NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 6

Yurie baru menyadari satu hal yang aneh setelah beberapa waktu berada di kediaman Reynard: tubuhnya tidak lagi menegang setiap kali mendengar langkah kaki mendekat.

Dulu, di rumah Nazeeran, suara langkah selalu berarti sesuatu—teguran, perintah, atau kemarahan yang datang tanpa aba-aba. Setiap derit pintu membuat dadanya mengeras, setiap suara sepatu membuatnya bersiap menunduk.

Namun di tempat ini, langkah-langkah itu terdengar… biasa saja. Tidak membawa ancaman. Tidak menuntut apa pun darinya.

Ia berdiri di dekat jendela kamar yang disediakan untuknya, memandangi halaman luas yang tertata rapi. Rumput hijau terbentang, pepohonan tinggi berjajar dengan jarak yang terukur, dan air mancur kecil di tengah taman memantulkan cahaya dengan cara yang menenangkan mata.

Angin menyelinap lewat celah jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma dedaunan basah dan bunga yang samar.

Yurie menarik napas pelan.

Aroma ini tidak mengingatkannya pada ketakutan.

Di belakangnya, pintu kamar diketuk dua kali—pelan, tidak tergesa. Yurie menoleh, jantungnya sempat melonjak sebelum ia mengingat di mana ia berada.

“Masuk,” ucapnya lirih.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Kaiden Gelano Reynard.

Seperti biasa, pria itu terlihat rapi dan tenang. Kemeja berwarna gelap melekat sempurna di tubuhnya, rambutnya tersisir tanpa kesan berlebihan. Wajahnya dingin—selalu begitu jika dilihat sekilas—namun matanya menyimpan sesuatu yang berbeda saat menatap Yurie.

Bukan tatapan menilai.

Bukan tatapan menguasai.

Lebih seperti… memastikan.

“Kau belum makan,” katanya datar, seolah itu hanya catatan kecil.

Yurie berkedip. “Aku tidak lapar.”

Kaiden melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. “Kau hanya terbiasa mengabaikan rasa lapar.”

Kalimat itu membuat Yurie terdiam. Ia tidak menyangkal. Bahkan tidak tahu harus menyangkal dari mana.

Kaiden meletakkan nampan kecil di meja dekat sofa. Di atasnya ada sup bening, roti hangat, dan segelas air. Tidak ada hidangan mewah. Tidak ada porsi berlebihan.

“Sederhana,” kata Kaiden, seolah membaca pikirannya. “Aku tidak ingin kau merasa terintimidasi.”

Yurie menatap makanan itu cukup lama sebelum akhirnya duduk. Ia memegang sendok dengan ragu, seperti anak kecil yang lupa bagaimana caranya makan tanpa diawasi. Sendok itu bergetar sedikit di tangannya.

Kaiden tidak duduk di depannya. Ia memilih berdiri di dekat jendela, memberi ruang, memberi jarak yang terasa disengaja.

“Kau tidak harus menghabiskannya,” ujarnya.

“Cukup makan sampai tubuhmu merasa cukup.”

Yurie mengangguk pelan.

Sup itu hangat. Tidak terlalu panas, tidak hambar. Rasa sederhana yang perlahan mengisi perutnya, membuat dadanya terasa lebih ringan. Tanpa sadar, bahunya yang sejak tadi tegang mulai turun.

Kaiden memperhatikannya dari sudut mata.

“Apakah kau selalu makan secepat itu?” tanyanya tiba-tiba.

Yurie terkejut kecil. “Aku… terbiasa begitu.”

“Tak ada yang akan mengambil makananmu di sini.”

Kalimat itu terdengar biasa, tapi bagi Yurie, kata-kata tersebut seperti pintu yang dibuka perlahan. Ia menelan ludah, jari-jarinya mencengkeram sendok lebih erat sebelum akhirnya mengendur.

“Terima kasih,” ucapnya nyaris tak terdengar.

Kaiden menoleh sepenuhnya. “Untuk apa?”

“Untuk… tidak memaksaku.”

Ia mengira Kaiden akan membalas dengan kalimat singkat seperti biasanya. Namun pria itu justru terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku tidak berniat menggantikan ketakutan dengan bentuk yang lain.”

Yurie mengangkat kepala, menatapnya. Untuk sesaat, ia merasa kalimat itu bukan sekadar janji, melainkan keputusan yang sudah lama dipegang.

Setelah selesai makan, Yurie berdiri untuk membereskan nampan. Kaiden lebih dulu meraih nampan itu dari tangannya.

“Biarkan staf yang mengurus.”

Yurie refleks menarik tangannya kembali. “Aku bisa—”

“Aku tahu.” Nada Kaiden tetap tenang. “Tapi di sini, kau tidak harus membuktikan apa pun.”

