Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang buruk sebelum perdaftaran
Pagi datang ke Kota Kekaisaran Zhonghua dengan cara yang berbeda dari malam sebelumnya. Jika malam dipenuhi tawa, aroma makanan, dan cahaya lampion yang hangat, maka pagi ini terasa dingin, tajam, dan seolah membawa firasat buruk. Kabut tipis menggantung di udara, menyapu atap-atap rumah kayu dan jalan batu yang mulai ramai oleh langkah para kultivator dari seluruh penjuru negeri.
Di rumah kayu dua lantai milik tim Akademi Tian Meng, kehidupan mulai bergerak. Zhou Yu adalah orang pertama yang terbangun. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kayu yang sudah dikenalnya, lalu menghela napas kecil. Hatinya terasa berat, bukan karena lelah, melainkan karena hari ini adalah awal dari sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Hari pendaftaran. Hari ketika semua peserta akan berdiri di hadapan dunia, dan ketika takdir mulai memperlihatkan wajah aslinya.
Ia bangkit dari tempat tidur, mengenakan jubahnya dengan gerakan tenang. Dari jendela, ia melihat matahari perlahan naik di balik tembok, sinarnya keemasan namun terasa dingin."Lembah Kabut Kematian…" gumamnya.Tak lama kemudian, suara gaduh khas Yan Xu terdengar dari kamar sebelah.
"WOI! BANGUN! KALAU TELAT KITA BISA DIBUANG KE TIM CADANGAN!" teriaknya sambil menggedor pintu Wang Da.
"Diam! Aku sudah bangun!" balas Wang Da dengan suara serak, disusul bunyi palu jatuh yang membuat lantai bergetar. Xiao Bai muncul dari kamarnya dengan rambut masih sedikit acak-acakan, mata mengantuk, namun sudah mengenakan pakaian nya yang rapi. Ia membawa kotak obat kecil seperti biasa.
Su Lin adalah yang terakhir keluar. Ia tampak seperti bayangan dingin di tengah pagi yang pucat. Rambut hitamnya terurai rapi, jubah putih-esnya berkilau lembut. Namun di balik wajah dingin itu, ada sesuatu yang berbeda… seolah-olah hatinya sedang menahan badai. Tidak ada yang benar-benar berbicara saat mereka sarapan cepat. Hanya suara sendok dan mangkuk. Mereka tahu. Hari ini bukan hari untuk bercanda.
Tempat pendaftaran berada di alun-alun utama kota, tepat di depan gerbang besar menuju wilayah kompetisi. Saat kelima orang itu berjalan keluar dari penginapan, arus manusia sudah seperti sungai yang mengalir deras. Ratusan kultivator berkumpul. Jubah dari berbagai sekte dan akademi menciptakan lautan warna yang kontras. Namun… di antara semua itu, tim Zhou Yu terasa berbeda. Bukan karena pakaian mereka. Bukan karena sikap mereka. Melainkan karena satu orang.
Saat mereka melangkah ke dalam alun-alun, tatapan-tatapan mulai mengarah kepada mereka. Awalnya samar, seperti bisikan angin. Lalu semakin jelas.
"Dia… itu Su Lin, kan?" "Aku dengar dia itu praktisi elemen es yang menggunakan jalur iblis."
"Wanita iblis itu?" "Kenapa dia bisa ada di sini?"
"Tim itu… berani sekali menerima orang sepertinya."
Bisikan itu berubah menjadi suara. Suara berubah menjadi desis penuh kebencian. Su Lin tetap berjalan, wajahnya dingin, tapi langkahnya mulai sedikit kaku. Ia mendengar semuanya. Setiap kata seperti pisau kecil yang menusuk. Yan Xu menyadarinya. Ia mengepalkan tangan. Zhou Yu juga menyadarinya. Matanya menyapu sekeliling dengan tenang, merekam wajah-wajah yang mulai memandang mereka dengan permusuhan.
"Wanita iblis!" teriakan itu datang dari seseorang di antara kerumunan. "Pengkhianat jalur lurus! Keturunan kegelapan!" Su Lin menegang. Dadanya naik turun. Napasnya goyah. Semakin banyak mata menatapnya. Semakin banyak kebencian. Untuk pertama kalinya, gadis yang dikenal sebagai Dewi Es itu terlihat rapuh. "Kalian…" bisiknya hampir tak terdengar. Kakinya tersandung. Tubuhnya condong ke depan. Dan tepat sebelum ia jatuh.
