NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tampan

Anya mendekat ke tepi tempat tidur, pikirannya berkecamuk mencari cara untuk membuat Arga mau membuka diri padanya. "Apa yang harus kulakukan agar Arga mau jujur dan menceritakan semua yang mengganggunya?" batinnya dengan frustrasi.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Anya menyadari bahwa Arga hanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Dengan terpaksa, ia menarik Arga ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkannya dengan kata-kata lembut.

Tangan Anya dengan perlahan mengusap punggung Arga, mencoba memberikan ketenangan. "Arga, percayalah, aku sama sekali tidak menyukai Galen. Galen itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirimu," bisiknya, mencoba memuji dan menghibur Arga yang sedang bersedih.

Namun, Arga masih terisak dalam pelukannya, seolah tidak mendengar perkataannya. "Anya bohong! Galen sendiri yang mengatakan bahwa Anya menyukainya. Anya akan meninggalkan Arga dan menikah dengan Galen!" ucapnya dengan suara sesenggukan, mencurahkan semua beban pikiran yang beberapa ini ia pendam seorang diri.

Anya merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Galen benar-benar sudah melewati batas, ia mencoba menciptakan citra seolah-olah Anya adalah wanita yang tidak memiliki harga diri dan mudah diperdaya.

"Itu semua tidak benar, Arga! Itu semua bohong! Jika kamu tidak mempercayaiku, sebaiknya kita pergi ke rumah Ayah sekarang juga. Aku akan mengadukan semua perbuatan Galen di depan Ayah, agar kamu percaya bahwa aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya!" tegas Anya dengan amarah.

Arga melepaskan pelukannya dan menatap Anya dengan wajah yang masih basah oleh air mata. Setelah berpikir sejenak, ia menganggukkan kepalanya dengan tekad yang membara. "Arga mau! Kita berangkat ke rumah Ayah sekarang juga!" serunya dengan nada penuh keyakinan.

Anya menghela napas dalam-dalam, menyadari betapa licik dan jahatnya Galen. Ia memang sangat ingin melepaskan diri dari pernikahan yang terasa menyesakkan ini, tetapi setelah mendengar tuduhan Galen yang keji dan tak berdasar, seketika amarah dan keinginan untuk membalas dendam membara di dalam hatinya. Ia bertekad untuk membuat Galen menyesali perbuatannya dan tidak bisa hidup tenang selamanya.

"Sebaiknya kamu makan sesuatu dulu, baru kita pergi ke rumah Ayah. Nanti kalau kamu tiba-tiba pingsan di sana, aku lagi yang akan disalahkan," ucap Anya dengan nada tegas namun penuh perhatian.

Arga menganggukkan kepalanya dengan patuh, dan keduanya berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan yang terletak di lantai utama.

Dalam keheningan yang menyelimuti ruang makan, Anya dan Arga menyantap makanan masing-masing. Selera mereka memang sangat berbeda; Anya selalu mencari sensasi pedas yang membakar lidah, sementara Arga lebih menyukai makanan manis dan asin yang menenangkan hatinya.

Sambil makan, Anya diam-diam memperhatikan Arga dengan cermat. Ia merasa khawatir karena Arga begitu mudah terpengaruh oleh Galen. Kekhawatiran itu muncul karena ia takut Galen akan mengganggu rencananya untuk memulihkan kondisi mental Arga, yang merupakan kunci untuk mengakhiri pernikahan yang tidak diinginkannya ini.

Namun, jika Galen terus-menerus mengacau dan memperburuk keadaan Arga, maka pernikahan ini tidak akan pernah bisa selesai dengan damai.

Setelah menyelesaikan makan, Anya dengan sigap mengajak Arga untuk segera bersiap-siap. Ia memilihkan pakaian yang terbaik untuk Arga, ingin memastikan penampilannya terlihat rapi dan sopan di hadapan ayahnya nanti.

Anya memutuskan untuk memberikan gaya kasual yang stylish pada Arga. Ia mengambil jaket kulit hitam oversized, kaos putih polos yang simpel, celana jeans abu-abu yang nyaman, dan sepatu sneakers putih yang sporty. "Menurutku, ini akan sangat cocok untukmu," ucapnya sambil menyerahkan pilihan pakaian itu pada Arga dengan senyuman.

Arga menerima pakaian itu dengan senang hati dan tanpa ragu hendak memakainya di hadapan Anya. "Astaga! Kamu ganti bajunya di kamar mandi, Arga!" pekik Anya dengan terkejut sambil langsung menutup kedua matanya.

