NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP23

“Anyeong, Guys!” Edwin menyapa dari ambang pintu dengan senyum sumringah dan wajah penuh darah.

Tiga orang di hadapannya refleks menoleh—termasuk Abirama. Mereka tersentak kaget, merinding melihat penampilan Edwin yang jauh dari kata wajar.

Rambutnya diikat asal di tengkuk, beberapa helai masih terurai liar membingkai wajah pucat yang ternodai darah segar. Ia bertelanjang dada, otot-otot di bahu, dada, dan perut berlekuk tegas, memancarkan kesan liar dan maskulin. Di bahu dan sepanjang perut six pack-nya, tampak ada beberapa sayatan memanjang—bekas perkelahian brutal di ruangan pengawas, ia menghabisi nyawa para penjaga yang bertugas memantau CCTV markas besar.

“Mr.Kee ....”

Senyum angkuh di wajah dua komplotan itu luntur seketika, berganti waspada. Sosok Elit yang beberapa waktu ini hanya jadi bisik-bisik di kalangan antek organisasi, kini berdiri nyata di hadapan mereka—dalam kondisi yang jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.

“Sepertinya ... Anda datang terlalu cepat, Mr.Kee. Bukankah Elit baru boleh bersenang-senang sekitar satu jam lagi?” ujar salah satu dari mereka, berusaha terdengar tenang meski getar di suaranya tak sepenuhnya tersembunyi. Sorot matanya tak lepas dari darah yang masih menetes di dagu Edwin.

“Ah?” Edwin memiringkan kepala, senyumnya tak pudar. “Sejak kapan jadwal bersenang-senangku diatur oleh kalian?”

Ia maju setengah langkah ke depan, kedua tangan bersembunyi di balik badan — masing-masing menggenggam dua bilah pisau.

“Apa bagi kalian, aku terlihat sama dengan Elit lainnya? Atau ... ketua kalian yang bau kotoran itu lupa mengabari bahwa aku punya hak istimewa di tempat ini?”

Dua komplotan itu saling lempar pandang, ujung jemari serentak meremas sisi celana. Edwin yang memperhatikan hal itu pun terkekeh pelan.

“Tujuh puluh persen saham bisnis ini berasal dari harta ayahku.” Tatapannya menajam. “Kalian yakin ingin mempermasalahkan itu?”

Salah satu komplotan itu tak langsung percaya. Dengan rahang mengeras, ia meraih ponsel dan menghubungi nomor Galih untuk menanyakan kebenarannya. Percakapan berlangsung singkat, tapi cukup jelas—suara Galih terdengar sayup dari seberang telepon, lalu disusul gumaman lain di kejauhan.

“Ah ... jadi dia sudah tau riwayat kepemilikan bisnis gelap ini rupanya,” suara Andika terdengar datar.

Beberapa detik kemudian, suara Galih kembali terdengar jelas.

“Yang dikatakan Mr. Kee benar,” ujarnya singkat. “Jaga sikap kalian. Jangan memancing emosinya.”

Ia diam sejenak, volume suaranya menurun. “Kalian tau sendiri—pria itu sangat tidak waras. Tetap awasi, tapi jangan bertindak gegabah. Laporkan setiap pergerakannya.”

“Baik, Pak Galih,” sahut salah satu anak buah itu patuh.

“Kalau tidak ada urusan mendesak, jangan menelponku lagi. Aku bersama ketua sedang menuju dermaga. Elit lainnya sudah tiba.”

“Baik, Pak.”

Begitu sambungan telepon terputus, komplotan itu menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali ke Edwin, kali ini dengan ekspresi lebih terintimidasi —kepala mereka tertunduk, sadar betul siapa yang sedang berdiri di hadapan mereka.

Melihat kedua lawan menunduk, Edwin menyeringai, ia baru saja mendapatkan kesempatan emas dan ia tidak akan melewatkannya. Dua bilah pisau dalam genggamannya pun langsung melesat cepat, menancap serentak di tempurung kepala — menembus sampai ke hidung.

