"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dentingan Pedang
Sinar matahari pagi menyelinap di antara pilar-pilar batu marmer istana Indraloka, menciptakan garis-garis emas yang membelah sisa embun di atas hamparan rumput taman.
Suara kicauan burung liar bersahutan dengan bunyi air yang mengalir tenang dari pancuran kolam teratai. Di tengah ketenangan itu, Ararya berdiri mematung di taman.
Tangannya yang kokoh tidak sedang memegang busur kayu yang biasanya menjadi kawan setianya saat berburu. Kali ini, jemarinya justru sibuk memutar-mutar sebuah benda kecil yang tampak sangat kontras dengan kemewahan jubah sutra yang dia kenakan.
Benda itu hanyalah sebuah tusuk konde sederhana dari kayu cendana. Meskipun terlihat bersahaja, aroma wangi yang menguar dari kayu itu begitu kuat, membawa kembali ingatan tentang suara melengking seorang wanita yang memarahinya habis-habisan di tengah hutan.
"Kakanda Ararya, masih saja memperhatikan barang murahan itu?"
Suara yang penuh nada ejekan itu memecah keheningan. Ararya tidak menoleh, tapi dia segera mengepalkan telapak tangannya, menyembunyikan tusuk konde itu dari pandangan mata yang ingin tahu.
Dia tahu siapa yang datang tanpa perlu melihat wajahnya. Derap langkah yang santai penuh energi itu hanya milik satu orang di istana ini.
Abimanyu melangkah masuk ke taman dengan senyum lebar yang menghiasi wajah gagahnya. Dia bersandar pada pohon, menatap kakaknya dengan binar mata jahil yang tidak pernah padam.
Pakaian latihannya yang berwarna biru tua tampak pas di badannya yang tegap, mencerminkan sosok pangeran yang lebih suka berada di luar ruangan daripada di dalam ruang pertemuan kerajaan.
"Aku jadi penasaran seperti apakah rupa wanita itu?" lanjut Abimanyu sambil menyipitkan mata. "Sampai-sampai kakakku ini lupa bahwa dia ada janji untuk mengecek catatan upeti di balai dagang hari ini. Apa yang Kakanda lakukan sekarang? Membayangkan betapa cantiknya wanita itu?"
Ararya tetap diam untuk waktu yang lama. Matanya masih terpaku pada garis cakrawala di mana matahari mulai meninggi. Hembusan angin pagi memainkan helai rambutnya yang terikat rapi. Keheningan itu justru membuat Abimanyu semakin penasaran. Baginya, melihat Ararya yang dingin dan kaku menjadi terganggu oleh sebuah benda kayu adalah pemandangan yang sangat langka.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Ararya akhirnya dengan suara rendah yang datar.
Dia memutar tubuh, menatap adiknya dengan tatapan sekeras batu candi. Abimanyu hanya mengangkat bahu, tidak merasa terintimidasi oleh pandangan tajam kakaknya. "Aku hanya bicara kenyataan. Para punggawa di balai dagang sudah menunggu sejak fajar menyingsing. Mereka membawa tumpukan gulungan kertas yang membosankan itu, menanti keputusan dari sang Putra Mahkota mengenai kebijakan upeti terbaru."
"Tepati janjimu, Kakanda," tambah Abimanyu dengan nada yang lebih serius tapi tetap terselip canda.
"Kamu saja!" sahut Ararya pendek. Dia melangkah melewati adiknya, menuju ke arah rak senjata di dekat sana.
Abimanyu tertawa lepas, suara tawanya bergema di sepanjang lorong terbuka. "Aku? Putra Mahkota yang seharusnya mengurus itu, Kakanda. Itu adalah tugas utama calon raja Indraloka. Tapi, aku akan mengurusnya menggantikanmu jika kamu memberikan posisi itu untukku. Bagaimana? Setuju?"
Ararya berhenti sejenak, lalu dia mengambil dua bilah pedang kayu yang biasa digunakan untuk berlatih tanding. Dia melemparkan salah satunya ke arah Abimanyu.
Dengan tangkas, sang adik menangkap pedang itu di udara, memutarnya sekali dengan gerakan yang lincah sebelum memasang kuda-kuda.
"Ambil senjatamu, Abimanyu. Berhenti mengoceh soal takhta yang akan membuatmu tidak bisa tidur nyenyak itu," ucap Ararya.
Mereka melangkah ke tengah taman yang luas. Ruang terbuka itu dilapisi rumput hijau yang masih terasa lembap oleh embun.
