NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Pagi itu, udara di koridor sekolah terasa lebih menyesakkan bagi Amara. Kata-kata Nicholas di depan pagar rumahnya terus terngiang seperti melodi horor yang tak mau berhenti. “Gue cuma nggak suka milik gue diganggu sama orang lain.” Kalimat itu sukses membuat Amara terjaga hampir sepanjang malam, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk antara emosi, takut, dan... sesuatu yang ia tolak untuk ia sebut sebagai rasa tertarik.

Saat jam istirahat, Amara menarik Daffa ke bangku taman belakang sekolah yang sepi. Hanya kepada Daffa ia bisa bercerita tanpa takut dihakimi, meski ia harus menyembunyikan fakta bahwa Nick adalah teman abangnya sendiri.

"Daff, gue mau tanya pendapat lo sebagai sesama cowok," buka Amara sambil memainkan sedotan minuman kotak di tangannya.

Daffa menoleh, memberikan perhatian penuh. "Tanya apa, Ra? Tumben muka lo kayak rumus fisika yang nggak ketemu jawabannya gitu."

Amara menarik napas panjang. "Kalau ada cowok, yang baru kita kenal beberapa hari, terus dia tiba-tiba ngomong... 'gue nggak suka milik gue diganggu orang lain' ke kita, itu maksudnya apa ya, Daff?"

Daffa terdiam. Senyum jenaka yang biasanya ada di wajahnya perlahan luntur. Ia menatap Amara dengan dahi berkerut. "Siapa yang ngomong gitu ke lo, Ra? Cowok yang jemput lo kemarin?"

Amara mengangguk pelan, menghindari kontak mata.

Daffa menghela napas berat, tangannya mengepal pelan di atas lutut. "Secara psikologis, itu klaim kepemilikan, Ra. Tapi dalam konteks cowok yang baru kenal beberapa hari... itu antara dia emang obsesif, atau dia tipe predator yang suka nandain targetnya."

"Target?" Amara merinding.

"Iya. Cowok kayak gitu biasanya dominan. Dia nggak peduli perasaan lo, dia cuma peduli sama egonya. Lo harus hati-hati, Ra. Itu tanda bahaya—red flag paling terang yang pernah gue denger," ucap Daffa dengan nada protektif. "Maksud dia jelas: dia anggep lo properti dia. Jangan kasih dia celah lagi, oke?"

Amara hanya bisa mengangguk lemah. Penjelasan Daffa justru membuatnya makin tidak tenang. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis, dan di bawah sana ada Nicholas yang siap menangkapnya—atau justru menjatuhkannya.

Suasana sekolah hari itu mendadak sangat ramai. Lapangan basket disulap menjadi area ekspo kampus. Berbagai booth universitas ternama berderet rapi, lengkap dengan kakak-kakak tingkat yang memakai jaket almamater kebanggaan mereka untuk mempromosikan jurusan masing-masing.

Amara mencoba melupakan masalah Nicholas sejenak. Ia sangat antusias melihat stand-stand universitas impiannya. Dengan membawa buku catatan kecil, ia menyelinap di antara kerumunan siswa kelas 12 lainnya.

"Ra! Lihat tuh, stand Fakultas Teknik UI rame banget!" seru teman sekelasnya, namun Amara hanya melirik sekilas. Ia tahu abangnya, Ryan, tidak ikut karena hari ini ada jadwal praktikum padat di kampus. Karena merasa aman abangnya tidak ada, Amara pun berani mendekati area Teknik.

Ia sibuk memandangi brosur satu per satu. Fokusnya benar-benar pada kurikulum dan prospek kerja. Ia tidak menyadari bahwa di stand Teknik yang paling ujung, ada sosok yang sejak tadi memperhatikannya dengan tatapan intens.

Sosok itu tidak memakai jaket kuning almamater seperti yang lain. Ia hanya memakai kaos hitam polos dengan kemeja flanel biru yang tidak dikancingkan, serta id card panitia yang tergantung malas di lehernya. Ia sedang duduk di kursi belakang meja, mengabaikan beberapa siswi kelas 10 yang mencoba meminta nomor WhatsApp-nya.

"Amara Lathifa," gumam pria itu pelan, nyaris tak terdengar. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya saat melihat Amara yang tampak serius mencatat informasi di depan stand Teknik Sipil.

Amara bergerak perlahan menuju stand Teknik Mesin. Tiba-tiba, seorang panitia menyodorkan sebuah brosur tepat di depan wajahnya.

"Minat masuk Teknik juga, Dek? Atau mau masuk ke hati panitianya aja?" goda salah satu mahasiswa di sana.

