Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab
Siang ini, Mobil hitam milik Aru berhenti mulus di halaman Rumah Sakit Aryasatya Hospitals milik Keluarga Baskara.
Aru menghela napas pelan sebelum turun. Tangannya refleks menahan bahu kirinya yang masih terasa nyeri meski sudah dibalut rapi. Ia memilih rumah sakit ini bukan tanpa alasan—jauh dari jangkauan keluarganya, dan cukup privat untuk tidak mengundang terlalu banyak pertanyaan.
“Saya tunggu di parkiran, Mbak” ucap sopir sopan.
“Iya, Pak. Jangan ke mana-mana,” jawab Aru sambil mengangguk kecil.
Langkahnya sedikit tertahan saat memasuki lobi. Aroma khas rumah sakit langsung menyergap, membuat perutnya terasa mengeras. Aru menarik napas, mencoba terlihat setenang mungkin.
Ia langsung menuju lantai tempat ruang praktik Nathan berada, sesuai arahan semalam dan janji yang sudah ia buat.
Sementara itu, di dalam ruang praktik Nathan, suasana jauh dari kata ramah.
Nathan sedang menangani seorang pasien khusus yang sejak semalam sukses membuat kesabarannya menipis.
"Semalam nolak diobatin. Sekarang datang ke rumah sakit kayak orang paling taat prosedur,” gumam Nathan sambil fokus menjahit luka di telapak tangan Kenan. “Nyusahin gue aja, Bang.”
Kenan duduk tenang di kursi pemeriksaan. Wajahnya datar, rahangnya mengeras.
“Lo bisa berhenti ngomel nggak, Nat?” ucapnya dingin. “Dari tadi mulut lo nggak berhenti.”
“Nggak bisa,” jawab Nathan tanpa menoleh. “Lihat kebodohan lo, refleks gue langsung pengen ceramah.”
“Berani banget ngomong gitu ke kakak sendiri,” sindir Kenan.
Nathan mendengus. “Sorry, gue bukan durhaka. Gue cuma jujur.”
Kenan memutar mata malas, tapi tak membalas.
“Lama amat ngejahit luka sekecil ini,” gumamnya lagi.
Nathan melirik tajam. “Dokter Kenan yang terhormat, kalau mau cepat, silakan jahit sendiri pakai mesin jahit. Sekalian tembus sampai ke urat.”
Kenan duduk diam. Punggungnya tegak, rahangnya mengeras.
“Kalau lo niat nyakitin diri sendiri, bilang dari awal,” ucap Nathan sambil menjahit luka di telapak tangan Kenan. “Biar gue siapin bius ekstra.”
“Fokus,” katanya singkat.
Nathan mendecak, tapi menuruti. Jarum bergerak rapi, cepat. Darah sudah berhenti mengalir.
Kenan tidak bereaksi. Tidak meringis. Tidak mengumpat.
Namun detak jantungnya belum juga stabil sejak semalam.
Beberapa menit kemudian, Aru akhirnya tiba di depan ruang praktik Nathan.
Ia berdiri di depan pintu dengan papan nama bertuliskan:
dr. Nathan Aryasatya Baskara
Aru menghela napas pelan, lalu mengetuk.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Begitu pintu terbuka, Aru langsung menangkap aroma antiseptik yang khas. Nathan berdiri di dekat wastafel, mengenakan jas dokter putih.
Namun bukan itu yang membuat langkah Aru mendadak tertahan.
Di kursi pemeriksaan—
Kenan.
Duduk dengan posisi sedikit menyamping, satu tangannya terangkat. Perban putih membalut telapak tangannya, sementara Nathan sedang memeriksanya dengan wajah serius.
Kenan mendongak.
Tatapan mereka bertemu.
Sekejap saja, tapi cukup untuk membuat Aru refleks berhenti melangkah. Kedua nya saling menatap satu sama lain, hingga membuat jantung keduanya berdetak hebat.
" Lagi? Kenapa tiba-tiba jadi gugup begini?
Tenang, Kenan. Jangan lebay.
Sial… dia cantik. Jangan terbawa suasana."batin Kenan.