"Maafkan Arga, Anya. Arga benar-benar lupa," ucapnya dengan senyum polos yang membuat Anya merasa kesal.

Sembari terkekeh pelan, Anya sedikit membuka matanya dan mengintip Arga yang sudah berlari menuju kamar mandi. Sambil menggelengkan kepalanya, ia bergumam, "Dasar." Meski merasa sedikit kesal, ia tak bisa memungkiri bahwa tingkah Arga yang polos itu sedikit menghiburnya.

Sembari menunggu Arga selesai berganti pakaian, Anya beranjak menuju lemari pakaiannya sendiri, berpikir tentang pakaian apa yang akan ia kenakan untuk pertemuan dengan mertuanya nanti.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka, dan Arga telah mengenakan pakaian yang dipilihkan Anya. Seketika, Anya terkesima. Arga seperti pria normal pada umumnya. Namun sayang sekali, kacamata berbingkai tebal itu selalu menutupi sebagian wajahnya dan membuat penampilannya kurang maksimal.

"Anya, bagaimana? Apa Arga tampan?" tanya Arga, membuyarkan lamunan Anya.

"Anya?" panggil Arga sekali lagi, membuat Anya sepenuhnya tersadar dari lamunannya.

"Ah, iya. Kamu sangat tampan," jawab Anya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan senyum tipis.

Arga tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih. "Anya juga sangat cantik malam ini."

Anya merasa gugup dan salah tingkah. Arga terlihat sangat berbeda dengan pakaian itu, dan entah mengapa jantungnya berdegup lebih kencang.

Tanpa diduga, Arga melepas kacamatanya dan menyerahkannya pada Anya. "Anya, bolehkah Arga tidak menggunakan kacamata ini? Arga ingin terlihat tampan di mata Anya," pintanya dengan nada penuh harap.

Anya mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan permintaan Arga. "Kenapa dilepas? Apa penglihatanmu tidak terganggu?" tanya Anya dengan nada khawatir.

Arga menggelengkan kepalanya pelan. "Arga masih bisa melihat, tapi tidak terlalu jelas," jawabnya dengan jujur.

Anya menghela napas pelan. "Tetap pakai saja, kamu tetap terlihat tampan kok, Arga," ucapnya mencoba meyakinkan.

Arga tersenyum manis, lalu dengan spontan memeluk Anya erat-erat, membuat Anya terkejut dan membeku di tempatnya. "Terima kasih, Anya. Arga sayang Anya," ucapnya dengan tulus dari lubuk hatinya.

Pipi Anya merona, terasa seperti terbakar. Ia dengan cepat melepaskan pelukan Arga yang tiba-tiba itu. "A-aku mau ganti baju dulu," ucapnya terbata-bata, berusaha menyembunyikan kegugupannya sambil bergegas menuju kamar mandi.

Setelah menutup pintu kamar mandi dengan rapat, Anya mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangannya, mencoba menenangkan diri. "Anya, sadar! Jangan biarkan dirimu terbawa perasaan!" gumamnya pada diri sendiri dengan nada memperingatkan.

Dengan jantung berdebar kencang, Anya bersandar di pintu kamar mandi, berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal. "Kenapa aku jadi seperti ini?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri. Ia tak habis pikir, mengapa hanya karena pelukan singkat dari Arga ia bisa merasa gugup dan salah tingkah seperti ini. Bukankah selama ini ia selalu merasa jijik dan membenci pria itu?

Sambil menatap pantulan dirinya di cermin, Anya mencoba menenangkan diri. "Kamu harus tetap fokus pada tujuanmu, Anya. Jangan biarkan perasaan sesaat ini menghancurkan semua rencana yang sudah kamu susun dengan susah payah," gumamnya dengan nada tegas, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Di luar kamar mandi, Arga menatap pintu dengan tatapan bingung dan terluka. Ia tak mengerti mengapa Anya tiba-tiba berlari masuk ke kamar mandi setelah ia memeluknya dengan tulus. Apakah Anya tidak menyukai pelukannya? Apakah Anya membencinya?

"Anya, apa Arga melakukan sesuatu yang salah? Apa Anya marah pada Arga?" tanyanya dengan nada khawatir dan sedih, mencoba berbicara dari balik pintu kamar mandi.

Setelah selesai berganti pakaian, Anya membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Namun ia terkejut saat melihat Arga berdiri tepat di depan pintu dengan wajah yang ditekuk.

"Kenapa kamu di sini, Arga?" tanya Anya dengan nada bingung.

"Apa Anya tidak suka kalau Arga memeluk Anya?" tanya Arga dengan nada lirih, dengan raut wajah sedihnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!