Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Reset
Gina terbangun pelan dari tempat tidurnya.
Kepalanya masih terasa berat, seolah sisa tangis semalam belum benar-benar hilang. Ia ingat bagaimana ia tertidur sambil menahan suara, membiarkan air mata kering sendiri tanpa ada yang tahu.
Ia menarik napas, lalu bangkit.
Rutinitas tetap berjalan.
Langkah kakinya membawanya ke kamar mandi, melakukan semua hal yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Mencuci wajah, merapikan rambut, mengenakan seragam dengan rapi. Saat berdiri di depan cermin, ia menatap pantulannya beberapa detik.
Hidupnya… tetap berjalan.
Tak peduli bagaimana hancurnya perasaan semalam.
Gina menuruni tangga dan menuju meja makan.
Ayah, ibu, dan adiknya sudah duduk lebih dulu.
Suara sendok beradu pelan dengan piring, obrolan kecil mengisi ruangan seperti pagi biasa.
Langkah Gina sempat tertahan.
Sepersekian detik saja.
Ingatan semalam muncul begitu saja—ruang tamu, suara ayahnya, nada ibunya, dan kata-kata yang masih terasa menempel di dadanya.
Namun ia memaksa berjalan.
Duduk.
Bergabung.
Saat mulai mengambil makanan, Gina baru sadar—tidak ada satu pun yang menyinggung kejadian semalam.
Bukan karena mereka sengaja menghargai perasaannya.
Bukan karena ingin memberinya ruang.
Melainkan karena mereka… benar-benar sudah melupakannya.
Ayahnya sibuk menelpon sambil menuang kopi, membahas urusan bisnis dengan nada datar.
Ibunya berbicara soal jadwal kelas, kunjungan, dan agenda sosial hari ini tanpa jeda. Semuanya terdengar normal. Biasa.
Seolah semalam tidak pernah terjadi.
Di sisi lain, adiknya duduk sambil menatap layar ponsel.
Rekaman penampilan mereka semalam diputar ulang—tepat di bagian reff saat suara Siva melesat tinggi.
“Bagian ini keren banget,” gumamnya polos.
Gina terdiam.
Ia tahu adiknya tidak bermaksud apa-apa. Hanya anak kecil yang menyukai sesuatu yang terdengar indah.
Tapi entah kenapa, kalimat sederhana itu tetap terasa menekan pelan di dadanya.
Bukan karena dibandingkan.
Bukan juga karena iri.
Lebih karena… bahkan di meja makan ini, yang terdengar bukan suaranya.
Gina menunduk, mengaduk makanan pelan.
Ia sadar sesuatu.
Konflik semalam… seolah sudah di-reset begitu saja.
Hanya ia yang masih mengingat.
Hanya ia yang masih merasakan.
“Berangkat jam berapa?” tanya ibunya tiba-tiba, tanpa menoleh, saat Gina masih makan.
“Sebentar lagi,” jawab Gina pelan.
Tidak ada tanggapan setelah itu. Ibunya langsung kembali menunduk ke layar ponsel, jemarinya sibuk menggulir sesuatu.
“Jangan sampai terlambat,” sambung ayahnya singkat. Ia juga tidak benar-benar melihat Gina—matanya fokus pada ponsel, membaca berita pagi sambil sesekali menyesuaikan kacamata di hidungnya.
Gina hanya mengangguk.
Pelan.
Tanpa suara.
Di dalam hati, ada satu pertanyaan yang terus berputar—
kenapa mereka tidak membahas soal semalam?
Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Tidak ada yang menyinggung apa yang terjadi di ruang tamu.
Tidak ada kalimat sederhana seperti, “Kamu nggak apa-apa?”
Seolah semuanya… memang tidak pernah terjadi.
Seolah yang semalam itu hanya penting baginya seorang.
Di sampingnya, suara kecil terdengar lagi.
Ginan—adiknya—duduk sambil menggerakkan kaki, bernyanyi pelan mengikuti bagian reff milik Siva yang ia putar berulang-ulang.
Nada tinggi itu terdengar lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Gina menggenggam sendok sedikit lebih erat.
Ada rasa kesal yang naik pelan, tapi langsung ia tekan dalam-dalam. Ia tahu adiknya tidak salah.
Tidak paham apa-apa.
Tetap saja… rasanya menyesakkan.
Tanpa berkata apa-apa, Gina mempercepat sarapannya.