Didepan pintu, Aru juga masih berdiri diam. tatapan juga terkunci pada Kenan.
"Kok aku jadi grogi kayak gini, ya. Kenapa jantungku berdetak secepat ini? Mata Pak Kenan… kok bisa seindah itu? Tenang, Aru. Tarik napas. Buang pelan-pelan." Batin Aru.
Nathan tersenyum miring menyaksikan dua orang yang sudah jantuh cinta pada pandangan pertama tapi belum ada satu pun yang menyadari nya.
"Jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan dua-duanya sama-sama nggak sadar."batin Nathan.
Nathan berdehem keras.
“Ekhem… hem.”
Keduanya langsung tersadar. Suasana berubah canggung dalam sekejap.
“Silakan masuk, Kak Aru,” ucap Nathan santai.
Aru mengangguk kecil, senyumnya kaku.
“A-iya…”
Ia melangkah masuk.
“Nggak mau kenalan, Bang?” celetuk Nathan sambil menepuk bahu Kenan.
“Diam lah,” jawab Kenan singkat.
Nathan malah tertawa kecil, lalu mendekati Aru.
“Silakan duduk, Kak.”
Aru menurut.
“Masih terasa sakit?” tanya Nathan lembut, mengingat konsultasi mereka pagi tadi.
“Lumayan, tapi nggak terlalu,” jawab Aru.
“Kalau begitu, boleh Nat periksa lukanya?”
“Silakan.”
Nathan menoleh ke Kenan. “Minggir, lo bang. Tu tangan udah gue jahit. Perban sendiri. Nanti gue cek hasilnya.”ucap Nathan.
“Jangan lupa gue dokter,” sahut Kenan datar.
"Gue tau, tapi dokter cuma kerja sampingan lo. " cibirnya.
“Kalau lo bukan adik gue,” gumam Kenan, “udah gue lempar ke kandang harimau.”
Aru tersenyum kecil melihat perdebatan itu.
“Duduk sini aja, Kak,” kata Nathan. “Nggak usah dengerin si duda ini.”
“Ck,” Kenan mendengus.
Nathan mulai memeriksa luka Aru dengan serius. Tangannya cekatan, suaranya tenang saat memberi instruksi.
Sementara itu, dari kejauhan, Kenan diam-diam memperhatikan Aru dari ujung rambut hingga cara jemarinya mencengkeram kursi.
“Cantik,” gumamnya nyaris tak terdengar.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Kenan tersenyum tipis tanpa ia sadari.
Tak butuh waktu lama, Nathan akhirnya selesai memeriksa kondisi Aru. Begitu pula Kenan yang sudah membalut ulang lukanya dengan perban bersih agar tidak kemasukan debu.
Kini Aru dan Kenan duduk berdampingan, sementara Nathan berdiri di depan mereka, bersedekap santai tapi tetap profesional.
“Untuk luka Kak Aru, semuanya aman. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan,” jelas Nathan.
“Beberapa hari ke depan hindari air, ya. Jangan sampai basah dulu.”
Aru mengangguk. “Terima kasih, Nathan.”
“It’s okay, Kak,” jawab Nathan ringan.
Lalu ia menoleh ke Kenan. “Kalau lo, Bang, gue rasa nggak perlu gue jelasin. Lo dokter. Harusnya lebih paham cara ngerawat luka sendiri.”
Kenan mendecak. “Sehari aja, Nat. Bisa nggak lo diam?”
“Nggak,” jawab Nathan cepat tanpa ragu.
Tatapan Kenan mengeras, nyaris membunuh.
“Ekhem… saya boleh tanya?” suara Aru memecah ketegangan.
Nathan langsung berubah ramah. “Silakan, Kak. Mau tanya apa?”
Aru melirik tangan Kenan yang diperban. “Kalau boleh tahu… tangan Pak Kenan kenapa, ya? Semalam sepertinya masih baik-baik saja.”
Nathan hendak membuka mulut.
“Oh, itu—”
“Kena mainan Kai,” potong Kenan cepat.
Aru mengernyit kecil. “Mainan Kai?”
“Iya,” jawab Kenan tenang. “Ada satu mainannya pecah. Nggak sengaja kena tangan saya.”
