra menepuk keningnya sendiri tak menyangka.