Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Nara merasa semuanya indah, terlalu indah, sampai Nara hampir lupa bahwa setiap keindahan itu pasti ada harganya.
Pagi harinya, di kamar hotel dengan pemandangan Gunung Fuji yang megah, Nara sedang menikmati pemandangan yang sangat indah, bahkan Nara sudah mengambil banyak gambar menggunakan kamera ponselnya.
Sampai sebuah notifikasi masuk ke ponsel suaminya, Nara melihat sebentar, niatnya hanya ingin menggeser ponsel suaminya, tapi ternyata notifikasi yang masuk adalah notifikasi pembayaran kartu debit muncul di layar ponsel yang sedang Nara pegang, kebetulan Arkan sedang mandi dan ponselnya tertinggal di meja.
Nara tidak berniat mengintip. Ia hanya ingin memindahkan ponsel itu agar tidak jatuh. Namun angka-angka yang tertera sudah terlanjur terlihat. Biaya hotel. Tiket shinkansen kelas premium. Ryokan privat dengan onsen pribadi. Restoran dengan reservasi khusus.
Angkanya membuat Nara tercekat. Tangannya dingin.Ia menelan ludah.
“Ya Tuhan…” bisik Nara lirih.
Dalam hati, Nara menghitung kasar. Selama sembilan belas tahun hidupnya, dari lahir sampai sebelum menikah, rasanya Nara tidak menghabiskan uang sebanyak itu untuk biaya hidupnya. Bahkan mungkin seluruh biaya hidupnya tidak menyentuh angka itu.
Nara terduduk di tepi futon. Dadanya terasa sesak, bukan karena tidak bersyukur. Justru karena terlalu merasa tidak pantas.
Arkan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Wajahnya santai, bahkan bersiul kecil. Namun langkahnya melambat saat melihat ekspresi Nara.
“Kenapa?” tanya Arkan.
Nara menoleh pelan, masih memegang ponsel milik Arkan.
“Kamu? udah keluar uang sebanyak ini?” tanya Nara sambil menunjukan ponsel milik Arkan. Arkan melirik layar sekilas, lalu mengangguk ringan. “Iya.”
“Iya?” ulang Nara, suaranya naik sedikit. “Cuma iya?” tanya Nara.
Arkan mendekat, duduk di samping Nara “Memang kenapa?” tanya Arkan.
Nara memijat pelipisnya. “Sayang, ini bukan angka kecil.” kata Nara.
“Tidak terlalu besar.” jawab Arkan.
Kalimat itu membuat Nara terdiam sejenak.
Nara menunduk. “Aku tuh dulu mikir, punya tabungan jutaan aja udah hebat. Ini? cuma buat honeymoon beberapa hari…” Nara menggeleng pelan.
“Aku belum pernah lihat uang sebanyak ini keluar cuma buat senang-senang.” kata Nara lagi.
Arkan menghela napas pelan. “Sayang..”
Nara menatap suaminya.
“Kamu tahu kenapa aku harus kerja keras?” Nara tidak menjawab.
“Supaya saat aku mau membahagiakan istriku, aku nggak perlu mikir dua kali.” Nara terdiam.
“Tapi tetap aja,” bantah Nara pelan, “ini terlalu banyak. Kita bisa pulang aja. Masih ada waktu buat nikmatin Indonesia.”
Arkan tersenyum tipis. “Kamu mau pulang karena kangen rumah?” tanya Arkan.
Nara ragu sejenak. “Karena… takut tagihannya makin nambah.”
Arkan tertawa kecil, bukan mengejek, lebih seperti gemas.
“Tagihan itu tanggung jawabku.” jawab Arkan.
“Aku istrimu,” sahut Nara cepat. “Berarti tanggung jawabku juga.”
Arkan menatap Nara lebih dalam. Dan di sanalah Arkan melihat lagi sisi Nara yang membuatnya jatuh cinta, kesederhanaan yang tulus. Bukan pura-pura hemat. Bukan ingin terlihat baik. Tapi memang begitulah cara ia memandang hidup.
Arkan menggenggam tangan Nara. “Dengar aku baik-baik,” ucap Arkan lebih serius. “Uang bisa dicari lagi. Waktu nggak.”
