Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: LUKA YANG MEMANGGIL NAMA
Dua minggu telah berlalu sejak aku kembali. Pola telah terbentuk seperti ritual: pagi antar Kinan ke TK, siang bantu Maya dengan pekerjaan rumah, sore jemput Kinan, malam bantu Bima belajar. Hidup yang sederhana. Hidup yang penuh makna.
Tapi ada sesuatu yang berubah setelah pembakaran diary itu. Maya mulai membiarkan dinding pertahanannya retak sedikit. Kadang dia tertawa lebih lepas. Kadang matanya tidak lagi kosong ketika menatap kejauhan. Dan malam-malam, setelah anak-anak tidur, kami mulai banyak bicara. Tentang masa kecil. Tentang mimpi yang tertunda. Tentang luka yang belum sembuh.
Hari ini hari Minggu. Maya memutuskan untuk mengajak anak-anak ke pantai sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sejak Rangga pergi.
"Kinan belum pernah lihat pantai," kata Maya saat sarapan, sambil mengoleskan selai pada roti untuk Kinan. "Rangga selalu bilang nanti, nanti, sampai tidak pernah kesampaian."
"Pantai!" Kinan melompat-lompat di kursinya. "Adek mau buat istana pasir!"
Bima tersenyum, senyum yang membuatnya terlihat seperti anak delapan tahun seharusnya. "Aku mau cari kerang buat koleksi."
Pantai Losari tidak jauh. Kami naik angkot, dengan Kinan duduk di pangkuanku sambil terus bertanya tentang laut. "Om, laut itu dalem banget ya? Ada hiu nggak? Kalau Adek kejebur, Om selametin ya?"
Maya tersenyum dari seberang. "Dia lagi fase takut-takut tapi penasaran."
"Seperti ibunya waktu kecil," balasku, dan dia melempar senyuman yang membuat dadaku hangat.
---
Pantai Losari sore itu tidak terlalu ramai. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma asin yang familiar. Kinan langsung berlari ke tepi air, terpesona oleh ombak yang menyapu kakinya yang mungil.
"Pelan-pelan, Kinan!" teriak Maya, tapi wajahnya cerah. Bahagia.
Aku membantu Bima mengumpulkan kerang. Dia dengan serius memilih yang paling cantik, menyimpannya di plastik kecil. "Untuk Mama," bisiknya. "Biar dia senang."
"Kamu selalu memikirkan Mama ya?"
"Dia yang selalu memikirkan kami. Jadi wajar kan kalau kami juga memikirkan dia?"
Anak delapan tahun. Dengan kebijaksanaan yang membuat orang dewasa malu.
Sementara itu, Maya dan Kinan sedang membuat istana pasir. Maya mengajari Kinan cara membuat menara dengan ember, cara membuat jendela dengan stik es krim. Kinan tertawa riang tawa yang polos, bebas, tawa anak yang untuk sesaat melupakan bahwa hidupnya tidak sempurna.
Aku mengambil foto mereka dari kejauhan. Ibu dan anak perempuan. Matahari sore membelai wajah mereka dengan cahaya keemasan. Untuk sesaat, semuanya terasa sempurna.
Tapi hidup punya cara untuk mengingatkan kita bahwa kesempurnaan hanyalah ilusi sementara.
---
Kejadiannya cepat. Terlalu cepat.
Kinan berlari mengejar burung camar yang terbang rendah. Dia tidak melihat batu besar yang terpendam di pasir. Kakinya tersandung, tubuh mungilnya terlempar ke depan, dan kepalanya membentur batu itu dengan suara "bruk" yang membuat darahku beku.
"KINAN!" teriak Maya, suaranya pecah oleh kepanikan.
Aku sudah berlari sebelum sadar. Kinan terbaring di pasir, mata terpejam, dan dari pelipisnya, darah mengalir deras terlalu deras untuk luka kecil.
"Darah..." bisik Maya, wajahnya pucat seperti kertas. "Darahnya banyak..."
