NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 23

Rombongan Raja Yan Liao tiba di pinggiran Desa Memping ketika matahari telah tinggi di puncaknya, memancarkan cahaya terik yang menyengat kulit. Namun, cahaya siang yang begitu terang itu sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang mencekam dan aura kelam yang menyelimuti tempat tersebut. Begitu barisan depan prajurit melewati gerbang kayu desa yang kini sudah miring dan hancur, seluruh rombongan terhenti seketika.

Langkah kaki pertama yang memasuki wilayah utama desa seolah membeku di atas tanah. Desa Memping, yang seharusnya menjadi tempat istirahat yang damai bagi para pelancong, kini telah berubah total menjadi puing-puing kematian yang mengerikan.

Rumah-rumah kayu yang biasanya asri kini hancur berserakan. Beberapa bangunan hangus terbakar hingga menyisakan rangka hitam yang rapuh, mengeluarkan asap tipis yang menari-nari di udara seperti arwah yang gelisah. Atap jerami runtuh menutupi lantai, tiang-tiang penyangga patah menjadi dua, dan berbagai perabotan rumah tangga hancur berantakan di sepanjang jalanan tanah. Jalanan yang biasanya penuh dengan jejak kaki ternak kini mengeras dan menghitam oleh noda darah kering yang sangat luas. Bau anyir logam yang menyengat bercampur dengan aroma sisa pembakaran menusuk hidung setiap orang, menciptakan rasa mual dan sesak yang luar biasa di dada.

Mayat-mayat warga desa bergelimpangan tanpa aturan, menciptakan pemandangan yang menyayat hati. Ada yang tergeletak tepat di depan pintu rumah dengan posisi tangan menjulur, seolah-olah mereka sedang berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri dari maut yang mengejar. Ada pula yang mati mengenaskan di dalam rumah dengan tubuh tertindih reruntuhan kayu yang terbakar. Di tengah jalan desa, tubuh-tubuh tanpa nyawa terkapar dengan luka tebasan yang sangat kejam dan dalam. Beberapa jasad dipenuhi bekas sabetan pedang yang bertubi-tubi, tulang-tulang yang patah terlihat menonjol keluar dari daging, dan wajah-wajah mereka membeku dalam ekspresi ketakutan yang belum sempat sirna sebelum kegelapan kematian merenggut kesadaran mereka.

Tang Ruo berhenti melangkah dengan tubuh yang gemetar hebat. Wajahnya yang biasanya tegas kini memucat pasi seputih kapas. Matanya bergetar saat melihat tubuh kecil seorang anak yang masih memegang mainan kayu tergeletak tak jauh dari kakinya. "Siapa... siapa yang bisa melakukan hal sekeji ini kepada warga sipil?" batinnya dengan rasa perih yang menghujam jantung. Sebagai seorang pendekar, ia sering terlibat pertarungan hidup dan mati, namun membantai yang lemah adalah sesuatu yang menghina martabat pendekar manapun.

Qing Fei menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering dan tersumbat. Tangannya mengepal sangat erat di balik lengan baju lebarnya, kuku-kukunya hampir menusuk telapak tangannya sendiri demi menahan gelombang emosi dan air mata yang bergejolak. "Ini bukan sekadar perampokan. Ini adalah pembersihan," pikirnya dengan ngeri.

Meng Xin menghela napas panjang yang terasa sangat berat, seolah-olah ada sebongkah batu besar yang menekan dadanya. Meskipun ia telah melalui puluhan musim peperangan dan melihat ribuan kematian di medan laga, pembantaian sepihak tanpa perlawanan terhadap orang-orang yang tak bersalah ini tetap membuat hatinya terasa seperti tercekik. Ia memalingkan wajahnya sejenak, tak sanggup melihat lebih lama kehancuran martabat manusia di desa tersebut.

Para prajurit Pasukan Elit berdiri kaku bagai patung baja di sepanjang jalur desa. Beberapa dari mereka menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan terakhir, sementara yang lain menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang menyala oleh kemarahan yang tertahan di balik zirah mereka.

Raja Yan Liao turun dari keretanya dengan gerakan yang lambat. Setiap tapak kakinya saat menyentuh tanah seakan membawa tekanan yang tak terlihat, sebuah manifestasi dari kemarahan seorang penguasa yang melihat rakyatnya dibantai.

Tatapan Raja Negeri Liungyi itu menyapu seluruh pemandangan porak-poranda tersebut, menatap setiap inci kerusakan dari mayat pertama yang ia lihat hingga jasad terakhir di ujung jalan. Tangannya mengepal sangat kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol keluar dengan jelas.

“Ini…” suara Yan Liao terdengar sangat rendah dan berat, mengandung getaran kemurkaan yang dalam, “…jelas bukan sekadar perampokan biasa demi harta semata.”

Cao Yi berdiri dengan tenang beberapa langkah di belakangnya. Tanpa menunjukkan rasa jijik atau takut, ia berjongkok di samping salah satu mayat pria dewasa, memperhatikan detail luka-luka yang ada dengan saksama. Matanya menyisir tebasan pedang yang tidak rapi, tusukan-tusukan kasar yang menunjukkan kebencian, serta tanda-tanda perlawanan putus asa dari warga desa yang berakhir sia-sia di hadapan senjata tajam.

