Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengingkari kehampaan
Bau antiseptik adalah napas pertama yang ia hirup setiap pagi, dan napas terakhir yang menyesakkannya sebelum terlelap dalam tidur yang tak pernah nyenyak. Bau itu menelan segalanya.
Aroma makanan hambar di nampan, wangi sabun murahan di kamar mandi, bahkan bau anyir samar dari darah yang telah mengering di antara kedua kakinya beberapa hari lalu, meski sudah bersih namun tetap saja aroma darah itu seolah melekat. Di ruangan serba putih ini, kesedihan Queenora tidak punya warna, hanya aroma steril yang menusuk.
Gadis itu berbaring kaku, menatap langit-langit yang memiliki retakan halus seperti peta sungai yang kering.
Tubuhnya adalah sebuah pengkhianatan. Pukulan terakhir Ayahnya, yang mendarat telak di perutnya, telah merenggut detak jantung yang belum sempat ia dengar, hanya ia rasakan sebagai getaran janji di kedalaman rahimnya.
Janji itu kini telah menjadi lubang hitam, menyedot semua cahaya dan harapan. Ironi paling kejam adalah bagaimana tubuhnya terus berjalan seolah tak terjadi apa-apa.
Buah dadanya terasa kencang dan berat, sesekali mengeluarkan rembesan bening yang meninggalkan noda kekuningan di gaun rumah sakitnya. Tubuhnya telah bersiap menjadi ibu, memproduksi sumber kehidupan untuk nyawa yang telah direnggut paksa. Sebuah mesin yang terus berfungsi, bahkan setelah jiwanya remuk menjadi debu.
“Nona Queenora, waktunya minum obat,” suara seorang suster yang baru saja datang memecah keheningan yang menjadi teman Queenora.
Queenora tidak menoleh. Ia hanya mengulurkan tangan, telapaknya terbuka, pasrah. Tiga butir pil diletakkan di sana. Ia menelannya tanpa air, merasakan tablet-tablet itu tersangkut sejenak di kerongkongannya sebelum meluncur turun, seperti batu yang ditelan bulat-bulat.
“Apa Anda butuh sesuatu lagi?” tanya suster itu dengan nada yang dilatih untuk terdengar peduli.
Queenora menggeleng pelan. Ia hanya ingin dibiarkan sendiri, tenggelam dalam kubangan kehampaannya.
Namun, semesta punya rencana lain.
Saat suster itu menutup pintu, sebuah suara menembus dinding tipis kamarnya. Awalnya hanya rengekan lirih, tetapi dalam hitungan detik, suara itu meledak menjadi tangisan histeris yang melengking.
Bukan tangisan bayi biasa yang lapar atau mengantuk. Ini adalah tangisan putus asa. Sebuah jeritan pilu dari makhluk kecil yang seolah tahu bahwa dunia ini adalah tempat yang dingin dan kejam.
Queenora menutup telinganya dengan bantal, mencoba meredam suara itu. Namun, tangisan itu merambat melalui tulang-tulangnya, bergetar di dalam rongga dadanya yang kosong.
Tangisan itu terasa lebih nyata, lebih mendesak daripada duka bisunya sendiri. Setiap lengkingannya seolah memanggil sesuatu yang terpendam jauh di dalam dirinya, naluri yang seharusnya sudah mati bersama janinnya.
Ia menyerah. Bantal itu ia lempar ke sisi ranjang. Tangisan itu terus berlanjut, tanpa jeda, tanpa napas, seolah bayi itu lebih memilih mati daripada terus menangis. Queenora menekan tombol panggilan di samping tempat tidurnya.
Suster yang sama muncul beberapa saat kemudian, alisnya sedikit terangkat menatap sang pasien.
“Ya, Nona?”
“Suara itu…” bisik Queenora, tenggorokannya kering.
“Bayi di sebelah… kenapa dia menangis seperti itu?” lirihnya bertanya
Suster itu menghela napas, raut wajahnya melembut, diwarnai kelelahan.
“Oh, bayi Tuan Darian. Kasihan sekali. Ibunya meninggal saat melahirkannya tiga hari lalu. Sejak itu, dia tidak mau minum susu formula. Sama sekali. Kami sudah mencoba semua merek, semua jenis botol. Dia menolak semuanya, kami juga sedang kekurangan donor ASI.”
Dada Queenora terasa sesak. Sebuah denyut nyeri menjalari payudaranya yang membengkak.
Ibunya meninggal.
Dia menolak susu.
Dua kalimat itu bergema, menciptakan riak di danau kesedihannya yang beku.
“Apa… apa keluarganya di sini, maksud saya ayahnya tidak di sini?”
“Tuan Darian datang setiap hari, tapi… yah, Anda tahu,” Suster itu berhenti, seolah sadar telah berbicara terlalu banyak.
“Beliau juga sedang berduka. Sulit baginya. Sekarang perawat sedang mencoba memberinya minum lagi. Semoga saja kali ini berhasil. Bayinya sudah mulai menunjukkan tanda dehidrasi.”