Yan Xu sudah ada di sana. Ia menangkap tubuh Su Lin, menahan pundaknya dengan kuat. "Jangan dengarkan mereka," katanya dengan suara bergetar, bukan karena takut, tapi karena marah. "Kau tidak sendirian." Su Lin terdiam. Matanya yang dingin sedikit berkabut. Dan pada saat itu… Yan Xu melepaskannya perlahan.
Lalu ia berdiri tegak. Aura api meledak dari tubuhnya. Gelombang panas menyapu alun-alun. "SIAPA YANG BERANI BUKA MULUT KOTOR ITU LAGI?!"
Suaranya menggema. Beberapa kultivator mundur. Yan Xu menatap semua orang dengan mata menyala. "Berani-beraninya kalian menghakimi seseorang yang bahkan tidak kalian kenal! Kalau ada yang merasa lebih suci dari dia, maju ke sini dan buktikan!" Suasana menjadi panas. Aura-aura mulai naik.
Namun sebuah tangan menepuk bahu Yan Xu. "Cukup," kata Zhou Yu dengan tenang. Yan Xu menoleh, masih bernapas berat. "Jangan biarkan provokasi murahan membuatmu kehilangan kendali." Yan Xu menggertakkan gigi… lalu mengendur.
Kerumunan tidak bubar. Sebaliknya, seseorang melangkah maju. Seorang pria berjubah hitam-emas, wajahnya sombong dan auranya kuat. "kau Zhou Yu, bukan?" katanya. "Kenapa kau mau menerima wanita iblis dalam timmu? Apa kau juga ingin terjerumus ke jalur sesat?" Sebelum Zhou Yu sempat menjawab Xiao Bai melangkah maju. Wajah polosnya kini merah karena marah. "Dia bukan wanita iblis!" teriaknya. "Kalian tidak tahu apa-apa tentang dia!"
Kerumunan tertawa mengejek. Pria lain melangkah maju dengan senyum bengis. "Gadis kecil, kembali ke dapur sebelum aku mengajarimu sopan santun." Tangannya terangkat. Pada detik itu Aura gelap meledak di belakang Xiao Bai. Bukan dari dirinya. tapi itu dari Wang Da. Matanya memerah. Bayangan hitam seperti kabut pekat membungkus tubuhnya.
"Kau… berani menyentuhnya?" suaranya rendah, seperti datang dari neraka. Tekanan yang keluar dari tubuhnya membuat banyak orang terhuyung.
Zhou Yu bergerak. Ia meletakkan tangannya di bahu Wang Da. "Tenang lah Da Ge," katanya pelan. Sedikit demi sedikit, aura Wang Da mereda, meski matanya masih dipenuhi niat membunuh. Kerumunan mulai kembali mencemooh. "Dasar tim aneh Berisi wanita iblis dan orang gila!" Lalu… seseorang berkata
"Tak heran ibunya mati sebagai pengkhianat."
Su Lin membeku. Wajahnya memucat. Kakinya kehilangan tenaga. Ia jatuh berlutut. Yan Xu menoleh, matanya melebar. Energi nya meledak tak terkontrol keluar meluap luap. "Apa… yang kau katakan?!" namun di saat itu tanpa semua orang sadari… Zhou Yu sudah bergerak. Tak ada yang melihatnya dengan jelas. Hanya sebuah kilatan. dan dalam sekejap, semua orang yang mencemooh terlempar ke tanah. Tubuh mereka terkapar tak berdaya. Zhou Yu berdiri di tengah mereka.
Dengan satu tangan, ia mengangkat pria yang tadi bicara tentang ibu Su Lin. Matanya dingin. "Ulangi kata-katamu," katanya pelan tubuh pria itu gemetar.
"Kalau kau berani menyebut timku sekali lagi dengan cara kotor," lanjut Zhou Yu, "kau tidak akan melihat matahari esok." Su Lin dan Yan Xu menatapnya dan Terdiam. Baru sekarang mereka melihatnya. Zhou Yu… yang selalu terlihat dingin dan polos… memiliki sisi yang jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.
Seketika, atmosfer di alun-alun yang panas itu membeku. Bukan karena hawa dingin Han Shui, melainkan karena tekanan gravitasi yang begitu masif, seolah-olah langit sendiri sedang runtuh menimpa bumi.
BOOM!