Amara tersenyum sopan. "Mau tanya soal kuota jalur undangan, Kak."

"Wah, kalau itu tanya sama ketua koordinator lapangan kita aja. Tuh, yang lagi duduk di pojok," tunjuk mahasiswa itu ke arah stand Teknik Industri yang letaknya agak tersembunyi.

Amara mengangguk dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk. Ia masih menunduk, sibuk merapikan brosur-brosur di tangannya yang berantakan.

"Permisi, Kak. Saya mau tanya soal—"

Kalimat Amara terhenti seketika saat ia mendongak. Jantungnya serasa merosot hingga ke perut. Di depannya, Nicholas sedang duduk bersandar dengan kaki diangkat satu ke atas kursi. Ia sedang memutar-mutar sebuah pulpen di antara jemari panjangnya.

"Soal apa? Soal kenapa gue bisa ada di sini?" potong Nick dengan suara beratnya yang sangat familiar.

Amara mundur satu langkah, wajahnya pucat. "K-Kak Nick? Kakak ngapain di sini? Bang Ryan bilang Kakak nggak ikut ekspo!"

Nick terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat provokatif di tengah kebisingan lapangan sekolah. Ia berdiri, membuat Amara merasa makin kecil. "Ryan emang nggak ikut. Tapi gue? Gue yang minta gantiin posisi temen gue biar bisa jaga di sini."

Nick melangkah keluar dari balik meja stand, mendekati Amara yang sudah terdesak ke pilar koridor sekolah. "Gue pengen liat, Amara versi sekolah itu kayak gimana. Ternyata... lebih menggemaskan kalau lagi bingung gini."

Amara melirik ke sekeliling dengan panik. Banyak teman-temannya yang mulai memperhatikan. "Kak, tolong... jangan di sini. Ini sekolah aku!"

"Emang kenapa? Gue cuma mau nanya, cokelat panasnya enak nggak kemarin?" Nick mencondongkan wajahnya, mengabaikan tatapan heran dari siswa-siswa lain.

Tiba-tiba, Daffa muncul dari arah belakang Amara. Ia melihat posisi Nick yang terlalu dekat dengan Amara dan langsung memasang badan di depan gadis itu.

"Sori, Bang. Ada masalah apa ya sama temen saya?" tanya Daffa dengan nada berani, meski ia tahu pria di depannya ini terlihat jauh lebih kuat dan berbahaya.

Nick mengalihkan pandangannya ke arah Daffa. Matanya yang tadi terlihat jenaka berubah menjadi dingin dan tajam secepat kilat. Ia menatap Daffa dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Oh, si 'Pahlawan Kesiangan' ternyata," sindir Nick. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, berdiri dengan gaya menantang. "Gue nggak ada urusan sama lo, Bocah. Gue lagi ngomong sama... milik gue."

Daffa terkejut mendengar kata-kata itu secara langsung. Amara merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.

"Dia bukan milik siapa-siapa, Bang. Apalagi milik orang yang baru dia kenal kemarin sore," balas Daffa tegas.

Nicholas tertawa, tawa yang terdengar sangat meremehkan hingga membuat suasana di sekitar mereka menjadi tegang. Nick maju satu langkah lagi, membuat hidungnya hampir bersentuhan dengan dahi Daffa.

"Lo mau tau bedanya gue sama lo?" bisik Nick, tapi suaranya cukup jelas terdengar oleh Amara. "Lo cuma bisa jagain dia di sekolah. Tapi gue? Gue bisa masuk ke rumahnya, duduk di dapurnya, dan mastiin dia aman bahkan saat dia nggak minta. Sekarang, minggir sebelum gue bikin keributan di ekspo sekolah lo ini."

Suasana makin memanas. Amara tahu Nicholas tidak main-main dengan ancamannya. Ia menarik lengan seragam Daffa dengan tangan gemetar.

"Daff, udah. Jangan. Ayo pergi dari sini," bisik Amara memohon.

Nick memberikan seringai kemenangan saat melihat Amara menarik Daffa menjauh. "Pilihan bagus, Ifa. Sampai ketemu nanti sore. Gue yang anter lo pulang."

Amara tidak menoleh lagi. Ia menarik Daffa menjauh secepat mungkin, sementara Nicholas tetap berdiri di sana, mengawasi punggung Amara dengan tatapan posesif yang tak tertutupi. Di bawah terik matahari ekspo kampus, Amara sadar bahwa Nicholas tidak hanya masuk ke rumahnya, tapi pria itu sedang mencoba menguasai seluruh aspek hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!