Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Matahari mulai naik, menyengat tengkuk Belva yang sejak tadi membungkuk memunguti daun-daun kering yang membandel. Sapu lidinya sudah hampir patah, tapi hamparan daun mahoni itu seolah tidak ada habisnya.
"Satu... dua... tiga... DUH, KOK JATUH LAGI SIH?!" Belva nyaris membanting sapu lidinya ke aspal. Ia menyeka keringat yang bercucuran di pelipisnya, wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Barra, yang sedari tadi hanya duduk santai di atas kursi taman sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya, tiba-tiba berdiri. Ia melangkah mendekat, bayangan tubuhnya yang tinggi kini menutupi Belva dari sengatan matahari.
"Lemah banget sih lo. Baru nyapu segitu aja udah mau nangis," celetuk Barra pedas.
Belva mendongak, matanya berkaca-kaca karena lelah. "Kak Barra kalau nggak mau bantuin mending diem deh! Ini panas, tahu! Kak Arlan emang robot, tapi Kakak lebih mirip mandor jahat!"
Barra terdiam melihat mata Belva yang mulai basah. Ada rasa tak tega yang tiba-tiba menyelinap di hatinya. Tanpa kata, ia merebut sapu lidi dari tangan Belva, membuat gadis itu tersentak.
"Pegang ini," Barra menyodorkan botol minum dingin yang entah sejak kapan ia siapkan.
"Duduk di sana. Biar gue yang kelarin. Gue nggak mau reputasi gua rusak gara-gara ada cewek pingsan pas lagi gue hukum."
Belva melongo, menatap punggung tegap Barra yang mulai menyapu dengan gerakan sangat cepat dan rapi. "Kak... beneran?"
"Diem atau gue tambah dua lapangan lagi?" ancam Barra tanpa menoleh. Belva langsung lari ke kursi taman, meminum airnya sambil senyum-senyum sendiri. Ia tidak tahu kalau di ujung koridor, drama besar sedang menimpa sahabatnya.
Sementara itu, di lantai paling atas, Sesya hampir menyerah. Ia duduk di anak tangga terakhir dengan napas terengah-engah. Alat pel di sampingnya sudah terlihat menyedihkan.
"Kak Darrel... udah ya? Lantai tiga udah kinclong kok, beneran deh. Tadi gue liat ada lalat kepeleset di sana," rengek Sesya, mencoba merayu sang ahli strategi itu.
Darrel yang sedang bersandar di pagar koridor sambil memperhatikan ponselnya hanya mengangkat sebelah alisnya. "Lalat kepeleset? Kreatif juga alasan lo. Tapi sayangnya, gue liat di sudut lab Fisika masih ada noda debu tipis."
"KAK DARREL!" Sesya berdiri dengan sisa tenaganya, menatap Darrel tajam. "Lo beneran nggak punya perasaan ya? Gue ini bidadari, masa disuruh ngepel tiga lantai?!"
Darrel tertawa renyah, tawa yang sebenarnya sangat jarang ia perlihatkan. Ia melangkah mendekati Sesya, membuat gadis itu mundur hingga terpojok ke dinding. Darrel menumpukan satu tangannya di tembok, mengurung Sesya dalam jarak yang sangat dekat.
"Bidadari?" Darrel menyeringai tipis, wajahnya mendekat ke telinga Sesya. "Kalau lo beneran bidadari, harusnya lo bisa terbang ke lantai satu buat ambil gue kopi, bukan malah ngos-ngosan kayak gini."
Wajah Sesya panas seketika. Jantungnya berdegup kencang bukan karena capek, tapi karena tatapan intens Darrel. "Apaansi...Ga jelas...minggir!"
Darrel tidak langsung minggir. Ia justru semakin mencondongkan tubuhnya, menikmati semburat merah yang kian menjalar di pipi Sesya. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang sanggup membuat siswi mana pun di SMA ini meleleh, namun bagi Sesya, itu adalah tanda bahaya.
"Kenapa? Tadi galak banget sampai mau ngepel muka gue, sekarang malah gagap?" goda Darrel, suaranya rendah dan serak.
Sesya memalingkan wajahnya ke samping, tidak sanggup membalas tatapan intens dari mata tajam di hadapannya. "Kak, sumpah ya... ini koridor lagi sepi, nanti kalau ada guru lewat bisa gawat!"
Darrel terkekeh pelan, akhirnya ia menjauhkan tubuhnya dan menarik kembali tangannya dari tembok. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan bersih berwarna abu-abu dari saku seragamnya, lalu tanpa permisi, ia mengusap dahi Sesya yang basah oleh keringat.
"Tugas lo hari ini selesai. Istirahat di sini," ujar Darrel. Nada suaranya yang tadi mengejek kini berubah menjadi sedikit lebih lunak.
Sesya terpaku. Perlakuan Darrel yang tiba-tiba manis itu justru lebih menakutkan daripada hukumannya. "Hah? Beneran selesai? Kakak nggak lagi ngerjain gue kan?"
"Gue emang licik, tapi gue nggak kejam sama cewek yang udah mau pingsan," jawab Darrel sambil memasukkan kembali sapu tangannya.
Darrel menyandarkan tubuhnya kembali ke pagar koridor, menatap Sesya yang masih mematung dengan wajah semerah tomat. Suasana lantai tiga yang sepi itu mendadak terasa canggung bagi Sesya, namun terasa menyenangkan bagi Darrel yang diam-diam menikmati ekspresi bingung gadis di depannya itu.
"Kenapa masih di situ? Mau lanjut ngepel lantai empat?" tanya Darrel memecah keheningan dengan nada jahilnya yang kembali muncul.
Sesya tersentak, lalu buru-buru menggeleng cepat. "Nggak! Makasih! Gue mau duduk aja di sini, kaki gue beneran udah kayak mau lepas," sahut Sesya sambil menghempaskan bokongnya di anak tangga, memijat betisnya yang pegal luar biasa.