Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amina dan Zinnia
Zinnia terkejut dengan pernyataan Amina. Gadis itu tampak menunduk dan tangannya memilin benang wool dengan gugup. Sebagai seorang psikolog, Zinnia tahu Amina takut luar biasa. Butuh keberanian untuk mengucapkan kalimat itu karena dia berhubungan dengan putra mahkota Belgia.
"Kenapa Amina? Apakah Akira menyakiti dirimu?" tanya Zinnia pelan-pelan.
"Tidak Queen Mother. Akira sangat baik ... Terlalu baik untukku, Queen Mother. Saya ... takut akan mengecewakan Akira, mengecewakan semua ... Saya tidak pintar, Queen Mother. Saya hanya gadis imigran yatim piatu. Keluarga saya adalah keluarga biasa ...." Amina mengangkat wajahnya. Rautnya tampak sedih.
"Apa kamu tidak cinta pada Akira? Oma lihat kamu dan Akira saling sayang," ucap Zinnia.
"Queen Mother, saya sayang pada Akira. Sangat sayang tapi saya juga sadar diri. Saya tidak pantas untuk Akira."
Zinnia mengambil benang wool dari tangan Amina dan meletakkannya di dalam keranjang. Wanita yang masih cantik di usia tidak muda lagi itu, lalu menggenggam tangan Amina.
"Amina, let me tell you something ( aku beri tahu sesuatu ). Aku dulu juga mengalami hal yang sama denganmu. Dulu aku lahir dari seorang wanita yang tidak diakui keberadaannya oleh keluarga si pria. Hingga akhirnya aku diambil anak oleh Tante aku dari pihak ibu. Nama belakang aku sebenarnya Hadiyanto. Lalu terjadi keributan keluarga apalagi Tante aku yang sudah biasa aku panggil Mama, akan menikah dengan papa angkat aku. Papaku adalah Ayrton Al Jordan Schumacher. Kakek angkat aku adalah Emir Senna Al Jordan, Emir Dubai."
"Jadi ... Queen Mother dianggap ...."
"Ya, dianggap anak haram," senyum Zinnia getir. "Saat keluarga almarhum ayahku tahu Mama akan menikah dengan papa yang Emir Dubai, mereka ingin memeras keluarga Al Jordan. Namun keluarga ayahku melawan keluarga yang salah. Keluarga Al Jordan dan Pratomo melindungi aku dan alhamdulillah, aku diangkat anak keluarga Dubai dan berhak memakai nama Al Jordan Schumacher di belakang. Itu pun Opa Senna yang memberikan. Aku besar di keluarga Schumacher tanpa ada perbedaan kasih sayang meskipun dua adikku lahir. Gasendra dan Garvita sangat sayang padaku seperti halnya aku menyayangi mereka. Aku mendapatkan pendidikan yang baik dan saat kuliah, aku memilih Swiss. Disana juga aku bertemu dengan Sean Léopold yang kedua kalinya karena waktu kecil, kami pernah bertemu."
"Apa Queen Mother jatuh cinta pada pertama pada King Father?" tanya Amina.
"Apa? No no no ... Tidak seperti itu. Dulu aku sebal dengan King Father! Bahkan aku punya panggilan pangeran sombong!" gelak Zinnia. "Lucu juga kalau ingat soal itu."
Amina tertawa, membayangkan bagaimana Zinnia muda dengan berani memanggil Sean seperti itu.
"Sayangnya aku salah ... Sean serius mengejar aku, Amina. Sama seperti Akira. Asal kamu tahu, keturunan Léopold kalau sudah yakin dengan pria atau wanita yang disukainya, maka apapun akan dijalani. Mereka tidak perduli dengan protokol dan itu yang terjadi pada Sean. Pihak kerajaan Belgia saat itu tidak mau Sean bersamaku karena latar belakang aku. Tapi, Papa Ayrton pasang badan begitu juga dengan Oom Direndra dan Oom Alaric, Emir Blair dari Dubai juga. Sean juga pasang badan, Amina. Kami pun menikah tapi memang, orang itu pasti ada banyak yang dislike daripada yang like kalau sudah masuk politik istana," senyum Zinnia. ( Baca The Four Emirs ).
