NovelToon NovelToon
Cakar Naga Pemutus Takdir

Cakar Naga Pemutus Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.

Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.

Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.

Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarung Tangan Perunggu Tua

Matahari pagi menyinari Puncak Awan Biru dengan cahaya keemasan yang hangat. Kabut tipis yang menyelimuti pegunungan perlahan memudar, memperlihatkan pemandangan yang bisa membuat siapa pun menahan napas karena kagum.

Gunung-gunung menjulang tinggi menembus awan, dihubungkan oleh jembatan pelangi yang terbuat dari energi Qi padat. Burung-burung bangau putih terbang melintas dengan anggun, membawa serta aroma herbal spirit yang menyegarkan. Di kejauhan, terlihat bangunan-bangunan megah Sekte Pedang Langit dengan atap genteng biru lazuli yang berkilauan.

Ini adalah Benua Sembilan Awan, sebuah dunia di mana yang kuat dihormati bak dewa dan yang lemah hidup bagai semut. Di sini, hukum alam semesta dikendalikan oleh Qi—energi murni yang mengalir di langit dan bumi.

Manusia di dunia ini menempuh jalan Kultivasi untuk memecahkan batas kefanaan. Perjalanan mereka dimulai dari Ranah Tempa Tubuh.

Namun, kunci untuk membuka pintu keabadian itu bukanlah sekadar latihan keras, melainkan takdir yang ditentukan pada usia lima belas tahun: Upacara Kebangkitan Pusaka Jiwa.

Di Alun-alun Kebangkitan yang luas, ribuan murid muda berusia lima belas tahun berbaris rapi. Wajah mereka penuh dengan semangat dan harapan.

Di barisan tengah, berdiri seorang pemuda dengan pakaian sederhana namun bersih. Namanya Li Tian. Tubuhnya tidak kekar, tapi tegap dan kencang, hasil dari latihan fisik rutin setiap subuh. Matanya jernih dan tajam, menyiratkan tekad yang kuat.

"Li Tian, kau tidak gugup?" tanya seorang pemuda gemuk di sebelahnya, menyenggol lengannya. Ini adalah Han Gemuk, sahabat Li Tian sejak kecil.

Li Tian tersenyum tipis. "Gugup tidak akan mengubah takdir, Han. Kita sudah menghabiskan lbertahun-tahun di Ranah Tempa Tubuh. Hari ini hanyalah pembuktian apakah jiwa kita memiliki wadah untuk menampung Qi langit."

"Kudengar Li Feng, sepupumu yang sombong itu, sudah mencapai Tempa Tubuh Tingkat 9," bisik Han Gemuk cemas. "Dia pasti akan membangkitkan pusaka tingkat tinggi. Kau tahu kan tingkatan pusaka? Fana, Bumi, Langit... kalau dia dapat Kelas Bumi, dia akan langsung jadi murid inti!"

Baru saja nama itu disebut, suara sorak-sorai meledak dari depan altar.

"Luar biasa! Pusaka Jiwa Kelas Bumi: Pedang Api Merah!"

Seorang tetua penguji berteriak lantang. Di atas panggung, seorang pemuda tampan dengan jubah sutra mewah berdiri dengan bangga. Di tangannya, tergenggam sebilah pedang yang menyala dengan api merah yang panas.

Itu adalah Li Feng.

Di dunia ini, Pusaka Jiwa dibagi menjadi empat tingkatan utama: Fana, Bumi, Langit, dan Dewa. Kebanyakan orang hanya membangkitkan Kelas Fana—alat pertanian atau senjata besi biasa. Kelas Bumi, yang memiliki atribut elemen seperti api atau petir, adalah tiket emas menuju kesuksesan.

Li Feng menatap ke bawah panggung, matanya menyapu kerumunan dan berhenti tepat pada Li Tian. Dia menyeringai, sebuah senyum kemenangan yang merendahkan.

"Lihat itu," kata Li Feng keras-keras, sengaja agar didengar banyak orang. "Inilah perbedaan antara naga dan cacing tanah. Li Tian, sepupuku yang malang, sebaiknya kau bersiap-siap untuk pulang kampung dan menjadi petani."

Tawa riuh terdengar dari para pengikut Li Feng.

Li Tian tidak membalas. Dia hanya mengepalkan tangannya. Tunggu saja, batinnya. Dunia kultivasi tidak hanya dinilai dari permulaan, tapi seberapa jauh kita bisa melangkah.

"Berikutnya! Li Tian!"

Panggilan itu akhirnya datang. Li Tian menarik napas dalam, menepuk bahu Han Gemuk, dan melangkah maju.

Langkahnya mantap saat menaiki tangga panggung giok putih. Dia berdiri di hadapan Batu Pembangkit, sebuah monolit kristal setinggi tiga meter yang berfungsi memancing manifestasi jiwa seseorang keluar ke dunia nyata.

Tetua Penguji, seorang pria tua berjanggut putih yang terlihat bijaksana namun tegas, mengangguk padanya. "Fokuskan pikiranmu. Salurkan Qi-mu ke batu ini. Biarkan jiwamu berbicara."

Li Tian mengangguk. Dia meletakkan telapak tangannya di permukaan kristal yang dingin.

Li Tian memejamkan mata. Dia merasakan aliran hangat di dalam Dantian-nya bergolak. Dia mendorong energi itu keluar, menyalurkannya ke batu tersebut.

Wuuung...

Batu itu berdengung pelan. Cahaya redup mulai muncul.

Kerumunan menahan napas. Apakah akan muncul pedang? Tombak? Atau mungkin binatang roh?

Cahaya itu semakin terang, tapi warnanya... aneh. Bukan emas, bukan merah, bukan biru. Warnanya cokelat kusam seperti tanah liat.

Perlahan, cahaya itu memadat di tangan kanan Li Tian, membentuk sebuah objek fisik.

Ketika cahaya pudar, seluruh alun-alun terdiam.

Di tangan kanan Li Tian, terpasang sebuah sarung tangan.

Bukan sarung tangan perang yang gagah berkilau emas. Itu adalah sarung tangan yang terbuat dari perunggu tua yang kusam. Ada sedikit ukiran di permukaannya, tapi tertutup patina hijau (karat tembaga) karena usia. Terlihat... tua. Dan biasa saja.

Tidak ada aura elemen api. Tidak ada petir. Tidak ada tekanan energi yang tajam. Hanyalah sebuah sarung tangan logam tua.

Tetua Penguji mengerutkan kening. Dia memeriksa batu penilai.

"Pusaka Jiwa: Sarung Tangan Perunggu." "Kelas: ...Kelas Fana Tingkat Rendah. Tidak Teridentifikasi Energi Elemen."

"Hahahaha!"

Tawa Li Feng memecah keheningan, diikuti oleh tawa ratusan murid lainnya.

"Sarung tangan?! Dia mau jadi tukang batu atau tukang pijat?" "Warnanya kusam sekali! Itu pasti Pusaka Kelas Fana tingkat terendah! Bahkan cangkul petani lebih berguna!" "Sudah kuduga, cabang keluarga Li memang tidak punya harapan!"

Wajah Li Tian terasa panas. Dia menatap sarung tangan di tangan kanannya. Benarkah ini? Setelah ribuan jam latihan... hanya ini?

Tetua Penguji menatap Li Tian dengan tatapan sedikit kasihan. "Li Tian. Pusakamu telah bangkit. Meski kelihatannya... sederhana, jalan kultivasi itu panjang. Kau diterima sebagai Murid Luar. Turunlah."

Diterima. Tapi dengan predikat "biasa-biasa saja". Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, "biasa" adalah hukuman.

Li Tian membungkuk hormat pada Tetua, lalu berjalan turun dengan kepala tegak meski hatinya perih. Dia mengabaikan ejekan Li Feng. Dia menatap sarung tangan itu lagi.

Kenapa kau terasa begitu hangat? batin Li Tian bingung.

Meskipun orang lain melihatnya sebagai besi dingin, Li Tian merasakan kehangatan aneh yang menjalar dari sarung tangan itu ke nadinya. Rasanya nyaman, seperti bertemu kawan lama.

Sore harinya, Li Tian duduk sendirian di tebing belakang asrama Murid Luar. Matahari terbenam melukis langit dengan warna ungu dan oranye yang indah.

Dia mengangkat tangan kanannya ke arah matahari.

"Hanya sarung tangan tua, ya?" gumamnya, mengusap permukaan perunggu kasar itu. "Yah, setidaknya kau keras. Aku bisa meninju orang dengan ini."

Dia mencoba mengepalkan tangannya.

DEG!

Tiba-tiba, jantungnya berdetak kencang. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar.

Dari dalam sarung tangan itu, sebuah suara bergema. Suara itu bukan suara bisikan hantu yang menyeramkan, melainkan suara yang agung, dalam, dan penuh wibawa—seperti suara seorang Kaisar yang berbicara dari atas takhta langit.

"...Menarik. Sangat menarik..."

Li Tian terlonjak kaget, hampir jatuh dari batu. "Siapa itu?!"

Sarung tangan perunggu itu tiba-tiba memancarkan cahaya hijau zamrud yang sangat terang, namun cahaya itu hanya berpendar satu detik sebelum meresap kembali ke dalam logam. Karat hijau di permukaannya sedikit rontok, memperlihatkan logam yang berkilau di bawahnya.

"Jangan takut, Bocah. Aku adalah Zu-Long. Kaisar Naga yang pernah membelah langit dan lautan."

Suara itu tertawa, tawa yang menggelegar namun tidak jahat.

"Ribuan tahun aku tertidur menunggu wadah yang pantas. Banyak jenius yang memegangku, tapi jiwa mereka lemah dan tamak. Tapi kau... kau memiliki tekad yang murni dan tulang yang keras."

Li Tian menatap tangannya dengan mata terbelalak. "Kau... ada Roh di dalam pusakaku? Berarti ini Pusaka Kelas Langit?!"

"Kelas Langit? Jangan hina aku dengan tingkatan rendah buatan manusia itu!" dengus suara itu sombong.

"Dengar baik-baik, Bocah. Di atas Kelas Langit dan Kelas Dewa, terdapat sembilan artefak yang dilarang oleh hukum alam karena kekuatannya yang menakutkan. Mereka disebut Sembilan Pusaka Kaisar."

"Aku adalah salah satu dari mereka! Bersamaku, kau tidak hanya akan menjadi kuat. Kau akan berdiri di puncak segala puncak!"

Li Tian merasakan darahnya berdesir. Semangat yang tadi sempat redup kini kembali membara, bahkan lebih panas dari sebelumnya.

"Katakan padaku, Bocah. Apa impianmu?"

Li Tian berdiri, menatap cakrawala yang luas di mana burung-burung spirit terbang bebas.

"Aku ingin menjadi yang terkuat," jawab Li Tian tegas. "Aku ingin tidak ada lagi yang berani meremehkanku atau keluargaku. Aku ingin melihat apa yang ada di atas langit tertinggi!"

"Bagus! Jawaban yang jantan!" Zu-Long berseru.

"Kalau begitu, bersiaplah. Latihanmu yang sebenarnya baru saja dimulai. Aku akan melatihmu sampai kau muntah darah, tapi aku berjanji... saat kita selesai, seluruh dunia akan gemetar mendengar namamu!"

Sebuah permata hijau kecil tiba-tiba muncul di punggung tangan sarung tangan itu, bersinar terang.

Di saat yang sama, Li Tian merasakan lonjakan kekuatan fisik yang luar biasa mengalir ke seluruh tubuhnya. Dia merasa bisa membelah gunung hanya dengan satu pukulan.

Li Tian tersenyum lebar. Senyum penuh percaya diri.

"Ayo kita mulai."

Kisah legenda sang Kaisar Naga dan pemuda jenius baru saja dimulai di bawah langit senja yang memukau.

1
Nanik S
Musuh Lama bermunculan Li Tian
Nanik S
Li Tian... banyak sekali Musuhmu
Nanik S
Kadal Pitih.... Li Tian memang lumayan Konyol
𝘼̶N̶A̶L̶I̶S̶T
novel ke dua yg aku taruh di rak buku setelah " Legenda Pendekar Naga" karena emank layak di baca.
Nanik S
Keren Tor.. 👍👍👍
Nanik S
Dua Naga yang bermusuhan lagi Bersatu melawan musuh...
Nanik S
Musuh dari musuhmu adalah teman 👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Naga hitam Dan Naga putih bertarung
Nanik S
Apakah mereka akan bertemu kembali untuk adu kekuatan atau hancur bersama
Nanik S
God Joob
Nanik S
Li Tian dapat saingan
Nanik S
Jooooooos
Nanik S
Dimana tepatnya rumah Xiao Yu
Nanik S
Xiao Yu... keturunan terakhir penjaga Malam Kaisar
Nanik S
Dapat 3 inti
Nanik S
Li Tian akhirnya ikut mabuk juga
Nanik S
Maaaantaaap Pooool
Nanik S
Mau tarung mikirin paaha Ayam
Nanik S
Li Tian... pedang tak bermata...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!