Aru tampak terkejut. Wajahnya langsung berubah khawatir. “Terus… Kai gimana?Dia baik-baik saja, kan?Nggak sampai terluka juga?”
Pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, tulus tanpa dibuat-buat.
Kenan terdiam sesaat.
Untuk pertama kalinya, tatapannya melembut.
“Iya,” jawabnya lebih pelan. “Kai nggak apa-apa. Dia aman.”
Aru menghela napas lega. “Syukurlah…”
Kenan menatap Aru beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
"Dia khawatir… bukan ke gue, tapi ke Kai."
Entah kenapa, perasaan di dadanya terasa hangat—asing, tapi menenangkan.
Nathan yang menyadari perubahan ekspresi Kenan hanya mengangkat satu alis, lalu tersenyum kecil penuh arti.
Nathan melirik jam di pergelangan tangannya.
“Oke, kalau nggak ada pertanyaan lagi, kalian berdua sudah boleh pulang.”
Aru mengangguk kecil.
Kenan berdiri lebih dulu. Gerakannya tenang, namun matanya sempat melirik Aru sekilas lalu cepat berpaling.
Nathan merapikan berkas di meja, lalu tersenyum tipis.
“Gue tinggal sebentar, ambil obat Kak Aru di farmasi. Jangan ke mana-mana.”
Tanpa menunggu jawaban, Nathan melangkah keluar.
Begitu pintu tertutup, keheningan jatuh di antara mereka.
Aru duduk dengan kedua tangan di pangkuan. Kenan berdiri di samping kursi, sesekali menggeser berat badannya. Jarak mereka tidak jauh, tapi terasa canggung.
Kenan menarik napas pelan.“Ehm…”
Aru mendongak.“Iya, Pak Kenan?”
Kenan mengerutkan alis kecil.“Nggak usah pakai ‘Pak’.”
“Oh… maaf,” ucap Aru refleks. “Kenan.”
Nama itu keluar pelan dari bibirnya dan entah kenapa, Kenan merasa dadanya mengencang.
Kenan berdehem. “Soal semalam…”
Ia terdiam sejenak, mencari kata yang tepat.
“Maaf.”
Aru tampak sedikit terkejut. “Maaf?”
“Iya,” lanjut Kenan. “Harusnya saya nggak dorong kamu semalam, hingga luka kayak gini. "
Aru tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Saya ngerti kok.”
Kenan menggeleng pelan. “Tapi itu tetap salah.”
Ia lalu melirik ke arah pintu, memastikan Nathan belum kembali.
“Kalau …kamu nggak keberatan,” ralatnya cepat,“saya mau nebus itu.”
Aru menatapnya bingung. “Menebus?”
Kenan menghela napas, lalu berkata dengan suara sedikit lebih rendah, hampir hati-hati.
“Ngopi bareng.”
Aru terdiam sejenak. “Ngopi?”
“Sekadar ngopi,” tegas Kenan cepat. “Nggak lama. Anggap aja… permintaan maaf saya.”
Aru menggigit bibir bawahnya, ragu.“Sekarang?”
“Kalau kamu capek, nggak apa-apa,” kata Kenan, suaranya jujur.
Aru mengangkat wajahnya lagi. Tatapan mereka bertemu.
Dan lagi-lagi, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
“…Ngopi sebentar nggak apa-apa,” ucap Aru akhirnya.
Kenan terdiam sesaat—lalu tersenyum tipis.
Bukan senyum formal. Bukan senyum basa-basi.
Tapi senyum yang tulus.
“Makasih.”
Saat itu, pintu terbuka.
Nathan masuk sambil membawa kantong obat. Pandangannya berpindah dari Aru ke Kenan, lalu menyipit penuh curiga.
“Kok suasananya beda?”
“Nggak ada apa-apa,” jawab Kenan cepat.
Nathan menyerahkan obat pada Aru.
“Ini obatnya, Kak. Diminum sesuai aturan.”
“Terima kasih, Nathan.”
Sebelum Aru melangkah keluar, Kenan berkata pelan,
“Saya tunggu di lobi.”
Aru menoleh, lalu mengangguk kecil.“Iya.”
Nathan memandang punggung mereka satu per satu, lalu menyeringai lebar.
“Wah…” gumamnya. “Ini mah bukan luka tangan doang yang sembuh.”
Lobi rumah sakit tak terlalu ramai siang itu. Cahaya matahari menembus kaca besar di sisi gedung, memantul lembut di lantai marmer.
Kenan berdiri di dekat pintu keluar, satu tangan masuk ke saku celana. Begitu melihat Aru melangkah mendekat, ia langsung meluruskan punggungnya seolah refleks.
“Kita ke kafe depan aja,” katanya. “Nggak jauh.”
“Iya,” jawab Aru pelan.
Mereka berjalan berdampingan. Tak ada yang bicara. Hanya suara langkah dan detak jantung masing-masing yang terasa terlalu jelas.
Sampai di kafe kecil seberang rumah sakit, Kenan langsung membukakan pintu.
“Silakan.”ucapnya.
“Terima kasih,” ucap Aru.
Mereka memilih duduk di sudut, dekat jendela. Aru duduk berhadapan dengan Kenan.
Pelayan datang.
“Mau pesan apa?”
“Latte nya satu,” ucap Aru cepat, lalu menoleh ke Kenan. “Kamu?”
“Americano,” jawab Kenan singkat. “Tanpa gula.”
Pelayan itu mencatat semua dan pergi.
Sunyi lagi.
Kenan menatap meja sebentar, lalu mengangkat wajahnya.
“Luka kamu masih sakit?”tanya pelan.
Aru mengangguk kecil. “Sedikit. Tapi nggak parah.”
“Kalau terasa perih, bilang,” katanya refleks, lalu berhenti sejenak. “Maksud saya… jangan dipaksain.”
Aru tersenyum. “Iya.”
Kopi datang tak lama kemudian.
Aru meniup permukaan cangkirnya pelan. Uap hangat naik, sedikit mengaburkan pandangannya.
“Kamu sering ke sini?”
Kenan menggeleng. “Jarang. Biasanya cuma ke rumah sakit, kantor, pulang.”
“Oh.”
Aru mengangguk. “Saya kira… kamu tipe yang sering nongkrong.”
Kenan terkekeh pendek. “Kelihatannya?”
“Sedikit,” jawab Aru jujur, lalu cepat-cepat menambahkan, “Dalam arti baik.”
Kenan tersenyum,kali ini lebih jelas.
Ia menyeruput kopinya, lalu berkata pelan,
“Saya jarang ngajak orang ngopi.”ucapnya tiba-tiba.
Aru mendongak. “Oh.”
“Jadi…” Kenan menghela napas singkat. “Makasih udah mau nerima tawaran saya.”
Aru menggenggam cangkirnya. “Saya juga makasih,atas traktiran nya.”
Kenan menatap Aru lebih lama dari sebelumnya. Tatapannya serius, tapi hangat.
“Kamu orang yang gampang bikin orang khawatir,” katanya tiba-tiba.
Aru terkejut. “Saya?”
“Iya.”
Kenan mengangguk kecil. “Cara kamu nanya soal Kai tadi… itu tulus.”
Aru tersenyum lembut. “Dia anak kecil. Wajar dong kalau khawatir.”
“Buat saya, itu nggak wajar,” ucap Kenan jujur. “Jarang.”
Kata itu menggantung di udara.
Aru menunduk, pipinya terasa hangat. “Oh…”
Kenan menggeser cangkirnya sedikit.
“Kalau… lain kali saya ngajak ngopi lagi,” katanya pelan, hampir hati-hati, “itu masih bisa dianggap permintaan maaf?”
Aru mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.
“…Kalau terlalu sering, nanti bukan minta maaf lagi,” jawab Aru pelan, setengah bercanda.
Sudut bibir Kenan terangkat. “Berarti harus ada alasan lain.”
Aru terkekeh kecil.
Dan di tengah aroma kopi yang hangat, mereka duduk sedikit lebih rileks,tanpa sadar, jarak di antara mereka tak lagi terasa sejauh tadi.
Bersambung..................