Keduanya berdiri berhadapan, saling mengunci pandangan. Ararya menarik napas dalam, mencoba menjernihkan pikirannya dari istilah-istilah aneh seperti prosedur keamanan yang terus berputar di kepalanya sejak kemarin.
Prak!
Dua bilah kayu itu beradu dengan keras. Abimanyu menyerang lebih dulu dengan gerakan yang cepat dan penuh tenaga.
Ararya menangkisnya dengan tenang, menggeser kaki untuk mencari posisi yang lebih stabil. Suara benturan kayu terdengar berulang kali, menciptakan irama yang teratur di tengah kesunyian taman.
"Apakah Tuan Menjangan sudah pulang ke rumah?" tanya Ararya tiba-tiba di sela-sela denting pedang kayu yang beradu.
Langkah kaki Abimanyu sempat tersendat karena kaget mendengar pertanyaan itu. Dia harus melompat mundur untuk menghindari tebasan mendatar dari kakaknya.
"Kenapa kamu bertanya padaku? Apa urusanku dengan saudagar rempah itu?" tanya Abimanyu sambil mengatur napasnya. "Biasanya kamu tidak peduli apakah seorang pedagang ada di rumah atau sedang berada di ujung dunia."
"Aku hanya berpikir, lebih baik kita membahas cara menuntaskan kecurangan yang ada di pasar, sesuai ucapanmu semalam," ucap Ararya sambil terus merangsek maju, memberikan tekanan bertubi-tubi pada pertahanan adiknya.
Abimanyu menangkis serangan Ararya dengan susah payah. Dia mulai menyadari sesuatu di balik nada suara kakaknya yang biasanya datar. Senyum jahil kembali tersungging di bibirnya.
"Ada apa? Kamu penasaran dengan nona di pasar itu?" goda Abimanyu, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kakak, kenapa kamu ingin semuanya? Wanita di pasar dan wanita di hutan itu? Setidaknya berikan aku satu."
Wajah Ararya mendadak mengeras. Gerakannya menjadi jauh lebih agresif dan cepat. Dia memutar tubuh, mengayunkan pedang kayunya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Abimanyu yang tidak siap dengan perubahan tempo itu terpaksa harus bertahan mati-matian.
Plak!
Pedang kayu Ararya mengenai pergelangan tangan Abimanyu, membuat senjata kayu itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas rumput. Sebelum Abimanyu sempat bereaksi, ujung pedang kayu Ararya sudah menempel tepat di depan lehernya.
Napas Abimanyu memburu. Dia menatap wajah kakaknya yang kini tampak sangat kesal. Rasa dingin terpancar dari mata Ararya, seolah dia tidak suka dengan candaan adiknya yang mulai melampaui batas privasinya.
"Kakanda ... itu hanya candaan," bisik Abimanyu sambil mengangkat kedua tangannya, menyerah.
Ararya menurunkan pedang kayunya dengan gerakan kasar. Dia membalikkan badan, mengambil jubah sutranya yang tadi disampirkan di atas bangku batu tanpa berkata apa-apa lagi.
Perasaannya sedang kacau. Dia benci saat adiknya mulai menghubungkan titik-titik yang dia sendiri belum berani mengakuinya.
"Sudahlah, aku malas berbicara denganmu," ucap Ararya ketus.
Dia melangkah pergi meninggalkan taman dengan langkah lebar yang cepat. Jubahnya berkibar tertiup angin pagi, meninggalkan Abimanyu yang masih berdiri terpaku di tengah taman sambil mengusap pergelangan tangannya yang terasa panas.
"Dia benar-benar tertarik," gumam Abimanyu pelan pada dirinya sendiri. Dia menatap punggung kakaknya yang menghilang di balik lorong istana. "Seorang Ararya yang tidak pernah melirik wanita manapun, kini marah hanya karena aku menyebut dua wanita sekaligus. Ini akan menjadi sangat menarik."
Abimanyu memungut kembali pedang kayunya. Dia menatap ke arah gerbang istana, memikirkan tentang laporan pajak di balai dagang yang harus segera dia urus karena kakaknya sedang kehilangan arah.
Ararya berjalan menyusuri lorong panjang istana, tangannya kembali meraba tusuk konde di balik pakaiannya. Dia harus segera menemukan jawaban tentang siapa sebenarnya wanita di hutan itu, dan mengapa aroma cendana murahan ini terasa jauh lebih memikat daripada wangi bunga-bunga termahal di taman istana.
Namun, yang paling membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa dia baru saja menunjukkan kelemahannya di depan adiknya yang bermulut besar itu.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/