Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Menikah
Seminggu berlalu dengan sangat cepat, seolah waktu dipaksa berlari untuk mengejar takdir. Hari yang ditentukan pun tiba. Tidak ada pesta megah, tidak ada ribuan tamu undangan, dan tidak ada dekorasi mewah yang menghiasi gedung tinggi. Sesuai kesepakatan, pernikahan itu hanya digelar di ruang tengah kediaman keluarga Chen yang disulap menjadi tempat akad nikah yang khidmat namun sangat sederhana.
Hanya ada penghulu, Tuan Chen sebagai saksi, dan beberapa anggota keluarga inti. Kamila duduk bersimpuh di samping Evan dengan balutan kebaya putih sederhana yang sangat anggun. Wajahnya yang polos hanya dipoles riasan tipis, namun kecantikan alaminya tetap memancar di balik kerudung transparan yang menutupi kepalanya.
Suasana mendadak hening saat Evan menjabat tangan penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kamila binti (Alm) Iskandar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?"
"SAH!"
Alhamdulillah...
Seketika itu juga, pertahanan Kamila runtuh. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya saat ia menunduk untuk mengaminkan doa. Dadanya terasa sesak oleh jutaan rasa yang bercampur aduk. Ia tidak pernah menyangka akan kembali duduk di depan penghulu dengan pria yang baru beberapa minggu ia kenal, dan masih terasa asing.
'Ya Tuhan, ini adalah kedua kalinya aku menikah tanpa dasar cinta. Aku mohon, kuatkan hatiku. Semoga Tuan Evan memegang janji bahwa ini hanyalah status demi Baby Zevan,' batin Kamila dalam isaknya.
Setelah doa selesai, Evan menoleh ke arah Kamila. Ia melihat bahu wanita itu berguncang hebat. Dengan ragu, Evan meraih tangan Kamila. Sesuai tradisi, Kamila pun mencium punggung tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya itu. Ada getaran aneh yang menjalar di tangan mereka berdua, sebuah kontak fisik pertama yang terasa begitu bermuatan emosi.
"Jangan menangis," bisik Evan sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain. "Kau aman sekarang."
Tuan Chen mendekat dengan wajah penuh kelegaan. Ia menggendong Baby Zevan yang sejak tadi diam memperhatikan. Anehnya, seolah mengerti bahwa hari ini adalah hari bahagia, Baby Zevan tiba-tiba tertawa kecil.
"Bababa... Mamama...!" celetuk Baby Zevan dengan bahasa bayinya yang menggemaskan. Kakinya yang mungil menendang-nendang kegirangan, dan tangannya menggapai-gapai ke arah Kamila.
Melihat tingkah putranya, tangis Kamila berubah menjadi senyuman kecil di balik air matanya. Ia mengambil Zevan dari gendongan Tuan Chen dan memeluknya erat.
"Lihat, Evan. Sepertinya Zevan yang paling bahagia hari ini," ujar Tuan Chen sambil tersenyum lebar. "Dia sudah tahu bahwa mulai hari ini, dia punya Ibu yang akan selalu menjaganya."
Evan memperhatikan Kamila yang sedang mengusap hidungnya sambil menciumi pipi Zevan. Ada rasa hangat yang asing menyusup ke hati Evan. Meski ia masih mencintai mendiang istrinya, melihat kebahagiaan di wajah putranya membuat beban di pundaknya sedikit terangkat.
"Tugasmu sekarang adalah menjadi Ibu bagi Zevan, Kamila," ucap Evan sambil menatap mereka berdua. "Dan tugasku adalah memastikan tidak ada lagi yang bisa menghinamu di luar sana. Mulai hari ini, kau adalah Nyonya Evan Chendana."
Kamila hanya mengangguk pelan, masih memeluk Zevan dengan protektif. "Terima kasih, Tuan... maksud saya, Mas Evan."
Sebutan itu membuat jantung Evan berdesir untuk sesaat. Pernikahan ini mungkin hanya di atas kertas, namun keberadaan Baby Zevan yang terus berceloteh riang di antara mereka seolah menjadi pengikat yang jauh lebih kuat dari sekadar tanda tangan di buku nikah.