Nara terdiam. “Aku nggak mau nanti kita sibuk, lalu nyesel karena nggak pernah benar-benar menikmati masa awal pernikahan.” Arkan mengusap lembut punggung tangan Nara.
“Dan kamu nggak perlu merasa nggak pantas. Kamu istriku. Semua ini wajar.”
Nara menatap mata Arkan lama. “Wajar buat kamu,” gumam Nara pelan. “Belum tentu buat aku.”
Arkan tersenyum lembut. “Makanya biasakan.”
Nara mengerucutkan bibirnya kesal. “Aku serius.” kata Nara.
“Aku juga serius,” balas Arkan santai. “Kita nggak pulang lebih cepat.”
Nara mendesah pelan. “Sayang..”
“Aku masih betah,” potong Arkan ringan. “Masih mau bangun pagi lihat kamu kebingungan pakai yukata. Masih mau dengar kamu ngomel karena nggak ada sambal.”
Nara hampir tersenyum, tapi berusaha menahannya.
“Dan…” Arkan mendekat sedikit, suaranya menurun hangat, "aku masih mau waktu berdua tanpa gangguan.”
Wajah Nara memerah. “Kamu tuh…” Nara memukul lengan suaminya.
“Apa?”
“Maniak,” gumam Nara pelan.
Arkan tertawa pelan. “Kalau aku maniak, kamu penyebabnya.”
Nara memukul lengan Arkan pelan, tapi akhirnya Nara menyerah.
Nara tahu Arkan tidak akan berubah pikiran. Dan jauh di dalam hatinya, meski ia cemas soal angka-angka, Nara juga menikmati setiap detik kebersamaan mereka.
“Baiklah,” kata Nara akhirnya. “Tapi habis ini kita nggak boleh boros lagi.”
Arkan mengangguk cepat. “Deal.”
“Serius?” tanya Nara.
“Serius.” jawab Arkan mantap. Lalu dalam hati Arkan menambahkan, "selama di Jepang." Karena bagi Arkan, bukan soal uang yang terpenting. Melainkan melihat Nara berdiri di dunia yang lebih luas, menyadari bahwa hidupnya tidak lagi terbatas oleh masa lalu. Dan jika harga sebuah kebahagiaan adalah angka-angka di layar ponselnya, maka Arkan rela membayarnya. Dan Arkan mau selama di akhir perjalanan, Nara tetap berada di sisinya.
***
Hari ini adalah hari terakhir Nara dan Arkan berasa di Jepang. Koper sudah setengah terisi. Oleh-oleh tertata rapi, gantungan kunci untuk ibu mertua, camilan khas Jepang untuk keluarga, dan beberapa barang kecil yang Nara beli sambil menahan diri agar tidak kalap.
Nara duduk di lantai kamar hotel, melipat yukata yang sempat ia pakai untuk berfoto. Wajahnya terlihat tenang. Berbeda dengan hari pertama yang penuh takjub. Nara merasa cukup. Benar-benar cukup.
Arkan berdiri di dekat jendela, memandangi langit sore yang mulai berubah warna. Lalu ia menoleh ke arah istrinya.
“Setelah ini,” kata Arkan santai, “kita lanjut ke mana?”
Nara mendongak. “Lanjut ke mana?” tanya Nara heran.
“Iya. Korea? Atau sekalian Eropa? Paris mungkin?” tanya Arkan.
Nara langsung menatap Arkan seperti melihat orang yang baru saja kehilangan akal sehat.
“Kamu serius?”
Arkan mengangguk ringan. “Mumpung lagi di luar negeri.”
Nara berdiri, menepuk-nepuk tangannya yang tadi dipakai melipat pakaian.
“Enggak,” jawab Nara tegas.
Arkan mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena sudah cukup.”
“Cukup apanya?” tanya Arkan.
“Cukup mahalnya.” jawab Nara.
Arkan terkekeh pelan.
Nara melipat tangan di dada. “Kamu sudah terlalu lama tidak bekerja, malah boros pakai uang.” Kalimat itu keluar begitu saja, polos tanpa beban.
Dan justru itu yang membuat Arkan tertawa lebih jelas. “Astaga,” kata Arkan sambil mendekat. “Aku diceramahi istriku sendiri.”
“Aku serius, Sayang.”
“Aku juga.” jawab Arkan cepat.
