Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Gema di Balik Pipa
Kreak! Begitu tuas ditarik oleh Verdy, deru mesin uap yang tadinya memekakkan telinga mereda dalam hitungan detik. Hening. Begitu sunyi hingga suara tetesan air dari pipa yang bocor terdengar seperti detak jam raksasa.
"Kenapa, Putri? Jika mesin mati, kita kehilangan pelindung uap—" Kalimat Asher terhenti saat ia melihat ekspresi Aruna.
Wajah gadis berambut perak itu pucat pasi. Matanya tidak beralih dari deretan pipa besi raksasa yang melintang di langit-langit bengkel.
Tik. Tik. Tik.
Itu bukan suara air. Itu suara detak mekanis yang sangat cepat, seperti ribuan jarum yang bergerak serentak.
"Ada sesuatu di dalam sana," bisik Aruna.
Belum sempat Verdy bertanya, pipa di atas mereka mendadak membara merah. BOOM! Sambungan pipa itu meledak hebat, menghamburkan serpihan logam panas ke segala arah. Namun, bukan uap yang keluar dari sana. Ratusan benda kecil berukuran kepalan tangan, berwarna hitam metalik dengan delapan kaki runcing, tumpah ruah seperti air bah dari langit-langit.
"Laba-laba mekanis?!" teriak Verdy sambil mengangkat palu godamnya dengan tangan yang gemetar. "Sial! Ini Automaton penghancur tipe 'Swarm' milik Kekaisaran! Siapa yang mengirim benda terkutuk ini ke bengkelku?!"
Laba-laba itu bergerak dengan kecepatan gila. Kaki-kaki tajam mereka bergesekan dengan lantai besi, menciptakan suara sreeek yang memilukan. Target mereka sangat spesifik: menyerbu ke arah sumber mana terbesar di ruangan itu—Asher.
"Putri, tetap di belakangku!" Asher berseru, suaranya terdengar jauh lebih lemah dari sebelumnya. Ia memaksakan tubuhnya untuk tegak, meskipun wajahnya kini seputih kertas.
Asher mengayunkan Solis-Aeterna. Cahaya emas memancar, menebas belasan laba-laba sekaligus hingga hancur menjadi puing. Namun, setiap kali satu hancur, sepuluh lainnya muncul dari pipa yang berbeda. Asher terbatuk, d4rah segar mulai menetes dari balik perban di lehernya. Tangannya yang memegang pedang mulai goyah, dan keringat dingin membanjiri pelipisnya. Kondisinya benar-benar di ambang batas.
"Asher! Berhenti memaksakan diri!" Aruna berteriak panik melihat Asher yang hampir tumbang.
Di sisi lain, Verdy mengamuk. Dia menghantamkan palu godamnya ke lantai berkali-kali, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan gerombolan laba-laba itu. "Menjauh dari Auristela, kalian sampah rongsokan!"
Kelelahan mulai mengejar Verdy. Napasnya ngos ngosan, dan ayunan palunya tidak lagi seakurat tadi. Beberapa laba-laba berhasil merayap naik ke kaki Verdy, mencoba menyuntikkan cairan pelumpuh ke tubuhnya.
'Sistem! Berikan aku sesuatu! Cepat! Apa saja yang bisa menghentikan serangga-serangga besi ini sebelum kita semua jadi santapan rongsokan!' teriak Aruna frustrasi dalam batinnya.
Ding!
[Me-me-memproses permintaan... Sistem mendeteksi kebutuhan akan agen pembersih dan sterilisasi area dalam kondisi darurat.
Memanggil Item.]
Syuuuut!
Di tangan Aruna muncul sebuah botol kaleng ramping dengan desain bunga-bunga yang terlihat sangat... tidak nyambung dengan suasana. 'Pengharum ruangan?' Aruna melotot. Ia menatap botol itu, lalu melirik Asher yang kini bersandar pada pilar mesin sambil terengah-engah, masih mencoba menepis laba-laba yang mendekat.
'Sistem rongsokan, kau benar-benar minta d1hancurkan ya?! Aku butuh senjata pemusnah, bukan pewangi ruangan!'
Ding!
[Item ini mengandung konsentrat mana tingkat tinggi yang terdistorsi. Reaksi kimiawi bersifat korosif terhadap komponen magi-mekanis. Silakan gunakan dengan penuh percaya diri.]
"Minggir, Verdy! Asher, tutup hidung kalian!" seru Aruna.
Aruna menerjang ke tengah kerumunan laba-laba mekanis yang hampir menenggelamkan Verdy. Ia menekan tutup botol itu dengan beringas.
PSSSSSSSTTTTTTT!
Kabut halus berwarna putih menyembur keluar, menyebarkan aroma buah persik yang segar dan manisnya bunga lili. Wangi itu sangat kuat, memenuhi seluruh ruangan bengkel dalam sekejap.
Asher yang hampir kehilangan kesadaran mendadak merasa pikirannya sedikit jernih karena aroma itu, namun matanya membelalak tak percaya. Begitu kabut halus itu menyentuh cangkang besi laba-laba mekanis, terdengar suara mendesis yang mengerikan seperti daging yang dipanggang. Logam terkuat Kekaisaran itu mendadak meleleh, berlubang-lubang, dan meledak menjadi cairan hitam berbau hangus.
"Ramuan Alkemis Penghancur Logam?!" gumam Verdy dengan mata melotot. Ia melihat Aruna terus menyemprotkan kabut itu sambil berputar, membantai ratusan laba-laba hanya dengan satu kaleng kecil. "Dia menghancurkan automaton tingkat tinggi seolah-olah sedang mengusir nyamuk!"
Asher menatap punggung Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tengah kabut wangi itu, Aruna terlihat seperti dewi penghancur yang elegan. "Putri... rahasia apa lagi yang kau sembunyikan? Cairan itu... bahkan kaisar sekali pun tidak punya senjata mem4tikan seperti itu."
'Sialan, kenapa baunya wangi banget tapi hasilnya ngeri begini?!' Aruna terus menyemprot secara membabi buta. "M4ti! M4ti kalian semua rongsokan tidak tahu diri!"
Aruna membantai sisa-sisa laba-laba yang mencoba merangkak di langit-langit. Rrrtt! Rrttt! bengkel itu mulai bergetar hebat. Boom! Ledakan-ledakan kecil terjadi di sepanjang jalur pipa yang sudah korosif terkena semprotan Aruna.
"Ah! S!al! Bengkel ini akan segera runtuh! Struktur fondasinya sudah hancur!" teriak Verdy sambil menarik napas. "Aruna! Bawa si batu itu ke lift barang di belakang pilar ketiga! Aku akan mencoba untuk menahan reruntuhannya!"
Aruna segera menyambar lengan Asher, raut wajahnya benar-benar pucat, pandangannya mulai kabur. "Meow!" Oyen melompat ke pundak Aruna, mencakar jubahnya erat-erat seolah ketakutan setengah m4ti.
Mereka berlari menembus kabut persik yang kini bercampur dengan asap hitam. Verdy menghantam tombol lift dengan sisa tenaganya. Pintu besi tua itu terbuka dengan suara berderit yang menyakitkan telinga.
Begitu mereka masuk, Aruna merasakan adanya sesuatu yang mengintai, dia pun menoleh ke belakang. Di kejauhan, di balik uap dan debu reruntuhan pintu depan yang hancur, ia melihat sebuah sosok berdiri tegak dengan tenang. Sosok itu mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman emas matahari—seragam Ksatria Suci Kekaisaran.
Mata Aruna bertemu dengan mata sosok itu selama satu detik. Dingin, tajam, dan penuh niat membunuh yang murni.
Braakk!
Langit-langit bengkel runtuh sepenuhnya sebelum Aruna bisa melihat lebih jelas. Lift mulai bergerak turun dengan guncangan hebat yang membuat mereka semua terlempar ke dinding lift. Di dalam kotak besi yang sempit dan remang-remang itu, Asher akhirnya tumbang. Tubuh besarnya merosot dan jatuh tepat ke pangkuan Aruna.
Aruna terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. Tangannya mengenggam tubuh asher erat-erat. Pikirannya terus berputar.
'Barusan tadi itu... siapa? Kenapa kehadirannya membuatku merasakan sesuatu yang familiar? Sebenarnya dia itu siapa?'
Lift terus turun menuju kegelapan bawah tanah, membawa mereka menjauh dari keruntuhan bengkel, menuju hutan terlarang yang menanti di luar kota Vance.