Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Hana kembali ke rumah kedua orang tuanya setelah dari kantor Aldo, ia mengatakan semuanya tentang pembukaan cabang kantor Aldo yang ternyata tidak ada cabang di Bandung. Hana, tante Laras maupun om Heri terkejut saat mengetahui kebohongan Aldo. Perasaan om Heri sebagai pria mulai curiga terhadap Aldo, om Heri takut jika pengalaman dan masa lalunya kembali terulang pada Hana.
Hana: "Mas Aldo membohongiku, ma." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa yang dilakukannya di Bandung? Mengapa mas Aldo membohongiku? Mengapa ponselnya tidak aktif?" tanyanya dengan suara yang keras. "Aku juga tidak bisa melacak lokasi ponselnya." ucapnya lagi dengan penuh amarah.
Tante Laras: "Tenang, Hana. Kamu harus tenang." ucapnya dengan pelan. "Kecilkan suaramu. Kenzo bisa mendengar teriakanmu." ucapnya lagi. Tante Laras memeluk putrinya, mencoba menenangkan hati Hana yang sedang terisak.
Hana: "Apa yang dilakukannya mas Aldo? Apakah mas Aldo ke Bandung?" tanyanya dengan penuh keraguan.
Om Heri: "Dengan siapa kamu bicara di kantornya, Hana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Hana: "Dengan sekretarisnya, pa. Ia mengatakan mas Aldo mengambil cuti selama 2 minggu. Tidak ada pembukaan cabang baru di kota manapun." ucapnya dengan hati yang gelisah. Om Heri mencoba memahami perkataan Hana, ia beranjak dari duduknya dan berjalan pelan menghadap jendela rumahnya.
Om Heri: "Sekarang coba kamu hubungi Aldo." pintanya dengan suara pelan. "Apakah nomornya hanya satu?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Hana: "Setahu aku, nomornya hanya satu, pa." ucapnya. "Aku akan menelponnya, sekarang." ucapnya lagi. Hana mulai membuka layar ponselnya, ia melakukan perintah om Heri. Saat Hana mencoba menghubungi ponsel Aldo, nomor Aldo masih sama, yaitu tidak aktif. Dengan penuh kekecewaan dan rasa putus asa, Hana meletakkan ponselnya di sampingnya dan kembali terisak. "Nomornya tetap tidak aktif, pa." ucapnya dengan pelan. "Ada apa dengan mas Aldo? Mas Aldo ke mana?" tanyanya dengan rasa putus asa.
Om Heri: "Hari ini juga papa akan ke Bandung mencarinya. Tenangkan hatimu, Hana." ucapnya dengan pelan namun tegas. Hana dan tante Laras menatap tajam pada om Heri, tante Laras tahu jika om Heri mempunyai banyak kolega yang terpencar di kota-kota termasuk di Bandung.
Hana: "Papa tidak tahu alamatnya." ucapnya. "Ke mana papa akan mencarinya?" tanyanya dengan heran. Om Heri tersenyum tipis, ia mendekat ke arah putrinya.
Om Heri: "Jangan cemas, Hana. Papa akan segera menemukannya." ucapnya dengan rasa percaya diri.
Hana: "Tapi, pa. Papa tidak tahu alamat mas Aldo." ucapnya dengan penuh keraguan.
Om Heri: "Sudah, jangan bicara lagi. Papa akan menelpon teman papa dan bersiap-siap sekarang." ucapnya dengan tegas. Om Heri menatap tante Laras dan berkata: "Suruh pak Komar menyiapkan mobil, ma." pintanya.
Tante Laras: "Iya, pa." ucapnya. Tante Laras beranjak dari duduknya, ia melangkah dengan terburu-buru ke luar rumah dan melakukan perintah om Heri. Tante Laras memanggil supirnya yang bernama pak Komar untuk segera menyiapkan mobil mereka. Setelah melakukan perintah suaminya, tante Laras kembali masuk ke dalam rumah dan membantu om Heri menyiapkan keperluan suaminya. Hana masih tidak mengerti dengan tindakan om Heri, ia heran dan bertanya-tanya dalam hatinya. Beberapa menit berlalu, om Heri telah siap untuk berangkat bersama supir mereka, yaitu pak Komar.
Om Heri: "Doakan saja papa agar papa bisa menemukan suamimu." ucapnya dengan penuh harap, sambil menatap wajah putrinya dengan rasa iba.
