kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan di Gerbang Kemegahan
Kedatangan Penyihir Serbuk di istana Atlas disambut dengan kemeriahan yang belum pernah terjadi selama masa sakit Ratu Layla. Para prajurit Minotaur berdiri tegak di sepanjang lorong, menghantam kan tombak mereka ke lantai sebagai tanda penghormatan militer yang agung. Para Centaur yang bertugas sebagai penjaga gerbang dalam menundukkan kepala saat kedua penyihir itu melintas. Meskipun Ratu Layla dikenal kejam dan tangan besi, harapan akan kesembuhannya membuat seluruh penghuni istana merasa gembira. Mereka melihat Penyihir Serbuk bukan sebagai orang asing yang kumal, melainkan sebagai juru selamat yang dikirim oleh takdir untuk mengembalikan kejayaan Atlas yang mulai redup.
Panglima Delta memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhan sang penyihir. Karpet merah dibentangkan di sepanjang koridor utama menuju menara tempat Ratu beristirahat. Suara terompet yang terbuat dari tanduk Griffon bergema di seluruh penjuru istana, mengumumkan kepada seluruh rakyat bahwa obat yang dicari telah tiba. Di tengah kemeriahan itu, Penyihir Serbuk tetap berjalan dengan tenang, wajahnya tidak menunjukkan ketertarikan pada emas atau permata yang menghiasi dinding istana. Ia hanya fokus pada tugasnya, menyadari bahwa di balik kemeriahan ini, ada seorang wanita yang sedang menderita akibat perbuatannya sendiri.
Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, suasana berubah menjadi hening dan mencekam. Dua prajurit Minotaur raksasa dengan kapak ganda berjaga di depan pintu kayu jati berlapis emas tersebut. Penyihir Petir memberikan isyarat agar semua orang tetap di luar, kecuali mereka berdua dan Panglima Delta. Sambutan meriah di luar sana kini digantikan oleh ketegangan yang berat di dalam ruangan yang berbau obat-obatan pahit. Penyihir Serbuk menghela napas panjang, menyiapkan mentalnya untuk menghadapi sang penguasa Atlas yang paling ditakuti.
Penyihir Serbuk segera meminta sebuah ruangan khusus yang tenang untuk mulai bekerja. Ia tidak bisa membuat ramuan di tengah keramaian. Bersama Penyihir Petir, mereka memasuki laboratorium pribadi istana yang biasanya hanya digunakan untuk eksperimen alkimia militer. Di sana, mereka mulai bekerja sama. Penyihir Petir menggunakan kendali elemennya untuk memanaskan tungku perunggu dengan aliran listrik yang stabil dan terkontrol, memastikan suhu di dalam wadah tidak berubah sedikit pun. Panas yang dihasilkan oleh listrik jauh lebih murni dibandingkan dengan api biasa, yang sangat dibutuhkan untuk proses ekstraksi serbuk langka tersebut.
Penyihir Serbuk mengeluarkan kotak kayu gaharunya. Ia menaburkan berbagai jenis serbuk: ada yang berwarna biru laut, hijau zamrud, dan yang paling utama adalah serbuk keperakan dari bunga seribu tahun. Ia mencampurkannya dengan air murni yang telah didoakan. Tangannya bergerak dengan sangat presisi, seolah sedang menarikan tarian kuno di atas meja laboratorium. Sesekali, ia meminta Penyihir Petir untuk memberikan percikan kecil tepat ke dalam ramuan untuk "menghidupkan" sel-sel tumbuhan yang mati. Kerja sama mereka sangat sinkron, membuktikan bahwa meskipun jalan hidup mereka berbeda, ikatan darah mereka tidak pernah putus.
Proses peracikan ini memakan waktu berjam-jam. Aroma manis yang lembut mulai memenuhi laboratorium, menyingkirkan bau belerang yang biasanya ada di sana. Ramuan itu perlahan berubah menjadi cairan berwarna bening keemasan yang berkilau. Penyihir Serbuk mengambil sebuah botol kristal kecil dan menuangkan cairan itu ke dalamnya.
Setelah ramuan siap, mereka kembali ke kamar Ratu Layla. Sang Ratu tampak sangat menderita; wajahnya pucat pasi dan ia terus mengigau tentang peperangan dan pengkhianatan. Panglima Delta menepi, memberikan ruang bagi kedua saudara itu. Ratu Layla sempat membuka matanya yang merah dan mencoba berteriak, namun suaranya hanya berupa bisikan parau yang penuh kebencian. Melihat kondisi itu, Penyihir Serbuk tidak langsung memberikan obatnya. Ia tahu tubuh Ratu terlalu lemah dan gelisah untuk menerima pengobatan yang kuat.
Penyihir Serbuk mendekati tempat tidur mewah itu. Ia mengambil sejumput serbuk berwarna ungu pucat dari kantongnya, lalu menaruhnya di telapak tangannya. Dengan sekali hembusan napas yang lembut namun mengandung energi sihir yang menenangkan, ia meniupkan serbuk itu tepat ke arah wajah Ratu Layla. Seketika, aura ketegangan di wajah sang Ratu menghilang. Matanya perlahan menutup, dan napasnya yang semula memburu kini menjadi teratur dan tenang. Ratu Layla jatuh ke dalam tidur lelap yang sangat dalam, sebuah kondisi yang ia butuhkan agar tubuhnya bisa beristirahat total sebelum menerima ramuan inti.