Sebuah kilatan energi putih mendarat tepat di titik tengah antara Zhou Yu dan kerumunan yang terkapar. Ledakan debu membubung tinggi, dan saat perlahan memudar, sosok pria tua berjubah abu-abu dengan rambut putih panjang berdiri di sana. Matanya tajam, memancarkan otoritas yang tak terbantahkan, dia adalah salah satu Pengawas Agung dari Kekaisaran.
"Cukup!" suara pria tua itu tidak keras, namun getarannya membuat gendang telinga semua orang berdenging. "Kompetisi Mutiara Jiwa adalah ajang martabat, bukan tempat bagi kalian untuk saling membantai seperti binatang di depan gerbang pendaftaran!"
Pria tua itu menoleh ke arah Zhou Yu, menatap pria yang masih mencengkeram leher provokator tadi. "Lepaskan dia, nak. Kau memiliki bakat, tapi kau telah melanggar aturan utama, tidak boleh ada pertumpahan darah sebelum kompetisi dimulai."
Zhou Yu menatap mata pria tua itu sejenak, lalu dengan gerakan pelan namun dingin, ia melepaskan cengkeramannya. Pria sombong tadi jatuh tersungkur, terbatuk-batuk mencari oksigen sambil gemetar ketakutan.
"Sebagai hukuman atas kekacauan ini," lanjut sang Pengawas dengan nada datar, "Tim Akademi Tian Meng akan memulai babak penyisihan dengan pengurangan sepuluh poin awal. Anggap ini sebagai peringatan bagi siapa pun yang mencoba menguji kesabaran Kekaisaran."
Bisikan sinis kembali terdengar dari kejauhan, namun kali ini lebih pelan. Pengurangan poin adalah kerugian besar, sebuah beban berat bahkan sebelum langkah pertama dimulai. Namun, Zhou Yu tidak peduli. Baginya, poin tidak ada artinya jika harga diri rekan-rekannya diinjak-injak.
Perlahan, Zhou Yu berbalik dan berjalan menuju timnya. Langkah kakinya yang tenang terasa sangat mengintimidasi. Di belakang Wang Da, Xiao Bai tampak bersembunyi dengan tangan memegang erat ujung zirah besar Wang Da. Tubuh mungilnya masih sedikit gemetar ketakutan setelah melihat ledakan amarah Zhou Yu yang begitu mengerikan.
"Sudah... sudah berakhir?" bisik Xiao Bai dengan suara bergetar.
Wang Da meletakkan telapak tangannya yang besar di kepala Xiao Bai, mengelusnya dengan lembut yang tidak biasa. "Jangan takut, Bai. Selama ada aku dan bocah kikuk itu, tidak akan ada yang bisa menyentuh sehelai rambutmu pun."
Di sisi lain, Su Lin mencoba berdiri. Kepalanya masih terasa berdenyut, bayangan masa lalu dan hinaan tentang ibunya masih terngiang, membuat dunianya seolah berputar. Yan Xu dengan sigap menahan lengannya, memberikan tumpuan agar gadis es itu tidak jatuh kembali.
"Su Lin, tarik napasmu," ucap Yan Xu, suaranya kini lembut, kehilangan nada jahil yang biasanya ada. "Jangan biarkan sampah-sampah itu menang. Kau lebih kuat dari kata-kata mereka."
Su Lin menatap Yan Xu, lalu beralih pada punggung Zhou Yu yang sudah berdiri di depan mereka. Ia menelan ludah, mencoba menguasai emosinya kembali. "Aku... aku sudah lebih baik. Terima kasih."
"Mari pergi," ucap Zhou Yu singkat.
Kelima orang itu kembali berjalan menuju meja pendaftaran. Kali ini, kerumunan yang tadi mencemooh langsung membelah, menciptakan jalan luas seolah-olah ketakutan akan tersentuh oleh aura mereka. Tatapan kebencian masih ada, namun kini bercampur dengan rasa ngeri yang mendalam. Mereka baru saja menyadari bahwa tim yang mereka anggap aneh ini dihuni oleh monster yang tidak ragu untuk menghancurkan siapa pun.
Di bawah bayangan gerbang emas yang menjulang, tim Zhou Yu melangkah dengan kepala tegak. Meski poin mereka dikurangi, meski dunia memandang mereka dengan ngeri, ikatan di antara mereka justru semakin mengeras seperti baja yang ditempa api.
...Bersambung.... ...