“Teknik membunuhnya sangat ceroboh, brutal, namun sengaja dilakukan sedemikian rupa untuk menebar teror yang mendalam bagi siapapun yang melihatnya,” kata Cao Yi dengan nada suara yang datar dan dingin, seolah-olah emosinya telah terkunci rapat. “Ini adalah ciri khas serangan Perampok Tengkorak. Mereka tidak hanya menginginkan barang berharga, mereka menginginkan ketakutan.”

Yan Liao menutup matanya sesaat, mencoba meredam gejolak di dadanya. Namun, ketika ia membukanya kembali, sorot matanya telah berubah total, dipenuhi oleh kemarahan yang nyaris meluap dan niat membunuh yang murni.

“Manusia-manusia keji tanpa hati nurani…” ucapnya lirih namun setiap katanya penuh dengan tekanan tenaga dalam yang menggetarkan udara di sekitarnya. “Mereka telah berani membantai rakyatku seolah-olah mereka hanyalah ternak yang tak berharga di mata mereka.”

Ia segera berbalik menghadap pasukannya dengan wibawa penuh. “Cari siapa pun yang masih hidup! Periksa setiap lubang, setiap reruntuhan! Jangan tinggalkan satu sudut pun tanpa pemeriksaan. Lakukan sekarang juga!”

“Siap, Paduka!” teriak para prajurit secara serempak dengan suara yang menggelegar, membangkitkan sedikit energi di desa yang mati itu.

Pasukan segera berpencar dengan sigap, menyisir setiap sudut reruntuhan desa. Di balik sisa-sisa dinding yang roboh, di dalam gudang penyimpanan gandum yang setengah hancur, dan di bawah kolong-kolong kayu yang patah, mereka mulai menemukan warga yang masih memiliki sisa napas. Jeritan pilu dan tangisan yang menyayat hati mulai terdengar memecah keheningan.

Seorang wanita muda tampak memeluk erat tubuh suaminya yang telah kaku dan dingin sambil terisak tanpa suara, air matanya jatuh membasahi luka di dada sang suami. Di sudut lain, seorang pria tua duduk bersandar pada tembok yang retak dengan mata kosong yang menatap tanah, darah terus mengalir dari luka besar di kepalanya tanpa ia pedulikan. Anak-anak yang berhasil selamat merangkak keluar dari tempat persembunyian dengan tubuh yang gemetar hebat, mereka menatap dengan penuh ketakutan bahkan kepada prajurit kerajaan yang datang menolong.

Meng Xin segera mengambil alih komando pengaturan darurat. Dengan suara lantangnya, ia memerintahkan para prajurit untuk mengevakuasi para korban selamat ke area terbuka di tengah desa, memberi mereka air bersih, dan membalut luka-luka mereka seadanya. Qing Fei menggunakan keahliannya untuk membantu mengobati luka-luka luar yang kritis, sementara Tang Ruo berkeliling untuk mencoba menenangkan warga yang nyaris kehilangan akal sehat mereka karena trauma yang sangat mendalam.

Yan Liao sendiri melangkah mendekat dan berlutut di hadapan seorang pria paruh baya yang napasnya tersengal-sengal akibat luka robek besar di dadanya.

“Yang Mulia…” pria itu berbisik dengan suara yang sangat lemah, nyaris tak terdengar. “Mereka datang di tengah kegelapan malam… sangat cepat… tanpa peringatan apa pun…”

Yan Liao menggenggam tangan pria itu dengan sangat erat, seolah-olah ingin membagi kekuatannya. “Aku datang terlambat,” ucap sang Raja dengan suara lirih yang dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam. “Namun dengarkan aku baik-baik, aku bersumpah demi leluhur Liungyi, keadilan akan ditegakkan dan darah kalian tidak akan tumpah dengan sia-sia.”

Di sisi lain desa, Cao Yi berdiri tegak memperhatikan para korban yang terluka parah. Ia tetap tidak menunjukkan kemampuan bela diri atau tenaga dalam apa pun di hadapan orang banyak, hanya memberikan arahan-arahan singkat namun sangat akurat kepada para prajurit medis tentang siapa yang masih memiliki harapan hidup dan siapa yang sayangnya sudah tidak tertolong lagi. Tatapannya terlihat sedingin es, namun jauh di balik itu, tersimpan sebuah amarah yang sunyi dan gelap, sebuah janji kematian yang sedang ia susun dalam pikirannya.

Saat matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang di atas Desa Memping yang telah hancur itu, suasana dipenuhi oleh suara ratapan duka dan langkah-berderap para prajurit yang bekerja tanpa kenal lelah. Banyak nyawa yang telah melayang dalam satu malam, namun mereka yang tersisa kini harus menghadapi kenyataan pahit untuk terus bertahan hidup dengan luka fisik dan kehilangan yang akan membekas seumur hidup.

Yan Liao berdiri di tengah-tengah desa yang kini menjadi makam terbuka, menatap tajam ke arah jalur keluar desa yang dipenuhi oleh bekas-bekas tapak kaki kuda dan roda kereta musuh yang mengarah ke wilayah selatan.

“Perampok Tengkorak,” ucap Yan Liao dengan suara berat yang menggetarkan udara. “Kalian tidak hanya merampok, kalian telah melewati batas yang paling suci bagi seorang raja. Tidak akan ada tempat bagi kalian untuk bersembunyi di tanah ini.”

Di belakangnya, Cao Yi menatap ke arah yang sama. Matanya yang jernih namun gelap. Ia masih dapat merasakan para kelompok Perampok Tengkorak berada tidak begitu jauh dari Desa, jadi dia berencana akan kesana sendiri untuk menjatuhkan palu keadilannya.

1
Dania
misi
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!