Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Pengakuan
Waktu makan siang tiba lebih cepat dari yang Ayuna kira.
Ia duduk di meja makan, sepiring makanan di depannya belum tersentuh. Aroma sup hangat mengepul perlahan, biasanya cukup untuk membuat perutnya yang sensitif merasa nyaman. Hari ini, ia hanya menatapnya tanpa selera.
Mbak Yeni muncul dari dapur sambil mengelap tangan dengan celemek. “Bu Ayuna,” katanya lembut, seperti biasa. “Apakah perlu saya siapkan bekal makan siang untuk Pak Renan?”
Ayuna terdiam.
Sendok di tangannya berhenti di udara.
Selama seminggu terakhir, ia selalu membawakan makan siang Renan ke perusahaan. Kadang ia antar sendiri, kadang dititipkan lewat sopir.
Ia mengingat dengan jelas bagaimana Renan akan menatapnya sebentar lebih lama saat menerima kotak makan itu, lalu berkata, ‘Kamu tidak capek?’ seolah itu sesuatu yang luar biasa, padahal bagi Ayuna, itu hal kecil yang ingin ia lakukan.
Bentuk perhatian.
Bentuk kebersamaan.
“Iya,” jawab Ayuna akhirnya, suaranya refleks. “Tolong siapkan.”
Kalimat itu terhenti di tengah.
Kata lain menyusup ke dalam pikirannya, tanpa izin.
Taruhan.
Dua tahun lalu.
Ayuna menurunkan sendoknya perlahan.
Ayuna menghela napas kecil, hampir tak terdengar.
“Tidak usah,” katanya pelan, mengubah keputusannya.
“Hari ini, tidak perlu.”
Mbak Yeni tampak sedikit heran, tapi tidak bertanya lebih jauh. “Baik, Bu.”
Ayuna mengangguk tipis.
Ia kembali menatap makanannya, lalu memaksa dirinya menyuap satu sendok. Rasanya tetap sama, tapi entah kenapa terasa berbeda.
Bukan karena masakan.
Melainkan karena hatinya sedang menahan sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Ayuna menyadari memberi tanpa bertanya ternyata tidak selalu mudah, ketika ada kebenaran yang belum sepenuhnya diucapkan.
❀❀❀
Mbak Yeni baru saja membuka pintu untuk membuang sampah dan terkejut melihat Renan berdiri di depan pintu.
“Oh, Pak Renan sudah pulang,” katanya agak terkejut, lalu tersenyum kecil, seolah baru memahami sesuatu.
“Pantas saja.”
Renan berhenti sejenak. “Pantas?”
Mbak Yeni menoleh ke arah ruang makan. “Bu Ayuna sedang makan siang. Saya kira hari ini Ibu tidak menyiapkan bekal karena Bapak ingin makan di rumah.”
Renan tidak langsung menjawab.
Ia melangkah ke ruang makan, langkahnya melambat tanpa sadar.
Ayuna duduk di sana.
Ia sedang makan dengan tenang, gerakannya rapi, punggungnya tegak. Tidak tergesa. Tidak gelisah.
Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda, bukan dari caranya makan, melainkan dari caranya ada di ruangan itu. Seolah ia berada di dunianya sendiri.
Renan berdiri di ambang pintu beberapa detik, mengamatinya.
Biasanya, Ayuna akan menoleh begitu menyadari kehadirannya. Biasanya, senyum kecil itu akan muncul lebih dulu sebelum kata-kata. Kali ini, Ayuna baru menoleh setelah beberapa detik, seperti seseorang yang baru kembali dari pikirannya sendiri.
“Kamu sudah pulang,” katanya.
Nada suaranya lembut. Sama seperti biasa.
Tapi, Renan tahu ada lapisan tipis yang tidak ada sebelumnya.
“Kenapa tidak kirim bekal?” tanya Renan, berusaha terdengar ringan, seolah itu hanya pertanyaan keseharian.
Ayuna berhenti mengunyah, lalu menelan perlahan sebelum menjawab. “Kupikir kamu bisa makan di luar,” katanya sederhana. “Atau di rumah.”
Tidak ada penjelasan lebih jauh.
Renan menarik kursi dan duduk di depannya. Jarak mereka dekat, tapi terasa seperti ada ruang kosong yang tak kasat mata di antaranya.
Mbak Yeni datang membawakan piring kosong dan sup tambahan untuk Renan, lalu pamit dengan halus, meninggalkan mereka berdua.
Hening turun.
Renan mengambil sendok, tapi tidak langsung makan. Tatapannya tertuju pada wajah Ayuna tenang, rapi, terlalu terkendali.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya pelan.
Ayuna mengangguk. “Iya.”
