Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Pertolongan Nenek Rita
Ibunya Dimas menatap Nana dengan penuh jijik, seolah semua penderitaan anaknya bisa diringkas hanya dengan satu sosok di depannya.
“Kamu dengar ya,” katanya dingin, menusuk. “Sejak awal saya sudah bilang. Kamu itu tidak pantas jadi menantu saya. Perempuan seperti kamu cuma bawa sial buat keluarga kami. Saya tidak akan pernah—tidak akan pernah—ridho kalau Dimas menikah dengan kamu.”
Nana membeku. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan barusan. Tenggorokannya terasa tercekat, dadanya sesak, tapi tak satu pun kalimat sanggup keluar dari mulutnya.
Dimas menatap ibunya dengan wajah campur aduk antara marah, lemah, dan putus asa. “Bu… jangan ngomong gitu…”
“Diam!” bentak sang ibu. “Kamu ini masih sakit, emosimu belum stabil. Kamu ikut ibu sekarang.”
Ia langsung meraih pegangan kursi roda Dimas dan mendorongnya menjauh dari Nana.
“Nana…” Dimas menoleh ke belakang, matanya basah. “Tunggu aku… kita belum selesai…”
Nana ingin mengejarnya. Ingin bilang seribu hal. Ingin menjelaskan bahwa ia tidak sekejam yang dituduhkan. Tapi kakinya seperti tertanam di lantai. Suaranya terkunci di dada.
Ia hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung orang yang pernah ia cintai lebih dari siapa pun, yang kini perlahan menghilang di ujung lorong rumah sakit.
Saat mereka benar-benar menghilang dari pandangan, lutut Nana gemetar hebat. Nafasnya tersengal. Dunia terasa terlalu besar dan terlalu kejam untuknya seorang diri.
Dan saat itulah Nenek Rita memeluknya.
Pelukan itu tidak kuat, bahkan rapuh. Tapi hangatnya menembus pertahanan Nana yang sudah retak sejak lama.
“Shh… shh…” bisik Nenek Rita sambil mengelus punggungnya pelan. “Jangan diam, jangan nangis. Kamu gak salah. Kamu harus lawan dia.”
“Nenek…” suara Nana pecah. Ia akhirnya terisak. Bahunya naik turun hebat. “Saya capek, Nek… Saya capek banget…”
Nenek Rita menghela napas panjang. Ia memeluk Nana lebih erat, meski tubuhnya sendiri sedikit bergetar.
“Kamu bukan perempuan jahat,” katanya lirih tapi tegas. “Kamu cuma perempuan yang terlalu sabar sama orang yang salah.”
Nana menggeleng pelan di dalam pelukan itu. “Aku gak pernah minta dia sakit. Aku gak pernah ninggalin dia karena itu. Aku cuma… aku cuma mau didengerin…”
“Aku tahu,” sahut Nenek Rita cepat. “Dan nenek percaya sama kamu.”
Kata-kata sederhana itu membuat Nana menangis semakin keras.
Beberapa orang yang lewat melirik, tapi Nenek Rita tak peduli. Ia tetap berdiri di sana, menopang Nana seperti seorang ibu yang melindungi anaknya dari badai.
“Dengar ya, Nana,” ucapnya setelah tangisan Nana sedikit mereda. “Kalau ada orang tua yang bilang kamu tidak pantas, itu bukan kebenaran mutlak. Itu cuma luka dan ego mereka yang bicara.”
Nana menyeka matanya dengan punggung tangan. Wajahnya bengkak, pipinya masih memerah bekas tamparan.
“Tapi… kalau dia milih ibunya…” gumam Nana lemah.
“Berarti dia belum cukup dewasa buat milih kamu,” potong Nenek Rita lembut.
Nana terdiam lama.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak langsung menyalahkan dirinya sendiri.
Nenek Rita menggenggam tangannya. “Kamu gak sendirian sekarang. Selama kamu di kota ini… nenek ada di sisi kamu.”
Nana menatap wajah tua itu, matanya kembali basah.
“Terima kasih, Nek…”
Di lorong rumah sakit yang dingin itu, Nana akhirnya merasa… ia masih punya satu tempat untuk berdiri.
Langkah kaki cepat terdengar mendekat dari ujung lorong.
“Nenek!”
Suara itu membuat Nenek Rita mendongak. Seorang pria muda berlari kecil ke arah mereka, napasnya tersengal, rambutnya sedikit berantakan, kemeja kantornya belum sempat diganti.
Jordan.
Begitu sampai, ia langsung memeluk Nenek Rita dengan erat, hati-hati seolah takut tubuh renta itu patah di pelukannya.
“Nenek? Katanya nenek berantem? Nenek gpp kan?” gerutunya cemas.
Nenek Rita terkekeh kecil. “Ya ampun, siapa sih yang berani sama nenek? Hmm."
Jordan menghela napas lega, lalu mengusap pelipis neneknya. “Kalau kenapa-kenapa gimana? Aku kan—”
Kalimatnya terpotong saat matanya akhirnya menangkap sosok Nana yang berdiri di samping Nenek Rita.
Jordan terdiam.
Pandangan mereka bertemu.
Nana refleks menunduk, kikuk, masih dengan mata sembap dan pipi merah.
“Eh…” Jordan berdehem pelan. “Nana.”
“Ya dok…” balas Nana nyaris tak bersuara.
Nenek Rita menatap bolak-balik wajah mereka. Tatapannya menyipit, penuh arti.
Jordan menoleh ke neneknya. “Nenek kenal sama Nana?"
"Oh jadi pasien itu Nana? Pasien yang dibilang dekat sama kamu? Wah! Bisa kebetulan gini ya? Yok nikah aja. Nenek siapin semuanya!"
***
Bersambung...