NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:565
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Rahasia yang Tersingkap

Antara Malu dan Kabar Bahagia

Sepintar apa pun kau menyimpan rahasia,

Harum bunga pasti akan tercium juga.

Sebab bahagia tak selamanya bisa kau sembunyikan sendiri,Terutama saat binar di matamu tak lagi bisa kau pungkiri.Kairo mulai berbisik tentang satu nama,

Tentang janji suci yang terjalin lewat udara.

Kini saatnya dunia tahu siapa pemilik hatimu,

Meski kau masih ingin bersembunyi di balik malu.

Bungah baru saja hendak memejamkan mata untuk tidur siang ketika ponselnya kembali berisik. Kali ini bukan dari Mas Zidan, melainkan notifikasi grup WhatsApp mahasiswa Indonesia di Kairo yang masuk bertubi-tubi.

"Bungah! Lihat ini!" Fatimah berseru sambil menyodorkan ponselnya tepat di depan wajah Bungah yang masih mengantuk.

Di layar ponsel Fatimah, terpampang sebuah foto tangkapan layar (screenshot) dari status WhatsApp Mas Azam. Foto itu memperlihatkan Mas Azam sedang merangkul Gus Zidan di depan masjid, dengan keterangan: "Selamat menempuh hidup baru, Adik Iparku yang shalih @Zidan_Alhafidz. Titip Adikku @Bungah_Lestari ya, Gus!"

Bungah serasa ingin tenggelam ke dalam kasur saat itu juga. "Mas Azam... Ya Allah, kenapa di-post di status..." rintihnya sambil menutupi wajah dengan bantal.

Fatimah melongo, mulutnya terbuka lebar. "Jadi... jadi yang menikah semalam itu KAMU, Bungah?! Sama Gus Zidan yang dingin itu?! Yang pernah ngisi kajian di aula itu?!"

Bungah perlahan menurunkan bantalnya, menatap Fatimah dengan pasrah. "Nggih, Fat... Tapi tolong jangan teriak-teriak."

"Wah, parah! Kamu benar-benar ya, Bungah! Sahabat sendiri nggak dikasih tahu!" Fatimah langsung memeluk Bungah dengan gemas. "Pantas saja tadi pagi kamu ileran tapi senyum-senyum! Ternyata habis akad toh!"

Belum sempat Bungah membela diri, pintu asrama diketuk lagi. Ternyata beberapa mahasiswi lain yang juga teman dekat Bungah sudah berdiri di depan pintu dengan wajah menuntut penjelasan. Kabar pernikahan "Ghaib" sang Mentari Kairo dan Gus dari Jawa itu telah menyebar secepat badai gurun.

Sementara itu, di Jawa Timur, Gus Zidan sedang sibuk melayani tamu di kediaman Kyai Hasan. Namun, ponselnya terus bergetar. Ternyata banyak teman-teman alumni Mesir yang mengirimkan ucapan selamat.

Zidan menarik napas panjang. Ia tahu privasinya kini sudah sedikit terbuka, namun ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya. Ia tidak lagi perlu bersembunyi jika ingin merindukan Bungah.

Tiba-tiba, Bunda menghampiri Zidan. "Gus, ini ada kiriman paket untuk Bungah. Tapi karena Bungah masih di sana, Bunda pikir Gus saja yang pegang atau mungkin mau dikirim ke Kairo?"

Zidan menerima sebuah kotak kecil berhias pita emas. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan wanita yang sangat elegan dan sebuah kartu ucapan kosong. Zidan tersenyum. Ini adalah hadiah pernikahan dari Uminya untuk Bungah.

Zidan mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada seseorang di Kairo—bukan Bungah, melainkan salah satu ustadz senior yang menjadi pengurus asrama.

Zidan: "Assalamu'alaikum, Ustadz. Mohon bantuannya. Saya ingin mengirimkan hadiah dan beberapa makanan kesukaan Bungah melalui jasa titip kilat hari ini. Bisakah Ustadz merahasiakan ini sampai barangnya tiba di kamarnya?"

Zidan ingin memberikan kejutan. Ia tahu Bungah sedang "disidang" oleh teman-temannya di sana, dan ia ingin menghibur istrinya dengan caranya sendiri.

Kembali ke Kairo, Bungah akhirnya terduduk lemas di tengah kepungan teman-temannya.

"Ayo cerita, gimana rasanya akad lewat telepon? Mas Zidan nangis nggak pas bilang sah?" tanya salah satu teman dengan antusias.

Bungah tersipu. "Mas Zidan... suaranya mantap kok. Cuma aku yang nangis."

"Terus, tadi pagi sudah teleponan?" tanya yang lain menggoda.

Bungah teringat kejadian "Mas ikut ke kamar mandi" dan langsung menggeleng cepat dengan wajah merah padam. "Nggak! Maksudnya... cuma sebentar!"

