NovelToon NovelToon
WANG SHIN

WANG SHIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengawal / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

왕신 ー 27

...왕신...

𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 𝓇𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔!

••

Keluar dari tempat acara itu, mood Lim Suyu mendadak buruk. Sepanjang sesi, Kwon Mina, adik tiri perempuan yang jarak usianya cukup banyak tahun di bawahnya itu terus mendominasi obrolan, terihat jelas menunjukkan ingin menonjol di depan semua orang.

Jika semua petinggi berpihak pada kakak adik itu, posisi Lim Suyu jelas terancam. Sebagian sudah berpindah hati dan tujuan mereka benar-benar untuk menjatuhkannya.

Kakak beradik Kwon, entah umpan jenis apa yang mereka lepas sampai magnetnya begitu kuat.

“Bagaimana aku akan bertahan jika begini?” Lim Suyu bergumam frustrasi, sembari memijat kening di tempat duduknya.

Sekarang sudah ada di dalam mobil yang mulai melaju dikemudikan Shin. Pria itu melirik Nyonya Lim melalui kaca spion tanpa kata, tapi dari sorot mata yang menembus ke kejauhan, pikirannya sedang bekerja.

Melirik wanita itu sekali lagi, dia ingat satu hal.

“Pimpinan! Anda tidak makan dengan baik di tempat pertemuan tadi, sebaiknya kita cari tempat makan dulu untuk mengisi energi Anda.”

“Aku tidak lapar.”

“Kekuatan bisa terbentuk dari energi, kulihat Anda hanya meneguk segelas gula. Untuk bisa berpikir lebih tenang dan mendapat keputusan bagus, selain glukosa, Anda juga butuh lemak dari telur atau sepotong salmon. Jadi mari kita mampir ke suatu tempat.”

“Aku bilang aku tidak lapar!"

BRUUUMM!

Lim Suyu mendesah kasar, semua kata tertelan di tenggorokan. Kukuhnya ditentang. Mobil sudah dibelok ke arah berlawan lalu berhenti di sebuah restoran mahal.

“Silakan turun, Bu Pimpinan Yang Terhormat. Aku akan pesankan makanan dengan gizi yang paling baik untuk seusia Anda.” Pintu dibukakan Shin, meminta Lim Suyu untuk segera turun, sengaja mengulurkan tangannya agar disambut.

Sepertinya hanya pengawal itu yang bisa membuat seorang Lim Suyu tidak bisa mendebat dengan kecerdasannya. “Haa, baiklah.” Dia mendesah dan mengalah. “Tapi aku akan menuntutmu jika sampai makanan-makanan itu tak lekas membuat kepalaku membaik.”

“Aku siap dicambuk.”

“Aku menyediakan penggal.”

“Jangan lupa asah goloknya, aku tidak suka merasakan perih terlalu lama jika pisau tumpul membuatku gagal mati sekali tebas.”

“Kau ini.” Habis sudah bahan debatnya.

Hanya ketika dia merasakan makanan itu benar-benar membuatnya kembali percaya diri, Lim Suyu akhirnya membiarkan dirinya rileks, tegang di kepala hampir tidak terasa lagi.

Shin tersenyum mendapati wanita paruh abad itu menikmati makanannya dengan sangat nyaman di seberang meja. “Sepertinya aku akan selamat dari hukuman penggal," katanya setengah mencibir.

“Kau harus berterima kasih pada koki di restoran ini, mereka membuat makanannya sangat enak sampai aku hilang minat untuk mengasah pisau.”

Melebar sudut bibir Shin―sedikit saja. “Kedengarannya memuaskan.”

Lim Suyu hanya mengedik bahu, dia baru saja mengusap bibirnya dengan sehelai tisu usai meneguk gelas minumanya sebagai penutup ritual. “Jadi, Wang Shin ... ayo pulang. Aku mulai mengantuk.”

Tanpa mendebat lagi. “Oke.”

Sampai di kediaman Lim 40 menit kemudian.

“Tidak perlu mengantarku sampai ke depan kamar. Kau kembalilah ke paviliun dan beristirahatlah.”

“Dengan senang hati.” Sedikit membungkuk sebagai hormat, Shin berlalu dari pijaknya usai Lim Suyu hilang dari pandangan.

Kamar paviliun dijejak dalam beberapa langkah panjang. Sampai di dalamnya, langsung melepas pakaian dan melemparnya ke kursi, membiarkan bagian tubuh atasnya menyombongkan bisep dan sekat enam.

Sebuah teapot kaca di nakas terisi penuh air putih, dia menuangnya ke dalam gelas untuk meneguknya habis, sebelum kemudian mengempas diri pada empuknya kasur.

Aroma lavender yang menenangkan menyeruak ke penciuman baru dia sadari, ia mengerut kening sambil menatap ke langit-langit, lalu menoleh ke meja kerja. Tersungging senyuman kala melihat sebuah pengharum ruangan berdiri bersama dua botol minuman suplemen berperisa ginseng.

“Aku akan merapikan kamarmu. Umm ... aroma apa yang kau sukai?” Suara salah satu gadis pelayan dengan wajah serupa boneka migi terngiang di telinganya. Pertanyaan pagi itu sebelum Shin pulang menikmati libur. Lavender adalah jawaban singkat yang dia berikan, bahkan dengan tidak benar-benar memikirkannya.

“Gadis yang manis,” kicaunya lucu, dan melupakannya segera.

Tidak ada yang perlu dikerjakan malam ini. Lagipula dia lumayan merasa lelah setelah menyetir ke sana sini.

Akhirnya ....

Malam telah mencapai puncak keheningannya. Shin membiarkan jiwanya lepas dari ikatan duniawi, perlahan hanyut ke batas kesadaran. Dalam transisi menuju mimpi, melepaskan satu demi satu beban, membiarkan tubuhnya ringan, dan menyerah pada pelukan malam yang gelap namun menenangkannya.

“Zzzz ... Grrrrr.”

...★...

...-----------ᏇᏗᏁᎶ ᏕᏂᎥᏁ------------...

...★...

Tiga hari kemudian ....

“PIMPINAAAAN!”

Keadaan mendadak gaduh saat Lim Suyu tiba-tiba ambruk, tak sadarkan diri di ruang rapat saat membahas satu anak perusahaan yang bermasalah.

“CEPAT PANGGIL AMBULANS!!”

Shin yang memang ada di sana bertindak impulsif, menaikkan Lim Suyu dalam bopongan depan ala bridal untuk kemudian bergegas membawanya pergi.

Tidak ada mata yang tidak tercengang dengan ulahnya. Lim Suyu yang kritis dan berlebihan dengan sentuhan orang lain kecuali dokter pribadinya, tidak ada yang berani menyentuhnya walau seujung jari.

“Pengawal gila itu!”

Saat beberapa memaki, seorang wanita kepala divisi sebuah bagian menyela, “Tidak masalah! Dia melakukannya demi keselamatan. Andai aku kuat, aku juga akan melakukannya.”

“Benar! Kau pikir Pimpinan Lim tidak akan memecatmu jika membiarkannya tetap tergolek hanya karena Beliau krisis terhadap sentuhan orang?”

“Sudahlah, wanita hanya itu hanya terlalu sombong, padahal dia membutuhkan banyak orang di sekitarnya, setidaknya untuk membopong seperti yang dilakukan pengawal pribadinya itu.” ―Kwon Minho.

Sekretaris Lim Suyu―Myung Sehyun, diam dalam geram mendengar ocehan mereka. Tapi tidak mengatakan apapun secara langsung selain dalam hatinya menyanggah, “Kalian tidak tahu apa pun. Kalau saja Bu Pimpinan tidak pernah mengalami demam tinggi karena sentuhan beracun seseorang, berkali-kali, beliau akan jadi bos yang paling hangat.”

Berlagak fokus membereskan barang-barang bos-nya sebelum kemudian ikut berlari keluar menyusul Wang Shin.

