NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu pilihan

"Euhmmm... Sen?" ucap Michelle dengan suara kecil, wajahnya menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rona merah yang muncul di tengah ketakutannya.

"Aku tahu kalau aku ini cantik... tapi bisakah kamu sedikit menjaga sikapmu? Ini bukan waktu yang tepat untuk... ini."

Andersen tidak melepaskan dekapannya, justru ia semakin waspada. Napasnya memburu, matanya terus memindai arah gedung tempat kilatan sniper itu berasal.

Maafkan aku tetapi seorang pembunuh masih mengincar kita saat ini, bukankah kamu sudah melihat hal tersebut… ucap Andersen yang sedang berfikir untuk bagaimana caranya melarikan diri dari tempat ini.

"Chell, apakah kamu bisa menelepon seseorang? Siapa saja yang bisa mengirim bantuan sekarang?" tanya Andersen cepat.

Michelle mengerjapkan mata, mencoba mengendalikan degup jantungnya yang kencang.

"Euhmmm... handphone-ku tertinggal di dalam mobil. Apakah aku bisa meminjam handphone-mu?" jawabnya terbata. Ia kemudian melirik posisi mereka yang masih sangat rapat di atas aspal.

"Lalu... apakah kita harus terus dalam posisi seperti ini? Ini benar-benar membuatku sulit berpikir, Sen..." ucap Michelle dengan nada bingung, wajahnya masih memerah meski maut baru saja lewat di atas kepala mereka.

Andersen, tidak menghiraukan pernyataan dari Michelle dan pandangannya saat itu sangat fokus ke satu tempat... Hingga, Michelle memberanikan dirinya sendiri untuk mengambil ponsel milik Andersen.

Dengan tangan gemetar, Michelle merogoh saku jaket Andersen dan mengambil ponselnya. Ia menekan beberapa nomor dengan cepat, mencoba mengatur napasnya sebelum suara di ujung telepon menyahut.

"Ayah... mobilku bermasalah. Sepertinya mogok di jalan tol," ucap Michelle dengan nada suara yang dipaksakan setenang mungkin.

Ia tidak ingin ayahnya panik dan melakukan tindakan gegabah yang justru membahayakan mereka.

"Apakah Ayah bisa menjemputku sekarang? Oh, dan bawa beberapa penjaga... tempat ini sangat sepi, aku takut."

Setelah mendapat jawaban dari ayahnya, Michelle menutup telepon tersebut.

Namun, sebelum ia mengembalikan ponsel itu ke saku Andersen, matanya tertuju pada layar yang masih menyala. Wajah Nadia yang tersenyum manis terpampang jelas di sana... menjadi pengingat bagi Andersen akan seseorang yang hilang.

Sebuah dorongan aneh muncul di hati Michelle, ia membuka galeri foto Andersen. Ia menemukan foto dirinya sendiri yang diambil secara diam-diam oleh Andersen saat mereka mengerjakan tugas kelompok setahun lalu.

Saat itu, Michelle yang meminta Andersen memotretnya, sebuah kejadian yang sempat membuat Nadia merasa risih dan cemburu melihat orang yang ia sukai sedang memfokuskan lensa pada gadis lain.

Tanpa izin, Michelle mengganti wallpaper wajah Nadia dengan fotonya sendiri. Ia seolah ingin menegaskan kehadirannya di hidup Andersen saat ini, bahwa dialah yang sedang berada di pelukan pemuda itu.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Andersen menyangga pundak Michelle dan membantunya untuk duduk tegak. Matanya terus melihat gedung-gedung di kejauhan dengan teliti.

"Saat ini posisi pembunuh itu sudah tidak terlihat, tapi aku tidak tahu apakah dia benar-benar pergi atau sedang mencari sudut tembak baru untuk memburu kita lagi," bisik Andersen.

Michelle mengangguk pelan, wajahnya masih sedikit pucat. Ia menjulurkan tangannya, mencoba mengembalikan ponsel milik Andersen yang tadi ia gunakan.

Tidak masalah, pegang saja dahulu, sanggah Andersen.

Karena jarak lokasi kejadian dengan Bandara Soekarno-Hatta memang tidak terlalu jauh, bantuan yang dikerahkan oleh ayah Michelle bisa tiba lebih cepat.