Jawaban yang sama seperti pagi tadi.
Renan menarik napas dalam. Ia tahu, ini bukan tentang bekal. Bukan tentang makan siang.
Ini tentang sesuatu yang Ayuna simpan sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Renan merasa ia tidak lagi berada di posisi aman untuk menghindari percakapan itu.
Keduanya makan dalam hening. Renan tak bisa merasakan apa yang dikunyahnya. Pikirannya dipenuhi cara menjelaskan semuanya ke Ayuna.
Ayuna selesai makan lebih dulu berdiri dari kursi dan hendak membawa piringnya ke dapur saat Renan menghentikannya.
Renan berdiri dari kursinya dan menahan tangan Ayuna yang hendak membawa piring ke dapur.
“Ayuna.”
Sentuhannya tidak keras, tapi cukup untuk membuat
Ayuna berhenti.
Ia meletakkan piring itu kembali ke atas meja. Jarinya gemetar, meski wajahnya tetap tenang saat menoleh.
“Ada apa?” tanyanya.
Renan menatapnya beberapa detik, seolah sedang memilih kata.
“Kemarin di klub,” ucapnya pelan. “Kamu mendengar sesuatu, ya?”
Ayuna tidak langsung menjawab.
Ia justru menarik kursinya dan duduk kembali. Gerakannya rapi, terlalu terkendali.
“Aku dengar percakapan,” katanya akhirnya.
Renan menegang.
“Percakapan tentang masa lalu,” lanjut Ayuna pelan.
“Tentang sesuatu yang, rupanya, cukup lucu untuk dijadikan bahan bercanda.”
Ia mengangkat pandangan, menatap Renan lurus-lurus.
“Taruhan.”
Satu kata itu jatuh begitu saja.
Tidak tinggi. Tidak keras.
Namun, cukup untuk membuat napas Renan tertahan.
“Ayuna...”
“Jangan potong aku dulu,” ucap Ayuna lembut, tapi ada getaran tipis di ujung kalimatnya. “Aku hanya ingin tahu.”
Ia menelan ludah.
“Dulu, kamu mendekatiku karena itu?”
Renan membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia terlihat benar-benar kehilangan kata.
“Awalnya,” katanya akhirnya, suaranya serak. “Iya.”
Ayuna mengangguk pelan, seolah sudah menyiapkan dirinya untuk jawaban itu. “Awalnya,” ulangnya. “Lalu?”
Renan mengepalkan tangannya. “Aku tidak tahu tepat kapan itu berhenti.”
Jawaban itu jujur.
Dan justru karena itu, terasa menyakitkan.
“Tapi, aku tahu,” lanjut Renan cepat, seolah takut kehilangan kesempatan bicara, “ada satu titik di mana aku tidak lagi ingat soal menang atau kalah. Aku hanya.”
“Takut?” potong Ayuna lirih.
Renan terdiam.
Lalu mengangguk.
Ayuna tersenyum tipis. Senyum yang rapuh.
“Aku mencoba mengingat semuanya sejak semalam,” katanya. “Perhatianmu. Cara kamu ada. Cara kamu berubah.”
Suaranya bergetar sesaat. Hanya sesaat. “Dan bagian yang paling menyakitkan bukan soal masa lalumu, Renan,” lanjutnya pelan. “Tapi, kenyataan bahwa aku tidak tahu harus mempercayai bagian yang mana.”
Renan berlutut di samping kursinya, refleks, seperti tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
“Ayuna, aku salah,” katanya rendah. “Aku seharusnya mengatakannya sejak awal. Tapi aku takut.”
“Takut aku pergi?”
Renan mengangguk.
Ayuna menatapnya lama.
Ada keheningan yang berat, tapi tidak meledak.
“Aku tidak pergi,” katanya akhirnya. “Bukan sekarang.”
Renan mendongak, matanya mencari suatu harapan, mungkin.
“Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura baik-baik saja,” lanjut Ayuna. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Renan. “Tidak secepat itu.”
Ia berdiri.
Menarik napas dalam. “Kita masih harus mencoba gaun pengantin sore ini,” ucapnya, suaranya kembali tenang, terlalu tenang. “Beri aku waktu.”
Renan tidak bergerak.
“Aku hanya perlu memastikan,” tambah Ayuna sambil melangkah pergi, “bahwa yang akan kupakai nanti adalah untuk sesuatu yang benar-benar nyata, bukan sekadar bayangan dari masa lalu yang ingin kamu kubur.”
Ia menaiki tangga tanpa menoleh lagi.
Renan tetap berlutut di tempatnya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kejujuran tidak selalu langsung menyelamatkan. Kadang, ia hanya membuka luka agar tidak terus membusuk.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta