HAZEL SETEVIANO sangat mencintai pria yang di jodohkan dengannya RONAlDO ALEXANDER, karan rasa cintanya pada Ronald sangat besar, Hazel selalu bersikap posesive, dia akan marah jika ada wanita yang mendekati Ronald, hingga bertambah hari Ronald semakin di buat muak dengan sikap Hazel yang menurutnya sangat cemburuan, bahkan Hazel juga selalu bersikap sinis pada LUNA MAHENDRA yang jelas jelas sudah bersahabat dengan Ronald sejak duduk di bangku SMP, karna Hazel merasa kalau Luna sudah merebut perhatian Ronald darinya.
Dan suatu hari tibalah acara peresmian pertunangan Hazel dan Ronald yang di gelar di hotel mewah, dan malam itu senyum Hazel terus mengembang, tapi senyum itu lenyap seketika saat Ronald membatalkan pertunangannya di depan para tamu undangan.
Hazel yang merasakan sakit di hatinya dia hanya bisa menangis dan berlari keluar dari hotel, dan naasnya saat menyebrangi jalan raya, sebuah truk
menghantam tubuhnya hingga terpental ke sisi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Malam hari di sebuah apartement yang terletak di pusat kota Inggris, Ronald berdiri di depan jendela kaca, yang memperlihatkan keindahan kota Inggris saat di malam hari.
Tiga hari yang lalu Kenzo memberitahu dirinya kalau Hazel kembali ke kota Norda di karnakan Ayahnya jatuh sakit, Ronald sama sekali tidak marah walaupun Hazel tidak pernah berkata jujur padanya, tapi sebaliknya Ronald selalu menghawatirkan Hazel, karna di saat saat seperti ini dirinya malah berada jauh dari Hazel, ingin pulang ke negaranya tapi pihak kampus tidak mengizinkannya,
Sejak saat itu sesibuk apapun Ronald, dia selalu berusaha menyempatkan waktunya untuk menghubungi Hazel, menghiburnya untuk memberi semangat.
Tapi Ronald tidak tahu kalau saat ini Hazel tengah menggantikan Ayahnya untuk memimpin perusahaan, bukan hanya Ronald orang tua Ronald dan juga semua teman teman Hazel di kota Lacoste tidak ada yang tahu, kalu di kota Norda Hazel sedang memimpin perusahaan besar milik sang Ayah.
Malam ini sudah hampir satu jam Ronald dan Hazel mengobrol melalui sambungan telfon, tapi obrolan malam ini Ronald sedikit merasa ada yang lain dari nada bicara Hazel, calon istrinya itu terdengar beberapa kali menghela nafas, seperti seseorang yang sangat lelah, tapi Ronald mengira mungkin Hazel terlalu memikirkan kondisi Ayahnya.
''Ok Sayang, kamu harus jaga kesehatan kamu, jangan sampai sakit'' ucap Ronald lalu sambungan telfon terputus.
Di kota Norda tepatnya di ruang kerja di kediaman keluarga Stiven, sejak tadi diam diam Martin memperhatikan Nona Mudanya yang sedang mengobrol dengan calon suaminya, Martin bukan sengaja menguping obrolan Nona Mudanya, karna saat ini dia sedang membahas proyek kerja sama denga perusahaan asing yang sedang berlangsung di pinggiran kota.
Saat Nona Mudanya membalikkan badan, Martin langsung pura pura membaca berkas yang di pegangnya.
''Paman, bagimana?'' tanya Hazel sembari berjakan ke arah sofa.
''Itu Nona,,, '' belum sempat Martin melanjutkan perkataannya dia sudah di buat terkejut, melihat Nona Mudanya tiba tiba jatuh pingsan di atas lantai.
Brukk
''Nona!!'' pekik Martin.
Martin tanpa pikir panjang langsung mengangkat tubuh Nona Mudanya yang sedang pingsan, lalu membawanya ke kamar yang berada di sisi ruang kerja.
Setelah merebahkan Hazel di atas ranjang, Martin dengan tangan gemetar menghubungi dokter keluarga menggunakan ponselnya.
''Cepat ke mansion, Nona Muda pingsan''
Martin langsung mematikan sambungan telfonnya, tanpa menunggu jawaban dari orang yang di hubunginya, lalu dia meletakkan ponselnya di atas nakas, setelah itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Nona Mudanya hingga sebatas dada.
''Nona, anda harus baik baik saja'' gumam Martin dengan khawatir, sembari bersimpuh di samping ranjang, tatapannya sama sekali tak lepas dari mata Hazel yang tertutup rapat.
Tak berselang lama dokter keluarga tiba di mansion keluarga Stiven, karna malam sudah hampir larut para pelayan sudah kembali ke paviliun untuk istirahat, jadi tidak ada yang mengetahui kedatangan dokter keluarga kecuali kepala pelayan baru, karna kepala pelayan yang lama atau Ayah Martin sudah meninggal, jadi kini di gantikan oleh pelayan yang lebih senior lagi.
Kepala pelayan segera membawa dokter pribadi itu ke kamar Nona Mudanya, yang terletak di lantai dua mansion.
Karna pintu kamar Nona Mudanya tidak di tutup oleh Martin, jadi kepala pelayan dan dokter pribadi keluarga itu langsung masuk ke dalam dengan langkah pelan.
''Pak Martin, dokter Andre sudah datang'' ujar kepala pelayan dengan suara rendah.
Martin langsung bangkit sembari mengusap sudut matanya yang basah.
''Cepat, periksa kedadaan Nona Muda, tadi beliau tiba tiba pingsan'' perintah Martin.
Dokter Andre segera mendekat ke tepi ranjang, dan Martin sedikit melangkah mundur memberi ruang Dokter Andre untuk memeriksa Nona Mudanya.
