Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYELESAIKAN MASALAH
Mobil yang di kendarai Dino sopir pribadi Valentino dan Giana telah sampai di depan mansion mereka.
Sejak hendak terbang kembali ke Roma, Giana sangat kuatir mendengar kabar dari Ivy yang bekerja di rumah mereka mengatakan Alle pulang ke rumah dalam keadaan menangis. Hingga kini masih mengunci dirinya di dalam kamar.
Giana ingin cepat-cepat turun, sampai-sampai kakinya tersandung. Beruntung Valen sigap menahan tubuhnya istrinya itu.
"Sayang, hati-hati. Putri kita tidak kenapa-napa, Alle aman di kamarnya".
"Bagaimana kalau dia melakukan yang tidak tidak dengan pikirannya yang sedang kalut Valen. Aku tidak mau ada apa-apa dengan Allegra", jawab Giana pada suaminya. Bertepatan dengan mobil berwarna putih masuk ke halaman rumah mereka.
"Lihatlah Al datang", ujar Valen pada istrinya.
Allegri langsung turun dari mobilnya, ia pun tampak panik. Wajah tampan itu nampak serius. Valentino menepuk pundak Al dan langsung menyuruhnya masuk.
Ternyata Allegri tidak datang sendirian tapi bersama Luigi dan Monica juga. Keempatnya masih berdiri di depan.
"Berani sekali wanita itu mengusik ketenangan anak-anak ku. Lihat saja, akan aku hancurkan karir dan bisnis keluarganya sekarang juga!!!".
"Apa juga yang aku katakan selama ini bahwa wanita itu bukan lah wanita baik-baik. Ia tidak cocok dengan putra ku... Terbukti kan. Sekarang ia membuat hubungan anak-anak kita bermasalah begini. Semoga saja Alle dan Al bisa menyelesaikan salah paham di antara mereka. Jangan sampai pernikahan mereka gagal", ujar Luigi.
"Aku yakin kali ini putri ku tidak akan pergi meninggalkan negara ini, kita bisa melihat cinta anak-anak itu sangat besar", jawab Valen mengajak sahabat baiknya itu masuk.
Monica memeluk lengan Giana. Keempat bersahabat baik itu menaiki tangga menuju ke kamar Allegra.
Nampak Allegri masih berdiri di depan kamar, berusaha membujuk Alle agar membuka pintu.
"Aku ingin putus darimu. Aku tidak mau menikah dengan mu. Pernikahan kita batal!!!".
"Mulai sekarang menjauh lah dari hidupku, jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan ku. Aku membenci mu Allegri. Kau membuatku muak!! Dasar laki-laki munafik!!!".
"Pranggg!!!"
Terdengar benda pecah di dalam kamar di sertai teriakan histeris Allegra yang sangat marah.
Giana berlari mendekati Allegri. Gia mengetuk pintu. "Sayang buka pintunya. Kamu salah paham. Sejak kami masih di Milan tadi Al menghubungi mommy dan daddy, memberi tahu apa yang terjadi di antara kalian. Sekarang ada bibi Monica dan paman Luigi juga. Ayo kita bicara bersama-sama sayang..."
Tidak ada sahutan Allegra, begitu pun lemparan barang-barang di dalam kamar tak terdengar lagi.
Selang beberapa menit, terdengar kunci yang diputar dari dalam.
Nampak Allegri menghembuskan nafasnya seraya mengusap wajahnya.
Valentino menepuk pundak calon menantunya tersebut. "Selesaikan urusan kalian berdua. Paman percaya pada mu Al".
"Iya paman".
Giana memutar handle pintu, membiarkan terbuka lebar.
Allegra terlihat kacau duduk di atas tempat tidur dengan mata sembab dan memeluk lututnya.
"Alle..
Giana segera memeluk putrinya. Allegra menangis dengan tubuh terguncang.
"Sayang...Kamu dengarkan dulu penjelasan Al, jangan langsung bertindak seperti ini–"
Terdengar isakan Allegra.
"Alice masuk apartemen itu mom, ia memiliki akses keluar-masuk. Al membohongi ku mengatakan tidak mencintainya–"
"Aku tidak bohong Alle. Carmen yang memberikan password apartemen pada Alice. Carmen sendiri sudah mengakuinya. Kau bicara saja padanya kalau tidak percaya".
"Beberapa hari yang lalu Alice datang ke apartemen setelah mengetahui berita tentang rencana pernikahan kita, wanita itu bertemu Carmen di lobby. Menurut Carmen, Alice meminta bantuannya untuk mengganti pakaian karena akan ada pemotretan di dekat apartemen".
"Mendengar pengakuan Carmen tadi membuatku emosi, aku telah memecatnya. Ia teledor dan lancang mengajak wanita itu ke apartemen ku", ujar Allegri menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Allegra, Monica dan Giana yang duduk di atas tempat tidur Alle. Sementara Luigi dan Valen telah pergi dari kamar, menyerahkan semua urusan pada Al untuk menyelesaikan masalah ia dan Alle.
"Dengarkan Al, sayang. Mommy percaya padanya. Al tidak akan menyakiti mu", ucap Giana mengusap lembut punggung putri kesayangannya yang sudah nampak lebih tenang.
"Sayang, kalau kamu bereaksi seperti ini tentu saja Alice senang, karena itulah yang ia inginkan. Membuat kalian bertengkar begini sebelum pernikahan. Sejak Al berhubungan dengan wanita itu, Al tidak pernah mengenalkan ia pada kami", ujar Monica mengusap lengan Allegra. "Keberhasilan sebuah hubungan yaitu saling mempercayai satu dengan lainnya. Ingatlah pesan mommy ini".
Alle semakin terisak.
"Aku akui memang sudah beberapa kali mengajak Alice ke apartemen ku tapi aku bersumpah tidak pernah memberikan password padanya", tegas Allegri.
"Kau ingat saat kita di perkebunan malam itu saat hujan deras, aku menerima telpon dari Alice. Malam itu aku memutus hubungan kami. Tentu saja ia tidak terima dan mengancam ku".
Mendengar itu membuat Allegra kembali menitihkan air matanya. Tentu saja ia ingat malam itu, Al cukup lama menerima telpon di kamar. Ternyata saat itu Allegri memutus hubungan dengan Alice, sungguh Alle tidak tahu.
Allegra memeluk Giana, sesenggukan menangis dalam dekapan mommy-nya. "Mom maafkan aku... Ternyata aku yang salah?", ucapnya terdengar lirih.
Giana tersenyum mendengar pengakuan Alle yang telah menyadari kekeliruannya, hingga terjadi salah paham seperti ini.
"Kamu harus meminta maaf pada Allegri sayang, bukan pada mommy. Kamu sudah berpikiran yang tidak-tidak pada calon suami mu padahal ia sangat mencintai mu", ucap Giana lembut sambil menyatukan tangan Al dan Alle.
Monica tersenyum melihat keduanya. "Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Jika kalian bertengkar, ada orang lain yang akan bersorak girang di luar sana".
"Iya mom", jawab Al.
Allegra menganggukkan kepalanya.
Giana dan Monica meninggalkan Alle dan Allegri, memberi ruang bagi keduanya untuk berbicara dari hati kehati.
*
Allegri duduk di atas tempat tidur bersama Alle. Genggaman tangan keduanya semakin kuat.
"Bagaimana perasaan mu sekarang? Maafkan aku Alle–"
Tiba-tiba Allegra memeluk Allegri seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak Al, Aku yang harusnya meminta maaf pada mu. Aku tidak mau mendengar alasan yang kau berikan. Aku benar-benar cemburu membayangkan wanita itu leluasa di apartemen mu Al. Aku membayangkan kalian kerap menghabiskan waktu bersama", ucap Allegra sambil menyandarkan wajahnya pada dada bidang Allegri yang membalasnya dengan mengusap lembut punggung kekasihnya itu.
"Aku mencintaimu Allegra. Sangat mencintai mu. Sulit melukiskan sebesar apa cinta yang aku rasa untuk mu. Percayalah, aku akan membuat mu bahagia. Percayalah tidak ada yang terjadi saat aku berdua dengan Alice. Aku tidak pernah tidur bersamanya, walau wanita itu sering kali menggodaku. Aku bersamanya hanya sebagai teman bicara. Yang aku bicarakan tak lain tentang rinduku padamu Alle", ucap Allegri penuh perasaan.
Keduanya saling bertatapan dengan cinta.
*
Giana dan Monica tersenyum melihat suami mereka ternyata tengah menikmati kopi di sore hari di beranda.
"Bagaimana anak-anak itu? Apa sudah selesai masalah mereka?", tanya Valentino saat melihat Giana dan Monica telah turun.
"Semua baik-baik saja sayang, hanya salah paham".
"Apa juga aku bilang, anak-anak itu pasti bisa menyelesaikan masalah mereka. Allegri dan Allegra itu saling mencintai sama seperti kita ini", seloroh Luigi sambil menyesap kopi yang tersaji di atas meja.
"Masalah seperti itu tidak seberapa. Hal yang sulit itu seperti kita dulu, ketika aku akan menikah dengan mu sayang dan awal pernikahan, kau sangat menyulitkan aku. Valen dan Giana saksinya", balas Monica sambil memeluk leher suaminya dari belakang.
"Heii...kenapa masih juga kau ingat saat itu? Bukankah kita sudah berjanji untuk melupakan kenangan buruk dan hanya mengingat yang manis saja", jawab Luigi.
"Hanya mengenang saja. Bukan berarti menyesalinya. Karena itulah takdir, cara Tuhan menyatukan cinta ku dan cinta mu sayang", ucap Monica mengecup lembut wajah suaminya.
Valentino dan Giana tersenyum melihat Monica dan Luigi seperti itu.
"Kau satu-satunya wanita yang ia cintai Monic. Karena kamu juga temanku ini menjadi laki-laki baik seperti sekarang. Aku dan Giana senang melihat kebahagiaan kalian".
"Dad..."
Keempatnya kompak menatap Allegra bersama Al turun dan bergabung bersama mereka.
"Bagaimana, apa kalian sudah membuat cucu untuk kami?", seloroh Luigi yang langsung membuat wajah Allegra memerah seperti tomat matang.
"Tentu saja aku dan Alle akan memberi kalian cucu ketika sudah menikah nanti", jawab Al.
"Sekarang aku akan mengajak Alle melihat gaun pengantin. Morella masih menunggu kedatangan kami di butiknya", ucap Allegri memeluk pinggang Alle yang masih tersipu malu. Terlebih baru saja melewati hari yang berat namun terselesaikan dengan baik setelah Allegri menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Ya sayang, kalian berdua urus lah persiapan pernikahan kalian. Mommy dan daddy mu, nanti Dino yang akan mengantar pulang. Sekarang kami masih ingin mengobrol", ucap Giana.
Allegri menganggukkan kepalanya.
...***...
To be continue