Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Danuel membuka pintu kamar itu, Jane yang bersembunyi di bawah ranjang benar-benar ketakutan. Danuel kini masuk, menatap sekitar kamar itu, “Danuel,” panggil Martin dari luar kamar, hal itu membuat Danuel keluar dari kamar pelayan itu dan pergi menemui Martin.
Lalu bagaimana dengan Jane?
Dia selamat, dia lega, “Huh, untung saja tidak ketahuan. Bisa mati aku jika dia benar-benar menembakku, aku harus cari Ivana.” Jane ini benar-benar nekat, entah di mana bibi Agnes menemukan ponakan yang sangat lincah seperti ini.
Kini Danuel menghampiri Martin, ia menarik kerah pria itu dan mencoba memukulnya. “Danuel, tahan......, jangan pukul aku!” Danuel menahan kepalan tangannya di udara.
Danuel menurunkan tangannya, Martin pun akhirnya dapat bernapas lega setelah itu. “Mengapa kau menggangguku, kau tahu di sini aku sedang kesusahan mencari Jane.”
Mendengar hal itu, Martin pun sontak menaikkan satu alisnya ke atas. “Jane?, ada apa lagi dengan gadis itu?,”
“Kau tidak mencoba melakukan hal gila padanya kan, Danuel?.” Sambung Martin, yang langsung mendapat tatapan tajam dari pria itu.
“Kau pikir aku ini pria seperti apa, hah?.” Danuel mengepalkan tangannya, ia kembali ingin memukul Martin, namun tangannya di tahan oleh pria itu. “Tenang Danuel, tahan oke. Maaf.”
Lagi-lagi Danuel menurunkan kepalan tangannya, dan lagi-lagi, Martin pun selamat dari pukulan Danuel. “Huh, selamat.” Ujar Martin, sebari mengelus-elus dadanya.
“Tunggu, jadi ada apa pada Jane?”
Danuel menghela napas panjang, “Dia kabur, dia mendobrak pintu kamarku dan pergi.”
Danuel kemudian menepuk pundak Martin, “Martin, kau bantu aku cari dia. Dia pasti belum jauh dari sini.” Martin pun mengangguk, “Oke, aku bantu,”
Danuel dan Martin kini pergi mencari Jane, mereka menuruni anak tangga dan berpencar. Martin kini mengeluarkan pistolnya, “WUUUUUUU, JANE........, KELUARLAH, AKU TAK AKAN MENEMBAKMU, SELAGI KAU MASIH MENURUT.” Teriak Martin yang bersemangat mencari Jane.
“Haha, kau tak akan bisa kabur dariku Jane......” Tawa Martin menyeringai.
Jane kini mulai bisa leluasa bergerak, ia keluar dari kamar pelayan itu, dan menatap mereka dari atas sana. Tak ada yang sadar, lantaran Jane, kini tengah bersembunyi di balik tiang.
“Aman,” Jane mengelus dadanya lega. Ia menghembuskan napasnya panjang, “aku tertolong.”
Tanpa pikir panjang, Jane pun mulai mencari Ivana dan Rei. Jane membuka satu persatu kamar pelayan, “Tidak ada di sini.”
“Di sini juga tidak ada, kira-kira di mana mereka.”
“Brukkkkkk” Seorang pelayan yang baru saja keluar dari kamarnya, dengan membawa keranjang penuh pakaian kotor. Menjatuhkan semua pakaiannya ke lantai.
Pelayan itu ingin berteriak, namun Jane tak akan membiarkan hal itu terjadi. “Sial,” umpatnya.
Jane langsung membungkam mulut pelayan itu, ia memukul lehernya, sehingga membuat pelayan itu langsung pingsan di tempat.
“Sial, hampir saja aku ketahuan oleh mereka.” Pelayan itu Jane seret ke dalam kamar, ia pun memungut kembali baju yang berserakan di lantai dan menaruhnya di dekat pelayan itu.
“Maaf, aku benar-benar tak bermaksud menyakitimu. Namun sudah susah payah aku untuk kabur dari sini, dan aku tak ingin lagi mengalah.” Ujar Jane pada pelayan itu, meski ia tahu, wanita itu tak akan menjawabnya, lantaran pingsan.
Kini Jane pun bisa kembali mencari mereka dengan tenang, ia keluar dari kamar itu, dan mulai kembali mencari.
Dari arah yang berbeda dengan Jane, rupanya Rei pun sudah keluar. Ia kini sedang berjalan menyusuri lorong. Mencari keberadaan Jane, ia tak mencari Ivana. Karena ia tahu, jika ia hanya mencari Ivana, maka mereka benar-benar akan mati. Namun jika dia mencari Jane, setidaknya ada seseorang yang bisa bela diri dan itu membuatnya merasa jauh di untungkan.
“Jane, kau di mana?” ucap Rei, namun dengan nada yang kecil. Terdengar payah memang, mencari seseorang dengan menyebut namanya beberapa kali, namun dengan suara sekecil itu. Namun percayalah, ini usaha dari Rei, agar ia tak tertangkap oleh para pelayan.
“Aku harus ke mana sekarang?” Rei benar-benar kebingungan, ia benar-benar sangat waspada, takut jika mereka tiba-tiba datang dan menangkapnya.
“Uh, sial, harus pergi ke mana lagi aku.”
Di sisi lain, Jane pun mencari Rei, ia berjalan di sepanjang lorong, dan terus membuka pintu jika alih-alih benar-benar ada Ivana atau Rei di dalamnya.
Jane kemudian melihat sebuah kamar yang telah terbuka, dengan cepat Jane pun langsung pergi ke sana. Namun, sayang bagi dirinya karena kamar itu pun lagi-lagi kosong. Namun, saat Jane akan pergi, ia kembali ke kamar itu, menatap foto-foto yang terpajang di dinding itu ada wajah Martin di sana.
“Ini kamar pria yang tadi bersama dengan Rei, apakah Rei juga sudah keluar sekarang?” ucap Jane, kepada dirinya sendiri. Jane kemudian menatap sekitar, setelah memastikan semuanya aman, ia kembali mencari Rei.
*****
Ivana kini tengah duduk di balik pintu kamar, bersandar pada balik pintu yang terbuat dari kayu jati, strukturnya sangat mewah, dengan pahatan yang rapi serta warna yang bagus. Meningkatkan kesan sebuah interior rumah mewah.
Ivana kemudian mengetuk pintu, “Tok tok tok” ia sudah tak mampu untuk berteriak, badannya lemas dan juga dari raut wajahnya terlihat jelas, jika ia benar-benar sangat kelelahan dan juga pucat pasih.
“Tolong....” Racau Ivana dengan nada kecil, suaranya semakin lama benar-benar semakin kecil, sangat kecil dan semakin pula hilang.
“Aku di sini, Jane...., Re......, Rei.” Ivana menekuk kedua kakinya, memeluk kedua kakinya dan kembali meratapi nasibnya.
“Ivana, semenyedihkan itukah dirimu.”
Sebuah benda, terlihat dari bawah sana. Menempel di langit-langit pojok kamar Ivana di sekap. Mengeluarkan warna merah, dan benda itu sangat kecil. Ivana tak sadar akan hal itu, tak terlihat dari bawah sana. Dan itu adalah sebuah CCTV. Kini pemiliknya tengah berada di tempat lain. Berada di depan layar komputer, di ruang kerjanya. Mengamati pergerakan dari Ivana Wingston melalui CCTV itu.
“Ivana, Ivana, kau itu adalah tawananku. Kau tak akan bisa lari meski beribu-ribu kali kau mencoba, kau tak akan bisa. Karena aku, akan terus mengejarnya, bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun.”
“Hahahaha” Pria itu menertawakan Ivana, ia mengambil sebuah buku dan menaruhnya di wajahnya.
“Oliv, bagaimana kau bisa mempunyai adik sebodoh dia.”
Di saat Saga benar-benar menertawakannya, seseorang mengetuk pintu kamar Ivana secara tiga kali. “Tok, tok, tok.” Mendengar hal itu Ivana pun menoleh. Ia menatap pintu di belakangnya.
“Aneh, hanya pintu ini yang terkunci.” Orang yang mengetuk pintu itu adalah Jane.
“Ini aku tidak salah mendengarnya kan.” Kata Ivana, pada hati kecilnya. Setelah mendengar Jane berucap seperti itu.
Jane yang tak mendapatkan apa pun akhirnya beranjak pergi, hingga sampai pada akhirnya. “Tok, tok tok.” Ivana kini mengetuk pintu itu. Membuat Jane yang semula hendak pergi, kini kembali ke tempat itu.
“Jane,” ucapan Ivana lirih, dan Jane tak bisa mendengarnya. Namun Jane kembali, ia bersandar pada pintu itu dan menaruh telinganya agar dapat mendengar, dengan jauh lebih jelas.
“Jane, apa di luar adalah dirimu.” Mendengar hal itu wajah Jane benar-benar sangat senang, ia akhirnya menemukan orang yang sedari tadi ia cari.
“Ivana, kau dengar aku. Ini aku, Jane, aku di sini.” Mendengar hal itu, Ivana benar-benar merasa sangat bersyukur.
“Jane, kau bisa mendengarku kan.”
Dari balik pintu Jane mengangguk, “Ia Ivana, aku bisa mendengar suaramu. Kau baik-baik saja?”
“ Ya, aku baik-baik saja. Jane, apa kau menemukan Rei?”
Jane mengambil ancang-ancang, ia mundur beberapa langkah, bersiap akan mendobrak pintu besar itu. “Belum, namun tenang saja. Dia sepertinya sudah berlari lebih dahulu, jadi kau tak perlu merasa cemas akannya.”
Mendengar hal itu, Ivana pun langsung menghembuskan napasnya lega. “Syukurlah.”
“Ivana, pergi menjauh dari pintu itu. Aku mendobraknya.” Ivana kemudian mengangguk, ia pun kini pergi menjauh dari pintu itu.
Saga masih di ruangannya, ia masih di tempat yang sama tidak pergi dan masih tetap meremehkan Ivana. Namun wajah pria itu berubah total saat ia melihat bahwa Ivana sepertinya tengah merencanakan sesuatu.
“Brukkkkkkkkk” Suara itu terdengar keras, hingga ke lantai bawah.
Hal itu membuat Danuel dan Martin yang kini tengah memburu Jane. Langsung diam seketika.
“Brukkkkkkkk”
“Danuel, apa itu,” belum selesai Martin melanjutkan ucapannya, kini Danuel sudah berlari terlebih dahulu.
“Oke, dan seharunya kau tunggu aku.” Martin mengikuti Danuel di belakang, mereka kini pergi menaiki anak tangga ke atas.
Danuel kini telah sampai di lantai dua, berlari sepanjang lorong, dan kini berhenti di depan kamar Martin yang telah terbuka. Martin yang melihat hal itu juga sama terkejutnya dengan Danuel. “Apa ini, bagaimana bisa terbuka seperti ini.” Ujar Martin, dan di balas tatapan tatapan tajam oleh Danuel.
“Apa, maaf, bukan cuma aku yang ceroboh di sini, oke.”
Dabuel pun tak melanjutkannya, ia memilih pergi meninggalkan Martin dari pada harus beradu mulut dengannya. Namun kini tinggal Martin yang diam mematung, ia teringat sesuatu saat itu.
1 jam sebelumnya.....
“Tak, tak, tak” Jari jemari Martin menari di atas keyboard, matanya benar-benar terfokus pada satu hal, yaitu layar komputer di depannya.
“Dor” Danuel menarik pelatuk pistolnya, bunyi itu terdengar sangat keras bahkan menggema hingga di seluruh rumah.
Martin yang sedang mengerjakan coding juga terkejut mendengar itu, namun itu tak aneh baginya, lantaran ia sudah terbiasa mendengar hal itu di sini.
“Itu pasti Danuel, ada apa lagi dia sampai harus seperti itu.”
Martin berdiri dari kursinya, ia keluar dari kamarnya dan pergi menemui Danuel, meninggalkan Rei sendiri di kamar itu dengan keadaan yang masih syok, dengan suara tembakan.
“DANUEL” Panggil Martin sebari berteriak.
Tanpa pria itu sadari, itu benar-benar melupakan pintu itu yang masih terbuka lebar. Rei yang menatap hal itu pun langsung terpikirkan rencana untuk kabur. Ia berdiri di ambang pintu kamar itu, menoleh ke kanan dan kiri.
“Sepertinya aman.” Rei berjalan keluar, tanpa ada yang tahu jika Rei benar-benar telah kabur,
*****
“Ah, sial, bagaimana aku bisa lupa mengunci pintu.”
“Aku harus cari dia sampai dapat.” Martin kini berlari menyusul Danuel. Kedua pria itu kini berdiri sejajar. Berjalan menyusuri lorong, “bagaimana kau bisa seceroboh ini Martin.”
Martin berkacak pinggang, “wait, kau bilang apa? aku ceroboh, lalu bagaimana denganmu kawan.”
“Brukkkkkkk.” Suara itu kembali lagi, dan kini Danuel tak ingin kehilangan jejak gadis itu lagi.
Jane mendengar suara langkah kaki yang mendekat dengan sangat cepat ke arah ia berdiri. “Siapa itu, apa dia Danuel.”
“Sial, bagaimana bisa aku tertangkap semudah ini.”
“Jane, ada apa?”
“Ivana, aku perlu bantuanmu.”
Thor