Siluet lampu strobo yang berputar merah dan biru mulai terlihat jelas di aspal, hingga akhirnya rombongan itu berhenti tepat di belakang mobil Andersen. Suasana yang tadinya sunyi mendadak menjadi riuh dengan langkah kaki yang terburu-buru.

Beberapa penjaga membawa senjata Scar sebagai penjagaan saja dan mulai menghampiri Michelle dan Andersen yang masih dalam keadaan terduduk.

Apa yang terjadi?... tanya salah satu penjaga. Michelle, yang masih memegang erat ponsel Andersen, menjawab dengan suara bergetar karena syok. "Seseorang menembak kami...

Apakah kalian bisa memeriksa gedung di seberang sana? Dari sana asalnya!"

Baik Nona, segera kami periksa.

Salah satu penjaga kemudian mendekati mobil Alphard yang ringsek. Ia tertegun sejenak saat melihat kondisi di dalam kabin. Pak Sopir tergeletak tak bernyawa.

Darah segar telah membasahi seluruh kursi pengemudi, menciptakan pemandangan yang mengerikan di bawah lampu interior mobil yang berkedip-kedip.Saat ia melihat keadaan supir, penjaga tersebut mengambil teropong dan mulai mengamati gedung yang ada di seberang mereka dan beberapa gedung yang ada disekitarnya.

“Pengemudi dikonfirmasi tewas di tempat," lapor penjaga itu melalui radio panggilnya. Ia menurunkan teropongnya dengan raut wajah kecewa. "Gedung target tampak kosong. Tidak ada pergerakan atau pantulan lensa lagi. Kemungkinan besar pembunuhnya sudah melarikan diri sesaat setelah melepaskan tembakan terakhir."

Penjaga itu kemudian menyampaikan informasi ini dan mulai menuntun Michelle dan Andersen menuju mobil patroli yang mereka bawa. Andersen, yang menyadari ia tidak mungkin menyetir, memberikan kunci Honda Civic milik ayahnya kepada salah satu penjaga.

"Waw... sangat cantik," gumam penjaga itu saat menerima kunci mobil sport tersebut, matanya berbinar melihat desain aerodinamis Civic yang terawat sempurna.

"Tetap fokus, Kopral!" tegur rekannya dengan nada dingin sambil merebut kunci itu. "Kita sedang dalam misi evakuasi, bukan pameran. Kita akan bergantian mengemudikannya sampai ke tempat aman."

Iring-iringan mobil itu segera memacu kecepatan maksimal, membelah angin malam jalan tol dengan lampu strobo yang terus berputar. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menembus barisan keamanan bandara yang ketat.

Di sana, di depan terminal pribadi, sosok ayah Michelle sudah menunggu dengan raut wajah khawatir.

Setelah Ayahnya Michelle mengucapkan terimaksih kepada Andersen, juga akan memberikan balasan suatu saat nanti… balasan sebagai seorang pebisnis. Pria tersebut dan Michelle, serta beberapa penjaga berjalan menuju ke pesawat Jet yang sudah terparkir di depan mereka…

Begitu pintu mobil terbuka, Michelle langsung menghambur dan memeluk ayahnya erat-erat. Tangisnya pecah saat ia menceritakan rentetan horor yang baru saja ia alami—tentang kematian sopirnya yang mendadak dan bagaimana maut nyaris menjemputnya.

Namun, ada satu detail yang sengaja ia simpan rapat-rapat: momen saat Andersen mendekapnya di atas aspal dingin untuk melindunginya dari peluru.

Pria itu, Michelle, dan beberapa penjaga segera melangkah menuju pesawat jet pribadi yang mesinnya sudah menderu di landasan. Michelle sempat menoleh sekali lagi ke arah Andersen sebelum pintu pesawat tertutup, meninggalkan Andersen dalam keheningan bandara yang luas.

Andersen pun dikawal pulang oleh penjaga yang tersisa. Begitu memasuki kamarnya, ia segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur tanpa sempat mengganti pakaian.

Ia menutup wajahnya dengan tangan kiri, mencoba menghalau bayang-bayang kematian yang terus mengejarnya. Kelelahan yang luar biasa menyeretnya ke dalam tidur yang gelap.

Di dalam benaknya ia sangat lelah… iapun memilih untuk beristirahat.

[ KAU MEMILIKI SATU PILIHAN... APAKAH KAU INGIN MENIADAKAN KEJADIAN PEMBUNUHAN YANG TERJADI PADA NADIA? ]

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!