NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membangun di Atas Reruntuhan

Sepanjang hari, Arya merasa seperti sedang mengejar bayangan. Ia memantau laporan dari pengawalnya; Ria pergi ke butik mewah, memesan beberapa perhiasan, dan makan siang sendirian di restoran terbuka dengan pemandangan kota. Dari foto-foto yang dikirimkan secara rahasia, Ria tampak begitu elegan dan tak tersentuh. Namun bagi Arya, setiap senyuman Ria di foto itu terasa seperti duri yang menusuk hatinya.

Ria yang sekarang tidak lagi menunggunya di depan pintu. Ria yang sekarang tidak lagi bertanya apakah ia sudah makan. Arya merasa kehilangan istrinya justru saat fisik wanita itu berada tepat di depan matanya. Benteng yang dibangun Ria jauh lebih kokoh daripada dinding rumah sakit manapun.

Malam tiba, rumah terasa sunyi meski lampu-lampu kristal menyala terang. Ria pulang dengan membawa banyak kantong belanjaan, memberikan senyum formal pada Arya, lalu masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun.

Arya terduduk di ruang kerja, menatap dokumen tanpa konsentrasi. Dadanya sesak. Ia merindukan Ria yang dulu meski ia tahu ia tak pantas merindukannya. Ia merindukan tatapan penuh harap itu, bukan tatapan kosong yang sopan ini.

Sekitar pukul satu pagi, Arya melangkah menuju kamar mereka. Ia ingin memastikan Ria sudah tidur dan selimutnya terpasang dengan benar. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan, hampir tanpa suara.

Namun, langkah Arya terhenti di ambang pintu. Kamar itu tidak gelap total. Cahaya lampu tidur yang remang-remang menunjukkan sosok Ria yang tidak sedang tidur.

Ria sedang duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang. Bahunya yang kecil terguncang hebat. Suara isakannya tertahan, seolah ia masih berusaha menyembunyikan kesedihannya bahkan dalam kesendirian. Di sampingnya, gaun kuning cerah yang tadi ia pakai tergeletak begitu saja, seolah menjadi saksi bisu betapa beratnya sandiwara yang ia jalani seharian ini.

"Aku lelah... aku tidak bisa..." bisik Ria di sela tangisnya. "Sakit sekali, Mas... kenapa berpura-pura tidak peduli jauh lebih menyakitkan daripada saat aku dipedulikan?"

Ria memeluk lututnya, menangis sejadi-jadinya. Ketegaran yang ia tunjukkan sejak pagi tadi hanyalah sebuah topeng tipis yang kini retak total. Ia memaksa dirinya menjadi kuat karena ia takut jika ia terlihat lemah sedikit saja, Arya akan kembali menganggapnya pajangan yang mudah dihancurkan. Ia takut rasa cintanya akan kembali menjadi senjata bagi Arya untuk menyakitinya.

Arya tidak bisa lagi menahan diri. Ia melangkah cepat dan langsung berlutut di depan Ria, menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat.

"Ria... maafkan aku. Jangan paksa dirimu seperti ini," bisik Arya, suaranya ikut bergetar.

Ria sempat mencoba mendorong dada Arya, namun tenaganya sudah habis oleh emosi yang membuncah. Ia akhirnya menyerah, menyandarkan wajahnya di bahu Arya dan membasahi kemeja pria itu dengan air mata yang sudah lama ia bendung.

"Kenapa kau tidak biarkan aku pergi saja malam itu?" isak Ria. "Menjadi kuat itu melelahkan, Mas. Melihatmu setiap hari mengingatkanku pada setiap bentakanmu, tapi melihatmu berubah manis seperti ini membuatku takut kalau suatu saat kau akan kembali berubah."

Arya menciumi puncak kepala Ria yang masih tertutup turban, hatinya hancur mendengar pengakuan itu. "Aku tidak akan berubah, Ria. Aku bersumpah. Jangan gunakan topeng itu di depanku. Menangislah, marahlah, pukul aku jika itu membuatmu lega. Tapi kumohon, jangan jauhkan dirimu dariku dengan cara berpura-pura bahagia."

Malam itu, di lantai kamar yang dingin, sandiwara itu berakhir. Mereka hanyalah dua jiwa yang terluka; yang satu berusaha menebus dosa, dan yang satu lagi berusaha belajar untuk percaya kembali di tengah trauma yang mendalam.

Isak tangis Ria perlahan mereda, menyisakan napas yang tersengal di pelukan Arya. Malam yang panjang itu menjadi saksi runtuhnya ego masing-masing. Arya tidak melepaskan pelukannya sedikit pun; ia seolah sedang memegang satu-satunya hal berharga yang tersisa dalam hidupnya, takut jika ia melonggarkan pegangannya, Ria akan hancur menjadi debu.

