Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - CATATAN RAPI
Bu Hendrawati memilih tempat yang tidak ada hubungannya dengan kantornya.
Sebuah rumah makan sederhana di jalan kecil yang lebih banyak dikunjungi warga sekitar daripada orang dari luar area. Jenis tempat yang tidak ada yang akan memperhatikan dua perempuan yang duduk mengobrol di sudut. Lily tiba jam dua siang, tepat seperti yang disepakati lewat telepon tadi.
Bu Hendrawati sudah ada di sana. Sudah memesan dua es teh tanpa diminta, gestur kecil yang mengatakan perempuan ini sudah memikirkan pertemuan ini lebih lama dari tadi pagi.
Mereka duduk.
"Saya minta maaf karena menghubungi langsung," kata Bu Hendrawati. "Tapi situasinya tidak memungkinkan saya menggunakan jalur yang lebih formal."
"Tidak apa-apa." Lily menatapnya. "Apa yang ingin Ibu sampaikan?"
Bu Hendrawati meletakkan tangannya di atas meja... tidak gugup, tapi ada kehati-hatian di gerakannya. Seperti orang yang sudah lama berkarir di bidang yang mengharuskan dia berhati-hati dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya dan sekarang sedang memutuskan untuk berbicara dengan cara yang berbeda.
"Selasa lalu, waktu Anda menolak menandatangani dokumen itu, saya tidak terkejut dengan keputusan Anda. Saya terkejut karena saya tidak mengantisipasi bahwa Anda sudah tahu cukup untuk tahu apa yang harus ditolak."
"Ibu mengantisipasi saya akan tanda tangan."
"Semua orang di ruangan itu mengantisipasi itu." Bu Hendrawati mengambil es tehnya. "Termasuk saya, dan saya malu mengakui itu."
Lily menunggu.
"Pak Wirawan adalah kolega lama. Kami sering bekerja sama, hal yang biasa di lingkaran profesi ini. Ketika beliau meminta saya menangani penandatanganan Selasa itu, saya tidak mempertanyakan banyak hal." Dia meletakkan gelasnya. "Sampai saya membaca isi dokumennya sendiri malam sebelumnya."
"Dan?"
"Dan saya menemukan bahwa dokumen itu bukan hanya surat pelepasan hak biasa. Ada klausul di halaman empat, yang ditulis dengan bahasa hukum yang cukup teknis untuk dilewati begitu saja kalau tidak dibaca dengan sangat teliti. Yang menyatakan bahwa penandatanganan dokumen itu sekaligus menutup seluruh kemungkinan klaim di masa depan atas nama almarhum pemilik aset, termasuk klaim atas penyebab kematian."
Lily meletakkan gelasnya.
"Klausul itu menutup kemungkinan menggugat soal kematian Mama."
Bu Hendrawati mengangguk pelan. "Dalam bahasa yang cukup luas untuk mencakup itu, ya."
Lily duduk dengan informasi itu selama beberapa detik.
Bukan hanya soal tanah, bukan hanya soal warisan. Dokumen Selasa itu dirancang untuk menutup dua hal sekaligus, aset dan pertanggungjawaban atas kematian Mama. Dalam satu tanda tangan yang kalau berhasil didapat, akan menutup seluruh kemungkinan Lily membuka apapun.
Reinaldo tidak hanya terburu-buru karena aset. Dia terburu-buru karena dia tahu ada risiko yang sedang bergerak ke arahnya.
"Kenapa Ibu memberitahu saya ini?" tanya Lily.
Bu Hendrawati tidak langsung menjawab. Dia menatap mejanya sebentar dengan ekspresi yang Lily tidak bisa baca sepenuhnya. Bukan rasa bersalah yang sederhana, lebih seperti pertimbangan yang sudah berlangsung lebih lama dari pertemuan ini.
"Karena saya punya anak perempuan," katanya akhirnya. "Seumur Anda. Dan karena ada hal-hal yang kalau saya biarkan berlanjut, saya tidak bisa lagi tidur dengan cara yang biasanya."
