NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersadar

Tubuh Anya terasa kaku dan membeku mendengar bentakan keras Pramudya. Ia semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani mengangkat wajahnya barang sedikit pun untuk menatap mertuanya. "Ayah... tadi sebelum kejadian, Arga sempat pergi dari rumah karena dia marah sama Anya," ucap Anya dengan suara tercekat, berusaha menceritakan kejadian yang sebenarnya.

"Arga marah pasti ada sebabnya, Anya! Arga tidak mungkin marah tanpa alasan yang jelas!" balas Pramudya dengan nada tajam.

Tiba-tiba, suasana tegang di ruangan itu semakin diperkeruh dengan kehadiran dua orang yang sangat dibenci Anya. Siapa lagi kalau bukan Galen dan Rini. "Mas Pram, Arga kenapa, Mas?" tanya Rini dengan nada sok khawatir.

Pramudya menatap Rini dengan tatapan dingin. "Kamu kenapa bisa sampai ke sini?"

Rini mengangguk dengan wajah tanpa dosa. "Tadi Galen cerita kalau Arga masuk rumah sakit, jadi aku khawatir dan langsung menyusul ke sini," jelasnya dengan nada meyakinkan.

"Tadi aku langsung kasih tahu Mamah, Ayah. Aku khawatir banget kalau terjadi apa-apa sama Arga, makanya aku dan Mamah langsung buru-buru ke sini," jelas Galen dengan ekspresi prihatin yang dibuat-buat.

Pramudya mengangguk pelan dengan wajah yang tampak lelah dan sedih. "Iya, kalian bisa lihat sendiri bagaimana kondisi Arga sekarang. Dia masih belum sadar," ucapnya dengan nada pasrah.

"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama Arga, Mas Pram? Sampai dia bisa jadi seperti ini?" tanya Rini dengan nada sok khawatir yang kentara.

"Anya, apa yang sebenarnya terjadi pada Arga?! Belum ada sehari kalian tinggal berdua, tapi Arga sudah terbaring di rumah sakit! Sebenarnya kamu becus atau tidak sih jadi istri Arga?!" tanya Rini dengan nada sinis dan menusuk yang membuat hati Anya semakin hancur.

"Tadi... Arga marah sama aku, terus dia pergi dari rumah," jawab Anya dengan suara bergetar, menahan air mata yang siap tumpah.

Anya merasa tidak sanggup untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya, terutama tentang alasan di balik kemarahan Arga. Ia tahu betul, jika ia berterus terang, Pramudya pasti akan murka dan memarahinya habis-habisan.

Galen hanya menatap Arga yang sedang terbaring lemah dengan tatapan sinis dan merendahkan. "Kenapa nggak mati aja sekalian biar nggak jadi beban," gumam Galen dalam hati dengan nada penuh kebencian.

"Kenapa Arga bisa sampai semarah itu sama kamu? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan ke Arga sampai dia pergi dari rumah?" tanya Rini dengan nada menyelidik, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku... aku tidak tahu apa-apa," jawab Anya dengan nada berbohong yang kentara. "Kami cuma bertengkar sedikit, terus tiba-tiba Arga pergi," lanjutnya sambil menunduk, berusaha menyembunyikan kebohongannya dari tatapan tajam Pramudya.

Pramudya memijit pelipisnya dengan kasar, merasakan pening yang menusuk-nusuk kepalanya. "Anya, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Arga, saya tidak akan segan-segan memberikan peringatan keras pada perusahaan orang tuamu! Jangan lupakan posisiku!" ancam Pramudya dengan nada penuh kuasa dan intimidasi.

Mendengar ancaman itu, amarah Anya langsung tersulut. Kedua tangannya mengepal erat, menahan gejolak emosi yang meluap-luap. "Ayah! Aku sudah menuruti semua yang Ayah inginkan selama ini! Dan ini juga salah Ayah! Kenapa Ayah tidak jujur padaku tentang kondisi Arga yang sebenarnya?! Jangan berani-berani Ayah mengancamku dengan menjatuhkan perusahaan keluargaku!" balas Anya dengan nada membentak.

"Jaga ucapanmu, Anya!" bentak Rini tiba-tiba, memecah ketegangan antara Anya dan Pramudya.

Anya mendengus kesal sambil menatap Rini dengan tatapan sinis dan meremehkan. "Tante nggak usah ikut campur urusan keluarga kami! Tante bukan bagian dari keluarga ini!" ucap Anya dengan nada ketus dan penuh amarah, karena sudah muak dengan tingkah Rini yang selalu ikut campur dan memperkeruh suasana.

"Rini memang bukan siapa-siapa di keluarga ini, tapi dia jauh lebih peduli pada Arga daripada kamu!" bentak Pramudya dengan nada merendahkan, membuat hati Anya semakin hancur berkeping-keping. "Seharusnya kamu merasa malu pada dirimu sendiri!"

