NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Perjamuan Para Pendahulu

Langit Malabar benar-benar terlihat seperti mau kiamat. Pilar raksasa yang disebut Adrian sebagai "Jangkar Galaksi" itu perlahan turun dari balik pusaran awan hitam. Bentuknya kayak menara logam tanpa ujung yang memancarkan cahaya merah darah.

Setiap kali pilar itu turun beberapa meter, gravitasi di sekitar perkebunan jadi kacau kerikil beterbangan ke atas, dan air di bak-bak penampungan melayang-layang seperti bola kaca.

Adrian berdiri di tengah amukan angin, rambutnya berkibar, tapi kakinya tetap menapak kokoh di tanah seolah-olah dia punya magnet di telapak kakinya. Dia menoleh ke arah Sekar yang sedang berusaha menahan tubuhnya agar tidak terseret angin kencang.

"Kar! Kita nggak bisa lawan pilar itu cuma pake kekuatan fisik atau zirah!" teriak Adrian di tengah gemuruh langit. "Sistem mereka itu digital, dingin, dan penuh perhitungan. Satu-satunya yang bisa nahan mereka adalah sesuatu yang nggak bisa mereka hitung: Memori Organik."

"Maksud lu apa, Dri?" Sekar balas berteriak sambil memegang erat pinggiran meja kayu tua yang tadi mereka bawa dari bunker.

"Gua mau panggil para Pendahulu. Mereka yang udah nyatu sama tanah ini jauh sebelum teknologi alien itu ada. Tapi gua butuh lu, Kar. Gua butuh aroma yang bisa bangunin mereka," Adrian menatap Sekar dengan penuh permohonan. "Seduh tehnya. Sekarang!"

Ritual di Tengah Badai

Sekar langsung paham. Dia nggak lagi nanya "gimana caranya" atau "kenapa". Dia lari ke arah pohon teh tertua, pohon yang tadi jadi tempat raga baru Adrian tumbuh. Di sana, di antara dahan yang bersinar hijau zamrud, Sekar memetik tujuh lembar daun paling pucuk. Daun-daun itu tidak hijau biasa, tapi punya corak urat emas yang berdenyut pelan.

Aris, yang baru keluar dari bunker dengan peralatan sensor daruratnya, langsung membantu menyiapkan kompor kecil dan cerek kuno milik kakek Adrian yang masih tersimpan di pondok.

"Gua bakal coba bikin perisai frekuensi di sekitar meja ini, Kar!" Aris sibuk menyambungkan kabel dari radiator bunker ke kaki meja kayu. "Biar apinya nggak mati kena angin vakum itu! Cepetan seduh, sebelum pilar itu nyentuh tanah!"

Sekar mulai menyalakan api. Tangannya gemetar, tapi dia mencoba fokus. Dia menuangkan air dari mata air keramat Malabar ke dalam cerek. Begitu air itu mendidih, dia memasukkan tujuh lembar daun emas tadi.

Seketika, sebuah aroma yang sangat ajaib meledak dari cerek itu. Baunya bukan cuma bau teh enak, tapi ada wangi kenangan wangi peluh para pemetik teh zaman dulu, wangi tanah sehabis hujan ratusan tahun lalu, dan wangi kasih sayang keluarga yang turun-temurun menjaga kebun ini.

"Baunya... gila, gua ngerasa kayak lagi dipeluk sama nenek gua," gumam Aris yang mendadak jadi tenang meskipun pilar merah di atas mereka tinggal beberapa ratus meter lagi.

Hadirnya Sang Penjaga Tanah

Begitu kepulan uap teh itu membubung tinggi, asapnya nggak hilang ditiup angin badai. Malah sebaliknya, asap itu mulai membentuk siluet-siluet manusia di sekeliling meja.

Satu per satu, mereka muncul. Ada seorang pria tua dengan caping bambu yang terlihat seperti mandor kebun zaman Belanda. Ada ibu-ibu dengan kebaya lusuh yang membawa bakul teh. Ada juga sosok yang sangat mirip dengan Adrian, tapi versinya jauh lebih tua dan lebih santai.

Mereka adalah para Pendahulu jiwa-jiwa yang cintanya pada Malabar sudah begitu murni sampai-sampai sistem digital The Watchers menganggap mereka sebagai "data organik" yang tidak terbaca alias invisible.

"Kalian sudah memanggil kami, cucuku?" suara pria tua bercaping itu terdengar seperti gesekan daun kering lembut tapi penuh kekuatan.

