Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 08
MULAI TERLIHAT
Luis menatap darah di tangannya seolah itu bukan milik istrinya, melainkan noda kecil yang mengganggu estetika malamnya.
Alisnya berkerut tipis, lalu ia meraih tisu dari meja bar dan mengelapnya perlahan.
Elizabeth masih terduduk di sofa, tubuhnya sedikit miring. Dunia berputar pelan, tapi ia memaksa dirinya tetap sadar. Rasa perih di keningnya berdenyut, namun ia menggigit bibir—bukan karena takut, melainkan karena menolak memberi kepuasan pada pria di hadapannya.
“Kau tidak menangis,” ucap Luis akhirnya. Nadanya datar, hampir terdengar kecewa.
Elizabeth mengangkat wajahnya perlahan. Darah mengalir tipis dari keningnya, membasahi alisnya. Matanya basah, tapi tidak ada air mata yang jatuh. “Apa itu yang kau inginkan?” tanyanya pelan.
Luis menoleh. Tatapan mereka bertemu—dan untuk sesaat, ada sesuatu yang bergerak di mata pria itu. Bukan penyesalan. Bukan empati. Melainkan ketertarikan yang aneh, gelap, dan berbahaya.
“Kau berbeda dari yang lain,” katanya, mendekat.
Elizabeth tidak bergerak. Ia tahu satu langkah mundur hanya akan memperburuk keadaan. Luis berhenti tepat di depannya, berjongkok agar sejajar dengan wajahnya.
“Kebanyakan wanita akan berteriak. Menangis. Memohon.” Jari Luis menyentuh dagu Elizabeth, mengangkatnya sedikit. “Tapi kau memilih diam.”
“Aku memilih bertahan,” jawab Elizabeth lirih.
Luis tersenyum kecil. “Itu kesalahan terbesarmu.”
Ia berdiri kembali, lalu berjalan ke jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya tegap. Dari kejauhan, ia tampak seperti pria sempurna—tampan, berkuasa, tak tersentuh.
“Masakanmu enak,” ucapnya tiba-tiba.
Elizabeth terkejut. Ia menatap punggung suaminya, tidak yakin apa yang baru saja ia dengar.
“Lalu kenapa—”
“Karena kau lupa di mana kau berada,” potong Luis dingin. “Ini bukan rumah Taylor. Ini Holloway.”
Ia berbalik, tatapannya tajam. “Di sini, selera tidak penting. Tradisi tidak berarti. Yang ada hanya aturan.”
Elizabeth mengepalkan jemarinya di atas pangkuan. “Dan aturannya adalah aku tidak boleh menjadi diriku sendiri?”
Luis mendekat lagi, kali ini lebih pelan. “Aturannya adalah kau milikku.”
Kalimat itu jatuh seperti palu. Elizabeth mengangkat wajahnya. “Aku istrimu, bukan barang.”
Luis tertawa pelan—bukan tawa bahagia, melainkan rendah dan berbahaya.
“Pernikahan adalah bisnis dan kesepakatan, Elizabeth. Kesepakatan selalu memiliki kepemilikan.” Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Elizabeth yang memar.
Sentuhannya lembut—bertolak belakang dengan rasa sakit sebelumnya. Elizabeth tersentak kecil, refleks. “Jangan sentuh aku,” katanya, hampir berbisik.
Luis menghentikan gerakannya. Wajahnya mengeras. “Kau lupa satu hal penting.”
Ia menunduk, suaranya rendah dan dekat dengan telinga Elizabeth. “Aku tidak meminta izin.”
Seketika Luis mencium kening Eliza seperti biasanya cukup dalam dan sedikit kaku.
Keheningan menyelimuti ruangan. Dari kejauhan, suara jam dinding berdetak pelan, menghitung waktu seperti algojo.
Elizabeth menelan ludah. “Kalau begitu… kenapa kau menikahiku? Bukankah keluargaku juga memiliki kesepakatannya juga.”
Pertanyaan itu membuat Luis terdiam lalu terkekeh kecil mengingat keluarga Taylor yang sudah tewas namun istrinya yang malang itu masih tidak tahu apa-apa.
Beberapa detik berlalu. Luis mundur selangkah, menatap Elizabeth seolah melihatnya untuk pertama kali.
“Karena kau cukup kuat untuk tidak hancur di sentuhan pertama,” jawabnya jujur. “Dan cukup polos untuk berpikir kau bisa mengubahku.”
Elizabeth tersenyum pahit. “Aku tidak pernah berpikir bisa mengubah mu.”
“Oh?” Luis mengangkat alis. “Lalu apa yang kau pikirkan?”
Elizabeth bangkit perlahan dari sofa. Kakinya gemetar, tapi ia berdiri tegak. Darah masih mengalir, gaunnya ternoda merah. “Aku pikir… aku bisa bertahan tanpa kehilangan diriku sendiri.”
Luis menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah. Bukan marah. Bukan puas. Melainkan… tertarik.
“Kau akan belajar,” katanya pelan. “Di rumah ini, bertahan berarti berubah.” Ia menunjuk pintu kamar. “Pergi. Bersihkan dirimu. Tutupi lukamu.”
