Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat yang mencekam
Gedung tinggi Eduardo Group di kawasan Sudirman berdiri angkuh, mencakar langit Jakarta yang abu-abu. Bagi Alexander Eduardo, gedung ini adalah kuil kekuasaan. Namun, saat limusin hitamnya berhenti di lobi utama, perasaannya campur aduk. Di sampingnya, Almira menggenggam erat jemari Alex, sementara Adrian tertidur lelap di baby seat.
"Kamu yakin mau melakukan ini sekarang?" tanya Almira pelan. Matanya menatap kerumunan wartawan yang sudah berkumpul di depan pintu kaca.
Alex membetulkan letak dasinya. Senyum dinginnya kembali, tapi kali ini ada kehangatan yang tersisa di matanya saat menatap istrinya. "Mereka pikir macan ini sudah ompong karena kakinya pernah patah. Aku harus menunjukkan pada mereka, Al. Bukan cuma buat aku, tapi buat masa depan Adrian."
Rendy membukakan pintu. Kilatan lampu kamera langsung menyerbu. Alex turun dengan perlahan, menggunakan tongkat peraknya sebagai penopang, namun punggungnya tegak lurus—lebih tegak dari siapa pun di ruangan itu. Almira menyusul di belakang, menggendong Adrian dengan kain gendongan modern yang elegan. Kehadiran "keluarga kecil" ini mengejutkan publik yang selama ini mengira Alex sedang sekarat di pengasingan.
Lantai teratas gedung itu sunyi mencekam. Di ruang rapat utama, sepuluh orang anggota dewan direksi sudah duduk melingkar. Di ujung meja, duduk seorang wanita dengan setelan jas merah menyala yang tampak sangat kontras dengan suasana kaku ruangan itu.
Dia adalah Nadia Mahendra, mantan tunangan Alex yang juga memegang saham cukup besar dari aliansi keluarganya. Nadia tersenyum sinis saat melihat Alex melangkah masuk ke ruangan dengan langkah yang masih agak diseret.
"Wah, sang legenda sudah kembali," suara Nadia melengking, penuh nada mengejek. "Tapi aku tidak tahu kalau ruang rapat ini sekarang menjadi tempat penitipan anak, Alex."
Alex menarik kursi di kepala meja, posisi yang seharusnya menjadi miliknya. "Ruang rapat ini adalah rumahku, Nadia. Dan di rumahku, aku bebas membawa siapa saja yang aku percayai."
Almira duduk di kursi pengamat di sudut ruangan. Ia bisa merasakan tatapan tajam dan merendahkan dari Nadia. Ia tahu ia hanya seorang mantan pelayan di mata mereka, tapi ia tidak menunduk. Ia memeluk Adrian lebih erat, memberikan kekuatan lewat doa yang tak putus-putus.
"Mari kita mulai," ucap Alex dingin. "Kudengar kalian ingin mengadakan pemungutan suara untuk menurunkanku? Berdasarkan alasan apa? Karena aku mengambil cuti medis?"
"Bukan cuma itu, Alex," sahut salah satu direktur tua. "Pasar tidak suka ketidakpastian. Nilai saham kita goyah sejak kau lumpuh. Dan sekarang, kau malah sibuk bermain rumah-rumahan di Bogor dengan... wanita ini." Ia menunjuk Almira dengan dagunya.
Alex tertawa rendah, suara yang membuat seisi ruangan merinding. "Kalian bicara soal pasar? Saham Eduardo Group justru naik lima persen pagi ini sejak mobilku terlihat di gerbang depan lobi. Orang-orang tidak takut pada pria yang sedang memulihkan diri. Mereka takut pada perusahaan yang dipimpin oleh sekumpulan pengecut yang mau mengkhianati bosnya sendiri saat dia sedang terluka."
Nadia berdiri, berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Alex. "Kau mungkin bisa bicara, Alex. Tapi secara hukum, jabatanmu bisa ditangguhkan jika kau dianggap tidak kompeten secara fisik. Berapa lama kau bisa berdiri tanpa tongkat itu? Satu menit? Dua menit?"
Nadia tiba-tiba menendang tongkat Alex hingga terjatuh ke lantai marmer dengan suara dentuman keras.
Almira hampir saja berdiri untuk menolong, namun Alex mengangkat tangannya, memberi kode agar Almira tetap di tempat. Seluruh ruangan menahan napas. Alex mencengkeram pinggiran meja. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol. Dengan kekuatan tekad yang luar biasa, ia mendorong tubuhnya ke atas.