Mendengar Pramudya membela Rini, Anya hanya mendengus sinis sambil menatap Rini dengan tatapan penuh amarah. Rini balas menatapnya dengan raut wajah puas dan penuh kemenangan.

"Kalau aku nggak sayang sama Arga, aku nggak mungkin susah payah membawanya ke rumah sakit! Dan perlu Ayah ingat, Ayah juga punya andil dalam semua ini! Sejak awal Ayah hanya mengatakan kalau Arga punya masalah dengan mentalnya, bukan dengan kondisi kesehatannya!" balas Anya dengan nada membentak, meluapkan semua amarah dan kekesalannya yang sudah lama ia pendam.

"Kalau Ayah terus mau menyalahkanku atau mengancamku dengan kekuasaan Ayah, silahkan saja! Aku tidak takut lagi!" ucap Anya dengan nada menantang, sudah tidak peduli lagi dengan konsekuensi yang akan ia hadapi.

Pramudya sama sekali tidak mempedulikan Anya dan langsung menggenggam erat tangan Arga. "Kamu sudah sadar, Sayang? Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa ada yang sakit?" tanya Pramudya dengan nada penuh kasih sayang, menatap Arga dengan tatapan khawatir.

Arga menggelengkan kepalanya perlahan dengan lemah. "Anya, maafin Arga ya? Karena Arga, kamu jadi dimarahi sama Ayah," ucapnya dengan nada tulus dan penuh penyesalan.

Meski sedang sakit, Arga masih saja mengkhawatirkan perasaan Anya. Sedangkan Anya, hatinya mulai tersentuh dan merasa sedikit bersalah atas semua perkataan dan perbuatannya terhadap Arga.

Anya masih terdiam membisu, menatap Arga dengan perasaan campur aduk antara bersalah, khawatir, dan menyesal. Ia sangat ingin mendekat, namun masih ragu untuk melakukannya. Selang oksigen yang tadi menutupi sebagian wajah Arga kini sudah ia lepas, memperlihatkan wajahnya yang pucat dan lemah.

"Anya jangan marah sama Arga, ya? Arga janji nggak akan pergi dari sisi Anya lagi," ucap Arga dengan suara yang sangat lirih, namun penuh dengan ketulusan dan harapan.

Di sudut ruangan, Galen dan Rini saling bertukar pandang dengan tatapan yang penuh kekecewaan. Mereka jelas tidak senang melihat Arga sudah sadar dan kembali membuka mata.

"Sudahlah Arga, jangan terus-terusan membela istrimu itu. Kalau memang dia salah, ya sudah akui saja. Jangan dibela begitu, nanti dia malah semakin besar kepala," ucap Rini dengan nada sinis dan merendahkan.

"Sudahlah, Sayang, kamu istirahat saja yang tenang. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting," ucap Pramudya dengan lembut sambil mengelus rambut putranya dengan penuh kasih sayang.

"Tidak, Ayah, Anya tidak bersalah. Jangan salahkan Anya. Ini salah Arga karena tidak menuruti perkataan Anya," jelas Arga dengan suara yang masih lemah, namun tetap berusaha membela istrinya dengan sepenuh hati.

"Iya, Sayang, sudah ya, kamu istirahat dulu. Atau ada yang kamu inginkan? Biar Ayah bantu ambilkan," tanya Pramudya dengan nada penuh kasih sayang.

Arga mengangguk perlahan dengan lemah. "Ayah harus minta maaf sama Anya. Tadi Ayah sudah memarahi Anya, dan Arga mendengar semuanya," ucapnya dengan nada memohon.

Pramudya menghela napas panjang dengan wajah yang tampak menyesal. Ia tidak menyangka kalau putranya sudah sadar sejak tadi dan mendengar semua perkataan kasar yang ia lontarkan pada Anya. "Maafkan Ayah, Anya. Ayah sudah memarahimu tadi," ucap Pramudya dengan nada tulus.

Anya hanya mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Arga. "Tidak apa-apa," jawabnya datar, seolah hanya Arga yang penting baginya saat ini.

Arga tersenyum tipis dengan wajah yang pucat. "Anya, tolong bantu Arga untuk duduk sebentar," ucap Arga dengan nada memohon, menatap Anya dengan tatapan yang penuh harap.

"Biar Ayah saja yang bantu ya, Sayang. Sini, biar Ayah bantu kamu duduk," ucap Pramudya dengan lembut, hendak membantu putranya untuk bersandar.

Namun dengan segera Arga menolak tawaran ayahnya. "Tidak mau, Arga maunya dibantu sama Anya," tolaknya dengan nada lemah namun penuh dengan ketegasan.

Anya dengan berat hati mendekat ke sisi ranjang Arga. Untuk saat ini, ia memilih untuk mengesampingkan egonya dan menuruti keinginan Arga. Ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Arga, dan ia ingin menebus kesalahannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!