Darah segar dari dua komplotan itu seketika mengucur deras, amat deras. Tubuh keduanya langsung ambruk, mengejang di atas lantai sebelum akhirnya terdiam.

Mata Abirama berkedip-kedip cepat, syok setengah mati melihat aksi keji sang teman.

Edwin justru terkekeh. Tatapannya terpaku pada gagang pisau yang tertancap di kepala kedua korban, seolah sedang mengagumi karya seni.

“Ram,” panggil Edwin sambil terus terkekeh dan terkikik. “Kenapa mereka jadi mirip Teletubbies, ya?”

Ia menunjuk satu per satu. “Ini Tinky Winky. Ini Dipsy.”

Jemarinya lalu beralih, mengacung ke arah Abirama.

“Dan kau ...,” senyumnya melebar tak wajar, “...bayi mataharinya, HAHAHA!”

Edwin terpingkal-pingkal sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai, terlentang santai di atas genangan darah, seolah dunia baru saja memberinya hiburan terbaik pagi itu.

“Sinting!” maki Abirama.

Tawa Edwin langsung terhenti, mimik berubah datar. Ia bangkit duduk, menoleh ke arah Abirama dengan tatapan tak suka.

“Kau nggak asyik!” Edwin lekas berdiri, mendekati sang teman. Ia menyeret satu kursi dan meletakkannya tepat di belakang Abirama, lalu duduk di sana.

Begitu ujung jarinya menyentuh kepala Abirama, pria itu langsung terperanjat.

“Mau apa kau?!” tanyanya panik. Bagaimanapun juga, Edwin sedang gila-gilanya. Dan pawangnya sedang tak berada di sana.

“Mau apa lagi? Ya mengobati luka di kepalamu ini lah,” jawab Edwin enteng, menarik troli kecil berisi peralatan medis ke sisinya.

Mata Abirama refleks mendelik panik. “Ng-nggak! Nggak usah repot-repot, nanti sembuh sendiri!”

Edwin mendecih. “Apanya yang sembuh sendiri? Belakang kepala mu robek. Kau mau alismu turun sebelah?”

“KENAPA ALISKU HARUS TURUN SEBELAH?!”

Namun, pria itu berujung pasrah. Ia hanya bisa mempercayakan semuanya pada sang teman. Bagaimanapun juga, wajah tampannya merupakan aset masa depan.

“Kalau alismu turun sebelah ....” Tangan Edwin tak berhenti bekerja. “Si Dinda Dinda itu bisa kabur melihat tampangmu, Ram.”

Abirama menghela napas lesu. “Dinda udah nggak ada, Win. Dia udah ....”

Kalimat itu tertahan, Abirama tak sanggup melanjutkan.

“Dia masih hidup, kau tenang saja.”

Mata Abirama membulat, meminta penjelasan lebih.

“Aku menyelamatkannya di waktu yang tepat.”

Abirama nyaris menoleh, tetapi Edwin langsung menjitaknya — membuat pria itu mengaduh kecil.

“Kau nggak bercanda, kan?” tanya Abirama serak. Sudut bibirnya bergetar samar.

“Gengsi mau bilang makasih?” Edwin memotong benang medis, luka yang tadi menganga kini tertutup rapi.

Abirama terdiam sejenak. Napasnya ditarik dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan.

“Makasih, Win,” ucapnya akhirnya. “Makasih karena udah mau berbaik hati.”

Edwin mendengus kecil. “Sejak kecil aku memang udah baik hati, toh.”

Dalam hati ia menambahkan dengan geli, ‘Tentu saja aku harus berbaik hati. Kalau gadis itu mati, kau akan kembali jadi pria menyedihkan yang menunggu istriku menjadi janda. Menyebalkan!’

Keheningan menyusup sesaat.