Ia berdiri. Tanpa bantuan.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik.
"Aku tidak butuh tongkat untuk menghancurkan kalian semua di bursa saham besok pagi," desis Alex tepat di depan wajah Nadia.
Setelah rapat yang panas itu berakhir—dengan pembatalan pemungutan suara karena sebagian besar direktur merasa terancam dengan keberanian Alex—ruang rapat itu akhirnya kosong. Hanya menyisakan Alex, Almira, dan Adrian yang kini sudah bangun.
Alex langsung ambruk kembali ke kursinya, napasnya memburu. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya. Kaki kanannya gemetar hebat karena dipaksa menahan beban terlalu lama.
Almira segera menghampirinya, berlutut di bawah kakinya dan mulai memijat betis Alex dengan lembut. "Tadi itu gila, Alex. Kamu bisa saja pingsan."
"Tapi berhasil, kan?" Alex meringis menahan sakit, tapi matanya terlihat puas. "Nadia itu... dia cuma butuh gertakan."
Tiba-tiba pintu terbuka sedikit. Nadia berdiri di sana, menatap pemandangan itu. Ia melihat pria yang dulu sangat kaku dan tak tersentuh itu kini membiarkan seorang wanita memijat kakinya di ruang rapat yang paling sakral. Ia melihat Alex mengusap rambut Almira dengan penuh kasih.
Ada rasa iri yang menyengat di hati Nadia. Selama bertahun-tahun ia mendampingi Alex, ia tidak pernah mendapatkan sisi manusiawi itu.
"Kau berubah, Alex," kata Nadia pelan dari ambang pintu. "Eduardo yang dulu tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya di depan siapa pun."
Alex menoleh, menatap Nadia dengan pandangan tenang. "Ini bukan kelemahan, Nadia. Ini adalah alasan kenapa aku tetap ingin hidup. Sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti selama kau masih menganggap kekuasaan adalah segalanya."
Nadia tidak membalas. Ia menutup pintu dengan pelan dan melangkah pergi.
****
Malam itu, mereka tidak kembali ke Bogor. Alex membawa mereka ke rumah utamanya di Jakarta, sebuah mansion mewah yang dulu terasa seperti penjara bagi Almira. Tapi kali ini berbeda. Alex meminta Rendy untuk menyiapkan kamar terbesar dengan perlengkapan bayi yang lengkap.
"Capek ya?" tanya Alex saat melihat Almira menyandarkan kepalanya di sofa ruang keluarga.
"Lumayan. Ternyata dunia kamu lebih serem daripada yang aku bayangin," jawab Almira jujur. "Tadi aku hampir aja mau lempar sepatu ke perempuan baju merah itu pas dia tendang tongkat kamu."
Alex ketawa lepas. "Wah, jangan dong. Nanti dia malah lapor polisi. Tapi makasih ya, Al. Tadi di dalem sana, aku cuma liatin kamu sama Adrian buat dapet kekuatan supaya nggak jatuh."
Alex narik Almira ke pelukannya. Mereka duduk di tengah ruang tamu megah itu, dikelilingi barang-barang antik berharga miliaran, tapi mereka merasa paling kaya saat tangan mungil Adrian menarik-narik ujung baju mereka.
"Al," panggil Alex pelan.
"Hm?"
"Aku mau kita nikah secara resmi dan besar-besaran. Aku mau seluruh dunia tahu kalau kamu adalah Nyonya Eduardo yang sebenarnya. Nggak ada lagi rahasia, nggak ada lagi kontrak pelayan."
Almira terdiam. Ia menatap mata Alex yang penuh harapan. "Aku nggak butuh pesta besar, Alex. Aku cuma mau kamu sehat, dan kita bertiga bisa tetep kayak gini terus."
"Pesta itu bukan buat sombong, Al. Pesta itu buat tanda kalau masa lalu kita sudah selesai. Kita mulai lembaran baru."
Alex mengecup kening Almira lama. Di luar, lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip indah, mencerminkan harapan baru yang sedang mereka bangun. Tapi di balik kegelapan malam, Nadia Mahendra tidak tinggal diam. Ia sedang menelepon seseorang, merencanakan sesuatu yang akan mengguncang stabilitas Eduardo Group dari sisi hukum waris yang selama ini tersembunyi.