Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: “Tercyduk” Papa Gavin?
Pintu utama penthouse itu terbuka lebar, menghantam penahan pintu magnetik dengan suara benturan yang menyakitkan telinga.
Gavin Ardiman melangkah masuk seperti badai topan. Napasnya memburu, wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini merah padam menahan amarah. Di belakangnya, dua bodyguard berbadan tegap bersiaga, tangan mereka sudah berada di balik jas, siap menerima perintah tempur.
Mata elang Gavin langsung tertuju pada rak sepatu di foyer yang berlapis marmer Italia.
Di antara deretan stiletto mahal, boots kulit seharga motor, dan sepatu lari edisi terbatas milik Alea, terdapat sepasang benda asing yang sangat mengganggu pemandangan.
Sepasang sepatu kets putih yang sudah berubah warna menjadi abu-abu karena debu jalanan. Solnya sudah tipis, talinya sedikit berjumbai. Sepatu laki-laki.
Rahang Gavin mengeras hingga terdengar bunyi gemeretak gigi.
"Periksa seluruh ruangan!" perintah Gavin menggelegar. "Ada penyusup! Jangan biarkan dia lolos lewat balkon!"
"Siap, Pak!" Dua bodyguard itu langsung menyebar, satu ke arah dapur, satu ke arah kamar tidur utama.
Gavin mencengkeram tongkat golf iron-7 yang terpajang di dekat pintu masuk—koleksi antik yang seharusnya cuma jadi hiasan, tapi pagi ini berubah fungsi menjadi senjata. Dia berjalan menghentak-hentak menuju ruang tengah.
Sementara itu, di ruang tengah, suasana sudah kacau balau.
"Rigel! Ngumpet! Cepetan ngumpet di balik sofa!" desis Alea panik, mendorong-dorong tubuh tegap Rigel yang masih setengah nyawa mengumpulkan kesadaran.
"Ngapain ngumpet? Saya bukan maling," jawab Rigel tenang, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. Dia justru berdiri tegak, merapikan hoodie-nya yang kusut. "Lebih baik dihadapi."
"Lo gila ya?! Papa gue itu mantan atlet tembak reaksi! Lo mau dijadiin sasaran tembak?!" Alea histeris, wajahnya pucat pasi. Dia menyambar selimut, mencoba menutupi bekas martabak di meja, tapi terlambat.
Langkah kaki Gavin sudah sampai di batas partisi ruangan.
Gavin berhenti.
Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya.
Putri kesayangannya, Alea Ardiman, berdiri dengan piyama kusut dan wajah ketakutan. Di meja kopi, berserakan kotak martabak, tisu bekas, dan gelas kopi—sisa-sisa "kencan" semalam.
Dan yang paling membuat darah Gavin mendidih adalah sosok laki-laki jangkung yang berdiri tepat di samping Alea. Laki-laki asing dengan pakaian santai, rambut acak-acakan, dan wajah bantal.
Jelas sekali mereka habis tidur di ruangan yang sama.
"Alea..." suara Gavin terdengar rendah, berbahaya, seperti gemuruh sebelum petir menyambar.
"Pa! Dengerin Alea dulu!" Alea maju selangkah, merentangkan kedua tangannya melindungi Rigel. "Ini nggak kayak yang Papa pikir! Kita nggak ngapa-ngapain! Sumpah demi Tuhan! Kita cuma ketiduran pas nonton film!"
"Minggir, Alea," perintah Gavin dingin. Matanya terkunci pada Rigel. Tatapan seorang ayah yang merasa putrinya sedang dimanfaatkan oleh laki-laki tak jelas.
Gavin sudah terlalu sering melihat pola ini. Laki-laki bermulut manis yang mendekati Alea cuma karena silau dengan harta keluarga Ardiman. Dulu ada Dion, si penjudi. Sekarang siapa lagi?
Gavin melangkah maju, mengangkat tongkat golf-nya.
"Selamat pagi, Om," sapa Rigel sopan, sedikit menundukkan kepala tanda hormat, sama sekali tidak terlihat gentar meski sedang ditodong tongkat besi. "Maaf kalau kehadiran saya mengejutkan Om pagi ini."
"Jangan panggil saya Om!" bentak Gavin keras. "Saya tidak punya keponakan yang berani menyelinap ke apartemen anak gadis orang tengah malam!"
Gavin menunjuk wajah Rigel dengan ujung tongkat golf itu. Jaraknya hanya tinggal sepuluh senti dari hidung mancung Rigel.
"Liat penampilan kamu," Gavin memindai Rigel dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. Dia melihat hoodie polos tanpa merek, celana jins belel, dan wajah yang terlalu santai untuk ukuran orang yang tertangkap basah.
Bagi Gavin, Rigel terlihat seperti pengangguran atau laki-laki tidak bermodal yang numpang hidup.
"Kamu pikir kamu siapa, hah? Pacar Alea? Simpanan?" tuduh Gavin tajam. "Berapa uang yang kamu minta dari anak saya sampai kamu bisa tidur nyenyak di sofa mahal ini?"
"Pa! Jaga omongan Papa!" teriak Alea tak terima. "Rigel nggak pernah minta duit! Dia dokter, Pa! Dia yang ngerawat Alea pas sakit kemarin!"
"Dokter?" Gavin tertawa sinis, tawa yang meremehkan. "Dokter macam apa yang tidur sembarangan di rumah pasien wanita? Itu melanggar kode etik! Atau itu cuma modus kamu buat morotin Alea?”
Gavin semakin mendekatkan tongkat golfnya. Urat-urat lehernya menonjol.
"Saya sudah muak dengan laki-laki benalu yang mendekati Alea. Kalian semua sama saja. Modal tampang, modal janji manis, ujung-ujungnya minta saham atau minta dibayarin utang!"
Rigel menarik napas panjang. Dia tidak mundur. Dia menatap mata Gavin lurus-lurus. Sorot matanya tenang, namun memiliki wibawa yang anehnya membuat Gavin sedikit tertegun. Itu bukan tatapan seorang penipu yang ketakutan. Itu tatapan seseorang yang setara.
"Saya bukan benalu, Pak Gavin," jawab Rigel tegas, suaranya stabil. "Dan saya tidak butuh uang sepeserpun dari Alea."
"Bohong!" sentak Gavin.
Alea gemetar. Dia tahu betul watak ayahnya. Sekali Gavin marah, tidak ada yang bisa membantah.
"Pa, tolong turunin tongkatnya... malu didenger tetangga..." mohon Alea, matanya berkaca-kaca.
"Biarin tetangga dengar! Biar semua orang tahu kalau saya nggak akan biarin ada tikus masuk ke rumah saya!"
Gavin mengokohkan cengkeramannya pada tongkat golf.
"Sekarang jawab jujur atau saya panggil polisi atas tuduhan masuk tanpa izin dan percobaan pelecehan," ancam Gavin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Dia menekan ujung tongkat golf itu ke dada Rigel, tepat di jantungnya.
"Siapa kamu sebenarnya?! Dan apa tujuan kamu mendekati anak saya?! Jelaskan dalam sepuluh detik, atau kamu keluar dari sini dengan kaki patah!"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....