Kalimat itu membuat Yurie membeku di tempat.

Tidak harus membuktikan apa pun.

Ia tidak ingat kapan terakhir kali mendengar kalimat semacam itu.

Kaiden berjalan menuju pintu, lalu berhenti. “Aku akan berada di ruang kerja. Jika kau membutuhkan sesuatu, ketuk pintu. Tidak perlu alasan.”

Setelah Kaiden pergi, Yurie duduk kembali di sofa. Ia menyandarkan punggung, menutup mata sejenak. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa bersalah hanya karena… duduk diam.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Ketika Yurie membuka mata, langit di luar jendela telah berubah warna. Cahaya lembut merambat masuk, membuat ruangan terlihat lebih hangat. Ia berdiri dan berjalan keluar kamar, menyusuri koridor yang luas. Langkahnya ragu, tapi tidak tergesa.

Ia berhenti di depan sebuah pintu setengah terbuka.

Kaiden ada di dalam.

Pria itu berdiri di depan rak buku tinggi, membuka satu per satu berkas. Ia terlihat fokus, serius, tapi tidak kaku. Lampu meja menyinari wajahnya dari samping, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan sorot mata yang tajam.

Yurie berdiri di ambang pintu tanpa sadar.

Kaiden mendongak. “Masuk.”

Ia melangkah masuk perlahan. “Maaf… aku hanya ingin bertanya.”

“Silakan.”

“Apakah aku… mengganggumu?”

Kaiden menutup berkas di tangannya. “Tidak.”

Jawaban itu singkat, tapi meyakinkan.

Yurie menggenggam ujung bajunya. “Aku tidak terbiasa… berada di tempat seperti ini. Aku takut melakukan sesuatu yang salah.”

Kaiden berjalan mendekat, berhenti dengan jarak yang aman. “Tidak ada aturan rumit di sini.”

“Bagaimana jika aku melakukan kesalahan?”

“Maka kita perbaiki.” Kaiden menatapnya lurus. “Bersama.”

Kata itu membuat jantung Yurie berdegup lebih cepat. Bersama.

Ia mengangguk, meski matanya mulai terasa hangat. Kaiden seolah menyadarinya, namun tidak bertanya. Ia hanya mengulurkan tangan—tidak menyentuh, hanya menunjuk ke arah kursi di dekat meja.

“Duduklah. Aku akan membuatkan teh.”

Yurie menurut.

Kaiden menuangkan air panas dengan gerakan tenang. Tidak terburu, tidak dingin. Ia meletakkan cangkir di depan Yurie.

“Minumlah perlahan.”

Yurie mengangkat cangkir itu. Uap hangat menyentuh wajahnya, membawa aroma yang lembut. Ia menyeruput sedikit, merasakan kehangatan menyebar.

“Kaiden…” panggilnya ragu.

“Ya?”

“Kenapa kau melakukan semua ini?”

Kaiden tidak langsung menjawab. Ia duduk di kursi seberang, menyandarkan punggung, menatap Yurie dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Karena kau tidak seharusnya menjalani hidup dengan rasa takut,” katanya akhirnya. “Dan karena pernikahan ini… bukan hukuman bagimu.”

Yurie menunduk, jari-jarinya menggenggam cangkir. “Aku tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpa waspada.”

“Tidak perlu tahu sekarang.” Nada Kaiden lembut. “Kau hanya perlu belajar pelan-pelan.”

Keheningan jatuh di antara mereka—bukan keheningan yang canggung, melainkan yang nyaman. Seperti ruang kosong yang tidak perlu diisi dengan kata-kata.

Yurie menyadari sesuatu yang mengejutkan: ia tidak ingin keheningan ini berakhir.

Ketika malam semakin dalam, Kaiden mengantar Yurie kembali ke kamarnya. Ia berhenti di depan pintu.

“Beristirahatlah,” ucapnya. “Besok kita makan bersama.”

Yurie mengangguk. “Baik.”

Kaiden berbalik pergi, namun langkahnya terhenti saat Yurie memanggil, “Kaiden.”

Ia menoleh. “Terima kasih… sudah membuatku merasa aman.”

Untuk sesaat, ekspresi dingin itu retak. Hanya sedikit, tapi cukup untuk menunjukkan kehangatan yang tulus.

“Selamat beristirahat, Yurie.”

Pintu tertutup perlahan. Yurie bersandar di sana beberapa detik, menahan napas yang terasa penuh. Dadanya hangat. Bukan karena teh. Bukan karena ruangan. Melainkan karena, untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang berdiri di sisinya—bukan di depannya, bukan di atasnya.

Dan rasa nyaman itu… pelan-pelan tumbuh.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!