***

Setelah direbahkan, brangkar yang membawa Lim Suyu didorong segera ke ruang IGD oleh dua perawat wanita. Wang Shin dan Myung Sehyun ditahan untuk menunggu di luar selama penanganan.

Tak lama, Han Taeja datang tergopoh membawa wajah cemasnya. Sekretaris Myung yang menghubunginya.

“Bagaimana dengan Bu Pimpinan?!”

“Masih ditangani dokter, Pengacara Han,” jawab Sehyun.

Di helaan napas kasarnya, pandangan Han Taeja bertemu dengan Shin yang berdiri merosot bersandar dinding dengan tangan menyilang di depan dada. Tidak mengatakan apa-apa, secepatnya dia membuang muka.

Shin menatapnya sedikit keruh, sampai kemudian beranjak untuk mendekati pengacara itu.

Han Taeja sempat terkejut, tapi berusaha menegakkan diri agar tidak memalukan di depan Myung Sehyun. “Ada apa?” Dalam hati menekan diri, “Dia mungkin berbahaya tapi dia bukan seorang penjahat.”

Myung Sehyun mengatakan di telepon jika Shin yang menggendong Lim Suyu keluar dengan lari lebar, di beberapa kesempatan, Shin juga berhasil membuat Lim Suyu dalam keadaan terjaga.

Jadi tidak ada alasan untuk mencemaskan hal yang belum pasti.

Sorot mata Shin tidak sangat tajam sampai membuat pengacara itu gemetar, Han Taeja sudah bisa menguasai diri.

“Pengacara Han, bisa kita bicara?”

1
Blueberry Solenne
Shin punya sembilan nyawa kayaknya wkwkwk
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Kalo gk salah masih ada tiga tambahan lagi
total 1 replies
Blueberry Solenne
tapi berhubungan seperti suami istri sungguhan, hahaha
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Yg penting ada status, nggak jasa sekali pake trus dibayar murah🤣
total 1 replies
Blueberry Solenne
Weh habis olahraga di bawah selimut
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Olahraga apa namanya?🤣
total 1 replies
chaa
semangat 💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: nggak, Kak.
gk semangat aku ... 😭
total 1 replies
Be___Mei
Hemmm, pekerjaan Shin nggak jauh jauh dari orang berkuasa.
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: emang gitu, Mak?🤓
total 1 replies
Be___Mei
Nahhh, kan. Gerak-gerik Nyonya Lim nggak bisa. Orang kaya elit emang begitu 🤧
Be___Mei
Pinter juga Nyonya ini
Be___Mei
Ian, cewek???
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Laki, Mak.
Ian Haris🤓
total 1 replies
Be___Mei
Cobain masakan Kalimantan juga ya 😂
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Jangan bilang buaya goreng?🤣
total 1 replies
Be___Mei
kwkwkwk barulah terungkap bahwa Shin tajir melintir 😂😂
Be___Mei
Udahlah, Shin. Cewek banyak kok di dunia. Salah satunya aku 🤭 cuma aku sedikit berbeda dengan Ana. Kalau Ana biasanya pakai gaun seksoi, aku pakainya daster 😂😂
Be___Mei
Aishhh!! Ana Sibal ****
Be___Mei
Ya elah, Neng! Dikasih aman malah kabur.
Be___Mei
Mamam tuh calon mantu idaman
Be___Mei
Iya juga. Ngapain coba meladeni Gibek padahal dia udah hapus ikatan kontrak sama Shin. Apakah dia mau berpijak di dua perahu?? Ana oh Ana
Be___Mei
Bayangin wajah visual artis kpopnya kebingungan. Pasti lucu tapi kasihan juga 🥲🤣
Be___Mei
Istri mana yang bisa menolak pesona seorang Shin?! Walaupun nikah kontrak, tapi mereka pasangan sah 🤧
Be___Mei
Teman Anda! Teman baru Anda 🤧 orang yang selalu kau andalkan, itu dia suami Ana
Be___Mei
Perasaanku mengatakan Takeda masih hidup. Pria sekuat itu tidak mudah jadi ubi kan mak???
Machan
kurang menantang ye, Shin😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!