"Ambil handuk!" perintahku sambil berlutut di samping Kinan. Aku tekan tangan pada lukanya, mencoba menahan pendarahan. Tapi darah tetap merembes melalui jari-jariku, merah terang di atas pasir putih. "Kinan! Kinan, dengarkan Om!"
Dia tidak membuka mata. Nafasnya dangkal.
Maya kembali dengan handuk, tangannya gemetar hebat. "Dia... dia nggak bangun-bangun, Raka..."
"Kita bawa ke rumah sakit. Sekarang."
Aku mengangkat Kinan dengan hati-hati. Tubuhnya terasa ringan, terlalu ringan. Darah terus menetes, membasahi bajuku. Maya mengambil tas dan memegang tangan Bima yang wajahnya penuh ketakutan.
Kami lari ke jalan utama. Aku melambaikan tangan pada taksi, tapi tidak ada yang berhenti. "TOLONG!" teriakku, suara penuh kepanikan yang tidak pernah kukenal sebelumnya.
Akhirnya sebuah taksi berhenti. Pengemudinya melihat Kinan yang penuh darah, matanya melebar. "Cepat, rumah sakit terdekat!" teriak Maya sambil masuk.
Selama perjalanan, Maya terus membisikkan doa. Tangan yang memegang tangan Kinan gemetar tak terkendali. Bima menangis pelan, mencoba menjadi kuat tapi gagal.
"Jangan, Kinan," bisik Maya berulang-ulang. "Jangan pergi, Sayang. Mama di sini. Mama di sini..."
Aku menekan handuk ke luka Kinan, berdoa agar pendarahan berhenti. Wajah Kinan yang biasanya ceria sekarang pucat, bibirnya mulai kebiruan.
---
Rumah sakit. Suasananya seperti adegan film yang dipercepat.
Perawat membawa Kinan ke ruang gawat darurat di atas tandu. Dokter datang, menanyakan apa yang terjadi. Maya menjawab dengan suara terputus-putus, hampir histeris.
"Kepala terbentur batu... darah banyak... dia belum sadar..."
"Kami akan tangani, Ibu. Silakan tunggu di luar."
Pintu ruang gawat darurat tertutup. Suara mesin, suara langkah cepat, suara perintah medis yang samar-samar terdengar.
Maya terpaku di depan pintu, tubuhnya gemetar. Aku menariknya ke kursi tunggu. "Duduk dulu. Mereka dokter terbaik."
"Tapi darahnya... banyak banget, Raka," bisiknya, matanya kosong. "Kalau dia... kalau dia..."
"Jangan pikirkan itu. Kinan kuat. Dia akan baik-baik saja."
Tapi hatiku sendiri penuh ketakutan. Darah yang begitu banyak. Kepala terbentur batu. Kehilangan kesadaran.
Bima duduk di samping Maya, memegang tangannya erat. "Mama, Kinan pasti baik-baik saja. Dia kan kuat."
Maya memeluk Bima, menangis di bahunya. "Maafin Mama, Sayang. Maafin Mama nggak jaga Kinan baik-baik..."
"Apa yang terjadi bukan salah Mu," kataku, tapi kata-kata itu terasa hampa. Karena dalam situasi seperti ini, semua orang merasa bersalah.
Menit berlalu seperti jam. Jam berlalu seperti hari. Setiap kali pintu terbuka, kami melompat, berharap ada kabar baik. Tapi hanya perawat yang keluar masuk dengan ekspresi serius.
Setelah satu setengah jam yang terasa seperti penyiksaan abadi, dokter keluar. Wajahnya lelah, tapi tidak muram. Itu pertanda baik, kan?
"Ibu Maya?"
Maya berdiri dengan cepat, hampir jatuh kalau tidak kupegang. "Dokter, anak saya...?"
"Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan. Luka di pelipis cukup dalam, perlu beberapa jahitan. Tapi yang kami khawatirkan adalah kemungkinan gegar otak ringan."
Maya menggapai kursi untuk penyangga. "Gegar... otak?"
"Kepalanya terbentur cukup keras. Kami sudah lakukan CT scan, dan ada sedikit pembengkakan tapi tidak ada perdarahan dalam. Itu berita baik."
"Tapi...?"
"Tapi dia masih belum sadar. Itu normal setelah benturan seperti itu. Tubuhnya butuh waktu untuk pulih." Dokter meletakkan tangan di bahu Maya. "Kami akan observasi 24 jam ke depan. Kalau tidak ada komplikasi, dia akan baik-baik saja."
"Bisa saya lihat dia?" suara Maya kecil, penuh harap.
"Sebentar. Kami akan pindahkan dia ke ruang observasi dulu."
Ketika dokter pergi, Maya menutup wajah dengan tangan. Tangisnya keluar lagi tapi kali ini, tangis kelegaan. "Alhamdulillah... alhamdulillah..."
Aku memeluknya. Tidak peduli siapa yang melihat. Tidak peduli apakah ini sopan atau tidak. Dia butuh pelukan. Dan aku butuh meyakinkan diriku sendiri bahwa Kinan akan baik-baik saja.
---
Kinan terbaring di ranjang rumah sakit dengan perban putih membungkus kepalanya. Wajahnya pucat, tapi nafasnya teratur. Mesin monitor di sampingnya menunjukkan detak jantung yang stabil.
Maya duduk di samping ranjang, memegang tangan Kinan yang kecil. "Mama di sini, Sayang. Mama tidak akan kemana-mana."
Bima berdiri di ujung ranjang, matanya merah. "Dia bangun kapan, Om?"
"Segera," jawabku, berharap kata-kata itu benar.
Malam turun. Bima sudah tertidur di kursi tunggu di luar. Tapi Maya tetap duduk di samping Kinan, tidak bergerak, seperti patung penjaga.
"Kamu harus istirahat juga," kataku pelan.
"Aku tidak bisa. Tidak sebelum dia buka mata."
Aku mengambilkan kopi dari kantin rumah sakit. Kembali ke ruangan, duduk di kursi di seberang Maya.
"Bukan salahmu," kataku lagi, kali ini dengan lebih tegas.
"Tapi aku ibunya. Aku yang seharusnya jaga dia."
"Kecelakaan bisa terjadi pada siapa pun, kapan pun. Kamu tidak bisa mengawasi setiap detik hidupnya."
Dia menatapku, matanya penuh rasa sakit yang dalam. "Raka, kamu tidak mengerti. Kalau sesuatu terjadi pada Kinan... aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Karena dia..."
Dia berhenti, menelan ludah.
"Karena dia apa?"
Maya menarik napas dalam-dalam, seperti mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang berat. "Karena Kinan... adalah satu-satunya hal yang buat aku bertahan setelah Rangga pergi. Bima kuat. Bima bisa mengerti. Tapi Kinan... dia masih kecil. Dia butuh aku. Dan aku... butuh merasa dibutuhkan."
Dia menatap wajah Kinan yang tertidur. "Ketika Rangga pergi, ada hari-hari ketika aku ingin menyerah. Ingin tidur dan tidak bangun lagi. Tapi kemudian Kinan akan masuk ke kamarku, peluk aku, bilang 'Mama jangan sedih'. Dan aku ingat: aku tidak boleh pergi. Karena dia butuh aku."
Air mata mengalir di pipinya lagi. "Jadi kalau dia... kalau dia pergi duluan... tidak ada lagi yang menahanku di sini."
Kata-kata itu seperti pukulan. Aku tidak pernah menyadari betapa rapuhnya Maya. Betapa dia hanya bertahan untuk anak-anaknya. Betapa tanpa mereka, dia mungkin sudah menyerah.
"Aku di sini," kataku, mengambil tangannya yang dingin. "Aku juga butuh kamu. Bima butuh kamu. Keluarga butuh kamu."
"Tapi kamu bisa pergi lagi. Bisa kembali ke Singapura. Bisa melanjutkan hidupmu."
Aku berjongkok di sampingnya, memaksa dia menatap mataku. "Dengarkan aku baik-baik, Maya. Aku tidak pergi. Aku TIDAK akan pergi. Tidak sekarang. Tidak besok. Tidak sampai aku yakin kamu dan anak-anak benar-benar baik-baik."