Hana: "Amin, pa. Hati-hati di jalan, pa." ucapnya sambil memeluk om Heri dengan penuh kasih sayang.
Om Heri: "Papa berangkat, ma." ucapnya sambil menatap ke arah tante Laras. "Jagalah Hana dan Kenzo baik-baik." pintanya.
Tante Laras: "Hati-hati, ya, pa." ucapnya dengan wajah yang tenang. Setelah berpamitan pada anak dan istrinya, om Heri melangkah dengan penuh percaya diri masuk ke dalam mobil. Om Heri pergi bersama pak Komar, hati Hana menjadi sedikit tenang dengan adanya ikut campur om Heri. Hana tidak menyangka jika ayahnya sepeduli itu terhadap rumah tangganya, apalagi om Heri rela pergi mencari Aldo ke Bandung.
Tante Laras: "Apakah kamu sudah tenang sekarang, Hana?" tanyanya.
Hana: "Iya, ma. Semoga papa bisa menemukan mas Aldo." sahutnya dengan penuh harap.
Tante Laras: "Kita berdoa dan harus percaya pada kuasa Allah, nak." ucapnya dengan bijaksana. Hana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis pada ibunya.
Hana: "Aku ke kamar dulu, ya, ma." ucapnya.
Tante Laras: "Iya, nak." sahutnya sambil tersenyum hangat. Di dalam kamar, Hana duduk termenung di tepi ranjangnya. Hana menatap langit-langit kamarnya, ia menghela nafas berat mencoba mengeluarkan beban yang sedang dipikulnya. Di tengah lamunannya, ponselnya berdering hingga beberapa kali. Hana mengambil ponselnya yang berada di sampingnya, Hana melihat nomor asing di layar ponselnya. Hana tidak ingin menjawab panggilan itu, namun rasa penasarannya membuatnya menjawab panggilan asing itu.
Hana: "Hallo, siapa ini?" tanyanya dengan sikap yang dingin.
Penelpon asing: "Ini aku, Peter." sahutnya dengan lembut. Hana terkejut, ia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada pria yang dikenalnya beberapa hari yang lalu itu. Peter melanjutkan pembicaraannya: "Kamu masih ingat denganku, kan?" tanyanya dengan ragu-ragu.
Hana: "Iya, ada apa? Dari mana kamu mendapatkan nomorku?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Peter: "Kamu pernah memberikan kartu namamu pada temanku, seorang montir mobil." ucapnya dengan yakin. Hana teringat pada mobilnya beberapa hari yang lalu. "Temanku mengatakan bahwa mobilmu telah selesai. Dia memberikan nomor ponselmu padaku." ucapnya lagi.
Hana: "Mengapa bukan temanmu sendiri yang menelponku?" tanyanya dengan heran.
Peter: "Dia tidak sempat menelponmu. Istrinya sedang berada di rumah sakit." ucapnya dengan sedih.
Hana: "Bagaimana pembayarannya?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Peter: "Aku telah membayarnya." ucapnya dengan tegas. Hana menghela nafas pendek, dia merasa berhutang dan tidak enak pada Peter.
Hana: "Berikan nomor rekeningmu sekarang. Aku akan segera mengirimkannya." pintanya dengan rasa tidak nyaman.
Peter: "Hehe. Tidak perlu, Hana. Biayanya hanya sedikit." ucapnya sambil tertawa kecil.
Hana: "Tidak, Peter. Aku tidak ingin berhutang pada siapapun." ucapnya dengan pelan namun tegas. Peter terdiam mendengar penuturan Hana, Peter tidak memikirkan jumlah tagihan mobil Hana karena baginya tagihan itu tidak seberapa. Sesaat mereka sama-sama terdiam, Hana menunggu jawaban dari Peter. "Ayo, berikanlah. Jangan membuatku berhutang padamu." pintanya dengan tegas.
Peter: "Baiklah, nanti aku berikan." sahutnya.
Hana: "Sekarang saja, Peter." ucapnya dengan kesal.
"Tuuut... Tuuut." terdengar suara ponsel yang dimatikan. Peter tidak ingin membahas tentang biaya mobil Hana.
Hana: "Haa, dia mematikan ponselnya." ucapnya dengan kesal.
***********************************