Lima menit telah berlalu, Dokter Andre perlahan melepaskan alat stetoskop dari telinganya.
''Nona Muda baik baik saja, mungkin beliau pingsan karna kelelahan, lebih baik untuk beberapa hari ini Nona Muda harus istirahat, agar kondisinya cepat pulih'' ucap dokter Andre, karna tahu sejak Tuan mereka di rawat di rumah sakit, Nona Mudanya lah yang menggantikan Tuan William untuk memimpin perusahaan, sudah pasti kondisi tubuh Nona Mudanya akan drop, karna setiap hari di hadapkan dengan tumpukan berkas, sedangkan Nona Mudanya belum pernah sama sekali terjun ke dunia bisnis.
Martin menghela nafas lega mendengar Nona Mudanya baik baik saja, tapi di hati kecilnya Martin terbesit rasa bersalah, karna membiarkan Nona Mudanya sibuk mengurus perusahaan, tapi mau bagaimana lagi, dirinya juga tidak mungkin mengajukan untuk menghendel perusahaan Tuannya walaupun dirinya sanggup, karna bagaimanapun juga Nona Mudanya yang lebih mempunyai wewenang.
Malam itu Martin tidak kembali ke apartementnya, dia tidur di kamar paviliun yang dulu di tempati oleh mendiang Ayahnya dan juga dirinya.
Beberapa jam kemudian Hazel mulai mengerjapkan kedua matanya, dia berusaha bangun walaupun kepalanya terasa berat.
''Ugh,, bukannya tadi aku ada di ruang kerja Ayah, kenapa bisa ada di kamar?'' gumam Hazel, dia lupa kalau semalam dia jatuh pingsan di ruang kerja Ayahnya.
Lalu melihat ke arah jam yang menggantung di dinding kamarnya, yang ternya sudah menunjukkan hampir pukul tiga pagi.
Perlahan Hazel turun dari atas ranjang, dan melangkah ke arah dispenser yang di letakkan di sudut kamarnya, lalu mengisi gelas kosong dengan air putih hingga penuh, karna sangat haus jadi Hazel meneguknya hingga tandas.
Saat meletakkan kembali gelasnya ke tempatnya. tiba tiba Hazel di buat terkejut oleh suara alaram dari atas nakas dekat ranjang, yang membuat Hazel terkejut bukan suara alaram yang sangat nyaring, melainkan waktu alaramnya berbunyi, karna Hazel menyetel alaram di jam lima pagi, sedangkan sekarang masih jam tiga pagi.
''Apa ada yang merubah alaramku?'' gumam Hazel bertanya tanya.
Hazel kembali ke sisi ranjang, matanya menyipit melihat foto yang di jadikan wallpaper di layar ponsel itu, bukankah itu foto dirinya yang sedang duduk di kursi kerja Ayahnya di perusahaan, dan foto itu seperti di ambil dari jarak jauh, karna penasaran Hazel mengambil ponsel itu dan membaliknya, seketika dia terkejut saat mengingat siapa pemilik ponsel tersebut.
''Bukannya ini ponsel milik Paman Martin?, kok dia menjadikan fotoku sebagai wallpaper?, terus ponselnya kok bisa ada di sini'' gumam Hazel kepalanya di penuhi tanda tanya.
Karna penasaran Hazel segera keluar dari kamarnya sembari membawa ponsel milik Martin, saat turun ke lantai bawah suasana sangat sunyi, mungkin karna masih jam tiga pagi jadi para pelayan belum ada yang bangun, hanya ada dua penjaga yang menjaga di depan gerbang.
''Nona Muda''
Hazel membalikkan badannya, dan melihat kepala pelayan berdiri tak jauh darinya.
''Bagaimana keadaan Nona?'' tanya kepala pelayan itu.
''Aku baik baik saja'' jawab Hazel.
''Syukurlah kalau begitu''
''Apa Paman Martin sudah pulang?'' tanya Hazel.
''Belum Nona, Pak Martin mungkin sedang tidur di paviliun'' jawab kepala pelayan itu dengan sopan.
''Apa perlu saya bangunkan?''
Hazel menggelengkan kepalanya. ''Tidak perlu''
Setelah berkata seperti itu Hazel kembali ke kamarnya.
Jam enam pagi di paviliun, Martin bangun dengan tergopoh gopoh karna dia kesiangan.
''Astaga, kenapa aku bisa bangun ke siangan'' gerutu Martin sembari memasang dasi di lehernya dengan terburu buru.
''Oh ya, ponselku dimana?'' gumamnya baru ingat dengan ponselnya, biasanya selelah apapun dirinya, akan tetap bangun saat alaram di ponselnya berbunyi.
Dan beberapa detik kemudian Martin teringat kalau semalam dia meninggalkan ponselnya di kamar Nona Mudnya, lalu Martin berlari untuk keluar dari kamar, tapi saat membuka pintu kamarnya dia sudah di kejutkan dengan keberadaan Nona Mudanya yang sedang duduk di teras depan kamarnya sembari memainkan ponsel miliknya.
''No,,Nona Muda''
ikutn sdih...pdhl hazel lg bhgia,tp ada aja ujian dlm hdp....mga ayhnya hazel baik2 aja...
stlh kmrn klah sm hazel,skrng pun klh sm clara...abs ni d jmin bpknya kenzo lngsng ngsih rstu.....
kirain luna udh wras,taunya msih gila...
stlh d tndang sm ronald,skrng ngarep sm kenzo....emng ga tau malu....😫😫😫
Bhgianya kl jd hazel.....d syang clon suami,smp udhd siapin rmh buat msa dpn plus krtu jg....
luna kn ppb...😝😝