Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALING BERTUKAR PIKIRAN
Vina rebahan sambil memeluk Jaka. Kepalanya bersandar pada dada bidang Jaka . Keduanya baru saja dari kamar si kembar.
Sebelum tidur si kembar meminta Vina untuk bercerita. Vina bercerita tentang kancil yang cerdik. Keduanya sangat bersemangat mendengarnya.
Selesai bercerita si kembar belum mau tidur. Namun setelah Vina berjanji akan bercerita setiap malam sebelum tidur, mereka langsung tidur.
Setelah memastikan si kembar benar-benar tidur, barulah Vina dan juga Jaka kembali kemar mereka. Kini giliran mereka yang bercerita.
"Besok Aku mau kerumah Pak Wangsa untuk mencari pekerjaan, " kata Jaka memberitahukan rencananya.
"Buat apa? "
"Tentu saja buat cari uang. Memangnya buat apa lagi Sayang," jawab Jaka dengan gemas. Aneh-aneh saja pertanyaan istrinya.
"Tidak mungkin kan Aku diam dirumah terus seperti sebelumnya. Bagaimana tanggung jawab ku sebagai seorang suami," lanjutnya dengan senyum getir.
Sudah lama ia tidak pergi bekerja. Sejak kemalangan yang menimpanya. Karena sekarang ia sudah sembuh, tidak ada alasan lagi baginya untuk bermalas-malasan.
"Bukan itu maksudku. Kenapa harus cari kerja di tempat lain kalau Kita sendiri banyak pekerjaan?" tanya Vina .
"Maksudmu ditempat Kakek. "
"Ya bukan lah. Kalau ditempat Kakek itu bukan kerja, tetapi membantu."
"Terus?"
"Sebenarnya Aku berencana membuka usaha makanan. Aku mau jual makanan di pasar. Bagaimana menurutmu? "
"Usaha makanan? Makanan apa? memangnya bisa? " tanya Jaka secara beruntun. Wajah nampak bingung saat menatapnya.
"Kita coba dulu lah. Kalau tidak dicoba dulu mana tahu hasilnya . Menurutmu masakan ku rasanya enak tidak?"
"Seumur-umur Aku belum pernah merasakan masakan seenak masakan istriku, " puji Jaka dengan tulus. Lelaki itu masih sempat-sempatnya mencuri ciuman di bibir istrinya.
"Menurutmu kalau makanan ku dijual apa ada yang mau beli? "
"Tentu saja banyak. Wow.... betul juga. Kenapa Aku tidak bisa berfikir sejauh itu. Bahkan di pasar pun Aku jamin tidak ada masakan seenak masakan buatanmu. "
"Jangan membual. Dunia itu luas. Banyak yang bisa membuat hidangan yang lebih enak dari buatanku. Hanya saja Kita tidak mengetahuinya."
"Iya sih....tapi seumur-umur , baru makananmu yang benar-benar enak dilidahku."
"Iya deh. Terima kasih pujiannya."
Jaka kembali mencium bibir Vina . Namun Vina segera menghindar.
"Jangan cium-cium dulu dong. Pembicaraan Kita masih belum selesai."
"Apanya yang belum selesai?"
"Pembicaraanya."
"Baiklah....lanjutkan."
"Apa Kamu setuju dengan ideku tadi?"
"Tentu saja setuju. Tetapi....apakah Kita punya modal? Berjualan dipasar juga ada persyaratannya. Salah satunya menyewa tempat yang akan ditempati untuk berjualan. Belum lagi biaya hariannya."
"Untuk sementara Kita sewa saja di lapak kaki lima. Harganya tidak terlalu mahal. Nanti kalau usahanya lancar baru menyewa lapak yang lebih baik lagi. Bagaimana menurutmu?" tanya Vina sambil mendongak menatapnya.
"Semua sudah Kamu perhitungkan. Sepertinya Kamu merencanakan ini semua sejak lama," kata Jaka mengutarakan tebakannya. Vina tidak mengelak. Ia menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Jadi kapan Kita akan mulainya? "
"Besok Kita buat dulu peralatan yang dibutuhkan untuk berjualan. Sepertinya kakek memiliki papan kayu yang disimpan di belakang. Nanti tolong buatkan meja seperti yang Aku buat."
"Baiklah," ucap Jaka menyetujuinya.
Setelah itu mereka melakukan ritual malam sebelum tidur. Entah jam berapa mereka tertidur.
Keesokan harinya Vina meminta papan kayu pada Kakek Darma. Ia memberitahukan rencana yang sudah dibicarakan dengan Jaka. Kakek Darma menyambutnya dengan antusias. Bahkan Jaka kalah antusias dibanding Kakek Darma.
Hari ini tidak ada yang pergi ke ladang. Jaka dan Kakek Darma membuat meja sesuai arahan Vina. Vina juga tidak tinggal diam begitu saja. Setelah memberikan arahan pada keduanya, Ia berpamitan untuk pergi ke pasar.
Vina meminta Jaka untuk membuat meja jualan yang bisa dibongkar pasang sesuai kebutuhan. Jika membuat meja biasa, akan repot jika harus membawanya ke pasar. Untungnya Vina mempunyai banyak ide , sehingga keinginannya bisa terealisasikan.
Baik Jaka maupun Kakek Darma sangat terkesan melihat hasilnya. Jaka jadi punya ide untuk menjual barang-barang seperti ini. Pasti banyak yang akan membelinya.
Malamnya Jaka mengutarakan idenya pada Vina. Setiap pagi dia akan pergi bersama Vina ke pasar. Lalu setelah pulang ia akan membuat meja seperti yang siang tadi mereka buat.
Vina cukup terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka Jaka bisa memiliki ide seperti itu. Tidak heran juga sih sebenarnya. Ia tahu benar bagaimana kemampuan Jaka.
Jika dilatih dengan benar Jaka akan menjadi tukang kayu yang hebat. Jadi Vina tidak mematahkan semangat Jaka untuk memulai usaha. Bahkan ia memberikan beberapa inspirasi yang bisa ia buat.
"Kalau Kamu memang berniat untuk menjadi tukang kayu , lebih baik jangan setengah-setengah. Jangan hanya membuat meja saja . Kamu juga bisa membuat lemari, kursi , jendela, meja dan lainnya. Kamu juga tidak bisa memulainya sendiri. Paling tidak Kamu punya satu teman untuk membantu."
"Kamu benar. Tapi untuk saat ini lebih baik fokus untuk membuat meja. Nanti kalau usahanya sudah lebih maju baru merambat kebarang-barang lainnya. Untuk teman saat ini cukup Ramli saja."
"Itu juga boleh. Besok Kita ajak Adin sama Bian pergi ke pasar."
"Mau ngapain?"
"Ya belanja dong say....memangnya mau mancing," ujar Vina dengan bibir mengerucut.
"Kali aja mau mancing di pasar. Lebih mudah dan hasilnya sesuai yang Kita inginkan," gurau Jaka sambil terkekeh geli. Vina juga ikut terkekeh mendengarnya.
Hubungan keduanya semakin dekat. Jaka tidak lagi kaku seperti sebelumnya. Ia jadi sering bercanda dengan Vina dan juga si kembar.
"Apa Kamu sudah mulai berjualan besok?"
"Tidak lah. Lusa hari sepasar pernikahan. Jadi Aku ingin berbelanja sedikit buat acara itu. Sekalian melihat kondisi pasar."
"Apa uangnya cukup?" tanya Jaka khawatir. Ia hampir melupakan masalah utamanya. Jika tidak ada uang bagaimana mereka akan memulai usaha.
"Jangan Khawatir. Aku memiliki sedikit uang. Tapi mungkin masih kurang jika dipakai untuk memulai usaha."
"Bagaimana kalau_"
"Jangan panik gitu deh. Uang Kita memang tidak punya, tetapi Kita memiliki banyak bahannya."
"Maksudmu?"
"Dibelakang rumah ada beberapa buah yang sudah memasuki masa panen. Kita bisa mengolah buah-buah itu menjadi makanan yang enak."
Vina sudah membayangkan berbagai macam kue yang dapat ia buat dari buah yang ada di belakang rumahnya.
Selain buah jeruk Bali ada juga buah alpukat, mangga dan juga buah jambu air. Semua buah itu sudah siap untuk dipanen.
Biasanya Kakek Darma akan menjualnya buah itu pada tengkulak. Harganya yang beliau dapat seringnya dibawah pasaran. Untuk kali ini Vina tidak akan membiarkan kakek Darma untuk menjual pada tengkulak itu.
"Oh iya ada satu lagi alat yang aku butuhkan."
"alat untuk memanggang kue. Kira-kira dipasar ada yang jual nggak ya? Tetapi harganya pasti mahal. Jadi yang lebih baik Kita buat sendiri."
"Terserah . Aku ikut Kamu saja."
"Ikut kemana?" goda Vina sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Jaka pantang untuk digoda seperti itu. Jadilah malam itu menjadi malam panjang buat keduanya.
cie jaka ngambek gk di sapa😁
semangat nulis bab nya😘😘❤️❤️❤️