Adrian membungkuk hormat. "Tanah ini mau diambil, Kek. Mereka mau narik bumi keluar dari akarnya."

Sosok pria tua itu melihat ke atas, ke arah Jangkar Galaksi yang merah membara. Dia tersenyum tenang, seolah-olah pilar penghancur planet itu cuma sekadar ulat keket yang nempel di daun.

"Mereka punya besi dan cahaya merah," ucap si Kakek. "Tapi mereka lupa kalau bumi ini punya urat yang saling peluk. Mari, kita ingetin mereka gimana caranya tanah bertahan."

Para Pendahulu itu duduk melingkar di sekeliling meja. Mereka tidak bicara, mereka hanya memegang cangkir teh yang dituangkan Sekar. Saat mereka menyeruput teh itu bersama-sama, getaran luar biasa muncul dari dalam bumi.

Perang Akar Melawan Logam

DUMMMMMMM!

Seluruh dunia mendadak bergetar, tapi bukan getaran gempa yang merusak. Di bawah kaki mereka, Sekar bisa merasakan sesuatu yang bergerak cepat. Lewat mata batin yang terbuka karena uap teh, dia melihat pemandangan yang nggak masuk akal.

Bukan cuma di Malabar. Di Amerika Selatan, akar-akar pohon raksasa di hutan Amazon mulai membelit tanah lebih dalam. Di Kalimantan, akar-akar pohon ulin mulai mengunci lempeng tektonik. Di pegunungan Alpen, kristal-kristal es di bawah tanah mulai membentuk jangkar alami.

Semua vegetasi di bumi, yang selama ini dianggap cuma tanaman diam, ternyata adalah sistem saraf raksasa. Dan para Pendahulu di Malabar adalah "otak" yang baru saja menyalakan saklarnya.

Jangkar Galaksi di atas Malabar mencoba menarik bumi dengan gaya magnetik yang luar biasa. Tapi bumi nggak bergerak satu milimeter pun. Pilar itu malah mulai berderit keras, logam aliennya mulai retak karena kalah kuat sama tarikan jutaan akar organik dari seluruh dunia.

"Nggak mungkin..." Aris melongo menatap layar monitornya. "Beban tarikan pilar itu sekarang mencapai jutaan ton, tapi bumi malah makin stabil. Ini kayak pilar itu lagi nyoba narik gunung pake benang jahit!"

Manuver Gila Aris

Melihat pilar itu mulai goyah, Aris langsung dapat ide nakal. "Dri! Kar! Selagi mereka nahan bumi pake akar, gua bakal coba kasih 'oleh-oleh' buat si Admin di atas sana!"

Aris lari masuk ke dalam bunker. Dia memutar otak, jarinya menari di atas keyboard. Dia menyambungkan sistem navigasi Jangkar Galaksi ke data "sampah" yang dia kumpulkan dari Sub-Root memori-memori galau, video-video kucing yang nggak penting, dan jutaan komplain manusia tentang hidup.

"Kalau mereka suka data, gua kasih data yang bakal bikin otak robot mereka hang!" Aris tertawa jahat. Dia menyuntikkan virus memori organik itu melalui frekuensi pilar merah tersebut.

Seketika, cahaya merah pilar itu mulai berkedip-kedip nggak karuan. Suara entitas purba di langit terdengar menjerit karena sistem mereka kemasukan jutaan emosi manusia yang nggak logis.

"Eror... Kontradiksi Data... Subjek menunjukkan emosi yang tidak terukur... Batalkan penarikan! Batalkan!"

Perjamuan Terakhir

Adrian ikut bergabung dalam lingkaran para Pendahulu. Dia memegang tangan Sekar di satu sisi, dan tangan kakeknya di sisi lain.

"Terima kasih sudah bertahan," bisik Adrian pada para leluhur.

Pria tua bercaping itu menatap Adrian dengan bangga. "Kamu bukan lagi CEO yang cari harta di tanah ini, Adrian. Kamu sekarang adalah tanah itu sendiri. Jaga Neng Sekar, jaga tanaman ini. Karena selama ada satu orang yang menyeduh teh dengan hati, dunia ini nggak akan pernah bisa dihapus."

Satu per satu, sosok para Pendahulu mulai memudar, berubah menjadi partikel cahaya hijau yang masuk kembali ke dalam tanah Malabar. Badai di langit mulai reda. Pilar raksasa itu mulai retak dan hancur, berubah menjadi debu bintang yang berjatuhan seperti salju di atas perkebunan teh.