Suster itu tersenyum tipis sebelum pamit. Pintu tertutup, meninggalkan Queenora sendirian lagi dengan jeritan yang semakin memilukan. Dehidrasi. Kata itu terasa seperti cambuk. Bayi itu bisa mati. Sama seperti bayinya.
Tidak.
Sesuatu dalam dirinya memberontak. Sebuah kekuatan yang tidak ia tahu masih dimilikinya mendorongnya untuk bergerak. Ia tidak bisa hanya berbaring di sini dan membiarkan bayi lain mati. Tidak lagi.
Dengan gerakan yang terasa lambat dan menyakitkan, ia menyingkap selimut. Luka memar di sekujur tubuhnya masih berdenyut nyeri. Dengan kasar, ia mencabut selang infus dari punggung tangannya dengan sekali sentak, mengabaikan perih dan tetesan darah yang mengalir. Kakinya terasa seperti jeli saat menyentuh lantai keramik yang dingin. Setiap langkah adalah perjuangan, tetapi tangisan di kamar sebelah adalah bahan bakarnya.
Gadis itu berpegangan pada dinding koridor yang lengang, gaun rumah sakitnya yang tipis tidak mampu menghalau hawa dingin. Suara tangisan itu kini begitu dekat, begitu menusuk, sebuah simfoni penderitaan murni. Pintu kamar bayi itu sedikit terbuka. Dari celah itu, ia bisa melihat seorang perawat muda dengan wajah frustrasi, hampir menangis.
“Ayolah, Nak… minum sedikit saja… kumohon…” isak perawat itu, menyodorkan botol susu ke bibir mungil yang tertutup rapat.
Bayi itu, terbungkus selimut biru, terus meronta. Wajahnya merah padam, nyaris keunguan karena kekurangan oksigen dari tangisannya yang tak henti. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat.
Queenora mendorong pintu itu lebih lebar. Perawat itu terlonjak kaget, menatapnya dengan mata membelalak.
“Maaf… saya…” Queenora tidak tahu harus berkata apa.
Seorang suster yang sedang berada di sana menoleh, matanya membelikan lebar melihat seorang wanita yang memakai pakaian pasien berdiri di ambang pintu dengan darah yang menetes dari punggung tangannya.
“Anda tidak boleh di sini!” bentak perawat itu, nadanya lebih panik daripada marah.
“Ini area terbatas. Kembali ke kamar Anda!”
Tetapi Queenora tidak mendengarkan. Matanya terpaku pada gumpalan kecil yang menderita di pelukan perawat itu. Ia melihat bibir bayi itu yang kering dan sedikit membiru. Ia melihat keputusasaan di mata perawat yang kelelahan.
Didorong oleh insting yang lebih kuat dari rasa takut atau sopan santun, Queenora melangkah maju.
“Boleh… boleh saya coba?” suara Queenora bergetar.
“Coba apa? Anda siapa?” Perawat itu mundur selangkah, memeluk bayi itu lebih erat seolah Queenora adalah ancaman.
“Saya… saya hanya ingin menyentuhnya.”
Tanpa menunggu persetujuan, Queenora mengulurkan tangannya yang gemetar. Ia tidak mencoba mengambil bayi itu. Ia hanya ingin menawarkan sentuhan.
Jari-jarinya yang pucat dan dingin perlahan mendekati pipi basah bayi itu. Ia bisa merasakan panas dari demam ringan dan getaran dari tangisannya yang hebat.
Tepat saat ujung jarinya menyentuh kulit sehalus beludru itu, keajaiban terjadi.
Tangisan yang melengking itu tersendat. Tubuh mungil yang menegang itu sedikit rileks. Raungan putus asa itu berubah menjadi isakan kecil yang tercekat, lalu hening.
Hening.
Keheningan yang tiba-tiba itu terasa lebih memekakkan daripada kebisingan sebelumnya. Bayi laki-laki itu berhenti menangis.
Matanya yang besar, biru seperti lautan badai, terbuka dan menatap lurus ke arah Queenora. Ada pengakuan di sana, sebuah pemahaman kuno yang melampaui logika. Seolah dua jiwa yang sama-sama hancur akhirnya menemukan kepingan mereka yang hilang.
Queenora menahan napas. Lubang hitam di dalam dirinya tiba-tiba dibanjiri oleh seberkas cahaya hangat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasakan sesuatu selain kehampaan.
Perawat muda itu berdiri membeku, mulutnya sedikit terbuka. Botol susu di tangannya meluncur jatuh ke lantai, isinya tumpah membasahi keramik putih, tetapi tak ada yang peduli. Matanya berpindah-pindah dari wajah tenang sang bayi ke jari Queenora yang masih menempel lembut di pipi itu, seolah baru saja menyaksikan mukjizat yang tak mungkin.
“Bagaimana…,” bisik perawat itu, suaranya sarat dengan ketidakpercayaan.
“Bagaimana kau melakukannya?”