Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Elvan menatap orang-orang di meja satu per satu. yang terlihat begitu tegang “Saya tidak suka drama. Saya juga tidak suka teriak. Kita perusahaan, bukan sinetron jam tujuh malam.”
Beberapa staf refleks mengangguk, walau kelihatan nggak ngerti kenapa jadi nyerempet sinetron. Dan juga tidak ingin menanggung amarah sang bos .
Salah satu tim audit mendorong satu berkas ke depan. “Ini buktinya, Pak.”
Elvan membuka berkas itu. Matanya bergerak cepat, seperti scanner manusia.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita ikuti prosedur. Akses keuangan dibekukan sementara. HR akan panggil yang terlibat. Tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.”
Manajer keuangan itu semakin gemetar. “P-Pak… mohon kebijakannya—”
"Kebijakan saya sederhana,” potong Elvan datar. “Kerja jujur. Kalau tidak sanggup, pintu keluar selalu ada"
Ruangan makin membeku
Lalu, di tengah suasana super tegang itu… perut seseorang berbunyi.
Krrrkkk
Semua mata otomatis nyari sumber suara.
Staf IT di ujung meja langsung memegang perutnya, mukanya merah padam. “Maaf, Pak. Sarapan cuma kopi…”
Elvan hanya melirik sebentar. Hening dua detik.
"Lain kali makan,” katanya. “Kita butuh orang fokus. Perut lapar bikin keputusan bodoh.”
Beberapa orang hampir ketawa, tapi langsung nahan. Elvan berdiri.
“Meeting selesai. Lakukan sesuai prosedur. Saya mau laporan lengkap sore ini.”
Saat Elvan melangkah keluar, suasana pelan-pelan mencair. Diikuti Kenzo sang asisten bos sekaligus sahabat.
" Bereskan semuanya " pesan kenzo melangkah meninggalkan ruangan .
"Baik pak "
Salah satu staf berbisik, “Serem sih… tapi entah kenapa barusan dia kayak… peduli ya?”
Yang lain mengangguk setuju.
"Iya. CEO dingin, tapi logikanya hangat.”
Dan pintu ruang meeting menutup pelan, meninggalkan napas lega—dan rasa kapok buat main-main sama angka.
***
Pintu ruang meeting lantai tiga Bagaskara Group terbuka pelan. Elvan melangkah keluar dengan ekspresi datar khasnya—mode CEO dingin masih aktif. Staf-staf di dalam baru aja menghela napas lega kayak abis ditarik dari dasar kolam.
Begitu pintu tertutup, pemandangan pertama yang Elvan lihat adalah…
seorang cewek berseragam SMA tidur nyenyak di sofa samping ruangan. Cewek yang tadi menabrak dan memanggilnya Om.
Posisinya setengah miring, ransel jadi bantal, mulutnya sedikit kebuka. Nafasnya teratur, damai banget—kayak dunia nggak punya deadline.
Elvan berhenti melangkah
Di belakangnya, Kenzo—kakak Dira—baru keluar juga. Begitu lihat adiknya tidur, wajahnya langsung campur aduk antara malu, panik, dan pasrah.
"Ya ampun dira …” Kenzo menepuk jidat kecil. “Maaf, Bos Adik aku . Sepertinya dia menunggu aku " balas kenzo , Memang jika kalau hanya berdua saja atau diluar kerja kenzo pakai bahasa Nonformal , itu pun juga kemauan elvan .
Elvan menatap dira .Lama
" Dia adik kamu?"
Kenzo nyengir kaku. “ iya, ”
Tiba-tiba Dira bergumam dalam tidur.
“Es teh manis satu… jangan pakai es kebanyakan…”
Kenzo refleks nutup mulut sendiri, nahan ketawa. Elvan menghela napas pelan—bukan kesal, lebih ke bingung.
" Dia nunggu kamu ?" tanya elvan
" Astaga .. aku lupa pesankan taksi buat dia "
Dira mendadak geser posisi. Kepalanya hampir jatuh dari sandaran sofa. Elvan refleks maju setengah langkah—lalu berhenti, sadar diri, dan cuma berkata, “Bangunin sebelum jatuh.”
Kenzo jongkok di depan sofa. “Dira. Dira. Bangun.”
Dira ngedumel, buka satu mata. “Pak CEO dingin… jangan marah… aku bukan korupsi…”
Dia langsung melek penuh begitu sadar siapa yang berdiri di depannya.
“HAH?!” Dira langsung duduk tegak. “Om! Abang! aku ketiduran! Sofa-nya empuk… eh maksudnya keras… eh maksudnya—”
Elvan menatapnya datar. “Kalau mau tidur, pilih tempat yang tidak menghalangi jalan orang.”
"Iya, Om. Siap, . ini juga mau pindah ke lantai… maksud aku , ke pulang !” Dira panik mode on . " ini salah bang ken, aku sudah nunggu lama . malah gak dipesankan taksi " omel dira melihat kenzo .
Kenzo menahan tawa. “Maaf ira abang lupa , yaudah ayao pulang bareng abang .” sambil mengambil alih tas dira " Maaf bos.Dia emang gini "
Elvan diam sejenak. Ia sudah kesal dari tadi dira memanggilnya om Lalu berkata, “Pastikan dia pulang dengan benar. Gedung ini bukan tempat transit tidur siang.”
Dira mengangguk cepat. “Siap Omm! ” melirik elvan " pelit banget sih " gumamnya
Elvan melangkah pergi. Baru dua langkah, dia berhenti sebentar.
" Dan.."
Dira tegang
"Lain kali kalau nunggu lama, minta air minum. Daripada mimpi pesen es teh.”
"Kapan A-k" belum sempat dira selesai ngomong sudah dipotong elvan
" Satu lagi aku bukan om kamu .Ngerti " Langsung melangkah pergi .
Kenzo melongo. Dira bengong dua detik, lalu—
“Iya, Om!gak ngerti !” balas dira meledek
Begitu Elvan pergi, Dira langsung bisik, “Bang… dia barusan bercanda nggak sih?”
Kenzo ngakak. “Itu udah versi hangatnya CEO dingin.”
" Cih.. ini gara gara abang ya .awas aja, gak aku bantuin lagi " Ngambek dira meninggalkan kenzo yang tak berhenti ketawa.
" Heiii .. dira !! . Marah " teriak kenzo mengejar dira .
" makanya cepat anterin pulang " kesal dira .tau gini ia tadi gak mau
" Oke ok .Ayoo " Kenzo menggenggam telapak tangan dira menuju parkiran dan mengantarkannya pulang.
Bersambung......