Awan hitam di langit mulai tersingkap, nampilin cahaya matahari sore yang hangat. Malabar kembali tenang. Tapi ketenangan ini terasa beda. Rasanya lebih "hidup".

Aris keluar dari bunker sambil mengelap keringat. "Kita menang? Beneran menang nih?"

Sekar mengangguk, tapi dia melihat ke arah Adrian yang masih mematung menatap langit. Adrian tidak terlihat senang. Dia terlihat waspada.

"Ini belum selesai, Ris," ucap Adrian pelan. "Kita baru saja memenangkan pertempuran di 'halaman depan'. Tapi kita baru saja menunjukkan kepada seluruh galaksi kalau bumi punya senjata yang sangat berbahaya: Kita punya Kesadaran Kolektif."

Adrian berjalan ke pinggir tebing, menatap ke arah cakrawala. Di kejauhan, jutaan titik cahaya yang tadi dilepaskan Aris sekarang sudah kembali ke tubuh manusia masing-masing.

Manusia di seluruh dunia sudah bangun. Tapi mereka bukan manusia yang sama lagi. Mereka semua sekarang punya "koneksi" samar ke jaringan akar yang tadi diaktifkan.

Ancaman yang Baru

Tiba-tiba, Jantung Emas yang ada di atas meja bergetar hebat. Kali ini, proyeksi yang muncul bukan Ibu Adrian atau Pak Wijaya.

Muncul sebuah simbol yang bentuknya seperti tiga lingkaran yang saling mengunci simbol "The Council", entitas yang bahkan lebih tinggi dari para Administrator dan Watchers.

Sebuah suara yang sangat halus, hampir seperti bisikan angin, terdengar dari Jantung Emas itu.

"Kalian telah membangunkan Bumi. Kalian telah mengubah planet laboratorium ini menjadi ancaman organik. Berdasarkan Protokol Galaksi 0.0, planet yang memiliki kesadaran kolektif liar harus dikarantina... atau didaur ulang secara total."

Tiba-tiba, dari arah bulan, muncul sebuah cincin cahaya raksasa yang mulai melingkari bumi. Cincin itu bukan pilar yang menarik, tapi semacam laser pemotong raksasa yang mulai bergerak perlahan, seolah-olah mau membelah bumi menjadi dua bagian seperti membelah jeruk.

"Dri... apa itu?" Sekar memegang lengan Adrian dengan kencang.

Adrian mengepalkan tangannya. Urat-urat emas di lengannya menyala sangat terang, sampai-sampai tanah di bawah kakinya retak memancarkan energi.

"Itu adalah The Great Cleaver," jawab Adrian dengan suara yang sangat dalam. "Mereka nggak mau narik kita lagi. Mereka mau hancurin kita biar nggak jadi 'infeksi' buat planet lain."

Adrian menatap Sekar dan Aris. "Gua harus naik ke sana. Gua harus bawa 'Kesadaran Bumi' ini langsung ke pusat dewan mereka."

"Naik ke sana? Pake apa?!" Aris panik.

Adrian melihat ke arah pohon teh tua. Akar-akar pohon itu mulai tumbuh ke atas dengan kecepatan cahaya, membentuk sebuah tangga spiral raksasa yang menembus atmosfer menuju ke arah bulan.

"Aris, jaga bunker dan koordinasikan semua orang yang baru bangun lewat sinyal Beacon. Sekar..." Adrian memegang wajah Sekar. "Gua butuh lu buat tetep di sini, jadi 'jangkar' gua di bumi. Kalau gua tersesat di atas sana, seduh tehnya lagi. Panggil gua pulang lewat aromanya."

Saat Adrian mulai melangkah menaiki tangga akar menuju luar angkasa, Sekar menyadari sesuatu yang mengerikan. Di kejauhan, di antara kepulan debu pilar yang hancur, sesosok bayangan yang sangat familiar muncul dari balik semak-semak.

Sosok itu bukan alien, tapi manusia seorang pria yang memegang botol kaca berisi cairan perak yang sangat pekat. Pria itu adalah Pak Wijaya yang ternyata belum benar-benar hancur, dan dia sedang mengarahkan botol itu ke arah pohon teh tua yang menjadi nyawa Adrian.

Apakah Sekar mampu melindungi "jangkar" Adrian saat sang pelindung sedang bertaruh nyawa di luar angkasa? Dan apa sebenarnya rahasia di dalam botol perak milik Pak Wijaya yang diklaim sebagai "Racun Akar"?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!