"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di Hutan Larangan
Sinar matahari sore menembus rimbunnya kanopi pohon jati, menciptakan pola cahaya yang menari di atas permukaan tanah yang lembap.
Ararya melangkah dengan hati-hati, menggeser semak belukar menggunakan ujung pedang kayunya. Pakaian berburunya yang berwarna cokelat bumi tampak menyatu dengan bayang-bayang hutan, membuatnya hampir tidak terlihat oleh mata yang tidak waspada.
Dia sengaja tidak membawa pengawal hari ini, membiarkan Abimanyu sibuk dengan laporan pajak di istana agar dia bisa melakukan investigasi mandiri.
Pikirannya masih dipenuhi oleh istilah-istilah aneh yang didengarnya tempo hari. Membuatnya semakin frustasi.
Dia ingin memastikan apakah wilayah hutan di sekitar hilir Sungai Amerta ini memang berbahaya bagi rakyat jelata ataukah wanita itu hanya sedang meracau. Ararya menyusuri tepian sungai, mencoba mencari jejak rombongan berbaju merah yang tempo hari dia temui, tapi yang dia temukan hanyalah kesunyian yang mencekam.
Langkah kaki Ararya terhenti saat dia melihat sebuah jalur yang tampak tidak wajar. Tanah di depannya tertutup oleh tumpukan daun kering yang terlalu rapi.
Sebagai seorang pemburu yang terampil, dia tahu itu adalah tanda sebuah jebakan. Dia melangkah menyamping, berusaha menghindari area tersebut, tapi telinganya menangkap suara desisan halus dari balik akar pohon besar yang mencuat.
Seekor ular berbisa dengan kulit berwarna hijau gelap dan corak kuning mengilap melesat cepat dari balik bayang-bayang. Ararya secara refleks mencoba menghindar.
Namun, kakinya justru menginjak bagian pinggir dari sebuah lubang jebakan yang tersembunyi. Tanah di bawah kakinya amblas. Ararya terperosok ke dalam lubang dangkal yang dipenuhi oleh pancang kayu runcing di dasarnya.
Beruntung dia memiliki ketangkasan yang luar biasa sehingga dia bisa menahan tubuhnya menggunakan lengan, tapi ular tadi sempat menyambar pergelangan kakinya sebelum dia berhasil menjauh.
Rasa panas yang membakar langsung menjalar dari titik gigitan di pergelangan kakinya. Ararya meringis, mencoba menarik diri keluar dari lubang jebakan ilegal itu dengan sisa tenaganya.
Dia terduduk di tanah, bersandar pada batang pohon, sambil menatap ngeri pada dua titik merah kecil di kulitnya yang mulai membiru.
"Kurang ajar," bisik Ararya.
Dia mencoba menjangkau pisau di pinggangnya untuk merobek kain jubahnya, tapi pandangannya mendadak mengabur. Racun itu bekerja lebih cepat dari yang dia duga.
Rosie sedang berada tidak jauh dari sana. Setelah hampir dua jam melakukan audit kebersihan di sekitar halaman gubuk Nenek Galuh, dia memutuskan untuk mencari beberapa tanaman obat yang sempat disebutkan oleh wanita tua itu.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang menuju ke arah sungai, sambil sesekali menggumamkan standar operasional prosedur untuk menjaga kesegaran tanaman obat.
Langkah Rosie terhenti saat dia mendengar suara rintihan tertahan dari balik pepohonan. Dia menajamkan pendengarannya. Insting manajernya yang selalu siaga terhadap kecelakaan kerja di lapangan langsung berteriak.
Dia bergegas menuju sumber suara, menyibak semak berduri tanpa memedulikan kain jariknya yang tersangkut.
"Kamu lagi?!" teriak Rosie saat matanya menangkap sosok pria gagah yang terduduk lemas di bawah pohon jati.
Rosie segera mengenali pria itu. Dia adalah pemburu amatir yang hampir saja memanah kepalanya beberapa hari yang lalu.
Namun, kali ini penampilannya jauh dari kata berwibawa. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahinya, dan dia tampak sedang berjuang untuk tetap sadar.
Rosie tidak membuang waktu. Dia segera berjongkok di samping pria itu, matanya langsung tertuju pada luka di pergelangan kakinya. Dia melihat bekas gigitan ular dan lubang jebakan di dekatnya.
"Astaga! Dibilangin jangan masuk ke area kerja tanpa perlindungan diri!" omel Rosie sambil meraih tas kain yang dibawanya. "Lihat ini! Ini namanya kecelakaan kerja akibat mengabaikan prosedur keselamatan. Kamu itu lagi melakukan inspeksi atau sedang mengantar nyawa?"
