Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Bidak Catur Dimainkan
.
Pelukan hangat dengan Bu Maryam seolah menjadi oase di tengah gurun pasir dendam yang membara di hati Riko. Namun, kelembutan itu tak mampu menghapus tekadnya untuk membalas perlakuan keluarga Darmawan.
Setelah mengantarkan ibunya ke kamar, dan memastikan sang ibu terlelap, Riko masuk ke ruang kerjanya, beralih ke identitasnya sebagai asisten CEO di SENTINEL, sebuah perusahaan keamanan yang memiliki kekuatan dan pengaruh nyaris tak terbatas.
Layar komputernya menyala, menampilkan dashboard kompleks yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang. SENTINEL bukan sekadar perusahaan keamanan biasa. Ia adalah mata dan telinga bagi para elit, mengumpulkan informasi, melindungi aset, dan tak jarang, menyingkirkan ancaman. Riko, sebagai tangan kanan sang CEO, memiliki akses ke sumber daya yang tak terbayangkan, dan ia tak ragu untuk memanfaatkannya.
“Saatnya bermain,” bisiknya, seringai dingin menghiasi bibirnya.
Riko membuka kembali hasil pencarian informasi yang ia dapatkan beberapa waktu lalu. Sebagai orang berpengaruh di SENTINEL, ia memiliki akses ke database pemerintah, catatan keuangan, bahkan percakapan telepon yang disadap secara legal. Dengan beberapa klik, Riko bisa mendapatkan profil lengkap Laras, Nyonya Ratna, dan terutama, Bagas Darmawan.
Informasi tentang Bagas terlihat jelas di depan matanya. Laporan keuangan yang disembunyikan di rekening offshore, transaksi mencurigakan dengan perusahaan-perusahaan fiktif, hingga daftar proyek yang dimanipulasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Semua bukti mengarah pada satu kesimpulan: Bagas Darmawan adalah seorang koruptor kelas kakap.
Namun, yang lebih menarik perhatian Riko adalah informasi tentang masuknya Bagas ke akademi kepolisian. Laporan internal SENTINEL mengonfirmasi bahwa Bagas tidak lolos seleksi, bahkan setelah Riko memutuskan mundur. Heri Darmawan yang tidak puas, kemudian menyuap beberapa petinggi kepolisian untuk memuluskan jalan Bagas, mengabaikan integritas dan keadilan.
Riko mengepalkan tangannya. Ia merasa dikhianati, bukan hanya oleh Laras dan keluarganya, tetapi juga oleh sistem yang korup dan memungkinkan orang-orang seperti Bagas untuk berkuasa.
“Cukup sudah,” gumamnya. “Saatnya membersihkan sampah ini.”
Strategi pembalasan dendam tersusun rapi di benaknya. Riko akan menggunakan semua kekuatan dan pengaruh yang ia miliki di SENTINEL untuk menjatuhkan Bagas dan menghancurkan reputasi keluarga .
Riko kembali mengutak-atik komputer canggih nya. Beberapa saat kemudian senyum dingin terbit di sudut matanya yang tajam.
“Bagas, nikmati hadiah kecil yang kukirimkan," gumamnya sebelum mematikan kembali komputer nya.
Keesokan harinya.
Kehebohan melanda ruang redaksi sebuah kantor berita ternama. Telepon berdering tanpa henti, email masuk bertubi-tubi, dan para wartawan berlarian kesana kemari, berusaha mengumpulkan informasi dan memvalidasi data.
“Ini gila! Berita ini bisa mengguncang pemerintahan!” teriak seorang editor senior, wajahnya pucat pasi.
Di layar televisi, terpampang wajah Bagas Darmawan dengan judul berita yang mencolok: “PERWIRA POLISI TERJERAT KASUS KORUPSI! DIDUGA TERIMA SUAP DARI PENGUSAHA ILEGAL!”
Berita itu bak bom atom yang meledak di tengah masyarakat. Dalam hitungan jam, media sosial dipenuhi dengan komentar, kecaman, dan spekulasi. Tagar #TangkapBagasDarmawan
.
Kediaman Keluarga Darmawan
Suara pecahan kaca memekakkan telinga, memecah kesunyian pagi di kediaman mewah keluarga Darmawan. Tuan Heri Darmawan mengamuk, membanting vas bunga kristal ke dinding hingga berkeping-keping. Wajahnya merah padam, matanya liar, dan mulutnya mengeluarkan sumpah serapah.
"Sialan! Baji^ngan tengik! Bagaimana bisa berita ini bocor?! Siapa yang berani menusukku dari belakang?!" teriaknya histeris, air mata bercampur dengan amarah.
Laras, yang berdiri tak jauh darinya hanya bisa terdiam, menundukkan kepala dalam-dalam. Ia bahkan tak berani pergi ke agency karena malu sekaligus takut. Bagaimana jika di sana nanti dirinya diserbu wartawan atau dihujat fans? Dunia yang selama ini ia kenal, dunia kemewahan dan kekuasaan, kini runtuh di depan matanya.
"Bagaimana ini, Pa?" ucap Ratna cemas. "Papa harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini."