"Aku tidak ingin menjadi kuat jika itu artinya aku harus kehilangan diriku sendiri, Mas," bisik Ria parau, wajahnya masih tersembunyi di ceruk leher Arya.

Arya mengusap punggung Ria dengan gerakan menenangkan. "Kau tidak perlu menjadi siapa-siapa di depanku. Kau tidak perlu menjadi permaisuri yang tegar, dan kau juga tidak perlu menjadi istri yang penurut. Jadilah Ria yang apa adanya—yang bisa mengeluh saat capek, dan bisa marah saat terluka."

Arya mengangkat tubuh Ria dengan lembut, membawanya ke atas ranjang. Ia menyelimuti istrinya dengan hati-hati, lalu duduk di sisi tempat tidur, tetap menggenggam tangan Ria.

"Ria," panggil Arya pelan. "Mengenai uang yang kau transfer waktu di rumah sakit... dan kartu hitam yang kau bawa tadi siang. Aku ingin kau tahu satu hal. Aku tidak pernah merasa membelimu. Tapi aku menyadari bahwa selama ini aku menggunakan uang sebagai tameng agar aku tidak perlu menunjukkan perasaanku."

Ria menatap langit-langit kamar dengan mata yang masih sembab. "Dulu, setiap kali kau memberiku barang mewah setelah membentak ku, aku merasa seperti peliharaan yang baru saja dipukul lalu diberi makan enak agar diam."

Kata-kata itu menghujam jantung Arya. Begitu jujur dan begitu menyakitkan.

"Maafkan aku... aku benar-benar bajingan saat itu," sahut Arya rendah. "Sekarang, aku ingin membangun semuanya dari awal. Bukan dengan uang, tapi dengan kejujuran. Besok, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Sesuatu yang selama ini aku sembunyikan karena aku terlalu sombong untuk mengakuinya."

Keesokan paginya, Arya tidak pergi ke kantor. Ia juga tidak membiarkan Ria memakai gaun perisai-nya yang cerah. Ia meminta Ria memakai pakaian yang paling nyaman.

Arya menuntun Ria menuju sebuah ruangan di sudut paling belakang rumah mereka—sebuah ruangan yang selama dua tahun ini selalu dikunci rapat dan dilarang dimasuki oleh siapapun, termasuk para pelayan.

Arya mengeluarkan kunci dari sakunya, lalu membuka pintu itu perlahan.

Ria tertegun saat pintu terbuka. Di dalam ruangan itu, tidak ada tumpukan dokumen kantor atau brankas uang. Ruangan itu penuh dengan kanvas-kanvas besar. Di setiap kanvas, ada lukisan seorang wanita. Ada yang sedang membaca di taman, ada yang sedang tertidur di sofa, ada yang sedang menatap hujan.

Semua lukisan itu adalah wajah Ria.

"Kapan... kapan kau melukis semua ini?" tanya Ria, menyentuh permukaan kanvas yang menggambarkan dirinya sedang tersenyum tipis—sebuah senyum yang bahkan Ria sendiri lupa kapan terakhir kali ia miliki.

"Setiap malam saat aku bilang aku lembur di kantor," aku Arya dengan wajah memerah. "Aku pengecut, Ria. Aku terlalu gengsi untuk bilang bahwa aku terpesona padamu setiap hari. Jadi aku melukis mu secara diam-diam, lalu mengunci ruangan ini karena aku takut jika kau tahu aku mencintaimu, aku tidak akan punya kuasa lagi atas dirimu."

Ria menatap deretan lukisan itu. Ia melihat dirinya sendiri melalui mata Arya—bukan sebagai pajangan, tapi sebagai subjek yang penuh dengan detail keindahan yang bahkan tidak ia sadari.

Di tengah reruntuhan kepercayaan mereka, ruangan ini menjadi fondasi pertama yang nyata. Ria menyadari bahwa di balik pria kejam yang menyakitinya selama dua tahun, ada seorang pria yang diam-diam memujanya dalam kegelapan, terjebak oleh keangkuhannya sendiri.

"Mas..." Ria berbalik, menatap Arya dengan tatapan yang sedikit melunak. "Kau benar-benar orang yang sangat rumit."

Arya tersenyum pahit. "Aku tahu. Tapi setidaknya sekarang kau tahu, bahwa 'Sayang' yang ku ucapkan bukan karena kasihan, tapi karena memang hanya kata itu yang pantas untuk wanita yang ada di semua kanvas ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!