Sendoknya bergerak lebih cepat dari biasanya, nyaris tanpa rasa. Ia hanya ingin segera selesai, segera pergi dari meja itu… sebelum perasaan yang ia tahan sejak tadi benar-benar terlihat.
Gina menghabiskan sarapannya tanpa banyak bicara, lalu perlahan bangkit dari kursinya.
“Aku berangkat,” ucapnya singkat sambil meraih tas di samping kursi.
Ayah dan ibunya hanya mengangguk sekilas.
Tidak ada tambahan kata. Tidak ada pesan hati-hati seperti biasanya.
Gina berbalik, melangkah meninggalkan meja makan.
Langkahnya terdengar pelan di lantai marmer, tapi mantap. Tidak ragu. Tidak juga menunggu dipanggil kembali.
Ia menuju pintu depan, lalu keluar menuju mobil.
Langkah Gina terasa lebih dingin. Lebih jauh. Seolah ia sedang berjalan sendiri di tempat yang selama ini ia kenal.
Ia membuka pintu mobil, masuk, lalu duduk tanpa menoleh ke arah rumah.
Biasanya, sebelum berangkat, ia akan melirik ke belakang—sekadar melihat apakah ibunya berdiri di ambang pintu atau ayahnya masih di ruang tamu.
Hari ini tidak.
Ia menyalakan mobil.
Tatapannya lurus ke depan.
Dan Gina benar-benar pergi… tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
...----------------...
Di kelas, Gina duduk di tempatnya tanpa banyak bergerak.
Tidak mengobrol. Tidak menyapa siapa pun. Bahkan sekadar menoleh pun tidak.
Tangannya sibuk memainkan ponsel—membuka Instagram, menggulir layar tanpa benar-benar memperhatikan apa yang lewat. Hanya scroll… lalu scroll lagi.
Seolah ingin terlihat sibuk.
Atau mungkin memang sengaja mencari sesuatu agar tak perlu menjawab pertanyaan orang lain.
Tak lama, Siva dan Rahmalia masuk ke kelas.
Keduanya masih mengenakan atribut OSIS, baru saja menyelesaikan tugas pagi mereka.
Siva langsung berjalan mendekat.
“Gin, kenapa sih kamu kemarin pulang duluan?” tanyanya, nada suaranya terdengar sedikit kesal.
Gina mengangkat kepala sebentar. Tatapannya bertemu mata Siva… hanya sepersekian detik. Lalu kembali jatuh ke layar ponsel.
“Kemarin ayahku ada urusan mendesak,” jawabnya singkat.
Dingin. Tanpa penjelasan panjang.
Siva menghela napas.
“Padahal kamu bisa pulang bareng kita. Biar orang tuamu pulang duluan,” katanya.
“Iya,” timpal Rahmalia pelan.
“Mobilku juga kosong kemarin. Masih muat kok.”
Gina akhirnya menoleh ke arah Rahmalia.
Tatapan itu singkat—tapi cukup membuat sesuatu di dalam dirinya kembali terusik. Entah kenapa… setiap melihat Rahmalia sekarang, ada rasa yang sulit ia jelaskan. Bukan benci. Bukan marah.
Tapi tidak lagi senyaman dulu.
“Iya… aku nggak kepikiran ke situ,” jawab Gina akhirnya, tetap datar.
Tidak ada nada menyesal. Tidak juga nada hangat seperti biasanya.
Siva mengangkat bahu kecil.
“Ya udah lah… udah lewat juga,” katanya.
“Ntar istirahat kita ke kantin bareng, ya.”
Rahmalia mengangguk setuju.
“Iya.”
Gina menekan layar ponselnya, lalu mengangguk singkat.
“Iya.”
Hanya satu kata.
Setelah itu, Siva dan Rahmalia kembali ke tempat duduk masing-masing.
Kelas kembali ramai oleh obrolan murid lain.
Tawa terdengar di sana-sini. Kursi bergeser.
Percakapan saling bersahut seperti biasa.
Tapi Gina tetap diam.
Matanya menatap layar, jarinya menggulir tanpa benar-benar melihat.
Siva dan Rahmalia sudah kembali berbicara dengan teman lain. Sesekali terdengar tawa kecil dari arah mereka.
Gina tidak ikut menoleh.
Tidak ikut menyela.
Dan untuk pertama kalinya… jarak itu terasa jelas.
Bukan karena tempat.
Tapi karena hatinya… perlahan mulai menjauh.
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo
chapter ini cukup menarik
slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
kayak mau deketin Azmi sama gina
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???