Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Orang Ya 23
Sedari tadi memutar-mutar ponselnya dan membolak-balikkan benda pipih itu, pada akhirnya Ista memutuskan untuk kembali menghubungi Rohan.
Dia mencoba menelpon sang mantan suami. Namun sudah tiga kali dilakukan, panggilan itu sama sekali tidak direspon.
"Masa iya sih udah tidur. Baru jam jam sepuluh. Dulu dia kalau tidur pasti udah lewat tengah malem,"gerutu Ista. Agaknya dia kesal karena panggilannya tak dijawab.
Alhasil Ista menuliskan apa yang ingin dia katakan melalui pesan pada aplikasi perpesanan. Rasanya sangat tidak sabar untu menunggu balasan. Akan tetapi sudah lama dia menunggu tak ada balasan sama sekali. Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 tapi pesan yang dikirimkan bahkan hanya tertanda centang satu.
"Sialan si Rohan, apa dia matiin paket datanya pas lagi tidur apa? Brengsek banget sih,"umpat Ista kesal.
Entah sejak kapan kepribadian Ista berubah drastis seperti ini. Dulu bagi Rohan, Ista adalah wanita yang paling sempurna. Wanita yang bisa menerimanya yang bukan orang berada. Wanita yang mau melahirkan anak-anaknya dengan tulus. Dan wanita yang sangat mencintai dirinya.
Tapi setelah melahirkan Riesha, kepribadian Ista seolah berubah. Wanita itu lebih sering marah dan juga kesal. Rohan pikir Ista mengalami baby blues. Padahal selama kehamilan dan juga proses menyusui Riesha, Rohan selalu ada di sisi Ista dan memberikan apa yang diinginkan. Tapi Ista seolah tidak puas.
"Ya udah nggak usah sampe dua tahun nyusuin adek. Nanti bisa disambung sama sufor nggak masalah. Terus kamu kalau mau kumpul sama temen-temen mu, pergi aja nggak apa. Aku yang bakalan jaga mereka. Nanti aku bawa mereka di warkop, di sana aku kan bikin mini Playground. Jadi mereka berdua bisa main."
Begitulah Rohan memperlakukan Ista. Dia sungguh merasa bersalah terhadap istrinya. Kehamilan kedua Ista memang sedikit rewel, tidak seperti saat mengandung Rishi. Ista sering masuk rumah sakit di trimester awal. Dia juga tak dapat makan, setiap makan sedikit pasti akan kembali dimuntahkan.
Maka dari itu Rohan sebisa mungkin membuat Ista nyaman. Namun ternyata segala hal baik yang dilakukan Rohan tak berbuah manis. Ista berkhianat, dengan sangat kejam menyakiti hatinya.
Lalu, apa wanita itu merasa bersalah? Jawabannya tidak, nyatanya saat ini dia tengah mengumpat sang mantan suami tanpa henti. Dia marah karena panggilan dan pesannya tak jua ditanggapi.
"Ck, aku beneran dipermainkan. Jengkelin banget sih," umpat nya lagi. Kali ini Ista melempar ponselnya ke sisi lain ranjang tapi tidak sampai jatuh ke lantai.
Tring!
Sebuah notifikasi berbunyi yang menandakan bahwa di ponselnya ada pesan. Ista langsung bergegas mengambilnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Ia berharap bahwa itu Rohan. Akan tetapi ternyata bukan.
Namun meskipun demikian, Ista tetap tersenyum tipis. Agaknya dia tidak merasa kecewa meski pesan yang masuk bukan pesan yang diharapkan.
Ista beranjak dari ranjang lalu berjalan cepat menuju ke pintu utama. Dengan senyumannya yang sangat lebar, dia membuka pintu itu.
"Hai, tumben malam begini datangnya. Masuk yuk," ucapnya ramah. Ista seolah melupakan semua rasa kesalnya karena Rohan saat melihat siapa orang yang datang.
Orang yang datang itu adalah pria yang tadi mengiriminya pesan.
Satu kalimat yang masuk di ponselnya itu langsung membuat Ista senang. Dan ternyata pria tersebut benar-benar sudah ada di depan rumahnya dimana kini mereka sudah duduk bersama di ruang tengah.
"Kamu mau minun apa?" tanya Ista menawarkan kepada si pria.
"Apa aja boleh. Oh iya, tentang cowok yang kemarin itu gimana?"
"Oh Dani, nggak usah dipikirin. Aku sama dia nggak ada hubungan apapun kok. Jadi kamu nggak usah risau, Gio."
Pria yang dipanggil Ista dengan nama Gio itu tersenyum. Dia yang awalnya duduk tenang akhirnya beranjak dan mengikuti Ista ke dapur.
Grebb
Ketika Ista hendak mengambil minuman dingin di kulkas, ia sedikit terkejut karena tangan Gio merengkuh perutnya. Tak hanya itu, Gio juga melabuhkan kecupan pada tengkuk dan bahunya.
"Tau nggak, kamu beneran seksi, Ista. Aku beneran nggak nyangka kamu udah pernah mengandung dan melahirkan. Mana dua kali lagi. Semua yang ada di tubuhmu sempurna," bisik Gio tepat ditelinga Ista.
Ista merasa semua tubuhnya menjadi panas. Apalagi saat Gio mulai menyentuh pahanya dan terus bergerak ke atas. Bibirnya yang tadinya terkatup seketika langsung terbuka dan mengeluarkan sebuah desahann.
Aaaahh
"Astaga Ista, suara kamu pun seksi," puji Gio dengan senyumannya yang lebar. Kemarin ketika datang, dia tak bisa melanjutkan keinginannya karena terganggu dengan kedatangan sosok pria yang berna Dani. Tapi tidka untuk kali ini.
Ista yang tadi menyambut hanya dengan gaun malam berbahan satin dengan tali spaghetti langsung membuat hasratnya mencuat. Apalagi dia bisa melihat dengan jelas kedua puncak gunung yang menonjol itu, menandakan Ista tak memakai braa. Sungguh membuat Gio merasa gila.
"J-jangan di sini," ucap Ista. Tapi Gio seolah tak mau mendengar. Dia mengangkat tubuh Ista ke atas meja yang kebetulan kosong.
"Kenapa? Aku akan tunjukkan suasana baru yang ku yakin kamu belum pernah merasakan pengalaman kayak gini. Aku akan kasih tahu bahwa melakukan itu tuh nggak hanya monoton di atas ranjang aja," ucap Gio.
Ista hanya diam, dia menatap lekat wajah pria tersebut. Pria yang wajahnya tampan blasteran eropa itu sungguh terlihat sangat gagah dan menawan. Otot perutnya dan pahanya yang tampak kekar meski masih berbalut pakaian, membuat Ista penasaran juga.
"Oke, aku ingi tahu kayak apa pengalaman yang kamu katakan itu," ucap Ista dengan senyum nakalnya. Dia bahkan sudah sangat siap berada di atas meja, menunggu Gio melakukan aksinya.
"Oh tentu saja, Babe. Dengan senang hati. Aku yakin kamu akan puas," sahut Gio.
TBC