Ararya mencoba membuka matanya, menatap wanita yang kini sedang sibuk mengoyak kain sisa pembungkus tanaman obat di dalam tasnya. Dia melihat wajah wanita itu.
Kali ini, tidak ada lapisan bedak dingin yang tebal dan pecah-pecah yang menutupi kulitnya. Wajah wanita itu bersih, memperlihatkan kulit yang halus dan guratan kecantikan yang jauh lebih nyata di bawah sinar matahari sore.
"Diam dan jangan banyak gerak," perintah Rosie dengan nada otoritasnya yang mutlak.
Rosie mengambil air bersih dari bumbung bambu yang dibawanya, lalu mulai membasuh luka itu dengan sangat hati-hati. Dia menggunakan kain sisa untuk mengikat bagian atas gigitan dengan kencang, menciptakan semacam turniket darurat untuk menghambat aliran racun.
Gerakannya sangat terampil, persis seperti petugas P3K yang sedang memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan konstruksi.
"Siapa namamu?" tanya Ararya dengan suara yang sangat rendah.
Rosie menghentikan gerakannya sejenak, lalu mendongak menatap mata Ararya yang tajam dan sayu. Dia mendengus pelan sambil kembali fokus mengikat kain di kaki pria itu.
"Kamu? Namamu siapa?" tanya Rosie.
"Kenapa kamu bertanya? Aku duluan yang bertanya padamu," balas Ararya.
"Yang bertanya itu harusnya memperkenalkan diri dulu. Begitu prosedur perkenalan yang benar," lanjut Rosie dengan ketus. "Kamu datang ke hutan, hampir memanah orang, sekarang masuk ke jebakan dan digigit ular. Kamu itu siapa? Intelijen kerajaan yang lagi menyamar atau hanya orang nekat yang hobi membuat masalah?"
Ararya tertegun mendengar jawaban itu. Dia sedikit menarik sudut bibirnya, sebuah senyuman tipis muncul di tengah rasa sakitnya. "Kamu terlihat ... lebih cantik tanpa bedak tebal itu."
Rosie tertegun. Wajahnya yang semula penuh konsentrasi mendadak terasa panas. Dia segera menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya di balik helai rambut hitamnya yang terlepas dari sanggul sederhana.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan pujian basi," sahut Rosie, mencoba menjaga harga dirinya sebagai mantan manajer. "Aku cantik karena aku memang merawat diri, bukan karena pendapatmu. Sekarang, kamu harus ikut aku ke gubuk Nenek. Kamu enggak bisa berjalan sendiri dengan racun yang udah mulai menyebar begini."
Ararya mencoba untuk bangkit, tapi kakinya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum panas. Rosie segera menyampirkan lengan pria itu di bahunya, membantu menahan beban tubuhnya yang berat.
Rosie merasa jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang sangat dekat, tapi dia berusaha tetap profesional.
"Kita akan ke gubuk Nenek Galuh di hilir," ucap Rosie sambil mulai melangkah perlahan, menahan berat tubuh Ararya dengan susah payah. "Di sana, areanya udah aku audit, jadi lebih aman daripada hutan terbuka yang penuh jebakan enggak bersertifikat ini."
"Audit?" gumam Ararya, kepalanya terasa semakin berat. "Bahasa apa yang kamu gunakan?"
"Bahasa orang yang peduli pada keselamatan kerja, Pak Pemburu," jawab Rosie sambil terus melangkah. "Kalau kamu tetap diam dan mengikuti instruksiku, kamu mungkin punya kesempatan buat melihat matahari besok pagi."
Mereka berjalan perlahan menembus rimbunnya hutan, meninggalkan area jebakan ilegal itu di belakang. Ararya menatap profil wajah Rosie dari samping, merasa heran sekaligus penasaran pada wanita yang terus mengomelinya soal aturan keselamatan.
Namun, tetap memapahnya dengan penuh kehati-hatian. Di tengah rasa sakitnya, Ararya menyadari bahwa wanita ini adalah teka-teki paling menarik yang pernah dia temui di seluruh wilayah Indraloka.
Denting pedang kayu Ararya yang terseret di tanah menjadi satu-satunya suara yang menemani langkah mereka menuju hilir sungai, di mana sebuah gubuk yang sudah tertata rapi dengan standar 5S menunggu untuk menjadi tempat peristirahatan sementara bagi sang pangeran yang sedang dalam bahaya.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..