Tatapan Abirama perlahan bergeser ke dua jasad yang tergeletak tak bernyawa di lantai, darah menggenang di sekelilingnya.

“Aku nggak bisa bayangin,” gumamnya lirih, “semurka apa Bella nanti kalau tau apa yang kau lakukan di tempat ini.”

Edwin menghela napas panjang, seolah lelah mendadak. “Aku juga kepikiran soal itu,” katanya datar. “Kau tau kan ... aku nggak punya bakat membujuk atau menenangkan orang. Selama ini, justru Bella yang selalu nenangin aku.”

“Dasar amatir,” ejek Abirama, “ck! Karena kau tadi udah berbaik hati nyelamatin Dinda—aku bakal ngasih tips.”

Alis Edwin langsung menukik, matanya menyala penuh minat.

“Tips?” Ia menyeringai. “Apa?”

“Ada dua,” kata Abirama meyakinkan.

“Ya, apa?!” Edwin nyaris murka. Sanking tak sabar, ia menyeret kursinya dan duduk di depan Abirama.

“Yang pertama. Jangan pernah berdebat sama istri waktu dia marah, tunggu dia tenang.”

Edwin mengangguk-angguk paham. “Yang ke dua?”

“Yang ke dua. Jangan pernah berdebat sama istri waktu dia tenang, nanti dia marah.”

Edwin kembali mengangguk, namun sedetik kemudian matanya menyipit sinis saat menyadari Abirama menjahilinya.

“Sebaiknya kau diam sebelum aku mencekik mu, memotong tubuhmu dan menyajikan dagingmu untuk Ludwig Friedrich Heinrich Karl Barbarossa,” ancam Edwin sambil mengingat anjing Pitbull kesayangannya.

“Ya, ya, baiklah.” Abirama memutar matanya. “Ah, tapi pasti Ludrich sekarang sudah melupakanmu.”

“Ludwig! Namanya Ludwig!”

.

.

“Cari perempuan itu! Ini semua pasti ulahnya!”

*

*

*

Bab ini kita anteng-anteng dulu yaaa 😂 Biar nggak tegang tengkuk saya 😂

1
Y.S Meliana
sabar mas Edwin, ngadepin jomblo emang kudu kesabaran lebih 🤣
Wahyu ningsing
semangat kakak...up nya yg rajin
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
sewot aja abi 🤭🤣🤣🤣🤣🤣
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
🤣🤣🤣ada apa.johnson
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tuh kan beneeerrrr
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mamposlah kau rama, siap2 dibelek si edwin dan dijadikan samsak kau sama si bella
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
hihihihi
Sayuri
mo d tabok palanya baru siap d jait. jd lehernya d sebat🤣
Sayuri
🤣🤣
Patrish
ealllaah...jangan sok tahu mas..bikin jantung meledak...untung Bella..ahlinya dia..kalo orang lain sudah out
Anna
Kompengan ngetes ilmu 🤣
intan naysila
mas pol parah banget 🤣 kan dikatain idiot
yuyun Rahayu
ngintippp lagiii🙈
Dae_Hwa💎: Syudaaaah 🤭
total 1 replies
Sayuri
mlm ni up g thor? q mnanti2
Dae_Hwa💎: InshaAllah hari ini, Akak 🥰
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
ahhh thor cerita Ngantung😄
Dae_Hwa💎: /Scowl/
total 1 replies
Sayuri
msih bnyk krjaan hlal
Dae_Hwa💎: Betul-betul
total 1 replies
Sayuri
nyut nyuttttt mata ku eh pala ku
Sayuri
bentar lg umurmu yg hbis
Sayuri
duh bneran kena 🥹
Al Fatih
Ada apa yaa d Utara...,, papa Edwin sama mas pol kaaah d sana?
Al Fatih: Itu kan timur k barat,, selatan k Utara tak jua aku temukan...
iya kan Kaka 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!