Panglima Delta tertegun melihat betapa mudahnya pria sederhana itu menidurkan sang penguasa yang biasanya sulit ditenangkan bahkan oleh puluhan tabib istana. Penyihir Serbuk menjelaskan bahwa tidur ini adalah tidur tanpa mimpi, di mana jiwa sang Ratu akan dibawa ke tempat yang paling damai agar racun di hatinya bisa sedikit luruh. "Biarkan dia beristirahat hingga sore hari," ucap Penyihir Serbuk dengan pelan. Ia meminta semua orang keluar agar sirkulasi udara di dalam kamar tetap murni. Sekarang, mereka hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk memberikan obat yang sesungguhnya.
Sambil menunggu waktu pemberian ramuan, Penyihir Serbuk meminta izin untuk mengunjungi Menara Petir, tempat tertinggi di Kerajaan Atlas yang digunakan oleh saudaranya untuk mengumpulkan energi badai. Ia mendaki anak tangga yang melingkar satu per satu, menikmati setiap embusan angin yang menerpa jubah hijaunya. Dari atas menara, ia melihat pemandangan Atlas secara utuh: barisan kavaleri Centaur yang berlatih di lapangan, Naga Api yang beristirahat di sarang-sarang batu, dan rakyat yang berlalu-lalang di bawah sana. Ia menyadari betapa besarnya tanggung jawab yang dipikul saudaranya di kerajaan ini.
Di atas menara itu, ia menghabiskan waktu hingga sore hari. Ia merenungkan betapa rapuhnya kekuasaan. Ratu Layla memiliki segalanya—pasukan terkuat, wilayah terluas, dan kekayaan melimpah—namun ia tidak bisa membeli kesembuhan dari tangannya sendiri. Penyihir Serbuk melihat matahari mulai condong ke barat, memberikan warna jingga yang indah pada puncak-puncak bangunan Atlas. Ia merasa damai berada di tempat tinggi ini, jauh dari intrik istana yang menyesakkan. Namun, ia tahu kedatangannya di sini hanyalah sementara. Dunianya adalah hutan dan alam, bukan tembok batu yang dingin ini.
Penyihir Petir menyusul saudaranya ke atas menara. Mereka berdiri bersisian tanpa banyak bicara, memandang matahari terbenam. Bagi sang Penasehat, momen ini adalah kemewahan yang jarang ia miliki. "Terima kasih telah datang," ucap Penyihir Petir dengan tulus. Penyihir Serbuk hanya tersenyum dan menepuk bahu saudaranya. "Ayo kita selesaikan ini. Ratu akan segera terbangun dari tidurnya, dan kita harus memberikan ramuan itu sebelum kegelapan malam kembali memperburuk kondisinya." Mereka berdua pun turun dari menara, melangkah menuju kamar sang Ratu untuk babak terakhir dari penyembuhan ini.
Matahari telah terbenam sepenuhnya saat mereka tiba kembali di kamar Ratu. Ratu Layla mulai bergerak sedikit, pertanda pengaruh serbuk penidur mulai memudar. Penyihir Serbuk mendekat dengan botol kristal berisi ramuan emas yang telah mereka buat bersama. Dengan bantuan Panglima Delta, mereka sedikit mengangkat kepala sang Ratu. Penyihir Serbuk dengan perlahan menuangkan cairan itu ke dalam mulut Layla. Setiap tetesnya tampak bersinar di dalam kerongkongan sang Ratu, menyebarkan kehangatan yang langsung meresap ke seluruh pembuluh darahnya.
Setelah botol itu kosong, mereka menunggu dengan napas tertahan. Untuk beberapa saat, tidak ada reaksi apa pun. Ratu Layla tetap terbaring diam. Namun, perlahan-lahan, keajaiban mulai terjadi. Warna kulitnya yang semula pucat keabu-abuan mulai kembali merona. Keringat dingin yang membasahi dahi Ratu menguap, digantikan oleh suhu tubuh yang normal. Aura hitam yang biasanya mengelilingi tempat tidur itu perlahan memudar dan menghilang. Penyihir Serbuk memegang pergelangan tangan Ratu, merasakan detak jantung yang kini kuat dan berirama seperti genderang perang Atlas yang perkasa.
Penyihir Serbuk menoleh ke arah saudaranya dan Panglima Delta, lalu memberikan anggukan kecil. "Pekerjaanku di sini sudah selesai. Ramuan itu akan bekerja dari dalam, menghancurkan sisa-sisa kutukan dan memulihkan kekuatannya." Panglima Delta ingin mengucapkan terima kasih dan menawarkan hadiah berupa emas melimpah, namun Penyihir Serbuk hanya mengangkat tangannya, menolak dengan sopan.