NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemburuan

Setelah melewati masa perawatan di rumah sakit, Arga akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Pasangan suami istri itu kembali menempati rumah baru mereka. Akan tetapi, sejak kepulangannya, Arga tetap bersikap dingin dan mendiamkan Anya.

Anya, di sisi lain, tidak terlalu terpengaruh dengan sikap Arga. Bahkan, ia merasa sedikit lega dan lebih damai karena tidak ada lagi suara rengekan yang memekakkan telinga.

Arga hanya diam membisu, memancarkan aura dingin di sekitarnya. Sementara itu, Anya asyik dengan dunianya sendiri, larut dalam layar ponselnya. Sesekali, Arga merajuk dan menghentakkan kakinya dengan kesal saat berjalan menuju pintu keluar.

Melihat Arga hendak pergi, Anya segera memperingatinya dengan nada khawatir dan tegas. "Kalau kamu nekat keluar rumah dan mencoba melarikan diri lagi, jangan harap aku akan memaafkanmu, Arga!"

Arga berbalik dan menatap Anya dengan tatapan datarnya. "Anya sudah tidak peduli lagi sama Arga! Anya sudah tidak sayang sama Arga!" ucapnya dengan nada merajuk dan bibir yang mengerucut.

"Lho, kok jadi aku yang salah? Padahal aku dari tadi diam saja! Kenapa aku yang kena getahnya?" ucap Anya dengan nada bingung, kesal, dan frustrasi.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Arga melangkah keluar rumah tanpa tujuan yang jelas. Anya merasa khawatir dan terpaksa mengikutinya dari belakang.

Ternyata, Arga hanya berjalan menuju halaman depan. Di sana, ia bertemu dengan seorang wanita yang sangat dibenci Anya, yaitu Rini.

"Hai, Arga. Apa kabar?" sapa Rini dengan nada ramah.

Arga hanya diam, tidak membalas sapaan Rini. "Ini, aku bawakan parsel buah untukmu. Maaf ya, aku tidak sempat menjengukmu di rumah sakit," ucapnya sambil menyerahkan parsel itu kepada Arga.

Arga menerima pemberian Rini dengan ekspresi datar. "Terima kasih, Rini," ucapnya dengan suara pelan.

Anya menghampiri mereka dengan langkah cepat dan tatapan tajam. "Sedang apa kau di sini? Kenapa kau selalu mengganggu kami?" tanyanya dengan nada sinis dan ketus.

"Aku kan tinggal di sini. Kebetulan sekali, rumahku ada tepat di sebelah rumah kalian," jawab Rini dengan senyum yang membuat Anya semakin geram.

Anya mendengus kesal. Kenapa dari sekian banyak tempat di dunia ini, ia harus selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membuatnya merasa tidak nyaman?

Anya menarik lengan Arga dengan kasar. "Arga, ayo kita masuk. Jangan berlama-lama di luar, nanti kamu sakit lagi," ucapnya sambil melirik Rini dengan tatapan sinis dan menyindir. "Nanti malah diajak kabur sama orang," bisiknya dengan nada yang cukup keras agar bisa didengar oleh Rini.

Rini tersenyum sinis menanggapi sindiran Anya. "Tenang saja, Anya. Aku tidak berniat menculik suamimu. Aku cuma mau bersikap baik sebagai tetangga," jawab Rini dengan nada mengejek yang membuat Anya semakin geram.

Anya berdecak sinis. "Siapa tahu, kan memang hobimu suka menggoda suami orang," balas Anya dengan sindiran yang membuat Rini semakin kesal.

"Jaga ucapanmu itu! Aku sudah bersikap baik sebagai tetangga, tapi kamu malah menuduhku yang tidak-tidak!" ucap Rini dengan nada tinggi.

Anya menyunggingkan senyum sinis. "Aku kan nggak menuduhmu, aku cuma menebak saja," balas Anya dengan nada meremehkan.

Sebelum Anya sempat membalas ucapan Rini, Arga tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Arga tidak suka Anya bertengkar dengan Rini," ucapnya dengan nada marah, lalu melepaskan tangan Anya dengan kasar.

Anya terkejut dengan sikap Arga yang tiba-tiba. "Arga, kenapa kamu marah? Dia itu yang salah, dia selalu mengganggu kita!" ucap Anya dengan nada membela diri.

Arga menatap Anya dengan tatapan dingin. "Anya juga jahat! Anya selalu marah-marah sama Arga! Anya tidak sayang lagi sama Arga!" bentak Arga dengan nada kekanak-kanakan, lalu berlari menuju kamar dan membanting pintu dengan keras.

Anya terkejut dengan sikap Arga yang baru pertama kali ia lihat. Arga marah padanya, dan ini juga pertama kalinya Arga menyalahkannya.

Awalnya, Anya memang tidak terlalu peduli dengan sikap Arga. Namun, melihat perubahan Arga yang begitu drastis, ia merasa bersalah, apalagi Arga berani mengatakan hal seperti itu padanya.

"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia bisa berubah seperti ini?" gumam Anya dengan nada bingung dan khawatir.

Malam itu tiba, dan Anya merasa perlu untuk membujuk Arga agar mau makan malam. Ia mengetuk pintu kamar Arga dengan nada yang sedikit memaksa. "Arga! Bangun! Ayo makan dulu!" serunya sambil terus mengetuk pintu dengan harapan Arga akan membuka pintu. Namun, sunyi. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam sana.

Anya semakin khawatir. Ia terus mengetuk dan memanggil Arga dengan nada yang semakin cemas. Namun, tetap saja tidak ada respons. Dengan berat hati, ia terpaksa menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Arga.

Anya terperanjat melihat Arga meringkuk di atas tempat tidur dengan posisi memprihatinkan, tubuhnya bergetar hebat karena menangis sesenggukan.

Anya merasa pilu melihat Arga yang begitu rapuh dan terluka. Hatinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat Arga begitu sedih?

Dengan langkah pelan dan hati-hati, Anya mencoba mendekati Arga. "Arga, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanyanya lembut. Sudah berkali-kali ia mengubur egonya dalam-dalam demi Arga, berharap bisa mengerti apa yang sedang membebani pikirannya.

Namun, Arga tetap membisu, hanya menggelengkan kepalanya dan semakin memeluk dirinya sendiri erat-erat. Anya merasa frustrasi dan tidak berdaya melihat Arga yang begitu rapuh dan sulit untuk dijangkau.

Tiba-tiba, Arga mendongak, memperlihatkan wajahnya yang berlinang air mata dan mata sembab yang menatap Anya dengan pilu. "Anya... Anya jahat..." ucapnya di tengah isak tangisnya yang memilukan.

Anya tersentak mendengar tuduhan Arga yang tak terduga itu. "Jahat? Kenapa aku jahat, Arga?" tanyanya dengan nada bingung.

Arga terdiam, air mata terus mengalir di pipinya. Ia hanya menatap Anya dengan mata sembabnya yang penuh kesedihan. "Anya jahat... Anya jahat..." gumamnya berulang-ulang dengan nada yang semakin lirih.

Kenapa lagi ini? Anya memang sering bersikap tidak sabar dan membentak Arga, tapi baru kali ini Arga menangis sejadi ini karena perlakuan kasarnya. Apa yang membuatnya begitu terluka?

Anya memijit keningnya yang terasa sakit, mencoba menenangkan diri melihat Arga yang histeris seperti ini. "Coba, kamu jelaskan apa yang membuatmu jadi seperti ini? Apa yang salah denganku, Arga? Jangan menangis terus, aku tidak bisa mengerti jika kamu terus-terusan menangis seperti ini," ucapnya dengan nada putus asa.

"Anya jahat... Anya sudah tidak sayang lagi sama Arga! Anya lebih sayang sama Galen!" ungkap Arga di tengah tangisnya yang semakin pecah.

Galen? Seketika, Anya teringat sesuatu. Sepertinya, Arga masih marah padanya karena kejadian di rumah sakit waktu itu, ketika ia pergi terlalu lama dan malah kembali ke ruangan Arga dengan Galen yang mengikutinya dari belakang.

"Arga, tolong dengarkan penjelasanku, ya? Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Galen. Saat itu, aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya di kantin dan mengobrol sejenak. Aku berjanji, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi," ucap Anya dengan nada lembut dan penuh penyesalan. Ia berusaha sekuat tenaga meyakinkan Arga bahwa dirinya sama sekali tidka menaruh rasa suka pada Galen.

Entah dorongan apa yang membuatnya melakukan semua ini, padahal jauh di lubuk hatinya, ia sangat membenci Arga dalam pernikahan yang tidak diinginkannya ini.

"Arga tahu, Anya bohong! Arga lihat sendiri dengan mata kepala Arga, Anya senyum-senyum sama Galen! Anya pasti diam-diam suka sama Galen, kan?!" bentak Arga dengan nada histeris yang memekakkan telinga. Ia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Anya.

Anya menghela napas panjang, merasa frustrasi. Bagaimana caranya meyakinkan Arga jika ia sudah dibutakan oleh rasa cemburu yang membabi buta? Padahal, ia sangat ingat, bahwa kenyataannya ia tidak pernah sekalipun tersenyum pada Galen, apalagi menaruh rasa suka pada pria itu. Yang ada hanyalah rasa benci yang tak terhingga. "Arga, tolong percaya sama aku. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Aku tidak pernah senyum ke Galen, Arga," ucapnya dengan nada memohon.

Anya terdiam sejenak, mencoba menelusuri kembali ingatannya tentang kejadian di rumah sakit. Apa yang sebenarnya telah terjadi di sana? Kenapa Arga bisa sampai memiliki prasangka buruk seperti ini padanya? Tiba-tiba, sebuah kecurigaan muncul di benaknya. Mungkinkah Galen yang dengan sengaja menghasut Arga hingga menjadi seperti ini?

"Arga, apa Galen yang mengatakan hal-hal buruk itu padamu?" tanya Anya dengan nada curiga dan penuh selidik.

Arga tetap membisu, tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam dan terus terisak tanpa henti. Anya semakin yakin bahwa Galen pasti telah melakukan sesuatu untuk memanipulasi Arga dan membuatnya membencinya. Ia harus segera mengungkap kebenaran ini dan membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!