Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rodrigo
Uap dingin merayap pelan dari tabung-tabung nitrogen, menyelimuti lantai laboratorium yang steril dan mencekam. Di tengah kesunyian yang hanya dipecah oleh dengung mesin pendingin, seorang pria berdiri mematung di depan meja kerja stainless steel.
Cahaya lampu neon yang pucat memantul pada luka gores kemerahan yang membekas di pipinya—jejak pelarian yang memalukan.
Tiba-tiba, sebuah geraman rendah yang sarat akan kebencian lolos dari tenggorokannya saat matanya menatap layar monitor yang menampilkan berita terkini--- wanita itu berhasil selamat.
Target utamanya, yang seharusnya terkubur di bawah reruntuhan dan kobaran api mall, entah bagaimana bisa lolos dari maut. Pria itu mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih--- kemarahannya bukan sekadar karena kegagalan pembunuhan, melainkan karena tiga nyawa kecil yang masih berdenyut di dalam rahim wanita itu.
Baginya, ketiga bayi kembar itu adalah benih malapetaka yang harus dimusnahkan sebelum mereka sempat menghirup udara dunia.
Dia harus mengubah garis waktu, melenyapkan sang penghalang masa depan, sebelum masa depan tentang impiannya kembali gagal karena tangan-tangan mungil yang kini masih terlindungi di balik perut ibunya.
Di sekelilingnya, para profesor yang biasanya menegakkan kepalanya sekarang hanya bisa menunduk dalam diam, tak berani bernapas keras, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh aura kegelapan yang memancar dari pria yang sedang berusaha menantang garis waktu tersebut.
"Bagaimana bisa..." Rodrigo berdesis, suaranya rendah namun penuh ancaman.
Ia mencengkeram tepian meja metal hingga buku jarinya memutih. Di sekelilingnya, lima Profesor kimia berpakaian hazmat putih hanya bisa menunduk dalam-dalam. Tak satu pun dari mereka berani bernapas terlalu keras.
"Aku sudah meruntuhkan seluruh gedung itu!" Geram Rodrigo. Ia membalikkan badan dengan cepat, membuat para Profesor tersentak mundur. "Api itu seharusnya memanggangnya! Menghancurkan dagingnya sampai tidak bersisa!"
"T-tapi Tuan Rodrigo," salah satu Profesor memberanikan diri bicara dengan suara gemetar, "Laporan medis dari lapangan menyebutkan bahwa wanita itu... dia berhasil ditarik keluar tepat sebelum struktur utama roboh."
Rodrigo tertawa kering, sebuah suara yang terdengar mengerikan di ruangan sedingin itu.
"Kalian tidak mengerti," ucap Rodrigo sambil mendekat, menatap sang Profesor tepat di mata. "Bukan wanita itu yang aku incar. Dia hanyalah wadah. Yang harus lenyap adalah apa yang ada di dalam rahimnya. Tiga detak jantung itu."
Ia berhenti sejenak, membayangkan masa depan yang ia tinggalkan—masa depan di mana ia seharusnya bertakhta sebagai Kaisar, namun hancur karena tiga sosok yang lahir dari rahim wanita tersebut.
"Jika ketiga bayi kembar itu menarik napas pertama mereka di dunia ini, maka sejarah tidak akan berubah," lanjut Rodrigo sembari mengusap luka di wajahnya. "Black akan memiliki penerus. Dan aku... aku akan tetap menjadi pecundang yang terbuang dari garis waktu."
"Aku datang dari masa depan bukan untuk melihat mereka selamat! Aku datang untuk menjadi Kaisar! Dan seorang Kaisar tidak akan membiarkan penghalangnya lahir ke dunia!"
Suasana menjadi semakin mencekam. Suhu ruangan seolah turun beberapa derajat lagi. Rodrigo berpaling kembali ke monitor, matanya berkilat penuh dendam.
Rodrigo menatap tajam seolah menantang. "Kematian-kematian misterius yang terjadi beberapa bulan terakhir ini... kalian pikir itu kebetulan? Itu adalah jejak mereka. Mereka—versi dewasa dari bayi-bayi itu—sedang berusaha menyeberangi waktu untuk melindungi keluarganya. Tapi aku tidak akan kalah."
"Jika aku tidak bisa mengubah masa lalu.. Maka tahta Kekaisaran masa depan akan tetap jatuh pada Black dan keturunan nya."
Tak. Tak. Tak.
Suara langkah sepatu hak tinggi yang tegas bergema di lorong pualam, memecah keheningan laboratorium yang kaku. Seorang wanita muda berusia 22 tahun muncul dari balik pintu otomatis. Wajahnya cantik namun dingin, dengan tatapan yang menyiratkan kecerdasan sekaligus kewaspadaan.
"Kemarahan hanya akan mengaburkan presisi perhitunganmu, Ayah," ucap Viona tenang.
Rodrigo menoleh cepat. "Viona. Kau lihat apa yang terjadi? Kegagalan demi kegagalan! Kasus kematian aneh yang melibatkan masa depan selama beberapa bulan terakhir ini. Kita tidak punya banyak waktu sebelum mereka menyadari siapa kita
Viona berjalan mendekat, melewati para profesor yang masih mematung. Ia menatap layar monitor yang menampilkan wajah wanita sasaran mereka.
"Kau terlalu meremehkan ikatan darah Black," ujar Viona sambil menyilangkan tangan di dada. "Ketiga bayi itu... mereka bukan sekadar janin biasa. Masa depan mengirim mereka ke rahim itu karena mereka tahu hanya melalui garis keturunan itulah Ayah bisa dihentikan. Jika satu ledakan mall tidak bisa membunuh mereka, maka cara-cara konvensional tidak akan lagi berguna."
Rodrigo mencengkeram bahu Viona, matanya merah karena obsesi. "Lalu apa usulmu? Aku ingin mereka lenyap sebelum mereka sempat melihat cahaya matahari!"
Viona menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Jangan gunakan api atau ledakan. Gunakan apa yang sedang dikerjakan para profesor penakut ini. Jika fisik mereka terlalu kuat untuk dihancurkan dari luar, kita hancurkan mereka dari dalam—lewat udara yang mereka hirup, lewat cairan yang ibu mereka konsumsi. Kita buat masa depan mereka mati sebelum sempat dimulai."
Rodrigo berbalik, menatap cairan biru pekat di dalam tangki besar." Kalian dengar itu! Percepat produksi racun saraf tingkat tinggi itu. Jika api tidak bisa membakar mereka, maka biarkan udara yang mereka hirup menjadi malaikat maut mereka. Aku akan menjadi Kaisar, dan takhta itu akan dibangun di atas makam keturunan Black. Mengerti?!"
Para Profesor menjawab Serempak, suaranya lirih."Baik, Tuan Rodrigo!"
•
•
Sementara di tempat lain, suasana remang - remang, hanya diterangi cahaya monitor yang menampilkan data target berikutnya. Arthur dan Elvira duduk berhadapan. Meski kembar, aura mereka berbeda; Arthur seperti pedang yang tajam, Elvira seperti racun yang tenang.
Elvira menatap tangannya yang sedikit gemetar. "Ibu selamat, Arthur. Tapi ledakan itu... Rodrigo benar-benar gila. Dia hampir membunuh kita sebelum kita sempat dilahirkan."
Arthur suara berat dan dingin."Dia tidak akan berhenti. Dia membunuh orang - orang kita di garis waktu ini untuk membangun fondasi kerajaannya. Dan kita? Kita membunuh orang-orang mereka lebih dulu agar dia tidak memiliki sekutu. Kita menjadi monster untuk menghentikan monster yang lebih besar!"
Elvira, suara lirih tapi tajam. "Tapi sampai kapan? Setiap nyawa yang kita ambil di sini mengubah masa depan yang kita kenal... Rodrigo lebih berbahaya dari sebelum nya."
Arthur mendekat, menatap mata kembarannya dengan sirat kekhawatiran yang dalam. "Jika kita gagal membunuh Rodrigo, di masa depan Black—ayah kita—akan mati secara mengenaskan. Aku lebih baik kehilangan jiwaku di masa lalu daripada melihat keluarga kita musnah di masa depan. Persiapkan senjatamu, Elvira. Viona sudah bergerak."
Elvira mengangguk.. Dia tau apa yang harus dia lakukan.
"Tapi Kak, " Elvira menatap dalam Arthur. "Aku penasaran.. Rodrigo di zaman ini kemana? Seharusnya muda bagi kita.. Jika kita membunuh Rodrigo yang berasal dari zaman ini.. Bukankah itu berarti Rodrigo tidak akan hidup di masa depan?"
Arthur terdiam sebelum menjawab sambil menghela nafas. " Mungkin.. Rodrigo telah menyembunyikan dirinya dari zaman ini untuk menyelamatkan dirinya sendiri.. Dia tau, kita akan datang untuk memusnahkan nya. Makanya dia lebih dulu bertindak... "
"Tapi ingatan kita di masa lalu.. berbeda! Rodrigo berada di lingkungan keluarga kita.. tapi disini, dia menghilang." suara Elvira dingin, namun jelas ada kegelisahan.
"Masa lalu berubah karena kedatangan masa depan... Rodrigo telah berhasil menyelamatkan dirinya yang ada disini untuk menyelamatkan masa depan nya."
Mereka sadar bahwa setiap nyawa orang berkuasa yang mereka cabut belakangan ini adalah tumbal demi menjaga keselamatan keluarga mereka di masa depan.
Bagi Arthur dan Elvira, mereka bukan sekadar pembunuh--- mereka adalah pelindung sejarah yang bersedia menjadi monster demi memastikan hari esok tetap ada, meskipun itu berarti harus berhadapan langsung dengan kekejaman Rodrigo.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat ringan terdengar. Begitu halus hingga hampir tak tertangkap indra manusia biasa. Arthur dan Elvira seketika menoleh ke arah pintu.
Sesosok pria muda masuk dengan tangan terbenam di saku jaketnya. Aura di sekitarnya terasa berat dan menekan—sebuah kehampaan yang mematikan.
"Kalian terlalu banyak bicara," ucapnya datar.
Vans menatap kedua saudara kembarnya dengan mata yang tak terbaca. Di antara mereka bertiga, dialah yang paling pendiam, namun semua tahu bahwa dialah yang paling tak ragu untuk menumpahkan darah.
Vans duduk di sebelah Arthur dengan kaki di silang."Rodrigo sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar ledakan mall. Jika kalian ingin Ibu selamat, berhenti merasa khawatir. Fokus pada target berikutnya... Kalian tau, bukan? Jika Rodrigo berhasil membunuh janin yang Ibu kandung.. maka kita tidak akan pernah terlahir... itu berarti, kita tidak akan ada di masa depan!"
•
•
•
BERSAMBUNG