Di tengah keriuhan itu, seorang petugas asrama mengetuk pintu. "Mbak Bungah Lestari? Ada kiriman paket besar dan buket bunga dari layanan ekspedisi."

Semua mata tertuju pada pintu. Sebuah buket bunga mawar putih yang besar masuk ke kamar, diiringi sebuah kotak berisi makanan khas Indonesia yang masih hangat dan sebuah amplop cokelat.

Bungah menerima amplop itu dan membukanya. Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan gagah:

"Untuk Istriku, Sang Mentari. Maaf ya kalau Mas Azam membocorkan rahasia kita. Makanlah yang banyak, jangan mi instan terus. Mas sedang mengurus visa, tunggu Mas di sana. - Suamimu, Zidan."

Seluruh kamar asrama mendadak riuh dengan suara "Cieee!" yang memekakkan telinga. Bungah hanya bisa memeluk surat itu erat-erat di dadanya, merasa bahwa meskipun ia jauh dari tanah air, cinta suaminya telah sampai lebih dulu sebelum orangnya tiba.

Bungah menatap buket mawar putih itu dengan perasaan yang tak karuan. Harum mawarnya memenuhi kamar asrama yang sempit, seolah membawa aroma khas pesantren di Jawa Timur langsung ke hadapannya. Teman-temannya masih terus menggoda, namun fokus Bungah tertuju pada kalimat terakhir di surat itu: “Mas sedang mengurus visa, tunggu Mas di sana.”

​“Wah, Bungah! Ini mah bukan cuma dapet suami, tapi dapet pelindung tingkat tinggi!” seru Fatimah sambil mencolek bahu Bungah. “Gus Zidan beneran mau ke sini? Bukannya beliau sibuk banget di pondok?”

​Bungah menggeleng pelan, ia sendiri masih tak percaya. “Aku juga nggak tahu, Fat. Kemarin rencananya Mas Zidan nunggu aku pulang di bandara. Tapi sepertinya... setelah tahu aku sendirian di sini tanpa Mas Azam, beliau nggak tenang.”

​Di tengah riuhnya suasana kamar, ponsel Bungah kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk, namun kali ini bukan dari ponsel Bunda, melainkan nomor pribadi milik Gus Zidan yang baru saja ia simpan dengan nama “Mas Imamku”.

​“Sstt! Diem semuanya, suaminya telepon!” perintah Fatimah kepada teman-temannya yang lain. Seketika kamar menjadi sunyi senyap, namun telinga mereka semua condong ke arah ponsel Bungah.

​Bungah mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar. “Assalamu’alaikum, Mas...”

​“Wa’alaikumussalam, Sayang. Sudah terima bunganya?” suara Zidan terdengar begitu tenang, namun ada nada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

​“Sudah, Mas... Terima kasih banyak ya. Tapi Mas, ini teman-teman satu asrama jadi tahu semua gara-gara kiriman bunga sebesar ini,” bisik Bungah sambil melirik teman-temannya yang sedang menahan tawa.

​Zidan tertawa kecil di seberang sana. “Biar saja mereka tahu, Dek. Mas ingin semua orang di Kairo tahu kalau kamu sudah ada yang menjaga. Oh iya, titip salam buat teman-temanmu, bilang pada mereka untuk jangan terlalu sering menggoda istri Mas, kasihan pipinya pasti merah terus.”

​Bungah semakin tertunduk malu. “Mas Zidan ih! Mas beneran mau ke Kairo?”

​“Insya Allah. Mas sudah bicara dengan Abi dan Ayah. Mas tidak bisa membiarkan istri Mas berjuang sendirian di sana untuk ujian akhir. Mas akan datang untuk menemanimu belajar, dan... mungkin kita bisa jalan-jalan sebentar di tepi Nil sebagai pengantin baru,” ucap Zidan dengan nada yang sangat romantis.

​Bungah merasa hatinya meledak oleh kebahagiaan.

“Adek tunggu, Mas. Adek bakal belajar lebih giat lagi biar bisa kasih ijazah Mumtaz sebagai hadiah buat Mas nanti.”

​“Pintar. Ya sudah, makan dulu makanan yang Mas kirim. Itu ada sambal goreng teri kesukaanmu dari Bunda. Mas tutup ya? Mas mau ke kantor imigrasi sekarang. Ila liqo’, Sayang.”

​“Ila liqo’, Mas...”

​Setelah telepon ditutup, Bungah langsung diserbu oleh teman-temannya yang menagih makan-makan sebagai syukuran. Bungah hanya bisa tersenyum lebar. Kehadiran Zidan dalam hidupnya, meskipun masih terpisah jarak, telah mengubah ketakutannya menjadi keberanian yang luar biasa.

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!