"Saya hanya takut, Akira mendapatkan masalah karena bersama saya. Parlemen pasti akan membongkar siapa saya. Ditambah saya tidak ada darah biru khas bangsawan kulit putih." Amina tampak cemas.
"Sayang, aku yakin, Akira akan memperjuangkan kamu ... Masalahnya, apa kamu tidak mau berjuang bersama Akira? Ingat sayang, dalam berhubungan itu ada yang namanya saling mendukung." Zinnia menyingkirkan rambut hitam Amina ke belakang telinganya.
"Queen Mother ...."
"Apa kamu agak keberatan tinggal di apartemen aku? Pakai saja, Amina. Tidak usah kamu pindah. Bea sudah memberitahukan kalau kamu sudah down payment untuk sewa apartemen kan?" senyum Zinnia.
"Queen Mother, saya tidak terbiasa dimanjakan seperti ini. Jujur, saya lebih takut jika terlalu terbiasa, nanti saya akan berubah, menjadi besar kepala dan lupa humble. Banyak orang bilang, sifat dan perilaku kamu akan berubah disaat kamu memiliki kuasa. Saya mendapatkan banyak fasilitas dan bagi saya itu sangat berlebihan ... Maafkan ucapan saya. Hanya saja, saya takut suatu hari nanti saya akan berbelok arah." Amina menatap Zinnia serius.
"Sayang, memang bisa terjadi tapi ... Aku yakin, kamu tidak akan seperti itu. Kenapa? Karena pada dasarnya kamu itu baik. Mungkin berubah sedikit, tapi tidak ekstrim. Jika memang kamu butuh bicara segala hal, datanglah kemari. Aku akan mendengarkan semuanya."
Amina mengangguk. "Terima kasih Queen Mother."
***
Di Ruang Perpustakaan Istana
"Ada apa Amina kemari, Greg?" tanya Sean ke asistennya yang setia dari balik kaca jendela perpustakaan.
"Mungkin nona Amina mau berpamitan," jawab Greg.
"Pamitan? Kemana?" Sean menoleh cepat ke Greg.
"Bea laporan kalau nona Amina sudah down payment apartemen yang dekat dengan sekolah," jawab Greg.
"Ngapain Amina pergi?" tanya Sean sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Mungkin kurang nyaman di apartemen mengingat itu milik Madam Zee."
Sean menghela nafas panjang. "Entah Akira beruntung atau memang Amina anak baik. Kalau itu gadis yang sudah mencari keuntungan, dia akan umpak-umpakan memanfaatkan kebaikan Zee dan Akira."
"Saya kira mas Akira tahu nona Amina seperti apa jadi dia sudah mantap bersamanya."
Sean melihat gestur Zinnia dan Amina. "Aku rasa Amina masih ragu bersama Akira."
"Bagaimana anda bisa bilang begitu?" tanya Greg.
"Karena gestur tubuh Amina seperti Zee waktu minta pisah denganku dulu," jawab Sean serius.
***
Kemah Militer Kerajaan Belanda
Aspen mendapatkan informasi bahwa di negara konflik yang hendak mereka datangi, sedang terjadi pergolakan dan semua orang siaga satu. Aspen tahu Akira memang anak militer tapi dia juga Pangeran Belgia dan Aspen khawatir akan terjadi sesuatu.
"Hubungkan dengan Pangeran Akira Léopold," pinta Aspen Al Jordan.
"Baik Your Highness."
Tak lama suara Akira terdengar. "Ya Oom?"
"Akira. Apa Kapten batalyon sudah memberitahukan bahwa di negara yang kita datangi, sedang terjadi pergolakan? Ada banyak pertempuran dengan kaum militan dan pemberontak," jawab Aspen.
"Aku tahu Oom. Jangan khawatir," jawab Akira.
"Akira, ingat ... Kamu itu pangeran Belgia. Oom tidak mau kamu kenapa-kenapa karena kita tahu sendiri kan bagaimana Daddymu," ucap Aspen.
"Iya Oom. Don't worry, semuanya akan baik-baik saja."
"Janji ya Akira. Jangan gegabah!" pinta Aspen.
"Iya Oom. Akira janji."
***
Yuhuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu