Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Perhatian Dari Dr. Jordan
Jordan menatap Nana beberapa detik lebih lama setelah pemeriksaan dasar selesai. Tekanan darah normal. Tidak ada tanda kekerasan fisik. Namun matanya—mata itu menyimpan kelelahan yang terlalu berat untuk usia semuda itu.
Ia menutup map perlahan.
“Kamu boleh kembali ke kamar,” ucapnya lembut. “Nanti ada jadwal konseling. Untuk malam ini… istirahat saja.”
Nana mengangguk kecil. Ia berdiri, ragu-ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu harus mulai dari mana.
Jordan menangkap itu.
“Kalau kamu butuh apa pun,” katanya sebelum Nana melangkah pergi, “bilang ke suster. Atau… kamu bisa minta ketemu saya.”
Itu bukan janji besar. Tapi bagi Nana, kalimat itu terasa seperti pegangan kecil di tengah laut.
Suster membawa Nana keluar. Pintu tertutup.
Jordan menarik napas panjang.
Ia masih muda—baru tiga puluh dua—dan sudah terlalu sering melihat perempuan-perempuan yang “dititipkan” ke tempat ini bukan karena mereka sakit, tapi karena mereka dianggap masalah.
Ia berdiri, melepas jas putihnya sebentar, lalu memanggil suster yang berjaga di luar.
“Suster Rina,” katanya pelan. “Tolong antar pasien ke kamarnya. Pastikan dia dapat ranjang yang aman. Jangan dicampur dengan pasien yang agresif.”
Suster Rina mengangguk. “Baik, Dok.”
Jordan menunggu sampai langkah mereka menjauh, lalu berbalik menuju lorong administrasi. Lampu di bagian depan masih menyala. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Di balik meja, seorang staf administrasi perempuan paruh baya sedang merapikan berkas.
“Bu,” sapa Jordan sopan. “Saya mau minta data satu pasien. Nana Ferdyana.”
Staf itu mendongak, sedikit terkejut. “Oh. Yang baru masuk malam ini?”
“Iya.”
Perempuan itu membuka laci, menarik satu map cokelat. Raut wajahnya berubah—bukan heran, tapi lelah.
“Kasus keluarga,” katanya singkat sambil menyerahkan map. “Rujukan langsung dari orang tua. Ayahnya kepala desa.”
Jordan membuka map itu.
Nama lengkap. Usia dua puluh satu. Status belum menikah. Alasan masuk: gangguan emosi pasca kehilangan orang tua, perilaku menyimpang menurut keluarga dan masyarakat.
Jordan mengerutkan kening.
“Perilaku menyimpang?” ulangnya.
Staf itu mengangkat bahu kecil. “Katanya ketahuan berduaan dengan laki-laki. Warga ribut. Ayahnya takut nama baik akan hancur.”
Jordan menutup map perlahan.
“Tidak ada laporan medis sebelumnya?” tanyanya.
“Tidak. Tidak pernah dirawat. Tidak ada diagnosis psikiatri.”
Hening sejenak.
Jordan menghela napas panjang, menahan sesuatu di dadanya.
“Terima kasih, Bu.”
Ia berjalan kembali ke ruang kerjanya, duduk, dan membuka map itu sekali lagi. Menatap foto kecil Nana di pojok berkas—wajah polos dengan mata yang belum siap menanggung beban dunia.
Ini bukan rehabilitasi, batinnya. Ini pengasingan.
Ia memijat pelipisnya. Di tempat ini, ia terikat prosedur. Ia tidak bisa sembarangan “menarik” pasien keluar. Tidak bisa menentang wali tanpa dasar kuat.
Tapi ia bisa mengamati.
Mendengarkan.
Melindungi sebisanya.
Jordan mengambil pulpen, menulis catatan tambahan di lembar observasi:
Pasien tampak kooperatif. Tidak menunjukkan gejala psikotik. Emosi sedih wajar akibat duka. Perlu pendampingan, bukan hukuman.
Ia menutup map, lalu bersandar di kursi.
Di kamar, Nana berbaring kaku di ranjang pojok. Suara napas perempuan-perempuan lain terdengar berat. Ada yang tertawa pelan, ada yang mengumpat dalam tidur.
Nana menatap langit-langit.
Beberapa menit berlalu sebelum langkah kaki terdengar kembali di lorong kamar. Pintu kayu berderit pelan saat dibuka. Cahaya dari luar menyelinap masuk, memotong gelap yang menggantung di ruangan.
“Permisi,” suara itu terdengar tenang.
Nana menoleh. Dokter Jordan berdiri di ambang pintu, tanpa jas putih—hanya kemeja biru muda yang lengannya digulung rapi.
Beberapa penghuni kamar melirik malas, lalu kembali memunggungi. Tak ada yang bicara.
Jordan melangkah mendekat, berhenti di samping ranjang Nana, menjaga jarak.
“Aku nggak akan lama,” katanya pelan. “Kalau kamu capek, kita bisa bicara lain waktu.”
Nana terdiam beberapa detik. Tubuhnya memang lelah—bukan lelah fisik, tapi lelah yang mengendap di dada, membuat napas terasa berat.
Namun ia menggeleng kecil.
“Nggak apa-apa, Dok,” jawabnya lirih. “Aku… masih bisa.”
Jordan mengangguk, lalu duduk di kursi kosong di dekat ranjang. Posisi mereka sejajar. Tidak ada meja. Tidak ada map. Tidak ada jarak kuasa.
“Aku cuma mau pastikan satu hal,” katanya. “Kamu merasa aman di sini malam ini?”
Nana menarik selimut sedikit lebih tinggi. “Aman,” jawabnya jujur. “Cuma… berisik sedikit.”
Jordan tersenyum tipis. “Itu wajar. Malam pertama selalu terasa paling panjang.”
Hening kembali menyelimuti mereka. Dari ranjang sebelah terdengar dengkuran pelan. Di ujung ruangan, seseorang tertawa dalam tidur.
“Kamu nggak harus cerita apa pun kalau belum siap,” lanjut Jordan. “Aku cuma ingin kamu tahu… aku percaya kamu.”
Kalimat itu membuat Nana menelan ludah. Dadanya menghangat sekaligus perih.
“Aku nggak gila, kan, Dok?”
***
Bersambung...