NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Sore itu, langit SMA Garuda mulai meremang. Mori baru saja selesai mengganti baju setelah latihan dance yang melelahkan. Ia berniat menyusul Jessica dan yang lainnya di gerbang sekolah. Namun, saat melewati lorong sepi dekat gudang olahraga, sebuah tangan kasar menarik kerah seragamnya dan menyeretnya masuk ke area belakang gedung yang tertutup rimbunan pohon.

Itu Alina. Wajahnya tidak lagi cantik; penuh dengan amarah yang merusak parasnya. Di belakangnya, dua temannya berjaga untuk memastikan tidak ada yang lewat.

"Gue udah bilang, jauhin Lian!" teriak Alina. Tanpa aba-aba, dia menjambak rambut panjang Mori dengan sangat kencang.

"Lepasin, Al! Lo gila ya?!" Mori meringis kesakitan, mencoba melepaskan tangan Alina, namun tenaga Alina yang sedang kalap jauh lebih besar.

"Gue emang gila gara-gara lo! Lo pikir lo siapa bisa milikin Lian?!" Alina menghentakkan kepala Mori ke dinding semen.

BUGH!

Pandangan Mori sempat mengabur. Belum sempat dia pulih, Alina menendang tulang kering Mori hingga gadis itu jatuh terduduk. Tidak berhenti di sana, Alina meludahi seragam Mori dengan penuh penghinaan.

"Lo itu cuma sampah penghalang!" Alina mengangkat sepatunya dan dengan kejam menginjak telapak tangan kanan Mori—tangan yang biasa dia gunakan untuk menulis dan menari—lalu menekannya ke lantai semen yang kasar.

"AAAAKH!" Mori menjerit kesakitan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Rasa panas dan perih menjalar dari jari-jarinya yang terhimpit beban tubuh Alina.

"Sakit? Itu belum seberapa dibanding rasa sakit hati gue liat Lian gendong lo tadi pagi!" desis Alina sambil terus menekan kakinya.

Di sisi lain sekolah, Jessica, Nadya, dan Alissa mulai panik. Mereka sudah menunggu di gerbang selama tiga puluh menit, tapi Mori tidak kunjung muncul. Ponsel Mori tidak aktif.

"Nggak mungkin Mori pulang duluan tanpa ngomong," ujar Nadya dengan suara gemetar.

"Tadi dia bilang mau ke loker bentar. Ayo kita cari ke dalem!" ajak Jessica.

Mereka menyisir koridor, ruang kelas, hingga toilet, tapi nihil. Saat melewati lapangan basket, mereka melihat Lian masih berlatih three-point shoot sendirian. Keringat membanjiri tubuhnya, visual Gabriel Guevara yang tampak sangat gagah namun fokus.

"LIAN! LIAN!" teriak Jessica histeris sambil berlari ke tengah lapangan.

Lian berhenti mendribbel bola. Alisnya bertaut melihat muka panik sahabat-sahabat Mori. "Kenapa? Mori mana?"

"Mori hilang, Li! Dia nggak ada di gerbang, nggak ada di kelas. Kita udah cari ke mana-mana!" lapor Alissa sambil terisak.

Jantung Lian seolah berhenti berdetak sesaat. Dia melempar bolanya sembarang. "Kapan terakhir kalian liat dia?"

"Tadi abis ganti baju. Oh, tunggu!" Nadya teringat sesuatu. "Tadi gue sempet liat anak kelas sepuluh lari dari arah gudang belakang, katanya liat Alina lagi narik-narik cewek ke sana. Gue pikir bukan Mori, tapi—"

Belum sempat Nadya menyelesaikan kalimatnya, Lian sudah berlari secepat kilat. Wajahnya yang biasanya penuh senyum miring kini berubah menjadi sangat gelap dan mengerikan. Aura red flag-nya meledak, tapi kali ini murni karena insting melindungi.

Di belakang gedung olahraga, Alina baru saja hendak melayangkan tamparan lagi saat sebuah suara bariton yang menggelegar menghentikan segalanya.

"ALINAAAAAA!!!!"

Lian muncul dengan napas tersengal. Matanya merah melihat pemandangan di depannya: Mori yang terduduk lemas di tanah dengan seragam kotor, rambut berantakan, dan memegangi tangannya yang tampak memar parah.

Alina membeku. "Li-Lian? Aku... aku cuma kasih pelajaran buat dia—"

Lian tidak bicara. Dia berjalan mendekat dengan langkah yang sangat berat. Dua teman Alina langsung lari ketakutan begitu melihat tatapan "pembunuh" dari mata Lian. Lian berdiri di depan Alina, napasnya memburu di depan wajah gadis itu.

"Gue udah peringatin lo, Al," suara Lian sangat rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. "Gue nggak pernah main tangan sama cewek. Tapi kalau lo berani nyentuh Mori lagi... gue bakal pastiin lo dan keluarga lo nyesel pernah injek kaki di kota ini."

Lian menghentakkan tangannya ke dinding tepat di samping telinga Alina dengan suara yang sangat keras. "CABUT SEKARANG SEBELUM GUE HILANG KENDALI!"

Alina lari terbirit-birit sambil menangis ketakutan. Dia baru sadar bahwa dia baru saja membangunkan monster di dalam diri Lian.

Lian segera berlutut di depan Mori. Tangannya yang besar bergetar saat menyentuh bahu Mori dengan sangat lembut—sangat berbeda dengan kekuatannya saat memukul dinding tadi.

"Mor... Mori, liat gue," bisik Lian parau.

Mori mendongak dengan wajah sembab. Begitu melihat Lian, pertahanannya hancur total. Dia menangis terisak di dada Lian. Lian langsung merengkuh tubuh mungil Mori, memeluknya sangat erat seolah ingin menyerap semua rasa sakit itu.

"Sakit, Lian... tangan gue..." rintih Mori.

Lian melihat tangan kanan Mori yang memar biru dan sedikit berdarah karena gesekan semen. Amarah di dadanya kembali menyulut, tapi dia menekannya demi Mori. Lian melepas jaket basketnya dan membungkus tubuh Mori yang gemetar.

"Maafin gue, Mor. Ini semua salah gue. Harusnya gue nggak ninggalin lo sendirian," ucap Lian, suaranya pecah. Dia mengecup puncak kepala Mori berkali-kali—sebuah tindakan yang jauh dari kesan playboy, melainkan murni kasih sayang.

Jessica dan yang lainnya sampai di lokasi dan langsung histeris melihat keadaan Mori.

"Bawa ke rumah sakit, Li! Tangannya bengkak banget itu!" seru Jessica.

Lian tidak menjawab. Dia langsung menggendong Mori kembali dengan gaya bridal style. Kali ini, Mori tidak menolak. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Lian, menghirup aroma keringat dan parfum cowok itu yang kini terasa seperti satu-satunya tempat aman di dunia.

Lian berjalan melewati koridor sekolah dengan langkah lebar. Semua orang yang melihat mereka langsung menyingkir, takut melihat ekspresi Lian yang sangat menyeramkan.

Di dalam hatinya, Lian bersumpah. Pentas seni, tebar pesona, dan segala tetek bengek egonya tidak lagi penting. Yang dia tahu, mulai detik ini, siapapun yang berani menyakiti Mori, harus melewati mayatnya terlebih dahulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!