"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Retakan di Fasad
Hari ketiga penyelidikan.
Malam itu, di luar sebuah bar remang-remang yang tersembunyi di balik gang sempit, Meylie berdiri di bawah bayangan lampu jalan yang berkedip-kedip. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma alkohol, asap rokok, dan kesepian. Di pintu keluar bar, seorang pria terhuyung-huyung, tubuhnya lemas dan tak berdaya. Itu adalah Sung He, asisten pribadi Yu. Wajahnya yang dulu selalu tampak rapi dan profesional, kini keriput karena kesedihan dan kelelahan, matanya merah dan kosong. Dia tampak mabuk, tenggelam dalam lautan duka yang tak berujung.
Meylie mengamati Sung He dari kejauhan, hatinya mencelos. Pria itu adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar mengenal Yu, yang melihat sisi Yu di balik panggung. Dan kini, Sung He adalah sumber informasi yang paling rapuh, paling rentan, dan paling mungkin untuk dipecahkan. Meylie tahu, untuk mendekatinya, ia tidak bisa menggunakan topeng Ling yang dingin dan berjarak. Ia harus kembali menjadi Xiao Fei, setidaknya untuk sesaat, memanfaatkan empati dan kehangatan yang pernah ia miliki.
Dengan langkah perlahan, Meylie mendekati Sung He. Pria itu bersandar pada dinding bata, pandangannya kosong menatap langit malam.
"Sung He?" Meylie memanggil pelan, suaranya lembut, tanpa nada mengancam.
Sung He tersentak, menoleh dengan mata yang sulit fokus. "Si... siapa kau?" suaranya parau.
"Meylie Ling," ia memperkenalkan diri, menjaga jarak. "Aku... aku kenal Yu." Ia sengaja tidak menyebutkan hubungannya secara spesifik, agar tidak menimbulkan kepanikan. "Aku dengar kau sering di sini, sendirian."
Sung He mendengus, tawa getir keluar dari bibirnya. "Sendirian? Ya. Karena semua orang sudah pergi. Yu sudah pergi. Aku... aku sendirian."
Meylie melihat botol minuman keras yang tergeletak di samping Sung He. "Kau tidak seharusnya sendirian di sini. Ini berbahaya."
"Berbahaya?" Sung He tertawa lagi, kali ini lebih histeris. "Apa yang lebih berbahaya dari kehilangan segalanya? Apa yang lebih berbahaya dari hidup setelah melihat... melihat dia..." Sung He tidak melanjutkan kalimatnya, namun Meylie bisa merasakan penderitaan yang mendalam dalam suaranya.
Meylie mengambil napas dalam-dalam. Inilah saatnya. Ia harus menunjukkan bahwa ia bukan musuh, melainkan sekutu. "Aku tahu rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti. Kehilangan yang tak terduga. Kehilangan yang meninggalkan banyak pertanyaan."
Sung He menatap Meylie, matanya sedikit lebih fokus. "Kau... kau tahu?"
"Aku tahu," Meylie mengangguk pelan. "Aku tahu bagaimana rasanya ketika dunia percaya satu cerita, tapi hatimu tahu ada kebenaran lain."
Sung He terdiam, menatap Meylie seolah mencari jawaban dalam matanya. Untuk sesaat, topeng Ling runtuh, dan Xiao Fei yang berduka muncul. Rasa sakit yang tulus di mata Meylie, rasa sakit yang sama dengan yang Sung He rasakan, menciptakan jembatan antara mereka.
"Kau... kau tidak percaya narasi media?" Sung He berbisik, suaranya penuh harapan yang rapuh.
Meylie menggeleng. "Tidak. Aku tahu Yu lebih baik dari itu."
Air mata mulai mengalir di pipi Sung He, membasahi janggut tipisnya. "Mereka bilang overdosis. Tapi aku tahu... aku tahu dia tidak akan pernah melakukan itu."
"Aku juga tahu," Meylie membalas, suaranya meyakinkan. "Ada sesuatu yang disembunyikan. Aku merasakannya."
"Sesuatu yang disembunyikan?" Sung He mengulang, lalu tiba-tiba matanya melebar, ketakutan kembali menyelimutinya. Ia meraih tangan Meylie, cengkeramannya dingin dan gemetar. "Jangan bicara seperti itu! Mereka mengawasi! Semua orang mengawasi! Mereka tahu segalanya!"