Nara menatap Arkan penuh kesal. “Kamu tuh kayak nggak mikir panjang.”
Arkan berhenti tepat di depan Nara. “Kamu takut suami kamu bangkrut?” Pertanyaan itu membuat Nara langsung memukul lengan Arkan pelan.
“Iya!” jawabnya tanpa ragu. “Takut!”
Arkan tertawa lagi, tapi kali ini tawanya lebih lembut.
“Nara…” Arkan mengangkat dagu istrinya perlahan agar mereka saling menatap.
“Aku nggak akan bangkrut cuma karena membahagiakan istriku.” Nada suaranya tenang. Yakin. Tanpa kesombongan.
Nara mengerucutkan bibirnya. “Semua orang juga bisa bangkrut kalau nggak hati-hati.”
“Aku hati-hati.” jawab Arkan.
“Kamu lagi nggak kerja.”
“Aku lagi cuti, lagipula aku kan bosnya.”
Nara mendesah panjang. Nara memang tidak benar-benar tahu detail keuangan Arkan. Yang ia tahu, suaminya berasal dari keluarga berada, bisnisnya berjalan stabil, dan hidupnya jauh dari kata kekurangan. Tapi kebiasaan hidup sederhana membuat Nara sulit menerima pengeluaran besar tanpa merasa was-was.
“Aku cuma nggak mau kamu menyesal,” ucap Nara lebih pelan.
Arkan menatap Nara serius. "Aku justru akan menyesal kalau nggak melakukan ini.”
Nara terdiam.
“Aku kerja keras bukan buat numpuk angka di rekening tanpa arti,” lanjut Arkan. “Aku kerja supaya bisa memilih. Dan aku memilih pakai uangku buat bikin kamu bahagia.” Kalimat Arkan membuat hati Nara bergetar pelan.
“Bahagia itu nggak harus mahal,” gumam Nara.
“Aku tahu.” jawab Arkan.
“Terus kenapa selalu yang mahal?”
Arkan tersenyum tipis. “Karena aku mampu.” Bukan nada sombong. Hanya fakta.
Nara menatap Arkan lama. Arkan lalu meraih tangan Nara dan menggenggamnya erat.
“Dengar,” kata Arkan ebih lembut, “kita nggak lanjut ke negara lain kalau kamu nggak mau. Aku cuma kasih pilihan.”
Nara sedikit lega.
“Tapi jangan karena kamu takut aku bangkrut.” lanjut Arkan.
“Aku memang takut,” jawab Nara jujur.
Arkan mengusap punggung tangan istrinya. “Kalau suatu hari aku benar-benar bangkrut pun,” kata Arkan pelan, “itu bukan karena honeymoon ini.”
Nara menatap suaminya bingung.
“Bangkrut itu karena salah kelola, bukan karena cinta.”
Nara terdiam beberapa detik, lalu menghela napas panjang. “Kamu ini ya…”
“Apa?” tanya Arkan.
“Bikin aku nggak bisa marah lama-lama.” jawab Nara.
Arkan tersenyum lebar. “Jadi pulang ke Indonesia?”
“Iya.” jawab Nara.
“Yakin nggak mau Paris?”
“Enggak.” jawab Nara tegas.
“Seoul?”
“Enggak.”
Arkan mendekat sedikit, menurunkan suaranya dengan nada menggoda. “Kalau nggak ke luar negeri lagi… berarti setelah ini kita fokus kerja?”
Nara mengangguk mantap. “Iya.”
Arkan menyeringai tipis. “Kerja bikin anak juga termasuk kerja, kan?”
Wajah Nara langsung memerah. “Kamu tuh nggak bisa serius dikit?”
“Aku serius.” jawab Arkan.
Nara kembali memukul lengan suaminya pelan, tapi kali ini ia tertawa. Dan di kamar hotel itu, di hari terakhir perjalanan mereka, Arkan sadar satu hal, Ia mungkin punya banyak uang. Tapi yang membuatnya merasa benar-benar kaya adalah perempuan sederhana yang berdiri di depannya sekarang. Perempuan yang takut ia bangkrut. Perempuan yang memilih pulang karena merasa cukup. Dan bagi Arkan, memiliki istri seperti Nara, jauh lebih berharga daripada destinasi mana pun di dunia.