Elizabeth menatapnya, ragu. “Dan setelah itu?”
Luis berjalan ke bar lagi, menuang minuman baru. “Setelah itu, kau akan tidur di sisiku. Seperti istri yang baik, kita belum melakukan malam pertama kita.”
“Aku tidak ingin—”
“Kau akan melakukannya,” potong Luis tanpa menoleh. “Karena menolak hanya akan membuat malam ini lebih panjang.”
Elizabeth terdiam. Dadanya naik turun. Ia tahu ia tidak punya pilihan—belum sekarang.
Ia melangkah menuju pintu, berhenti sejenak. “Luis.”
Pria itu menoleh.
“Aku mungkin milikmu di atas bisnis,” ucap Elizabeth pelan namun tegas. “Tapi jiwaku bukan.”
Untuk sesaat, udara terasa menegang.
Luis menatapnya, lalu tersenyum perlahan. “Itulah bagian yang paling menyenangkan untuk dihancurkan!”
Elizabeth membuka pintu dan keluar.
Di lorong, para pelayan berdiri membeku. Tak seorang pun berani menatapnya langsung. Namun Elizabeth bisa merasakan pandangan mereka—campuran kasihan dan ketakutan.
Cili melangkah maju setengah langkah. “Nyonya…?”
“Aku baik-baik saja,” potong Elizabeth lembut.
Ia berjalan menuju kamar mandi pribadinya.
Saat pintu tertutup, tubuhnya akhirnya melemas. Ia bersandar di pintu, napasnya terengah.
Tangannya gemetar saat menyentuh cermin. Wajah yang menatap balik bukan lagi Elizabeth Taylor yang anggun dan utuh. Ada darah. Luka. Mata yang mulai berubah.
Namun di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang baru. Bukan kepasrahan, melainkan kesadaran.
.
.
.
“Di mana Luis? Aku perlu bicara dengannya.” Kata Rodrigo yang mengejutkan Esperance malam itu. Malam di mana harusnya dia tenang.
“Mungkin di ruang kerjanya. Ada apa?” tanya Esperance dengan penasaran dan cemas.
Pria paruh baya itu tak memperdulikannya dan langsung bergegas pergi menuju ruangan Luis saat itu juga. Tanpa menunggu, dia langsung saja masuk dan hampir membuat Luis marah karena ketidakadaan ketukan terlebih dahulu.
“Berani sekali kau masuk tanpa izin ku, Paman!”
“Lupakan itu dulu Luis. Ada hal yang lebih penting, ini menyangkut bisnis gelap mu.” Kata Rodrigo begitu serius sampai berhasil membuat Luis berkerut alis dan menatap tajam.
“Apa yang terjadi?”
“Ada pembajakan dari web tak dikenal. Mereka berhasil membobol milikmu dan mengirimkannya ke polisi, besok kau akan berhadapan dengan orang-orang sialan itu.” Jelas pria itu membuat Luis terkejut, namun pria itu malah terkekeh kecil namun juga kesal karena adanya seseorang yang berani mengutak-atik bisnisnya.
“Sialan!”
Rodrigo masih terdiam, hingga Luis berjalan menghampirinya. “Kalau begitu cari mereka. Aku berterima kasih karena kau sudah memberiku informasi ini, tapi kau sudah terlanjur membuatku kesal.” Ujar Luis yang membuat Rodrigo menelan ludah.
“Untuk itu. Hentikan polisi sialan itu jika kau tidak mampu, maka biarkan aku yang menghentikannya sendiri tapi itu akan diganti dengan nyawa mu!” kata Luis yang tersenyum devil.
Rodrigo hanya diam menahan ketakutannya dan amarah yang tak bisa dia ungkapkan.
Luis berjalan melewatinya dan hampir ke arah pintu keluar. Tentu, dia akan bersenang-senang dengan istrinya malam ini, namun suara Rodrigo kali ini membuat Luis terbungkam.
“Bagaimana jika itu Vale?”
Luis terdiam, namun tatapan matanya sangat tajam penuh emosi. “Dia sudah pergi dari sini. Bajingan itu tidak akan kembali.”
“Tepat sekali. Tapi ingatlah... Bahwa masalah bisnis masih berjalan, dan bisnisnya juga ada di Birmingham, yang artinya, kapanpun dia bisa datang kemari.”
“Fuck him.” Kata Luis, namun ada keraguan mengingat nama Vale harus disebutkan tadi. Kini pikiran Luis tak tenang dan hanya ada amarah saja.
“Aku rasa, kita harus bertemu dengannya—
Bruakk!! Ia melempar vas dari atas nakas panjang ke arah dinding yang hampir mengenai wajah Rodrigo. Tentu saja pria itu menegang kaget namun tetap terlihat tenang.
“AKU MUAK MENDENGAR NAMA SIALAN ITU. PERGILAH!” sentak Luis yang tanpa pikir panjang Rodrigo langsung pergi, karena dia tahu Luis sedang marah.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl