NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Kabar yang Menyebar

Suara tawa pecah di kedai fana dekat jalur utama. Meja kayu penuh bekas goresan, cangkir tanah liat beradu tanpa peduli. Debu masuk bersama angin siang.

“Tanah tandus itu?” seorang pria bertopi jerami menyeringai. “Katanya jadi sekte.”

Yang lain menyahut, menepuk meja. “Sekte apa muridnya satu?”

Cangkir berputar. Minuman tumpah sedikit. Seorang kultivator bebas menyandarkan punggung, matanya menyipit.

“Auranya tipis,” katanya. “Tidak layak dipasang papan nama.”

Beberapa kepala mengangguk. Ada yang tertawa kecil, ada yang mengibaskan tangan. Kabar bergerak dari mulut ke mulut.

“Pendiri tidak dikenal,” kata seseorang. “Tekniknya aneh.”

“Tidak diakui,” balas yang lain. “Kalau bukan sesat, ya lelucon.”

Kursi digeser. Dua orang berdiri. Ikat pinggang mereka lusuh, bilah pendek tergantung miring.

“Lihat saja,” kata yang bertopi jerami. “Siang ini.”

Wilayah Sekte Langit Abadi terpapar matahari. Tanah masih kasar, bekas retakan lama terlihat samar. Tiang aula berdiri setengah jadi.

Xu Tian berdiri di depan batas wilayah. Jubahnya rapi. Pandangannya lurus.

Di belakangnya, Chen Yu berdiri satu langkah ke kiri. Bahunya tegang. Tangannya mengepal lalu longgar.

Tiga sosok muncul dari jalur berdebu. Langkah mereka santai. Tatapan menyapu tiang, tanah, lalu berhenti di Xu Tian.

“Ini?” kata yang paling depan. Bibirnya melengkung. “Sekte?”

Xu Tian tidak menjawab. Ia menggeser kakinya setengah langkah, menghalangi pandangan ke belakang.

Yang bertopi jerami melangkah maju. Ia mengendus udara. “Aneh,” katanya. “Tidak liar.”

Yang lain tertawa pendek. “Tidak kuat.”

Chen Yu menggeser berat badan. Debu berderak di bawah sepatunya.

“Kau murid?” tanya yang bertopi jerami, menoleh sedikit.

Chen Yu tidak menjawab. Pandangannya tetap ke depan.

Xu Tian berkata singkat, “Ada urusan?”

Pria itu menyeringai. “Lewat.”

Ia melangkah masuk. Batas tanah dilewati tanpa ragu.

Qi wilayah bergerak tipis. Tidak menghalau. Tidak menekan.

“Lihat?” kata yang di belakang. “Tidak punya gigi.”

Xu Tian berdiri. Bahunya tidak bergerak.

“Kami dengar,” lanjut yang bertopi jerami, “teknikmu berbeda.”

Ia menepuk dada sendiri. Tekanan halus merembes keluar.

Udara di sekitar Chen Yu menebal. Napasnya tertahan sesaat. Kakinya bergeser mundur satu inci.

Qi wilayah bergeser. Alirannya menyebar, merapat ke tanah, lalu menipis.

“Hmm,” gumam pria itu. Ia menaikkan tekanan sedikit.

Kerikil di tanah tidak bergeser. Tiang kayu tidak bergetar.

Chen Yu menelan. Bahunya menegang, lalu turun. Napasnya kembali.

Yang ketiga mengerutkan kening. “Menahan?”

Xu Tian mengangkat tangan setengah. Telapaknya menghadap tanah.

Tekanan berhenti. Udara kembali tipis.

“Tidak ada duel,” kata Xu Tian. “Lewatkan.”

Tertawa pecah. “Siapa yang bicara aturan?” kata yang bertopi jerami.

Ia melangkah mendekat. Tatapannya menyapu wajah Xu Tian.

“Pendiri tanpa nama,” katanya. “Berani pasang papan.”

Xu Tian memutar tubuh sedikit, menjaga posisi Chen Yu tetap di belakang.

“Pergi,” katanya.

Pria itu menoleh ke temannya. “Kau dengar?”

Yang lain mengangkat bahu. “Mungkin takut.”

Chen Yu bergerak setengah langkah. Xu Tian mengangkat jari telunjuk. Gerak itu berhenti.

Tekanan kembali muncul. Kali ini menyapu rendah.

Tanah berderak pelan. Bukan retak. Hanya padat.

“Menarik,” kata yang ketiga. “Tidak melawan.”

Xu Tian berdiri. Tatapannya tidak berubah.

“Kau pernah lihat ini?” tanya yang bertopi jerami kepada temannya. “Aliran seperti ini.”

Yang ditanya berpikir. Ia menggeleng.

“Pernah,” sahut suara baru dari belakang. Seorang kultivator lain muncul di batas jalur. Pakaiannya lebih rapi, wajahnya kurus.

Ia menyilangkan tangan. “Metode seperti ini pernah ditertawakan.”

Suara di wilayah sekte meredam. Angin berhenti sejenak.

“Di mana?” tanya yang bertopi jerami.

Pria kurus itu tersenyum tipis. “Sekte Awan Giok.”

Chen Yu menegang. Xu Tian tidak bergerak.

“Ah,” kata yang bertopi jerami. “Masuk akal.”

Ia menatap Xu Tian lebih lama. “Jadi dari sana.”

Xu Tian mengangkat dagu. “Lewatkan.”

Pria kurus itu melangkah satu langkah ke dalam. Tekanan tidak ia keluarkan.

“Awan Giok tidak suka yang menyimpang,” katanya. “Apalagi yang keluar.”

Qi wilayah bergeser lagi. Bukan menekan. Menahan.

Chen Yu merasakan tekanan di dada mereda. Ia berdiri lebih tegak.

Yang bertopi jerami tertawa kecil. “Baiklah.”

Ia berbalik. “Tidak ada yang bisa ditertawakan hari ini.”

Ketiganya berjalan pergi. Debu naik di belakang langkah mereka.

Pria kurus itu berhenti sejenak. Ia menoleh. “Nama ini akan terdengar lagi.”

Xu Tian tidak menjawab.

Mereka menghilang di jalur berdebu. Wilayah kembali sunyi.

Chen Yu menghembuskan napas pelan. Tangannya terbuka.

Xu Tian menurunkan tangan. Pandangannya tetap ke arah jalur.

Qi wilayah mengalir tipis. Tidak berubah bentuk.

Bayangan masa lalu berdiri di batas pandangan. Tidak masuk. Tidak pergi.

...

Debu belum sepenuhnya turun ketika Xu Tian berbalik. Ia melangkah masuk ke wilayah sekte tanpa menoleh lagi. Chen Yu mengikuti satu langkah di belakang.

Di halaman dalam, dua murid baru menghentikan sapu mereka. Mata mereka tertuju ke arah gerbang. Tidak ada yang bertanya.

Xu Tian mengangkat tangan. “Lanjutkan.”

Sapu kembali bergerak. Debu tersapu ke tepi. Tiang kayu berdiri lebih tegak dibanding pagi tadi.

Di batas luar, pria bertopi jerami berhenti. Ia menoleh ke pria kurus.

“Tidak ada perlawanan,” katanya.

Pria kurus mengangguk. “Itu yang aneh.”

Yang ketiga mendecak. “Kalau dibiarkan, tumbuh.”

Mereka berjalan lagi. Jalur bercabang ke barat.

Di dalam aula setengah jadi, Xu Tian berdiri di depan peta kasar yang dipaku di papan. Chen Yu menunggu di sisi kiri.

“Tutup batas luar,” kata Xu Tian.

Chen Yu mengangguk. Ia berbalik dan keluar.

Langkah Chen Yu cepat. Ia memberi isyarat singkat ke dua murid. Mereka bergerak menuju patok tanah di pinggir wilayah.

Qi wilayah menebal tipis. Tidak terlihat. Rumput liar di tepi tidak lagi bergoyang.

Salah satu murid mengusap keringat. Bahunya turun perlahan.

Notifikasi muncul singkat di sisi pandangan Xu Tian.

[Evaluasi Wilayah: Tekanan Eksternal Terdeteksi]

[Keputusan: Pertahankan Stabilitas]

Xu Tian tidak bergerak. Notifikasi memudar.

Ia memaku papan tambahan di dinding. Paku masuk bersih. Bunyi kayu padat.

Sore bergerak. Matahari turun sedikit. Bayangan tiang memanjang.

Di luar wilayah, dua kultivator lain muncul. Mereka berhenti jauh. Tidak melangkah masuk.

Salah satu mengangkat alis. “Itu tempatnya?”

Yang lain mengangguk. “Kata mereka.”

Mereka berdiri lama. Tidak ada tekanan dilepas.

Setelah beberapa saat, mereka berbalik. Jalur kembali sunyi.

Di halaman latihan kecil, Chen Yu berdiri menghadap dua murid. Tangannya terangkat setengah.

“Ulangi,” katanya.

Dua murid bergerak serentak. Langkah mereka serasi. Tanah tidak terinjak dalam.

Chen Yu menggeser posisi. Ia menahan gerak mereka dengan telapak terbuka.

Udara di depan mereka menahan. Bukan mendorong.

Mereka berhenti. Napas tersusun.

Chen Yu menurunkan tangan. “Cukup.”

Keringat mengalir di pelipisnya. Ia mengusap cepat.

Di kejauhan, suara langkah mendekat. Bukan cepat. Teratur.

Seorang tamu berdiri di luar batas. Jubahnya bersih. Wajahnya datar.

“Aku ingin bertemu ketua,” katanya.

Xu Tian muncul di sisi gerbang. “Ada urusan?”

Tamu itu menunduk singkat. “Menyampaikan kabar.”

Xu Tian memberi isyarat. “Bicara.”

“Nama sekte ini sudah disebut,” kata tamu itu. “Di jalur utara.”

Xu Tian tidak bereaksi.

“Nama Awan Giok ikut disebut,” lanjutnya.

Angin bergerak pelan. Debu bergeser satu garis.

“Kami tidak lama,” kata tamu itu. “Hanya menyampaikan.”

Ia mundur satu langkah. “Berhati-hatilah.”

Ia pergi tanpa menunggu jawaban.

Di dalam, Chen Yu menghentikan latihan. Ia menoleh ke gerbang.

Xu Tian melangkah masuk. “Teruskan besok.”

Chen Yu mengangguk. Ia memberi isyarat bubar.

Murid-murid berjalan ke barak. Langkah mereka lebih rapat dari kemarin.

Malam turun perlahan. Obor dinyalakan satu per satu. Cahaya kecil menyebar.

Xu Tian berdiri di titik tertinggi wilayah. Ia menatap garis batas.

Qi wilayah berputar stabil. Tidak melebar. Tidak menyusut.

Notifikasi singkat muncul lagi.

[Peringatan: Perhatian Fraksi Lama Meningkat]

Xu Tian mengangkat tangan. Ia mematikan notifikasi.

Di kejauhan, langit menggelap. Arah utara tertutup awan tipis.

Nama lama berputar di jalur-jalur. Tidak terlihat. Tidak bersuara.

Wilayah Sekte Langit Abadi tetap diam. Tekanan belum datang.

Namun bayangan sudah berdiri di luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!