Lily menerima jawaban itu.
"Ibu bilang ada sesuatu di arsip lama."
"Ya." Bu Hendrawati membuka tas tangannya dan mengeluarkan amplop bukan tebal, hanya dua atau tiga lembar. "Delapan tahun lalu, ada klien yang datang ke kantor saya dengan permintaan yang tidak biasa. Seorang perempuan muda, datang sendiri, meminta saya membuat akta pernyataan yang isinya menyatakan dia menyaksikan sebuah percakapan tertentu dan ingin ada catatan resmi tentang itu."
"Perempuan itu siapa?"
"Dia tidak memberi nama lengkap. Hanya nama depan... Sari."
Lily tidak bergerak.
"Isi pernyataannya?" tanyanya dengan suara yang tetap datar.
"Dia menyatakan pernah menyaksikan Reinaldo Mahendra memberikan instruksi kepada seseorang, tidak disebutkan namanya dalam pernyataan untuk 'mengelola kondisi kesehatan' seseorang yang disebutkan dengan inisial W.D.P."
Wulan Dewi Paramita.
"Perempuan itu... Sari, kenapa membuat pernyataan itu?"
"Saya tidak tahu motivasinya waktu itu. Dia tidak menjelaskan banyak. Dia hanya minta dokumennya dibuat, dua salinan—satu untuk dia, satu untuk disimpan di arsip kantor saya." Bu Hendrawati menatap amplop di tangannya. "Satu hal yang saya ingat dari pertemuan itu... dia kelihatan takut. Tapi bukan takut pada saya, tapi takut pada sesuatu yang ada di luar ruangan itu."
"Salinan yang untuk arsip kantor Ibu, masih ada?"
Bu Hendrawati meletakkan amplop itu di meja, mendorong ke arah Lily.
"Ini."
Lily tidak membuka amplop itu di meja.
Dia menyimpannya di dalam tas, mengucapkan terima kasih kepada Bu Hendrawati dengan cara yang singkat tapi tidak dingin, dan mereka berpisah di depan rumah makan dengan kesepakatan yang tidak perlu diucapkan. Bu Hendrawati tidak akan bicara soal pertemuan ini ke siapa pun, dan Lily tidak akan menyebut sumber dokumen ini sampai situasinya memungkinkan.
Di angkutan pulang, Lily membuka amplopnya.
Dua lembar kertas. Format akta notaris dengan kop kantor Bu Hendrawati yang berbeda dari yang sekarang. Logonya sudah berganti, tapi nama notarisnya sama. Stempel resmi di bagian bawah.
Lily membacanya dengan teliti.
Isinya persis yang Bu Hendrawati ceritakan. Pernyataan dari seseorang bernama Sari, tanpa nama belakang, tentang percakapan yang dia saksikan. Instruksi dari Reinaldo Mahendra untuk mengelola kondisi kesehatan W.D.P. Tanggal pernyataan, delapan tahun lalu.
Yang menarik bukan hanya isinya.
Yang menarik adalah satu detail kecil di bagian identitas pembuat pernyataan, kolom yang biasanya diisi dengan nomor KTP. Di sini, nomor KTP-nya ada. Dan di bawah nomor itu, dalam tulisan yang lebih kecil, ada catatan tangan dari Bu Hendrawati sendiri. Mungkin catatan internal yang tidak seharusnya ada di salinan klien, tapi ada di salinan arsip ini:
Pembuat pernyataan menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis. Kemungkinan membuat pernyataan ini sebagai proteksi diri.
Proteksi diri.
Tante Sari membuat pernyataan ini sebagai proteksi diri.
Artinya delapan tahun lalu, enam tahun setelah Mama meninggal. Tante Sari sudah punya cukup kekhawatiran tentang posisinya untuk membutuhkan perlindungan. Artinya hubungannya dengan Reinaldo bukan hanya kemitraan yang nyaman, ada tekanan di sana. Ada sesuatu yang Reinaldo pegang atas Tante Sari.
Dan Tante Sari menyimpan dokumen ini sebagai pegangan balik.
Lily tiba di rumah jam tiga lebih.
Di dapur, Bibi Rah sedang memotong sayur. Lily lewat dan tanpa berhenti, dengan gerakan yang menyatu dengan langkah, menyelipkan secarik kertas di bawah tatakan panci yang biasa mereka gunakan untuk pesan-pesan kecil.
Di kertas itu, Lily menulis tiga huruf: ASL.
Inisial yang dia buat sendiri tadi di angkutan, singkatan untuk Aman, Simpan, Lanjut. Kode internal yang hanya perlu Bibi Rah tahu bahwa semuanya masih berjalan baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan hari ini.
Bibi Rah tidak mengambil kertas itu segera. Tapi waktu Lily sudah di luar dapur, dia mendengar bunyi tatakan panci yang diangkat.
Di kamarnya, Lily menyimpan amplop dari Bu Hendrawati di lapisan paling bawah tas sekolah lama yang tidak pernah dipakai. Di antara buku-buku lama dan alat tulis yang sudah kering. Bukan tempat permanen, nanti malam akan dipindah ke ruang rahasia.
Tapi dulu dia perlu menulis.
Dia duduk di tepi kasur dengan buku kecil yang dia beli minggu lalu... buku biasa, sampul polos, yang di dalamnya sudah ada beberapa halaman catatannya. Tanggal, nama, fakta, koneksi.
Hari ini dia menambahkan halaman baru.
Nama: Sinta Wardhani. Pengacara internal Reinaldo.
Nama: Sari, tanpa nama belakang dalam dokumen, tapi nomor KTP ada.
Catatan: Tante Sari menyimpan pernyataan sebagai proteksi diri. Artinya dia tahu cukup untuk ditakuti dan cukup untuk takut.
Catatan: Reinaldo punya kendali atas Tante Sari, bukan sebaliknya.
Catatan: Rekaman di tangan Dimas.
Lily menutup buku itu dan menyimpannya di tempat yang sama dengan amplop tadi.
Lalu dia berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap ke halaman belakang. Gudang tua itu kelihatan dari sini. Selalu kelihatan dari jendela ini, tapi Lily tidak pernah benar-benar memperhatikannya sampai tiga minggu lalu.
Sekarang setiap kali dia melihatnya, ada sesuatu yang berbeda di caranya melihat bangunan tua yang tidak terawat itu.
Bukan pengap dan pengasingan.
Tapi titik awal.
Malam itu, setelah semua orang tidur, Lily masuk ke ruang rahasia untuk terakhir kali di hari ini.
Dia tidak membawa pertanyaan. Tidak membawa dokumen. Hanya duduk di kursi kayu yang sudah jadi kursinya dan merasakan keheningan ruangan itu yang berbeda dari keheningan di tempat lain... lebih penuh, lebih hidup.
Cermin tidak menampilkan apa-apa malam ini.
Hanya pantulan wajahnya.
Tapi ada satu hal yang Lily perhatikan, sesuatu yang kecil tapi ada. Di bawah permukaan cermin yang bening itu, sangat tipis, seperti bayangan bayangan ada tanda yang tidak dia lihat sebelumnya.
Ukiran. Bukan di dinding, bukan di kusen... di permukaan cermin itu sendiri, di tepiannya. Sangat kecil, baru kelihatan kalau cahayanya dari sudut yang tepat.
Lily mendekatkan wajahnya.
Nama. Nama perempuan. Tiga nama, berurutan ke bawah, masing-masing dengan tulisan tangan yang berbeda.
Nama pertama dia tidak kenal.
Nama kedua... Wulan.
Nama ketiga... kosong. Belum diisi.
Lily menatap ruang kosong di bawah nama Mama.
Jelas dimaksudkan untuk siapa.
Bersambung ke Bab 27...