Konflik yang telah diantisipasi. Sung He terlalu takut untuk berbicara terbuka.
"Siapa 'mereka', Sung He?" Meylie bertanya, suaranya tetap tenang. "Siapa yang mengawasi?"
Sung He menggelengkan kepalanya panik. "Aku tidak tahu! Tapi Yu tahu! Dia selalu bilang ada mata di mana-mana. Dia bilang ada orang-orang kuat yang tidak suka dia tahu terlalu banyak."
"Tahu tentang apa?" Meylie menekan lembut.
Sung He melepaskan tangan Meylie, lalu memeluk lututnya, gemetar. "Rahasia. Yu punya banyak rahasia. Dia bilang itu adalah 'bom waktu'. Dia mencoba menjualnya. Atau menggunakannya. Aku tidak tahu!"
"Menjual apa?"
"Dokumen sensitif," Sung He berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. "Dia bilang itu bisa menjatuhkan banyak orang penting. Politisi, produser... semua orang."
Meylie merasakan adrenalin memompa di nadinya. Ini adalah informasi kunci. "Di mana dokumen itu?"
Sung He menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Dia selalu menguncinya. Di laci arsipnya. Di kantor lama. Dia bilang itu tempat teraman. Tidak ada yang akan mencarinya di sana."
"Kantor lama?" Meylie mengingat kantor Yu yang sekarang mungkin sudah kosong.
"Ya. Di Jalan Edelweiss. Kantor lama Yu. Dia punya laci arsip di sana. Dia selalu menguncinya. Kuncinya... dia selalu menyimpannya bersamanya." Sung He terdiam, lalu menatap Meylie dengan tatapan putus asa. "Tapi sekarang... dia sudah pergi. Dokumen itu... aku takut."
"Kau takut apa, Sung He?"
"Aku takut mereka akan datang padaku. Aku tahu sedikit. Aku melihat Yu berubah. Dia jadi sangat paranoid. Dia sering mengunci diri di apartemennya yang kecil. Yang di Jalan Merpati. Dia bilang di sanalah dia bisa merasa aman. Tapi... tapi dia tetap tidak aman."
Meylie mengangguk. Informasi tentang apartemen di Jalan Merpati mengonfirmasi apa yang dikatakan Nyonya Xu. Sung He adalah sumber yang sangat kredibel.
"Kau bilang kau tahu sedikit," Meylie melanjutkan, mencoba membangun kepercayaan lebih dalam. "Apa yang kau tahu, Sung He? Apa yang Yu coba lakukan?"
Sung He memejamkan mata, seolah mencoba menekan ingatan yang menyakitkan. "Dia... dia mencoba menjual daftar itu. Kepada media. Kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Dia bilang itu satu-satunya cara untuk melindungi dirinya. Dia bilang mereka akan membunuhnya jika dia tidak melepaskan daftar itu."
"Daftar apa?"
"Daftar hitam," Sung He akhirnya mengucapkan dua kata itu, suaranya bergetar. "Daftar nama. Daftar kejahatan. Daftar korupsi. Dia bilang itu bisa menghancurkan industri. Menghancurkan banyak orang. Termasuk... termasuk Tuan Z."
Tuan Z. Nama itu muncul lagi. Produser film papan atas, pemilik "Perusahaan Berlian Hitam." Orang yang menolak Yu untuk "menjual jiwanya." Dan yang Nyonya Xu sebutkan.
"Tuan Z?" Meylie bertanya, berpura-pura tidak tahu.
"Ya. Dia orang yang menakutkan. Yu bilang dia terhubung dengan orang-orang yang sangat kuat. Orang-orang yang melakukan hal-hal kotor. Ritual aneh. Yu pernah melihat sesuatu. Dia pernah merekam sesuatu. Aku tidak tahu persis apa. Tapi dia ketakutan."
Meylie merasakan merinding di lengannya. Ritual aneh. Ini mengonfirmasi analisisnya tentang video Yu.
"Apakah Yu pernah menunjukkan rekaman itu padamu?"
Sung He menggeleng. "Tidak. Dia tidak akan pernah menunjukkan hal itu padaku. Dia bilang itu terlalu berbahaya. Dia bilang aku tidak boleh tahu. Tapi aku melihat dia menyimpannya di... di laci arsip itu. Dia selalu melindunginya."
Meylie melihat ke sekeliling. Malam semakin larut, dan bar itu mulai sepi. Mereka tidak bisa berlama-lama di sini. Sung He terlalu mabuk, terlalu rentan.
"Sung He, aku ingin membantumu. Aku ingin mencari kebenaran untuk Yu," Meylie berkata, suaranya tulus. "Tapi aku butuh bantuanmu. Aku butuh akses ke dokumen itu."
Sung He menatap Meylie, matanya dipenuhi keraguan dan ketakutan. "Aku tidak bisa. Aku takut. Mereka... mereka akan tahu."
"Siapa yang akan tahu?" Meylie menekan, menatapnya lurus. "Aku tidak akan memberitahu siapa pun. Aku hanya ingin keadilan untuk Yu. Sama sepertimu."
Meylie membiarkan keheningan menggantung di antara mereka, membiarkan Sung He memproses kata-katanya. Ia memanfaatkan empati, mengingat rasa sakit yang sama yang ia rasakan atas kehilangan Yu. Ia tahu bahwa Sung He, yang depresi dan mabuk, adalah cerminan dari dirinya sendiri di awal, sebelum ia memutuskan untuk melawan.
"Aku... aku punya sesuatu," Sung He akhirnya berkata, suaranya sangat pelan. Ia merogoh saku jaketnya yang lusuh dengan tangan gemetar.
Meylie menahan napas.
Sung He menarik keluar sebuah gantungan kunci kecil yang berkarat. Di gantungan kunci itu, ada sebuah kunci kecil, terbuat dari kuningan tua, dengan ukiran angka '22' di atasnya.
"Ini," Sung He menyerahkannya kepada Meylie. Tangannya gemetar begitu hebat sehingga kunci itu nyaris terjatuh. "Ini kunci laci arsip Yu. Di kantor lama. Aku... aku punya duplikatnya. Yu pernah memberikannya padaku, untuk berjaga-jaga. Kalau dia... kalau dia tidak bisa mengambilnya sendiri."
Meylie mengambil kunci itu. Dingin dan berat di telapak tangannya. Ini adalah kunci. Kunci menuju kebenaran. Kunci menuju rahasia yang menjadi motif pembunuhan Yu.
"Aku... aku tak tahu apa isinya," Sung He melanjutkan, matanya kembali berkaca-kaca. "Tapi ia selalu melindunginya. Dia bilang itu adalah nyawanya. Jangan... jangan sampai mereka tahu kau memilikinya."
"Aku tidak akan," Meylie berjanji, menggenggam kunci itu erat-erat. "Aku akan berhati-hati. Terima kasih, Sung He. Kau sudah sangat membantu Yu."
Sung He hanya mengangguk pelan, matanya kembali kosong. Beban yang selama ini ia pikul, beban rahasia Yu, kini sebagian telah berpindah ke bahu Meylie.
Meylie tahu ia tidak bisa meninggalkan Sung He sendirian dalam keadaan seperti itu. Ia memanggil taksi, memastikan Sung He sampai di rumah dengan aman, dan membayar taksi itu di muka. Ia tidak bisa mengambil risiko Sung He berbicara terlalu banyak jika ia bertemu orang lain.
Ketika taksi itu melaju pergi, membawa Sung He yang terhuyung, Meylie berdiri sendirian di jalan sepi. Kunci kuningan tua itu masih berada di tangannya, terasa panas di tengah dinginnya malam. Ini bukan sekadar kunci. Ini adalah harapan. Ini adalah langkah maju yang paling signifikan sejak ia menerima kartu memori itu.
Ia menatap langit malam yang gelap, lalu ke arah kunci di tangannya. Tekadnya kini membara lebih terang dari sebelumnya. Ia telah menembus retakan di fasad, dan di balik retakan itu, ia menemukan sebuah jalan menuju rahasia Yu.
Kantor lama Yu. Laci arsip. Jalan Edelweiss.
Meylie tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia harus menyusup ke sana. Dan ia harus melakukannya sebelum "mereka" menyadari bahwa Sung He telah berbicara, sebelum mereka menyadari bahwa kunci itu kini berada di tangan Meylie.
Ia tersenyum tipis, senyum yang dingin namun penuh kemenangan. Xiao Fei telah menggunakan empati dan kehangatannya untuk mendapatkan kepercayaan. Ling telah menggunakan kecerdasannya untuk mengidentifikasi target. Dan kini, kedua sisi dirinya bersatu, membentuk sebuah senjata yang lebih tajam.
Perburuan ini akan membawanya ke dalam jantung rahasia Yu. Dan ia siap.