"Siapa sebenarnya yang telah kita singgung?!" Teriak Heri Darmawan. "Padahal selama ini aman-aman saja. Kenapa tiba-tiba berita ini bocor?!"
menunjuk ke arah televisi yang masih menayangkan berita tentang Bagas. "Dia yang telah menghancurkan anakku!"
Bagas, yang duduk di sofa dengan wajah pucat, hanya bisa terdiam. Ia merasa seperti pesakitan yang menunggu hukuman mati. Pangkat yang selama ini ia banggakan, kini tak ubahnya borgol yang menjerat bukan hanya memasung tangannya tapi juga mencekik lehernya.
"Aku... Apa yang harus aku lakukan," lirih Bagas, suaranya bergetar.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu mengagetkan mereka. Seorang petugas keamanan masuk dengan wajah tegang.
"Maaf, Nyonya, Tuan. Ada beberapa petugas polisi yang datang. Mereka ingin bertemu dengan Tuan Muda Bagas," ucap petugas keamanan itu dengan nada hormat.
Nyonya Ratna, Laras, Bagas dan Heri Darmawan saling bertukar pandang. Mereka tahu apa arti kedatangan polisi itu.
Belum sempat mereka menjawab, empat orang polisi sudah menyerbu masuk.
“Saudara Bagas Darmawan, ada ditangkap atas tuduhan korupsi. Silakan ikut kami!"
Badan Bagas gemetar dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya. Dirinya yang sedang duduk di atas sofa bahkan ditarik paksa untuk berdiri. Memberontak pun tak berguna, ia kalah tenaga dengan para polisi berbadan kekar.
Nyonya Ratna berteriak histeris, tapi polisi seolah tidak mendengar. Bagas pun dibawa.
*
Kilatan lampu kamera dan sorakan wartawan menyambut kedatangan Bagas Darmawan di kantor polisi. Ia digiring oleh beberapa petugas kepolisian, wajahnya tertutup masker dan kedua tangannya terborgol.
Berita tentang penangkapan Bagas Darmawan langsung menjadi trending topic di media sosial.
Riko yang mendengar berita itu dari salah seorang anak buahnya, tersenyum puas. Rencananya berjalan sesuai harapan.
"Ini baru permulaan," bisiknya, matanya berbinar. "Masih ada bidak catur lain yang harus kumainkan."
*
Sore Hari di Kediaman Keluarga Darmawan
Suasana di kediaman keluarga Darmawan terasa semakin mencekam. Nyonya Ratna, Laras, dan Heri Darmawan duduk terdiam di ruang keluarga, menunggu kabar tentang Bagas.
"Apa yang akan terjadi pada Mas Bagas?" tanya Laras cemas.
"Mama tidak tahu," jawab Nyonya Ratna, menggelengkan kepala. "Apa jangan-jangan… ini perbuatan Riko?" gumamnya.
“Riko?" tanya Heri Darmawan. "Riko siapa? Apa mantan pelayan itu?” tanyanya yang memang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi di toko perhiasan beberapa hari lalu. Nyonya Ratna takut menceritakan padanya, karena itu pasti akan membuat suaminya murka.
Belum sempat Heri Darmawan mendapatkan jawaban, tiba-tiba, ponsel di sakunya berdering. Pria itu mengambil ponselnya dan melihat ada nama pengacara yang ia sewa untuk mendampingi Bagas. Dengan tangan gemetar, Tuan Heri mengangkat panggilan.
"Halo?" Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Tuan Darmawan?" suara seorang pria terdengar dari seberang telepon, terdengar dingin dan tanpa emosi.
"Ada berita apa?" tanya Tuan Heri cemas.
“Tuan Bagas Darmawan telah resmi ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi," jawab pria itu.
Jantung Tuan Heri serasa berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya berputar. Ia merosot jatuh tersandar, tak mampu berkata apa-apa.
"Selain itu, pihak kepolisian menerima informasi terkait dugaan Tuan Darmawan untuk meloloskan Tuan Bagas ke akademi kepolisian," lanjut pria itu. “Maka, ada kemungkinan Anda juga akan dipanggil."
"Tidak! Ini tidak mungkin!" teriak Tuan Heri murka.
"Mereka akan melakukan penyelidikan. Mungkin lebih baik jika anda bersiap-siap!"
Pria itu kemudian menutup telepon. Tuan Heri menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Laras menghampiri ibunya dan memeluknya erat. Ia juga menangis, merasa hancur dan tak berdaya.
"Apa yang akan kita lakukan, Ma?" tanya Laras dengan nada putus asa. "Karena berita ini menyebar, karirku juga ikut hancur."
*
Hari telah larut, ketika Riko mengendarai mobil sportnya untuk pulang menuju apartemen. Senyum tipis menghiasi bibirnya.
“Langkah pertama selesai,” bisiknya. “Sekarang saatnya memainkan bidak catur selanjutnya.”
Riko mengemudi sambil bersiul, matanya menatap jalanan yang ia lewati. Lampu-lampu jalanan yang menyala terang, seiring suasana hatinya yang merasa puas.
“Maafkan aku, Ibu,” gumamnya. “ini bukan sekedar balas dendam, tapi keadilan yang harus ditegakkan.”
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