"Janji?" bisiknya, suaranya seperti anak kecil yang membutuhkan kepastian.
"Bukan janji. Tapi fakta. Aku sudah membuat reservasi satu arah ke Singapura. Tiket pulangku sudah kubatalkan."
Matanya membesar. "Kamu...?"
"Iya. Aku sudah telepon bosku seminggu yang lalu. Aku minta cuti panjang. Dan jika tidak diberikan... aku akan mengundurkan diri."
"Raka, tidak! Karirmu"
"Karir bisa dicari lagi. Tapi kamu... kamu tidak bisa diganti."
Diam. Hanya suara mesin monitor yang berdetak stabil.
"Aku tidak mau kamu mengorbankan hidupmu untukku," akhirnya Maya berkata.
"Ini bukan pengorbanan. Ini pilihan. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa membuat pilihan yang benar."
Kami duduk dalam keheningan setelah itu. Tangan masih terpegang. Di ranjang, Kinan masih tertidur. Di luar, kota Makassar terus berdenyut, tidak peduli dengan drama kecil di ruang rumah sakit ini.
---
Pukul tiga pagi. Maya akhirnya tertidur, kepalanya bersandar di tepi ranjang, tangan masih memegang Kinan.
Aku menatap mereka. Ibu dan anak. Dua jiwa yang saling menyelamatkan tanpa menyadarinya.
Kemudian, sesuatu terjadi.
Jari kecil Kinan bergerak.
Aku melompat, mendekat. "Kinan?"
Matanya berkedip. Pelan. Lalu terbuka.
"Ma...ma?" suaranya parau, kecil.
Maya terbangun. "Kinan! Sayang!"
"Kepala Adek sakit," Kinan mengerutkan dahi. "Adek mimpi buruk."
Maya menangis lagi tangisan bahagia kali ini. "Mama di sini. Mama di sini."
"Kenapa Adek di sini? Ini bukan rumah."
"Kamu jatuh di pantai, Nak. Tapi sekarang sudah baik-baik saja."
Kinan melihat sekeliling, lalu matanya menemuiku. "Om Raka juga ada."
"Iya, Om di sini," kataku, meraih tangannya yang lain.
"Pas Adek jatuh... Adek ingat Om peluk Adek. Terus bawa Adek ke mobil."
Aku terkejut. Dia ingat. Meski tidak sadar, dia ingat.
"Om janji selalu lindungi Kinan," kataku, suara serak oleh emosi.
Kinan tersenyum kecil senyum lemah, tapi itu senyum. "Adek haus."
Perawat datang, memeriksa Kinan, tersenyum lega. "Dia baik-baik saja. Masih perlu istirahat, tapi yang terburuk sudah lewat."
Setelah minum dan diperiksa lagi, Kinan tertidur lagi. Tapi kali ini, tidurnya nyenyak. Damai.
Maya menatapku, matanya penuh rasa syukur yang tidak terucapkan. "Terima kasih," bisiknya. "Untuk semuanya."
Aku hanya mengangguk. Tidak perlu kata-kata.
Dari jendela rumah sakit, fajar mulai menyingsing. Warna jingga merekah di langit, menggantikan kegelapan malam.
Seperti kehidupan kami, pikirku. Malam yang gelap mungkin lama, tapi fajar selalu datang. Selalu.
Dan hari ini, fajar itu datang dengan Kinan yang membuka mata, dengan Maya yang tersenyum lagi, dengan keluarga yang meski terluka, tetap bertahan.
Aku menatap kota yang mulai bangun di bawah. Lima tahun lalu, aku lari dari kota ini, dari orang-orang di dalamnya, dari rasa sakit yang tak kutahu bagaimana mengatasinya.
Tapi sekarang, di ruang rumah sakit yang steril ini, dengan sepupuku yang terluka namun kuat, dan dua anak yang mengajarkannya tentang arti bertahan, aku tahu:
Ini bukan tentang lari dari rasa sakit.
Ini tentang menemukan alasan untuk tetap tinggal meski sakit.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku punya alasan yang cukup.