Malam semakin larut, dan kesunyian di kediaman Chen terasa lebih pekat dari biasanya. Setelah memastikan Baby Zevan tertidur lelap dalam pengawasan Suster Zara, Kamila melangkah dengan berat hati menuju kamar utama. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena rasa canggung yang luar biasa.
Di dalam kamar, Evan sudah bersandar di kepala ranjang. Ponsel di tangannya menjadi pelarian terbaik untuk menyembunyikan kegugupan yang melanda. Ia terus menggeser layar tanpa benar-benar membaca isinya.
Kamila berhenti di ambang pintu, tangannya mencengkeram erat daun pintu, tampak ragu untuk melangkah lebih jauh ke dalam ruang pribadi pria yang kini statusnya adalah suaminya.
Evan menyadari kehadiran Kamila melalui ekor matanya. Ia berdehem kecil untuk memecah keheningan yang menyesakkan.
"Ehem... Sampai kapan kamu mau berdiri di situ, Kamila? Masuklah dan segera kau tutup pintunya," ujar Evan, suaranya terdengar sedikit kaku. "Kalau kau sudah mengantuk, kau bisa tidur duluan."
Ia tetap memaku pandangannya pada layar ponsel, tidak berani menatap langsung. Kamila hanya mengangguk pelan meski Evan tidak melihatnya, lalu masuk dan menutup pintu dengan suara klik yang sangat pelan.
Kamila duduk di tepi ranjang, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia membuka hijab instannya. Begitu kain itu terlepas, rambut hitamnya yang panjang tergerai jatuh ke punggung, tampak berkilau tertimpa cahaya lampu tidur yang temaram. Ia kemudian melepas ikatan rambutnya, membiarkan helai-helai halus itu membingkai wajahnya yang tampak lelah namun bersih.
Secara tidak sengaja, Evan menoleh. Detik itu juga, napasnya seolah tertahan. Tanpa balutan hijab, Kamila terlihat sangat berbeda, jauh lebih muda, lembut, dan memiliki kecantikan alami yang belum pernah Evan sadari sebelumnya.
'Kenapa tiba-tiba saja dia berubah menjadi wanita yang terlihat begitu imut? Argh! Kenapa bisa-bisanya aku berpikir begitu?!' batin Evan merutuki dirinya sendiri.
Ia segera membuang muka, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kamila segera merebahkan tubuhnya. Ia menarik selimut hingga sebatas dada dan memiringkan tubuhnya ke arah kanan, membelakangi Evan sepenuhnya. Ia tampak seperti ingin mengecilkan diri agar tidak memakan banyak tempat di ranjang itu.
Evan memperhatikan punggung Kamila sejenak. Ia sangat mengerti bahwa posisi tidur Kamila adalah pesan jelas ' jangan dekati' aku. Ada rasa tidak nyaman yang menyelinap di hati Evan melihat penolakan yang begitu nyata, namun ia sadar akan janji yang telah ia ucapkan.
Sebagai pria normal yang sudah cukup lama menduda dan tidak pernah menyentuh wanita mana pun sejak kepergian istrinya, Evan harus berjuang keras menekan hasrat dan ego lelakinya. Ia menarik napas panjang, lalu ikut merebahkan tubuhnya dan membelakangi Kamila.
Kini mereka tidur saling membelakangi, terpisahkan oleh dinding tak kasat mata yang tebal. Hanya suara detak jam dinding dan napas yang tertahan yang terdengar di ruangan itu.
"Selamat malam, Kamila," gumam Evan sangat lirih, hampir seperti bisikan pada angin.
Kamila tidak menjawab, namun matanya yang masih terbuka di kegelapan tampak berkaca-kaca. Ia berharap keputusannya ini adalah awal dari perlindungan bagi dirinya dan Zevan, bukan justru penjara baru dalam hidupnya.
Bersambung...
kopi untuk mu👍